Best Seller Man

Best Seller Man
Hipotesa tak masuk akal


__ADS_3

suara Alarm yang di pasang sangat nyaring mampu membuat siapa saja yang mendengar akan bangun seketika, berbeda dengan Topan bungsu Dirgantara itu masih betah bergumul di balik selimutnya. hingga suara ketukan pintu yang diketuk cepat membuatnya sadar,


"kenapa lu, baru pulang?" tanya Topan, Badai yang tadi mengetuk pintu mengangguk


"bang Alkana pergi keluar, mau kemana jam segini A?" tanya Badai heran, Topan terdiam sesaat sebelum kepalanya dia tolehkan pada kasur milik teman kosannya. Gempa.


"pergi?, perasaan gua--- tadi masih ada deh" jawab Topan sambil berjalan kearah kasur Gempa untuk memastikan penglihatannya. karena sejam yang lalu gempa masih ada tertidur di kasurnya.


"tadi pas gua baru balik balapan, gua liat bang Alkana keluar gerbang" kata Badai,


Beberapa jam yang lalu


jam dua dini hari badai baru saja sampai di kosan tepat ketika dia hendak menstandar motornya dia di kagetkan dengan suara aneh di sekitar gerbang masuk.


'apa gerbangnya belum gua tutup ya?' pikir badai. Ntah kenapa bulu kuduknya langsung merinding namun karena rasa penasarannya yang tinggi anak Andraka itu memilih untuk melihat kembali gerbangnya.


Baru saja melangkah,


SRAAK...


PRANG....


GUBRAK...


"setan, bikin kaget aja" sambatnya karena kaget dia terjatuh kepalanya terantuk helm yang gagal dia cantolkan di stang motor.


menelan ludah pelan sambil berjalan ragu dia tetap kekeuh dengan rasa penasarannya, berbekal beladiri seadanya dia sudah ancang-ancang masang kuda-kuda takutnya ada apa-apa.


"halah gua kaga takut, bokap gua temennya kan iblis" gumamnya percaya diri berbanding terbalik dengan kakinya yang tak bisa dia langkahkan sama sekali.


meooong~~


"Mati lu setan----mampus" teriak badai sambil melempar sepatunya.


CRIIIIIIT....


"kucing, ah kambing gua kira apa---- itu bukannya bang Alkana ya?" gumamnya pandangannya jatuh pada seseorang yang nampaknya sedang membuka gerbang. Badai spontan langsung mengecek hp nya dia ngga salah liat ko ini jam dua dini hari. Badai bukan lah orang yang peduli dengan sekitar tapi ntah kenapa kalau itu berhhubungan dengan orang-orang dikosannya itu berbeda baginya. Dengan cepat dia langsung berlari memasuki rumah bermaksud menanyakannya pada Topan teman kosan Gempa.


"Jadi gitu bang" jelas Badai.


"dia ngga bilang sih tadi, kalau mau keluar. Kenapa ngga lu tanya aja" kata Topan bersamaan dengan suara Alarm hpnya yang kembali menyala. Badai terdiam kalau di pikir iya juga kenapa tadi dia tidak bertanya langsung pada Gempa malah ngacir ke dalam rumah dan nanya Topan.


"udah lu tidur gih, gua mau wudhu----


"tahajud?" tanya Badai, Topan yang hendak kembali mematikan hpnya seketika urung ketika mendengar kata 'tahajud' dari mulut badai.


"yaudah, gua juga mau tidur" sambung badai sambil berlalu.


Badai memasuki kamar kosannya. Dia melihat Hujan yang tertidur di kasurnya. sedang fokusnya pada Gempa, Kalau di pikir terlihat aneh Gempa keluar jam dua dini hari tanpa memberitahu siapapun.


"aneh" gumam Badai seraya menyimpan Tas di atas meja belajarnya.


"kenapa"


"kambing guling" kaget Badai spontan dia langsung menoleh kearah Hujan yang kini duduk bersila di kasurnya. Hampir aja dia melempar tas miliknya kearah Hujan.


"lu ngagetin tau ngga?" kesal badai, gara-gara Hujan hampir aja jantungnya berhenti berdetak. Hujan terkekeh.


Hujan tau badai suka pulang larut malam bahkn dini hari namun ngga biasanya teman kosannya bergumam tidak jelas terlihat sekali kebingungan, tadi Hujan sempat ingin memuji karena badai terlihat hendak belajar. Namun rupanya pujiannya harus dia telan kembali ketika Badai terlihat diam sambil bertopang dagu di meja belajarnya.


"ck, eh jan bang alkana ngomong atau izin mau pergi ngga? Tanya Badai, hujan menggeleng.


"kenapa emang?"


"gua masa liat dia keluar tadi---


"salah liat kali lu, udah lu pastiin emang ke kamarnya?" potong Hujan.


"udah, gua udah ke kamarnya A irawan tadi, kasurnya kosong" jawab Badai. Hujan terdiam bukan hanya badai yang jadi saksi Gempa keluar, dirinya juga pernah melihat Gempa keluar dini hari.


"jan, Hujan ko malah lu yang ngelamun sih kambing" Hujan terkesiap spontan menoleh


"kal gua juga pernah liat bang alkana keluar rumah dulu dini hari juga, inget ngga lu yg waktu kedua kalinya bang alkana pingsan itu?", Badai mengangguk jelas dia inget karena dia yang mengantarkan Gempa ke kampusnya waktu itu.

__ADS_1


"malamnya gua kebelet, pas gua keluar kamar mandi gua liat bayangan orang yang turun tangga yah karena gua ketua umum pemberani jadinya gua liat tuh eh taunya bang alkana keluar rumah tapi ada yang aneh ---- Hujan menggantukan perkataannya membuat badai menoleh dengan muka penasaran


"dia jalan sambil numbruk meja sama kepentok pintu gitu kaya yang mabuk" kata Hujan.


"tidur lu berdua, masih malam"


"setan/astagfirullloh" spontan Hujan dan badai tepat ketika Topan melongokkan kepalanya di pintu kamar mereka.


Tadi tepat ketika Topan selesai sholat tahajud dia keluar bermaksud memastikan apa yang dibilang badai tentang gempa yang keluar. ketika sampai di depan gerbang Topan melihat beberapa perkakas yang berserakan di depan gerbang masuk. Perkakas itu antara lain skop,cangkul, aritan dan juga beberapa perkakas lain yang menjadi fokus Topan dari mana alat perkakas itu muncul. Memilih abai Topan kembali kedalam rumah tepat ketika hendak menekan knop pintu dia mengernyit ketika kamar sebelahnya terlihat masih menyala.


"di luar ada cangkul, lu tawuran bawa cangkul?" selidik Topan seraya menatap Badai, karena setau Topan anak Gardapati terkenal dengan jiwa tawurannya.


"yakali a, gua tawuran bawa cangkul" sangkal badai


"ya siapa tau soalnya di bawah ada arit juga, sama skop" jawab Topan kekeuh.


"itu gua mau tawuran apa mau kerja bakti sih, jangan ngelawak deh a malam-malam" jawab badai tak terima.


"ada ko yang suka bawa gituan buat tawuran" susul Hujan. Topan mengangguk.


"ya tapi kan gua ngga abis tawuran gua abis balapan dari lampu merah ke lampu merah ya kali gua bawa cangkul buat apaaan coba, nyangkul jalanan"


"yaudah besok gua tanya mas Rayga aja deh, udah kalian berdua tidur udah malem bentar lagi pagi" pungkas Topan sebelum menutup pintu kamar mereka. Badai dan Hujan keduanya memutuskan untuk tidur sesuai apa yang topan perintahkan tadi. Walau di benak kedua anak adam itu masih tersimpan rasa penasaran yang mereka redam di benak masing-masing.


...•••...


Guntur keluar dari kamar sambil mengenggam sebuah ponsel di telinganya terpasang sebuah wireless earbuds berwarna putih, sepertinya dia tengah dalam panggilan dengan seseorang.


“betul pak, saya kemarin sudah bertemu dengan pak Juan, baik pak terima kasih” finalnya mengakhiri percakapan, tangannya menarik wireless earbuds dan menyimpannya kedalam saku.


"sedang apa wan?" Tanya guntur sebenarnya ini hanya pertanyaan basa basi pertanyaan retorik yang jelas-jelas dapat di jawab walau hanya melihatnya saja, jujur guntur masih sedikit canggung berinteraksi dengan anak kosannya. terutama Topan.


Tadi dia hendak ke dapur bermaksud membuat teh untuk paginya tapi ternyata di dapur sudah ada Topan yang sibuk dengan penggorengan.


"goreng telur mas" jawab Topan, dia mengalihkan pandangan ke arah Hujan yang berjalan mengekori Guntur.


"Er mau telor goreng ngga? Mas Rayga mau ngga?" tanya Topan. Hujan mengangguk antusias, sedang guntur menggeleng.


'Juan' pikir Hujan.


"ambil telornya di kulkas", hujan mengangguk mengesampingkan pikirannya


"wan tumben kamu masak, Alkana mana?" tanya Guntur karena biasanya yang suka dan berniat belajar masak itu gempa. Walau bermodalkan youtube.


"keluar Mas semalam, emang dia ngga izin sama mas Rayga?" tanya Topan, seraya menoleh kearah Guntur di tengah menggoreng telurnya. Guntur terlihat menggeleng membuat Topan mengernyit.


'iya juga ngapain ya izin sama mas Rayga, tapi kan ah bodo...' pikif Topan.


"emang dia mau kemana wan?" tanya Guntur,


"tadi malam jam duaan kata Kalen liat bang Alkana keluar, gua kira dia udah izin sama lu Mas", guntur terdiam sejenak sekelebat ingatan tentang tadi malam terputar secara spontan, Dia teringat pada dirinya semalam yang kehausan membuatnya dengan terburu bangun sambil berjalan kearah dapur. Namun tepat ketika Guntur hendak menuangkan air dia melihat bayangan seseorang yang menuruni tangga.


"mas kenapa melamun?" tanya Topan seraya menatap guntur dengan tangan yang memegang penggorengan.


"ah ngga-----mungkin dia ada urusan lain kali ya" jawab Guntur.


"mungkin" jawab Topan sambil menyimpan telur gorengnya ke meja makan.


"tangan kamu kenapa wan?" tanya Guntur yang tak sengaja melihat lilitan perban di pergelangan tangan Topan.


"oh ini----


"a ini minuman punya kalen kan?" tunjuk Hujan pada sebuah kardus minuman di samping kulkas.


"iya Er" jawab Topan, dia sedikit bernafas lega tatkala Hujan memotong percakapan. Dia berharap Guntur lupa dengan pertanyaannya namun sepertinya kali ini harapan menghianatinya tat kala guntur bertanya kembali prihal perban yang di lilit di pergelangan tangannya.


"kenapa wan?" tanya guntur terlihat khawatir,


"oh ini mas----- euu------kena minyak panas tadi" berterima kasihlah pada minyak goreng yang kini tengah topan pegang, karena itu termasuk jawaban masuk akal karena dirinya tengah menggoreng telur sekarang. Guntur mengangguk mengerti.


"lain kali hati-hati"


"aneh kemarin aja ada dua dus ko sekarang sisa satu dus yang minumnya kan dia doang" kata Hujan rupanya fokusnya pada kardus aqua tidak bisa di alihkan, mendengar perkataan Hujan guntur yang hendak mengambil tehnya terdiam tangannya mengudara hendak menarik cangkir teh. dia kembali teringat karena baru saja kemarin malam guntur melihat disana ada dua dus air mineral percis yang Hujan katakan tadi.

__ADS_1


'iya juga' pikir guntur.


"banyak yg minum kali" jawab Topan seadanya, jauh di dalam pikirannya pun Topan memikirkan hal yang sama bahkan tadi Topan lah yang pertama mematung di tempat sebelum mengambil telur.


"siapa aja?" tanya hujan sambil menyimpan telur di samping Topan kemudian duduk bersebrangan dengan Guntur.


"Oh iya a, bang Alkana gimana? Udah pulang atau Dia ada chat lu pergi kemana semalam?" tanya Hujan lagi karena baik Topan ataupun Guntur tak menjawab pertanyaannya. Topan terdiam dia tengah memanaskan minyaknya. Sedang Guntur memilih meminum tehnya. Abai dengan pertanyaan Hujan. Walau jauh di dalam pikirannya pun Guntur berpikir demikian. Hujan kedua kalinya terabaikan.


Srang...


Suara spatula yang beradu dengan penggorengan menjadi pengisi keterdiaman ketiganya di dapur.


"a irawan emang bisa masak?", pertanyaan ini keluar dari Badai yang baru saja memasuki dapur. Topan, Hujan dan Guntur menoleh bersamaan.


"bisa, goreng telur doang mah masak mie instan yang ngga bisa gua kal" jawab Topan.


"mau dong", kata badai yang langsung berjalan kearah kulkas.


"bang alkana Gimana, udah balik?" tanya badai lagi sambil menaruh telur di meja.


"bel-- yah Er telur lu gagal makan telur gua aja itu tapi bukan mata sapi" kata Topan seraya menoleh kearah Hujan. Gara-gara pertanyaan Badai telur yang harusnya mata sapi malah jadi telur urak arik di penggorengan.


"yah bang" sesal Hujan. Padahal dia sangat merindukan telur mata sapi.


"dia pernah ngomong katanya sih kalau keluar pagi dia nyari makan" jawab guntur tat kala dia teringat percakapanmya dengan Gempa di mobil tempo hari.


"ngga mungkin kalau nyari makan Mas, alibi doang pasti? Masa iya nyari makan dini hari, masalahnya itu waktu orang tidur dan lagi posisi nyenyak-nyenyaknya" jawab Badai sambil menarik kursi duduk bersebrangan dengan Hujan.


"masa iya ngepet" jawab Hujan asal.


"ngga mungkin lah masa ngepet" saut Topan tanpa menoleh. Sedang Guntur hanya menjadi pihak penyimak saja.


"masa iya a lu ngga curiga, hampir tiap pagi bang Alkana ngga ada Terus pulang-pulang babak belur luka-luka gitu? Itu nyari makan apa nyari mati?" kata badai. Topan terdiam sambil meniriskan telur urak ariknya di penggorengan.


"banyangin aja setiap gua nemuin bang Alkana dia udah ngga sadar kaya orang linglung gitu terus habis itu pingsan deh, percis banget kaya babi ngepet yang kepergok warga" tambah badai yang menjadi saksi karena dia selalu menemukan gempa di trotoar jalan dalam keadaan yang menghkawatirkan.


"Masa iya sih ngepet Kal" tanya Hujan seraya menoleh kearah Badai yang mulai beranjak.


"kacau pikiran lu berdua" komentar Topan sambil menyimpan goreng telur urak arik di meja.


"kan ini baru dugaan sementara a, H0 kalau di statistik" jawab badai sambil berjalan kearah kulkas, berjongkok kemudian mengambil minuman di dalam dus. Diam-diam hujan memperhatikannya. Anehnya setiap satu sedotan badai langsung membuangnya.


"otak lu ada isinya juga ya, gua kira setiap ke sekolah lu tawuran doang kal" sarkas Hujan,


"ck jangan salah, gua badung tapi otak gua Albert estain" jawab Badai jumawa.


"oh iya saya lupa memberitahukan pada kalian, kata pak didi minggu ini ada kerja bakti di lapangan ujung jalan sini. Saya kurang tau dimana nya" kata Guntur sambil menyimpan cangkir tehnya di bak cuci piring.


"jadi kita harus ikutan juga mas?" tanya Topan, Guntur mengangguk sambil mencuci cangkir bekasnya.


"ikut ngga lu?" tanya Hujan seraya menoleh ke arah badai. Badai yang hendak mengambil gelas aqua baru mengangguk.


"pasrah aja gua" jawab badai sambil melempar bekas minumnya ke tong sampah.


"oh iya, kal saya baru tau kamu suka balapan?" Tanya Guntur, badai yang hendak meraih gelas minumnya kembali mengangguk sambil berujar


"Udah biasa mas", guntur terdiam dengan jawaban sudah biasa badai, seakan itu terdengar biasa baginya namun terdengar luar biasa di telinga guntur.


"ngga salah sih, anak gardapati selalu jadi berita pembuka di setiap berita pagi di kampus" jawab Topan, Guntur jadi teringat sesuatu.


"Gua aja kaget tiba-tiba ada kalian semua waktu itu" tambah badai sambil menujuk satu persatu orang yang dia maksud.


"Kalau gua diberitahu Javier" jawab topan sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Saya di kasih tau Alkana" jawab Guntur.


"Lu tau dari mana?" Tanya badai menoleh kearah Hujan.


"Tukang cilor" jawab Hujan sekenanya. Badai menganga tak habis pikir. Sebenarnya bukan hanya Badai yang bingung dengan jawaban Hujan melainkan Topan dan Guntur pun sama hanya saja mereka memilih abai dan tidak mau bertanya jauh.


Keheningan mulai mengudara karena keempatnya terdiam dengan pikiran masing-masing hingga suara ketukan pintu yang di ketuk nyaring dan terburu membuat keempatnya menoleh bersamaan, Guntur yang paling pertama beranjak di susul Topan, Hujan dan Badai.


"ada ap------ Alkana" Kaget Guntur.

__ADS_1


__ADS_2