
Arsaka menginjak pedal gas setelah memastikan Ardasa masuk kemudian mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.
Kini yang ada di pikirannya hanya adiknya. Gempa. Siang tadi Arsaka mendapatkan telponan dari pak Darma kalau adik semata wayang mereka masuk rumah sakit. Ketika Arsaka mendapatkan kabar bahwa adiknya di rumah sakit dia langsung mendobrak pintu ruangan kembarannya kemudian menariknya tanpa peduli dengan berkas milik Ardasa yang berhamburan. masabodo adiknya nomor utama.
"Berkas kerja gua ARSAKa KALAU ILANG GIMANA" Teriak Ardasa di dalam mobil.
"Sa aku dapet kabar dari pak Darma, tapi jangan kaget dulu" kata Arsaka, tanpa mengalihkan pandanganya dari jalanan.
"Kabar apa ko gua ngga di kasih tau" jawab Ardasa memelankan suaranya.
"Alkana di rumah sakit katanya---"
"HAH DIMANA ? KENAPA? KO BISA DISANA? KAPAN KEJADIANNYA ?" Belum juga Arsaka selesai menjelaskan, Ardasa sudah memotongnya dan membrondonginya dengan pertanyaan. Kondisi Ardasa kini tak jauh beda dengan dirinya tadi tat kala diberitahukan oleh pak Darma prihal adiknya yang kini di rumah sakit.
Untung saja si kembar sudah merampungkan kasusnya. Jadi si kembar tidak begitu sibuk di kantor. Berkas yang di pegang Ardasa tadi palingan berkas bekas kasus yang sudah ke persidangan minggu lalu.
"tadi sa, aku juga kaget. Ntah jelasnya mungkin nanti kita bisa tanyakan pada pak Darma" jelas Arsaka kakinya tiba-tiba saja menginjak pedal rem karena didepannya kini lampu merah, membuat Ardasa yang belum siap terantuk ke depan mengenai dasbor mobil.
"PELAN-PELAN ARKA" teriaknya dibarengi dengan umpatan-umpatan untuk sodara kembarnya karena tiba-tiba saja mengerem mendadak, dan membuat jidatnya benjol.
"PAKE SEATBELT SA" teriak Arsaka tak mengalihkan pandangan, tangannya yang di stir mobil tak bisa diam menandakan kalau laki-laki itu tengah gusar.
Tepat ketika lampu hijau Arsaka langsung menginjak gas tanpa peduli dengan bunyi klakson mobil lain yang terganggu akibat dia mengemudi dengan ugal-ugalan di jalan.
"WARAS DIKIT ARKA INI MAH KITA SAMPAI KE AKHERAT BUKANNYA SAMPAI KE RUMAH SAKIT" teriak Ardasa menutup matanya, sambil memegang erat seatbelt tak sanggup melihat jalanan yang membuatnya pusing karena kembarannya mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"MASIH MAU HIDUP" tambahnya dengan kondisi masih memejam mengingat kembarannya tak juga menurunkan kecepatannya. Sedang Arsaka memilih diam tak berniat menanggapi perkataan kembarannya yang mulai emosi.
"MASIH MAU NIKAH ARKA" teriak Ardasa dibarengin dengan suara decitan rem, Ardasa membuka matanya sedikit kini mereka tengah ada di sebuah parkiran. Pandangannya teralihkan tak kala melihat kembarannya yang terus saja menetralkan nafasnya agar kembali stabil.
"keluar ayo" Ajak Arsaka sambil membuka seatbeltnya kemudian berjalan ke arah lift dibarengi dengan kembarannya di belakangnya.
...•••...
Di dalam ruang rawat Gempa, kini sudah ada pak Darma bi Sumi dan juga si anak kuliahan juga beberapa anak SMA yang ntah siapa.
"Tadi bapak udah cari kemana-kemana, ngga ketemu ya ampun. Mas Alkana sih kemana" Kata pak Darma sedang bi Sumi masih nangis melihat anak majikannya.
"Sudah biasa pak, tapi tadi lumayan fatal sampai ketubruk" Jawab Gempa.
"Maafin gua ka, gua ngga sengaja" Kata si anak kuliahan.
__ADS_1
"Gua juga ka" Tambah si anak SMA.
"Ngga papa, udah takdir gua kaya gini" Jawab Gempa ramah.
"Btw nama gua Irawan ka" Kata si anak kuliahan.
"Gua Javier ka" Kata si Anak SMA. Gempa mengangguk. Kemudian matanya terarah kepada dua anak SMA yang ntah siapa lagi.
"Gua Arva ini Devano teman gua, terus yang pingsan di pinggir lu tadi Heru" Jelas si anak SMA yang bernama Arva.
"Oh iya, gua Alkana. Ini pak Darma dan ini bi Sumi. Teman lu yang pingsan ngga papa itu?" Tanya Gempa sambil menunjuk satu persatu secara bergantian kepada pak Darma dan juga bi Sumi yang kini ada disampingnya.
"Udah biasa dia kalau lihat darah dikit pingsan" Jawab Arva membuat semuanya menganga lebar tak habis pikir dengan keanehan yang baru saja mereka temui.
"Oalah kalau dia berdarah gimna to" Tanya Pak Darma penasaran.
"Yah pingsan sendiri" Jawab Devano simple.
"Teman kalian menderita Hemophobia?" Tanya Gempa. Arva mengangguk.
"Maaf ya gua jadi nyusahin kalian semua gini" Kata Gempa.
"Ngga papa ka santai" Jawab Irawan.
"Iya ka ngga papa, bisa izin ko" Jawab Javier.
Brak...
Pintu ruang rawat Gempa di dobrak dengan paksa pelakunya dua kakak kembar Gempa, Arsa dan Arka. Kehadiran si kembar cukup membuat semua orang yang ada di ruang rawat Gempa mengalihkan atensinya.
"Ko mukanya sama" Gumam Javier.
"Kembar" Jawab Irawan.
Bruk..
Si kembar langsung memeluk Gempa dengan cepat membuat Gempa mengaduh karena tertindih si kembar.
"Kamu ngga papa, mana yang sakit ini kenapa kepala kamu bocor?" Tanya Arsaka sambil memegang kepala Gempa yang di perban.
"Ko bisa gini ini, emangnya kamu pulang malam lagi?" Tanya Ardasa.
__ADS_1
"Ini kaki kamu di perban juga sama tangan kamu Alkana, kamu ko bisa gini siapa yang ngelakuin ini sama kamu?" Tanya Ardasa lagi. Sedang Gempa dari tadi menatap si kembar dengan pandangan datar.
"Kasihan to mas itu mas Alkananya susah nafas sama gerak" Kata pak Darma, karena Arsaka masih saja memeluk Gempa sedang Ardasa dari tadi memegang semua luka adik semata wayang mereka. Dan semua yang ada disana memandang si kembar dengan tatapan ntah tidak bisa di deskripsikan walau dengan kata-kata.
"Aku jelasin satu-satu. Tadi aku jatuh dari pohon terus aku ketubruk sama keserempet mot" Belum sempat Gempa meneruskan.
"Sini mana orang yang nubruk sama nyerempet kamu kakak gugat" Kata Ardasa yang berhasil membuat Javier dan Irwan gemeter ketakutan.
'Mampus pengacara' -batin Irawan dan Javier bersamaan.
"Heh jangan menyalahgunakan kekuasaan Sa" Kata Arsaka
"Iya ka aku ngga papa lagian, ini sudah biasa" Jawab Gempa.
Percekcokan antara si kembar pun berlanjut yang satu minta buat tanggung jawab minta maaf dan sebagainya yang satu lagi bersikap lapang dan dewasa. Akhirnya karena sikap Arsaka, Ardasa pun mengalah dan meminta maaf kepada Irawan dan juga Javier walau sedikit sulit.
"Maafkan kembaran saya ya, dia hanya shock saja melihat adiknya celaka" Jelas Arsaka.
"Iya kami juga minta maaf tidak hati-hati dalam mengemudi, maaf boleh kami pulang ini sudah sore kebetulan saya belum sholat ashar" Jawab Irawan, Javier hanya mengangguk takut salah bicara.
"Kami juga mau ke ruang inap teman kami" Tambah Arva dan juga Gardian. Arsaka kemudian mengangguk.
"Mari saya antar kalian keluar" Kata Arsaka.
Malam hari Gempa kehausan, si kembar tertidur saling menyender di bangku tunggu sedang bi Sumi dan pak Darma sudah pulang dari tadi. Karena tidak mau membangunkan sang kakak Gempa berjalan keluar seorang diri mencari kantin rumah sakit karena gelas minum yang disediakan pihak rumah sakit sudah habis. Dia berjalan seorang diri kearah kantin rumah sakit kemudian dia berjalan kearah mesin minuman. Karena ada orang di depannya Gempa harus menunggu lumayan lama, hingga dia dibuat menganga ketika melihat seorang laki-laki di depannya tangannya penuh dengan banyak minuman yang sama berukuran mini.
'Buset itu mau buat se RT apa gimana?'-batin Gempa.
Atensinya terus teralihkan sampai dia melihat laki-laki tadi duduk di salah satu tempat duduk di kantin dengan beberapa minuman yang sama di depannya.
'Buat dirinya sendiri? Ngga kembung? '-batin Gempa tak habis pikir.
"Alkana" Teriakan itu cukup mengalihkan atensinya dari laki-laki aneh tadi.
"Kelvin lu ko di sini?" Tanya Gempa.
"Lu tadi chat gua pesen minum, sekalian aja gua beli di kantin rumah sakit eh gua malah ketemu lu. Nih gua udah beli minum" Jelas Kelvin teman Gempa. Memang tadi Gempa berkata pada Kelvin di chat kalau dia haus dan butuh minum sedang minuman di ruangannya habis. Karena dia tidak di ruang VIP. Mau minum pun susah.
"Iya sih" Jawab Gempa.
"Gua kan udah bilang, gua jenguk lu abis isyaan al soalnya kalau isyaan disini gua mana tau dimana lagian ribet juga ntar" Jawab Kelvin. Gempa mengangguk kemudian mengajak Kelvin pergi.
__ADS_1