Best Seller Man

Best Seller Man
bukan ketua OSIS biasa


__ADS_3

Hujan berjalan seorang diri di koridor sekolahnya berniat menghampiri Radika yang tadi meninggalkannya dan juga Harsal yang sibuk dengan game onlinenya. Kedua sahabatnya itu memang selalu pergi duluan jika Hujan tengah membantu pak Bima membereskan peralatan mengajarnya. Memang guru satu itu sedikit ribet karena selalu menggunakan alat peraga.


Sepanjang koridor pikirannya masih berkelana dengan mimpinya,


"Kejatuhan buku" Gumamnya.


Dulu juga pernah dia bermimpi yang sama, kejatuhan buku. Bedanya hanya dilatar tempatnya saja. Dulu ketika dia kejatuhan buku dia sampai tak sadarkan diri, kenapa? Karena dia kejatuhan buku super tebal yang lumayan banyak.


"Oy di Koridor jangan ngelamun" Kata Yusril, membuat Hujan sedikit berjengit kaget.


"Kaget gua ril" Kata Hujan sambil memukul belakang kepala Yusril kesal.


"Lagian pa ketum, melamun tau tempat lah masa di koridor" Kata Gilang, rupanya Yusril berjalan bersama Gilang di sampingnya.


"Serah lu dah, lu tumben ngga ke kantin" Tanya Hujan lagi, mereka kini berjalan bersama.


"Lah ini mau otw" Jawab Yusril sambil merangkul pundak Hujan. Sedang Gilang hanya mengangguk.


"Harsal sama Radika mana?" Tanya Gilang sambil celingukkan karena tumben sekali Hujan berjalan seorang diri. Biasanya para ketua OSIS itu tidak pernah bisa di pisahkan.


"Udah duluan tadi mereka" Jawab Hujan singkat. Sebagian pikirannya masih kemana-mana belum kembali ke tempat.


"Tumben biasanya setia kek ajing buldog" Tanya Yusri heran.


"Kenapa harus anjing buldog coba ril?" Tanya Gilang yang tak habis pikir kenapa temannya itu mengibaratkan kedua ketua OSIS mereka dengan anjing buldog.


"Yah masa dayang dayang, atau babu lawak bener" Jawab Yusril. Sedang dari tadi Hujan hanya menggelengkan kepalanya mendengar kedua temannya.


"Tadi gua bantuin pak Bima dulu beresin alat peraga di kelas, jadi mereka duluan, lama kalau nunggu gua" Jelas Hujan di tengah berjalannya.


"Paling Radika lagi say hallo sama subscriber nya" Kata Gilang sambil tertawa, memang Gilang ini sangat receh Yusril ngejokes ngga jelas aja dia tertawa.


"Mungkin" Jawab Hujan sambil menggangguk karena memang setiap istirahat Radika ngga pernah absen nyapa penggemarnya.


Yusril dan Gilang itu berbeda kelas dengan Hujan, Yusril dan Gilang anak IPS tiga yang terkenal dengan adu jotos nya. Banyak guru yang tidak suka dengan kelasnya Yusril selain berisik anak di dalamnya juga seakan tak memiliki aturan dan di cap buruk, kecuali Yusril, Gilang dan Friska karena mereka termasuk anak OSIS. Citra mereka pun terbawa baik karena sosok Hujan.


Hujan dan Yusril awalnya bukanlah orang sedekat sekarang, bukan juga orang yang suka berangkulan setiap ketemu ataupun yang selalu tersenyum ramah satu sama lain. Yusril itu terkenal dengan sikap bengisnya, aura menakutkan dari dirinya berhasil membuat semua orang menyingkir ketika dia lewat. Laki-laki yang menduduki jabatan sebagai ketua divisi seni dan olahraga itu juga kerap kali ikut tawuran antar geng sekolahnya. Begitu juga dengan Gilang. Gilang bukanlah orang yang sehumoris sekarang, bukan juga orang yang hangat sampai mampu mencairkan suasana. Gilang adalah remaja laki-laki yang jauh dari kata peduli. Bahkan laki-laki yang menjabat sebagai sekertaris umum OSIS itu sangat jarang berbicara.


"OY TUM" teriak Harsal yang melihat keberadaan Hujan dan juga kedua temannya yang mulai memasuki kantin. Hujan sedikit malu karena teriakan menggelegar Harsal membuat semua orang terarah padanya. Dikata ini hutan belantara apa. Hujan hanya tersenyum sambil membungkuk sopan sesekali kemudian berjalan menghampiri meja temannya itu. Citra baik seorang ketua umum OSIS.


"eh bang Javier lama banget lu " Kata Heksa adik kelas yang menjadikan Hujan sebagai panutannya. Memang karena sikap Hujan tak sedikit adik kelas yang mengidolakan sosok ketua umum OSIS itu. Sedang Hujan hanya tersenyum kemudian duduk di tengah-tengah Radika dan Harsal.


"Udah mesen belum?" Tanya Hujan pada Radika. Sedang Radika dari tadi malah membenarkan kameranya.


'Sudah biasa'-batin Hujan.


"Jadi gua sama temen gua lagi mau makan, udah sering gua liatin kan gimana kantin sekolah gua" Kata Radika yang tak peduli dengan pertanyaan Hujan. Dia malah asik ngevlog.


"Masih penasaran ngga? Sini gua ajak ke setiap sudutnya" Tambah Yusril yang tiba-tiba aja sudah di samping Radika sambil merebut kamera kemudian mengarahkan kesemua sudut kantin.


"Si Yusril kapan datang sih" Tanya Radika pada Hujan.


"Barusan sama gua, udah pesen makan belum? " Tanya Hujan, Radika menggeleng.


"Sini gua pesenin, biasa kan ya? " Kata Hujan sambil beranjak.


"Iya Er, eh itu tambahin ciki-cikian lah" Tambah Radika tersenyum sambil mengulurkan uang selembar ke arah Hujan.


"Lu sabar banget tum, temenan sama si kanjeng" Kata Gilang sambil tertawa. Sedang Hujan hanya tersenyum. Sikap kedua temennya bahkan kelima temennya sudah sangat dia hapal.


"Ada yang mau ikut ngga?" Tanya Hujan lagi sebelum beranjak.

__ADS_1


"YAH SIAL KECOLONGAN GUA" Teriak Harsal yang tiba-tiba membuat Hujan spontan memegang dadanya sabar.


'Sabar Javier sabar, temenlu satu limited edition'-katanya dalam hati.


"Gua kak ikut" Kata Heksa sambil berdiri. Yang kemudian diangguki Hujan.


"Lu ke stand minuman, gua ke stand makanan ya" Kata Hujan pada Heksa sebelum mereka pergi.


Di stand makanan Hujan cukup lama mengantri belum lagi dia harus beliin ciki-cikian pesenan Radika. Makin lama aja dia berdiri.


"Er ko lama banget?" Tanya Radika yang nyusulin Hujan.


"Ngantri nih" Jawab Hujan sambil menunjuk antrian yang lumayan panjang, bayangin saja semua anak akan berjubel di kantin pada saat istirahat. Kantin sudah seperti pasar yang dipenuhi ibu-ibu yang mau belanja, rame banget.


Sekitar beberapa menit mereka kembali dengan berbagai macam minuman dan makanan.


"Lama banget ngantri nya, panjang?" Tanya Harsal yang kemudian diangguki oleh Radika.


"Banget Sal gila pegel gua" Jawab Radika.


"Kak Javier gimana rasanya jadi ketum" Tanya Heksa sambil menyimpan pesenan minuman milik kakak kelasnya itu.


"biasa saja" jawab Hujan sambil mendudukan dirinya di tengah-tengah Radika dan Gilang.


"asal lu tau Sa, biasa saja seorang Javier itu tidak biasa bagi kita" Jawab Gilang, sambil merebut ciki yang susah payah Radika buka tanpa bantuan gunting.


"Ciki gua lang" Teriak Radika kesal namun tangannya terulur untuk membuka ciki baru.


"biasa saja Javier itu sebaliknya dari biasa" tambah Radika yang menambah bingung Heksa dengan kata-kata yang diucapkan laki-laki ketua OSIS satu itu. Kedua tangannya masih berjuang membuka ciki baru.


"ck ribet banget tinggal bilang susah aja susah" kata Yusril yang baru bergabung sambil membuka minuman yang tadi Heksa beli.Nampaknya remaja laki-laki itu baru saja menyelesaikan vlognya.


"Abis dari mana lu ril?" Tanya Gilang yang baru melihat keberadaan Yusril.


"ngomong apaan sih lu semua" tanya Hujan yang kasihan dengan Heksa , adik kelasnya itu sampai berhenti mengunyah. Padahal Heksa hanya bertanya prihal rasanya menjadi ketua umum, tidak ribet ko. Jawabannya tidak harus sememusingkan ini.


"Iya kak, ko pusing sih maksud mereka apa?" Tanya Heksa yang bingung dengan jawaban dari teman-temannya Hujan. Sedang Hujan hanya menggeleng.


"Udah mending lu makan aja yang banyak, biar bisa ngerti bahasa ajaib temen gua" Jawab Hujan.


Diam-diam Hujan memikirkan mimpinya dan mengabaikan teman-temannya yang mungkin kini mengganti topik bahasan. Dia masih kepikiran dengan mimpinya itu.


"hanya buku kan ya" gumamnya, kedua tangannya masih setia dengan sendok dan garpu yang menggantung di udara. Baksonya tak jadi dia suapkan.


"Buku apaan?" Tanya Radika heran sambil menyomot bakso milik Hujan. Rupanya gumaman Hujan cukup jelas tertangkap oleh indra pendengar Radika. Teman-teman Hujan memang tidak ada yang tahu prihal tanggal tiga belas. Mereka tahunya setiap tanggal tiga belas Hujan pergi ke makan orang tuanya di Bandung bersama kakaknya. Makanya setiap tanggal tiga belas Hujan selalu izin tidak sekolah.


"tum kumpul OSIS ngga nanti?" Tanya Gilang menoleh kearah Hujan sesaat setelah menelan makanan di mulutnya. Pertanyaan Gilang cukup mengalihkan pertanyaan dari Radika.


"kumpul kaya biasa aja Lang kan nanti agenda harian" Jawab Hujan. Tangannya kembali menyendokkan bakso kedua karena bakso tadi sudah di makan oleh Radika.


"gua ngga bisa nih ntar Er ada kumpul Eskul game" kata Harsal sambil memperlihatkan grup chatnya.


"Penasaran gua kalau kumpul lu ngapain sal" Kata Yusril.


"Iya ril sama gua juga,mabar bareng gitu? " kata Gilang, sambil diam-diam mengambil bakso di sendok Hujan lagi.


"Sembarangan tapi kadang sih mabar juga iya, bahas proker yang gua ceritain. Bikin pertandingan game antar kelas" jawab Harsal sambil sesekali menyuapkan bakso miliknya.


"Udah di setujuin emang sama si Javier? , btw gua juga ada eskul eung lupa?" Kata Yusril, rupanya remaja laki-laki itu baru ingat dengan jadwal eskul nya sendiri. Sedang Harsal hanya mengangguk sambil memperlihatkan proposal perlombaan game yang dia maksud dari ponsel pintarnya. Lengkap dengan tanda tangan dari Hujan.


"Lah iya ril lu kan anak basket, lang lu ngga basket?" Tanya Radika heran, bukannya Gilang dan Yusril itu satu ekstrakurikuler yaitu basket.

__ADS_1


"lah iya eskul lu kan sama kaya Yusril lang" kata Hujan sambil menunjuk Yusril dengan sendok yang tidak jadi dia suapkan karena bakso keduanya diambil Gilang juga.


"emang iya?" Tanya Gilang pada dirinya sendiri, sambil tangannya merogoh saku untuk mengeluarkan hpnya. Nampaknya remaja laki-laki itu hendak melihat jadwal eskul miliknya,


Harsal yang kesal mendengar jawaban Gilang rasanya mau banting hpnya ke arah Gilang,biar sadar. Sedang Yusril dari tadi udah nahan buat ngga getok kepala Gilang pake kamera vlog milik Radika. Agar otak Gilang yang 3G berubah menjadi 4G atau bahkan 5G. Radika yang berbeda Ekstrakurikuler sama kelas saja tau dengan jadwal anak basket. Kenapa Gilang yang anak basket sendiri tidak mengingatnya. Apa terlalu banyak tugas OSIS yang diberikan Hujan? sampai Gilang melupakan segalanya, pikir keempat temannya.


Satu menit setelahnya.


"ASTAGA IYA BENER" kata Gilang sambil menggebrak meja sesaat setelah dia mengecek ponselnya nampaknya laki-laki itu habis mengecek grup chat miliknya. Teriakan Gilang yang cukup menggelegar sukses membuat semuanya kaget terutama Hujan yang duduk disebelahnya hampir saja dia menyemburkan minumannya kembali.


"Gua bingung harus bersyukur apa harus sedih sih" kata Radika sambil mengelap mukanya yang kuyup akibat semburan maut Yusril. Sedang Heksa hanya mengerjap.


"WOY INI DI MAKANAN GUA ADA SEMUTNYA?" Teriak Harsal tiba-tiba, sukses mengalihkan atensi dari kelima temannya.


"Ya terus?" Tanya Radika mengernyit heran sambil berbalik ke arah Harsal.


"Semutkan makhluk hidup Rad, berarti gua kanibal dong kan tadi semutnya kemakan sama gua" Kata Harsal yang sukses memancing emosi semua temannya itu.


"BODO SAL" teriak temennya minus Heksa.


"Ngga sekalian psikopat, kan lu kunyah juga sama bakso" Tambah Yusril dengan kesal.


"Udah buru selesain makan lu pada, kita sholat berjamaah habis ini" Kata Hujan sambil beranjak. Selain jadi seorang ketua umum OSIS Hujan juga selalu menjadi imam di masjid sekolahnya, dia biasanya bergantian dengan Radika. Laki-laki yang hobinya ngevlog itu sangat terkenal dengan jiwa agamisnya.


...•••...


Di ruang OSIS semua anak OSIS sudah berkumpul begitu juga Hujan dan Radika bahkan Harsal pun tak jadi absen. Ketua OSIS dua itu memutuskan untuk mengikuti ekstrakulikuler dan rapat harian OSIS secara bersamaan.


"jadi kita mau ngapain?" tanya Hujan. Membuat semua orang menatapnya dengan heran. Bukannya dia yang menyuruh semua anak OSIS kumpul? lalu kenapa sekarang malah bertanya seperti itu.


"Mabar yo" Jawab Harsal yang kemudian mendapatkan lemparan pengk i dari Radika.


"Ampun kanjeng" Jawab Harsal sambal berjalan ke pojok.


"Serius dulu bisa ngga?" Tanya Radika kesal, bagaimana tidak kedua temannya tak ada yang waras. Hujan malah diam seperti orang bingung, Harsal main game di pojokan. Mau melebur saja rasanya Radika bersama udara.


"Sepi banget kaya HP gua, dangdutanlah ayo" Teriak Gilang. Yang tiba-tiba masuk dengan kaos jersey basket tanpa lengan bersama Yusril.


"kalian kenapa ngga ekskul? " Tanya Radika selaku ketua OSIS satu yang keheranan melihat keberadaan kedua temannya.


"Ini mau kanjeng, lagi peregangan tuh di lapang" Kata Gilang. Sambil menunjuk banyaknya anak basket yang tengah peregangan.


"Oh" Jawab Radika mengangguk.


"Evaluasi Er, ayo yaampun ngga niat buat ganti ketua umum apa sih?" Tanya Radika kesal apalagi ketika melihat Hujan yang malah berlari kearah colokan. Mau apa lagi kalau bukan mau dangdutan kaya pagi kemarin. Pikir Radika.


"masa diganti Rad, udah sumpah susah-susah gua di depan lilin juga" kata Hujan sambil jongkok di depan colokan kemudian mengeluarkan hpnya.


"Mau ngecash kanjeng" Jelas Hujan karena melihat pelototan Radika. Memang ketua OSIS satu itu terkenal sangat cerewet dan tentunya masih waras dari yang lain.


"ngapain di depan lilin ngepet?" Tanya Gilang sambil memutar bola basket dengan telunjuknya.


"iya kan tiap malam sama lu" jawab Hujan sambil mulai membuka laptopnya. Tangannya merapihkan blazernya kembali tersenyum dengan berwibawa.


"ajak-ajak gua lah biar kaya bareng kita" tambah Yusril. Membuat semua anak OSIS mengernyit heran dengan topic yang mereka bicarakan 'ngepet'.


"Ikut lah gua juga buat beli computer gaming duitnya" Tambah Harsal berseru dari pojokan.


"Ngepetnya pending dulu ini kita mulai rapat harian dulu Er kasihan anak OSIS yang waras otaknya tar meledug" Jawab Radika sambil membuka buku agenda OSIS harian dan menyerahkannya kepada anak OSIS lain secara bergantian. Absen.


"Iya ini mau mulai kanjeng" Kata Hujan sambil membuka power point miliknya.

__ADS_1


"Sal bantuin cari remot AC dong, panas" Kata Radika, yang kembali perang dengan hilangnya remot AC. Sedang dirinya kini tengah membantu Hujan menyalakan proyektor agar semua anak OSIS bisa melihat dengan jelas.


"Oke gua mulai ya rapat OSIS hariannya" Kata Hujan sambil mulai menampilkan slide power point disana.


__ADS_2