
..."PALING DUIT GUA SAMA BENSIN GUA ABIS"...
Seorang laki-laki masih tertidur menelungkup di sebuah sofa panjang di ruang tamu, di depannya bekas minuman berbagai rasa dan juga pitza yang tersisa tinggal setengah dalam kotak yang dibiarkan terbuka. Dibawahnya berserakan kulit buah jeruk dan juga bekas coklat yang masih lengket. Bajunyapun masih sama yang kemarin dia pakai. Nampaknya laki-laki itu sangat kelelahan. Sampai tak sempat untuk berpindah tempat apalagi berganti pakaian.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 namun laki-laki itu nampaknya tak ada tanda-tanda akan bangun. Bahkan dia mengabaikan bunyi alarm yang dia pasang setiap menitnya. Hingga sebuah panggilan yang ke sembilan membuat laki-laki itu mengerang kemudian mengerjap.
[Calling]
Raden
"Iya" Katanya tanpa melihat siapa si pemanggil.
"BANGUN IRAWAN" Teriak orang di sebrang sana, spontan mata laki-laki yang di panggil Irawan itu terbuka tersadar dengan paksa. Dia Topan Irawan Dirgantara.
"Masih pagi ngapain nelpon si Den" Jawab Topan. Yang di balas dengan teriakan nyaring Raden.
"OSPEK, LU ADA OSPEK IRAWAN. BEM WOY BEM" jawab si penelpon.
"MAMPUS" Teriaknya sambil berlari kearah kamarnya mengabaikan telpon yang masih dalam panggilan dengan temannya.
Topan Irawan Dirgantara, Laki-laki yang genap berusia duapuluh di tahun sekarang. Mengambil kuliah jurusan kedokteran hewan. Yang di latar belakangi dari asal pilih jurusan yang penting kuliah dulu. Dan berakhir dirinya kesusahan dalam setiap pelajaran yang dia pelajari, karena semenjak SMA dia tidak pernah serius dalam belajar sedang kuliah dia malah masuk jurusan Kedokteran hewan. karena dia keterima di jurusan kedokteran hewan. kalau kata Topan semua ini salah Raden.
Tak menghabiskan waktu yang lama untuk mandi Topan langsung berlari menutup pintu kamarnya dengan pakaian yang rapih khas anak kuliahan. Namun kebiasaan topan mengantarkannya pada kesialan, karena topan harus menghabiskan waktu yang lumayan lama hanya untuk mencari kunci motor ninjanya.
"Gua simpan dimana kuncinya?" Katanya sambil terus mengubrak abrik meja dan sekitaran dia bangun tadi. Sofa. Namun kunci motornya tak juga ketemu. Tangannya sesekali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya mulutnya tak hentinya mengumpat. Mengumpati kunci motor yang tidak salah apa-apa.
"Akh sial, bisa habis leher gua di penggal Pahlevi" Katanya bermonolog seorang diri, pasalnya Pahlevi terkenal dengan tepat waktu dan juga disiplinya. Memang wajarlah ketua komdis nya itu anak tentara jadi sikap dan juga didikannya keras. Berbeda sekali dengan dirinya yang lumayan pemalas dan suka tidur dimana saja. Tidak tau tempat.
Karena takut akan kehilangan lehernya atau bahkan badan yang berpisah jadi dua, Topan melangkah keluar kemudian menelpon langganan taksi online. Nampaknya dia memilih menggunakan taksi online dari pada waktunya terbuang percuma hanya untuk mencari gantungan kunci snopy yang ntah dimana itu.
Keluar dari lift Topan langsung menuju lobi sambil menunggu taksi online yang bakal ditumpangjnya. Topan duduk di kursi tunggu yang di sediakan lobi apartemen nya. Kembali ponselnya berdering dengan nama sipemanggil yang sama, Raden.
[Calling]
Raden
"Apaan lagi den?" Jawab Topan.
"Dimana?" Tanya Raden
"Dijalan" Jawab Topan bohong sambil menutup ponselnya.
Tepat ketika dia menyimpan ponselnya, taksi online yang dia pesan pun datang dengan cepat dia berlari keluar menemui taksi online pesanannya itu.
"ke kampus ya mas?" Tanya supir taksinya. Topan hanya mengangguk.
"Ko pagi mas?" Tanya supir taksi itu lagi,
"Ada ospek?" Jawab Topan singkat.
"Mas nya anak Bem? Atau mahasiswa baru" Tanya supir taksi itu lagi. Rasanya Topan ingin menyerukan kalimat , bapaknya dora ya ko banyak tanya.
"Bem" Jawab Topan lagi.
Di perjalanan awalnya lancar-lancar saja, macet bagi Topan sudah biasa namun beda lagi ketika sebuah motor bebek menyalip taksi online miliknya membuat kaget supir taksi yang dia tumpangi itu.
"Kenapa pak?" Tanya Topan yang juga ikut kaget.
"Itu mas ada anak sekolah yang melanggar lampu lalu lintas " Tunjuk supir taksi itu pada motor bebek yang kini sudah mendahului di depan mereka.
"Nyawanya seribu kali pak, biarin aja" Jawab Topan sambil kembali bersandar. Dan tentunya langsung diangguki oleh supir taksinya.
Lampu kembali hijau, taksi yang Topan tumpangi kembali melaju ditengah kemacetan jalan raya, namun baru saja setengah perjalanan taksi itu kembali berhenti membuat Topan kembali mengernyit.
"Kenapa lagi pak?" Pertanyaan yang sama yang kembali Topan lontarkan.
"Itu motor yang tadi mas kejar-kejaran sama polisi lalu lintas sama ada motor matic mas kayanya bakalan macet parah" Jelas pak supir taksinya sambil menunjuk kedua motor yang lumayan jauh di depannya yang tengah kejar-kejaran dengan motor polisi.
Topan memijit keningnya pusing,kesabarannya sudah di uji pagi-pagi. Kembali dia melihat jam tanngannya, waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh.
"Yaudah pak saya berenti disini saja" Kata Topan sambil membuka pintu mobilnya kemudian keluar di tengah kemacetan, akibat oknum si bebek vs matic yang membuat gaduh jalan raya.
Topan berjalan menyebrangi banyaknya kendaraan. Dia berjalan ke arah trotoar hingga pandangannya menemukan seorang laki-laki yang tengah tertidur di tengah trotoar jalan yang dia lalui.
"Gembel ko pake baju tidur? Apa orang gila baru ya?" Gumam Topan pandangannya tak lepas dari laki-laki yang kini terlelap tidur tidak tahu tempat. Ingin rasanya dia membangunkan orang itu namun dia takut ketika bangun orang itu ternyata gila dan berakhir mengejarnya. Oh tidak jangan sampai, dia bergidik ngeri cukup sudah kesialannya sampai si oknum bebek dan matic yang membuatnya harus berjalan mencari jalan terdekat menuju kampusnya.
Karena cape Topan memutuskan untuk memesan ojek online, namun sudah hampir lima belas menit Topan menunggu ojek online pesanannya belum juga datang. Topan kembali menggerutu. Hingga pandangannya teralihkan kali ini pada pemilik motor matic yang tadi kejar-kejaran di jalan raya tengah memasuki gang sempit yang tak jauh dari dirinya berdiri.
"Bocah pembawa sial tadi tuh" Geram Topan sambil menunjuk motor matic yang memasuki gang sempit.
Selang beberapa menit ojek online pesanannya datang.
"Lama banget sih pak?" Tanya Topan sambil menerima uluran helm dari tukang ojek pesanannya.
"Maaf mas tadi ada kendala di jalan gara-gara ada anak sekolah yang di kejar polisi" Jawab si tukang ojeknya.
"Ck kedua oknum si bebek dan matic lagi" Gumam Topan gedek pasalnya karena kedua motor itu Topan sudah dipastikan akan telat sampai kampusnya.
__ADS_1
Selama di perjalanan Topan kembali terkena macet, dia terus menerus menyabarkan dirinya sendiri agar tidak emosi di tengah kemacetan jalan raya yang bahkan tak kan berujung itu.
"NANTI AGAK CEPETAN YA PAK" teriak Topan.
"HEUH? NASI KETAN? MASNYA MAU BELI? jawab tukang ojek itu
" CEPETAN BUKAN KETAN" Topan kembali menjawab. bersamaan dengan bunyi klakson mobil disebelahnya, spontan Topan berjengit kaget. kemacetan pun semakin menjadi.
"LAHAULA" kaget Topan.
"AULA? BUKANNYA KAMPUS YA? "
"IYA APA PAK?"
"AULA MANA MAS? DISINI KAMPUS SOALNYA"
"APA YANG MAMPUS?
"OH AULA KAMPUS?"
"IYA KENAPA PAK? ".
" OH IYA MAS", Topan terdiam mengernyitkan dahi heran, apa yang iya? Bahkan yang diucapkan tukang ojek itu tidak begitu dia dengar dengan jelas.
Sekitar dua puluh menit Topan sampai kampusnya. Dia langsung berlari ke sekre BEM fakultasnya sebelum ke lapangan untuk bergabung bersama BEM yang lain.
Topan termasuk anggota BEM fakultas namun di tahun ini Topan digadang-gadang akan di jadikan mentri, karena track record seorang Topan Irawan tidak diragukan lagi. Selain itu siapa yang tidak mengenal seorang Topan Irawan Dirgantara laki-laki berparas tampan dengan lesung pipit yang membuat laki-laki itu terlihat manis dan tampan secara bersamaan. Kulit putihnya sangat kontras dengan retina hitam dan juga rambut legamnya yang rapih.
"Baru sampe lu?" Tanya Degas, yang langsung diangguki oleh Topan.
"Yang lain mana? Lu lagi ngapain? " Tanya Topan sambil memakai blazer universitas.
"Udah pada di lapangan, ngambil speaker nih" Jawab Degas sambil menunjukkan speaker biru di tangan kanannya. Topan kembali mengangguk setelah itu melangkah keluar bersama Degas.
Benar saja di lapangan sudah penuh dengan mahasiswa baru. Baru saja kakinya melangkah memasuki lapangan teriakan Pahlevi yang nampaknya tengah memarahi mahasiswa baru yang telat sangat menggema cukup mencuri perhatiannya. Pantas saja Pahlevi dijadikan ketua Komdis sikap tegas serta auranya sangat berbeda dengan dirinya yang bisanya hanya nge jokes yang ngga penting. Terlepas dari laki-laki itu anak seorang tentara.
"Lama amat si bapak jalannya kaya miss Indonesia" Kata Derri yang melihat Topan dari jauh. Topan langsung berlari, dirinya adalah seorang mentor untuk fakultas kedokteran Hewan bersama Derri.
"Naaah ini kabem tampan fakultas kedokteran hewan, namanya kak Irawan. Gimana ganteng banget kan?" Kata Derri. Sedang Topan hanya tersenyum, lesung pipitnya membuat semua mahasiswa baru terdiam. Iya, Topan kalau senyum lesung pipitnya pasti bikin semua orang terpana. Saking tampannya laki-laki itu sering di juluki anak Aphrodite. Namun sayang Topan itu termasuk laki-laki singgle yang tak pernah berniat mencari pacar. Dia pasti akan bilang kalau di tanya kenapa? Topan selalu menjawab, matkul gua lebih harus di mengertiin dari pada hati cewe. Nyambung ngga bingung iya. Intinya matakuliah dia saja membuatnya kebingungan untuk nuntasin semua SKS nya, gara-gara faktor asal kuliah itu yang bersumber dari sahabat sialannya, Raden. Mana keburu dia ngurusin pacaran yang ada bikin dia ribet doang.
"Ada yang niat ngatri jadi pendamping di pelaminannya ngga? Lagi buka pendaftaran nih kabem. Btw Masih jomblo nih" Kata Derri dengan mulut tidak pentingnya.
Kericuhan pun terjadi, mulut Derri memang pantas diberikan penghargaan trophy terbaik mulut julid. Selain julid bakat terpendam laki-laki kedokteran hewan itu ternyata pandai juga bergibah. Sedang Topan dari tadi tengah menahan tangannya untuk tidak membekap mulut Derri dengan blazer universitasnya. Hingga laki-laki itu kehabisan nafas, dan mati.
Gara-gara ulah mulut ngga penting Derri banyak mahasiswa baru yang bertanya-tanya hal yang ngga kalah ngga pentingnya dari mulut Derri. Untung Topan sudah terbiasa, dia sudah bisa menghendle keadaan. Dia hanya tersenyum, seperti terkena sihir seluruh mahasiswa baru langsung terdiam.
"Eh, kedengeran ngga sih lu semua?" Tanya Topan berbisik kepada salah satu mahasiswa baru, karena sependengarannya dia ngga begitu jelas.
"Kedengaran dikit ka" Jawab salah satu maba. Topan yang mendengar jawaban itu kemudian berlari sesaat setelah menyuruh mereka untuk diam. Dia berlari mencari Derri yang berdiri di ujung.
"kenap pak?" Tanya Derri yang melihat kedatangan Topan.
"Speakernya aga kerasin dikit, kasihan sebagian maba ada yang ngga kedengeran buat arahannya" Jelas Topan yang langsung di angguki Derri.
Setelah selesai Topan kembali berlari lagi ke depan, tepatnya pinggir mahasiswa baru.
"Kak jadi BEM rasanya gimana?" Tanya salah satu maba,
"Rasanya kaya lu makan es batu" Jawab Topan singkat. Membuat maba itu sedikit tertawa.
"Kak ngambil jurusan kedokteran hewan cape ngga?" Tanya mahasiswa baru itu lagi. Yang ntah siapa Topan tidak mau tahu.
"Rasain aja ntar" Jawab Topan singkat.
'Masih bisa nafas aja sampai sekarang, syukur gua' -lanjutnya dalam hati. Karena Topan sendiri sekarang kewalahan menjadi mahasiswa kedokteran hewan, sebenarnya itu semua berawal dari usul Raden karena Topan yang kebingungan mencari jurusan dulu. Dengan santainya Raden bilang, asal pilih aja udah kalau rezeki ngga kemana, yang penting kuliah. Dan berakhirlah dirinya di fakultas kedokteran hewan. kalau ada tempat lelang orang dia sudah melelang Raden dari dulu.
"Pengarahannya di catat ya, gunain buku kalian" Kata Topan.
Tanpa terasa, waktunya ISOMA Topan dengan aktif kembali lagi mengecek mahasiswa baru takutnya tidak ada yang membawa bekal. Dan dia cukup bersyukur karena semua mahasiswa baru yang dia pegang bawa bekal.
"Makan dulu Wan" Teriak Pahlevi karena Topan masih ada di tengah-tengah mahasiswa baru.
"Iya lev" Jawab Topan sambil berlari ke kumpulan anak BEM dan menerima nasi kotak bagiannya.
Sebelum makan pandangannya jatuh pada seorang mahasiswa baru yang nampaknya tidak membawa bekal. Topan agak berjalan sedikit untuk memastikan penglihatannya. Kemudian Topan berlari kearah Degas untuk membisikan sesuatu.
"Maba di barisan tengah ada yang ngga makan, gas" Kata Topan sambil mengambil duduk di samping Degas. Spontan Degas langsung menyapukan pandangannya, saking banyaknya mahasiswa baru dia cukup kesusahan untuk mencari mahasiswa baru yang di maksud oleh Topan. Hingga dia menemukan seorang mahasiswa baru yang dimaksud teman BEM nya itu.
"Oh iya" Kata Degas.
"Nih kasihin makanan punya gua" Kata Topan sambil memberikan nasi kotak bagiannya.
"Lah lu?" Tanya Degas.
"Gampang gua mah" Jawab Topan.
"Si bapak peduli banget" Kata Rafta, anak BEM yang duduk di samping Degas.
__ADS_1
"Bukan gitu, kalau tuh anak sakit terus nyusahin kan rese bikin repot yang ada" Jawab Topan, jauh dari ekspetasi seluruh anak BEM. Ternyata Topan tidak mau repot bukan nya respect.
"Udah lu kasih?" Tanya Topan pas melihat Degas yang mulai berjalan kembali kearahnya. Degas mengangguk kemudian duduk di samping Topan.
"Gua panggilin Karina dulu buat minta nasi kotak" kata Degas.
" Ngga usah gas" Sela Topan cepat tak jadi membuka blazernya.
"Lah kenapa?" Tanya Degas heran, pasalnya bisa di penggal dia sama Pahlevi kalau liat ada anak Bem yang tidak makan.
"Gua-" Belum juga Topan menjawab, mulut ajaib Derri kembali berulah. Gibah.
"Yang bakal jadi calon mentri makin shining shimmering splendid aja" Kata Derri memulai gibah sambil menyuap.
"Gibah lagi gua geprek lu der" Jawab Topan sambil membuka blazer universitasnya, karena panas.
"Ngga gibah gua wan, orang yang gua gibahin di depan mata" Jawab Derri. Yang kemudian mendapat lemparan blazer dari Topan.
"Makanan gua hampir jatuh sapi" Kata Derri karena ulah blazer Topan hampir saja Derri tidak makan siang.
"Iya gua denger tahun ini Ale bakal nyapres di ajak masuk partainya bang Biru. Pastilah Pahlevi sama lu bakal masuk jadi mentri" Kata Degas.
"Ngga niat jadi mentri gua, sekre BEM univ jauh malesss" Jawab Topan.
"Yeuh si sapi, kalau Ale jadi presiden otomatis lu kebawa sama Pahlevi. Mau ngga mau sih" Kata Derri sambil memukul pundak Topan.
"Kira-kira Ale menang ngga ya? , lawannya anak FISIP gua denger partainya bang Jafar" Tanya Degas penasaran sampai-sampai nasi kotaknya dia anggurin.
"Anak FISIP saha?" Tanya Rafta.
"Junas, kalau ngga salah anak HI" Kata Derri.
"Oh tau gua, sepak terjang anaknya ngga diragukan lagi tuh. Cukup terkenal juga" Kata Topan.
"Lah lu kenal wan?" Tanya Rafta.
"Temen satu kosnya yang mulia" Jawab Topan sambil ketawa jenaka.
"Berarti kemungkinan, mau si FISIP yang menang atau Ale yang menang lu tetep masuk Bem univ wan" Kata Degas.
"Hubungannya naon bos?" Tanya Rafta bingung. Sedang Degas hanya tersenyum penuh makna ke arah Derri.
"Yah mau Junas atau Ale, Irawan bakal di tarik jadi mentri apalagi dia deket sama Raden gua denger Raden temannya Junas pasti dikasih kursi lah buat jadi mentri juga" Jelas Derri. Yang membuat Rafta semakin bingung, terlihat dari kerutan dahinya yang semakin dalam.
"ngga nyampe otak gua Der" jawab Rafta bingung.
"otak lu kaya tahu bulat sih kopong" kata Degas.
"kebanyakan ngapalin anatomi lu" tambah Derri.
"intinya tuh Irawan bakal di tarik jadi mentri tinggal dia pilih mau masuk partai bang biru atau masuk partainya bang jafar" jelas Degas lagi.
"oh gitu" jawab Rafta mengangguk. ntah mengerti atau tidak.
"tunggu aja bentar lagi pasti banyak tawaran" tambah Degas.
"tawaran apaan?" tanya Rafta.
"manggung" jawab Degas kesal.
"mau siapapun itu baik bang jafra atau bang biru gua ngga niat jadi mentri. Udah gua ngga nerima sanggahan" Jawab Topan final.
"jafar wan bukan jafra" ralat Derri. sedang Topan memilih abai.
"Eh bentar, Lu gimana wan? Ngga makan gitu?" Tanya Rafta yang melihat Topan hanya diam saja dari tadi, Topan hanya tersenyum kemudian dagunya mengarah pada seorang laki-laki yang berdiri di ujung lapangan. Dia Raden.
"Abis ISOMA, gua udah izin ke Ale sama Pahlevi juga. Gua ngga bisa ikut acara sampe akhir mau ngerjain tugas sama yang mulia" Jelas Topan yang langsung membuka blazer universitasnya.
"Yah kasihan, penyemangat maba ilang dong" Kata Hari, laki-laki yang baru bergabung disana bersama nasi kotaknya.
Topan yang mendengar perkataan teman BEM nya itu hanya bisa ketawa, sambil menyampirkan blazer universitasnya di pundak.
"Yaudah gua cabut ya" Kata Topan yang langsung berjalan meninggalkan perkumpulan anak BEM lain.
Ketika Topan sampai di tengah lapang teriakan seorang mahasiswa baru yang ntah siapa membuat seluruh mahasiswa baru terarah kepadanya.
"Mau kemana kak?" Teriak mahasiswa baru itu.
"Ada tugas istana" Jawab Topan sambil tersenyum ramah. Sontak seluruh mahasiswa baru mengeluh ditinggal kakak BEM yang menjadi favoritnya.
"Wes, nambah nih penggemar lu?" Kata Raden. Topan hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Ke sekre BEM dulu ya, bawa tas" Kata Topan sambil berjalan.
"Iya" Jawab Raden.
Topan dan Raden ini bersahabat dari mulai SMA. Mangkanya Topan sangat akrab dengan Raden, dulu waktu SMA keduanya adalah murid bandel yang hobinya keluar masuk BK sama menuhin buku hitam milik anak OSIS. Namun sekarang mereka sudah berubah, banyaknya masalah yang sering keduanya lalui membuat mereka dewasa seiring berjalannya waktu. Raden itu sudah seperti pengingat bagi Topan makanya Raden selalu memastikan Topan tidak kesiangan dan Topan tidak berulah.
__ADS_1