
"katanya sih karena iseng, ada uang lebih. orang kaya mah bebas-" ujar laka menjeda perkatannya sambil menoleh ke arah guntur sekilas hanya untuk melihat respon bungsu keluarga bagaskar.
"biar nambah lapangan pekerjaan sih buat saya yang kerjaannya pengangguran " tambahnya lagi.
"Ah gitu ya" respon guntur mengangguk tanpa menoleh fikusnya masih ke jalanan yang lumayan padat.
selama perjalanan ke kencana Kafe guntur hanya diam mungkin sesekali merespon perkataan Laka yang menceritakan asal usul kafe terbentuk selain karena keisengan keluarga bagaskar yang demi apapun tidak berguna bagi guntur dengar.
"parkirnya di depan toko bunga aja mobil ngga muat di halaman kencana kafe, sempit" kata laka sambil menunjuk toko bunga tepat di samping Kencana kafe, Toko bunga itu memang mempunyai halaman yang luas berbeda dengan kencana kafe. guntur mengangguk sebelum menginjka pedal rem dan memarkirkan mobilnya.
"sebelum anda masuk anda harus memastika bahwa akal sehat anda berfungsi dengan baik, soalnya hanya anda yang saya anggap waras di dalam kafe nantinya" jelas laka sebelum keluar dari dalam mobil dia mewanti-wanti guntur terlebih dahulu. ntah apa tujuannya guntur memilih abai.
"iya" jawabnya asal sambil membuka seatbelt
Guntur mengekori laka, namun belum sempat kakinya melangkah masuk dia hampir kejatuhan papan nama yang bertuliskan "kencan fe"
"oh maaf Pak, padahal kemarin masih kuat pengait nya walau tinggal satu" kata laka mengambil alih papan nama kafe kemudian membuangnya sembarang. membuat guntur seketika bergeming.
"anda tidak apa-apa?" tanyanya lagi. Guntur menggeleng
'hampir aja pala gua bocor'
Guntur menghela nafas, kemudian mengedarkan padangangan kesemua sudut kafe matanya memejam -miris- karena melihat warna cat dinding yang memudar juga berjamur.
'ini kafe atau tempat pembuangan akhirsih' pikirnya.
"beginilah kondisinya" laka berujar setelah menoleh kearah guntur hanya untuk melihat mimik muka atau respon dari calon managernya nanti.
Guntur kembali bergeming mengehela nafas lagi ketika melihat semua orang yang ada di dalam kafe mulai dari barista, bagian kasir dan pelayan hampir kebanyakan mereka melamun semua, ngga ada kerjaan sama sekali.
'OH TUHAN' jerit hati guntur.
"ko lu sendirian Fin? Faisal kemana? sakit?" tanya laka.
"ngundurin diri bang"
"jadi lu doang dong?"
"iya bang, ini juga gua mau ngundurin diri bang, gua, Arya sama Nino mau undur diri bang" jelas laki-laki itu lesu. laka seakan tak kaget dia hanya mengangguk kemudian menerima surat pengunduran diri dari laki-laki tadi.
"Raden belum dateng apa ngundurin diri juga?" tanya laka lagi sambil celingak cwkinguk kearah meja barista.
"belum dateng bang ada kelas siang"
"oh lu ngga mau ngundurin diri juga sekalian Jun" tanya Laka, Laki-laki yang dipanggil jun tadi menggeleng.
"kaget kan anda? akal sehatnya masih berfungsi kan? jangan kaget udah biasa di kencana kaya gitu" jelas laka, guntur mengangguk kaku.
'sudah biasa ya' hatinya ikut bicara.
"Nel ngelamun mulu lu, diputusin lagi sama cowolu?" tanya laka pada seorang perempuan yang tengah duduk di belakang kasir.
"biasa bang, diputusin Geri" jawab laki-laki yang di panggil Jun tadi.
"Geri jadi resign juga?" tanya laka, laki-laki tadi kemudian mengangguk.
"jangan galau Nel ada Junas ya ga jun" jawab laka sambil tertawa seorang diri padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
"dah lah gua keatas dulu, mau ke singgasana" jawab laka. Guntur kembali mengekor kali ini laka membuka sebuah pintu dengan tulisan yang sudah sedikir burem jadi yang twrbaca hanya tulisan 'staf on' sedangkan yang lainnya sudah luntur.
helaan nafas kedua kekuar lagi dari mulut guntur.
'apa susahnya di ganti' pikir guntur kesal
rupanya dari pintu tadi mengarah ke lantai dua disana ada sebuah tangga dari kayu yang sedikit lapuk juga sedikit berjamur yang menyebabkan tangga licin jika diinjak.
'bisa-bisa sehari kerja disini langsung meninggal nih gua atau geger otak gara-gara menggelinding dintangga licin sama bocor dikepala akibat kejatuhan papan nama' batinnya kembali berseru. kemudian bergidik tat kala dirinya terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya. ngga lucu kan kalau sehari kerja langsung ada di headline koran "seorang manager baru kencana kafe meninggal karena tergelincir di tangga dan kejatuhan papan nama kafe" guntur kembali bergidik.
"pak, pak anda melamun? udah siap belum?" tanya laka lagi seakan guntur akan masuk ke sebuah wahana yang menakutkan. gutnur kembali menganghik.
tangan laka kemudian menekan knop pintu usang yang bahkan hampir copot. pendengaran guntur langsung di suguhkan sebuah lagu dangdung yang dibunyikan lumayan nyaring.
'kemana-kemana kemana
__ADS_1
'kuharus mencari kemana
'kekasih tercin---bip.
"kebiasaan emang" gumam laka setelah mematikan oudio.
"selamat malam bang laka" teriak laki-laki yang tengah memainkan kursinya memutar seperti anak TK.
'stress siang bolong gini ko malam' batin guntur
"namanya Regala Arka abimana panggil aja Regal mahasiswa abadi universitas Ranajaya, gara-gara ngga lulus-lulus dia mutusin untuk keluar dari kampus dan mencari pekerjaan" jelas laka sambil melirik ke arah guntur hanya untuk melihat respon si calon manager kafe. Guntur diam tak merespon apapun.
"ah itu anda lihat laki-laki yang sedang membaca komik?, dia Akara Mahesa Pranaya panggil aja Mahesa karyawan yang kena PHK dari perusahaan ternama, dia sedikit depresi kemudian melamar disini" tambahnya sambil menunjuk laki-laki yang terlihat sedang membaca komik. dimejanya bahkan ada tiga tumpuk komik. guntur hanya mengerjap. laka menghela nafas sejenak, sebelum jarinya kembali menunjuk seorang perempuan.
"dia Pianka Renggasa ayudia cita-cita ingin jadi artis terkenal tapi sayang ngga lulus-lulus casting, jadinya gitu tiap hari melamun" jarinya menunjuk seorang perempuan yang sedang melamun di depan jendela.
"dan itu laska Jenggala Asegra, dipanggil Laska. pinter, otaknya cerdas IQnya tinggi banget namun sayang kelewat jadi gini" tambah laka sambil memiringkan telunjuknya.
"Nah satu lagi Arnata,eh anaknya mana ya. Pi mana Arnata?" tanya laka.
"tuh" tunjuk Pianka pada sebuah kursi panjang disana ada seorang perempuan yang sedang tengkurap.
"tidur? udah acc belum skripsinya?" tanya laka, Pianka menggeleng.
"kayanya bakal nyusul Regal nih"
"itu Arnata Putri dewangga mahasiswi semester akhir yang ngga di acc setiap judul skripsinya" tunjuk laka.
"oh iya panggil aja Nata" tambahnya.
ntah kenapa semua yang laka sebutkan seakan orang-orang buangan yang tidak berguna di dunia membuat guntur menganga hebat.
'ntah kesalahan apa yang saya lakukan di masa lalu sampai harus melewati semua cobaan ini' pikir guntur.
"dan itu ruangan anda pak" tunjuk guntur pada sebuah pintu kayu dengan tulisan manager di atasnya.
guntur kemudian membuka pintu kayu itu, debunya bukan main tebalnya guntur bahkan bersin terus menerus karena debu.
"maklum ruangan ini sudah terkunci sekitar lima bulan jarang ada yang buka makanya debunya sampai satu meter" jelas laka. Ntah guntur harus merespon seperti apa guntur bingung.
"Saya rasa materi ini sampai disini saja, ada pertanyaan lagi, sebelum saya mengakhiri kelas ini? "
"Tidak" Teriak seluruh mahasiswi sserempak, sedangkan mahasiswa di kelas itu terlihat tidak peduli sama sekali.
"Baiklah kalau tidak ada, pertemuan kali ini dicukupkan sekian, seperti biasa besok pak Kenangan sudah kembali kelas ini akan di pegang kembali oleh beliau" tambahnya.
"Yah pak, berarti ngga sama bapak lagi dong" Teriak salah satu mahasiswi di bangku belakang sontak membuat seluruh pasang mata tiap mahasiswi mengarah secara spontan ke arah gempa. meminta jawaban.
gempa hanya mengangguk, menatap sekilas perempuan itu kemudian melanjutkan kembali membereskan barang-barangnya.
"Yaaaah" Seperti biasa semua mahasiswi dikelas mengeluh, siapa sih yang mau di tinggal asisten dosen setampan dan sebaik gempa.
"bapak jadi dosen tetap saja pak" kata salah satu mahasiswi lagi kali ini dari bangku depan.
Gempa tersenyum, kemudian menggeleng,
"Saya juga mahasiswa seperti kalian, bedanya saya mahasiswa semester akhir sebentar lagi lulus" Jelas Gempa.
sambil menutup laptopnya dan memasukkannya kedalam tas.
"jidatnya kenapa pak? jatuh ya? "
Gempa menaikkan alisnya, kegiatannya terhenti dari sekian banyak mahasaiwi yang bertanya ada satu perempuan yang berani bertanya tentang kondisinya.
"iya, mau ngobatin? " tanya gempa diakhiri dengan tawa renyahnya. Si mahasiswi yang di tatap oleh Gempa langsung terdiam mukanya sedikit memerah.
"Sudah ya, selamat belajar" Finalnya dirasa sudah selesai dengan kegiatannya-membereskan buku beserta laptop dan juga proyektor.
Keluarnya Gempa dari kelas bersamaan dengan keluhan setiap mahasiswi yang tidak rela kehilangan dirinya. masih untung mereka hanya merengek bahkan ada yang mengikuti gempa layaknya seorang sasaeng terhadap idolnya.
kaki panjangnya melangkah menuruni tangga tepat di depan fakultas hukum dia menghela nafas menyesali dirinya yang harus berjalan lumayan jauh ke ruang asisten dosen karena tidak membawa mobil. menghubungi kelvin pun tidak ada gunanya anaknya pasti lagi ada kelas.
"bang Alkana" gempa menoleh menemukan Topan yang kini mulai berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"mau kemana?" tanya Topan.
"ke ruang asdos wan, lu mau kemana?" tanyanya balik.
"mesjid bang" jawab Topan. genpa menganguk kemudian menyambung jalannya kembali.
"oh iya bang tadi lu ko bisa bareng sama mas aga?" tanya Topan lagi, Gempa sudah bisa menebak Topan pasti akan bertanya prihal tadi. masih untung dia tidak menanyakan lebih jauh tentang kemana dirinya pergi ketika malam tiba. atau Topan tidak menyadari? atau hanya pura-pura acuh saja, yang jelas gempa mensyukuri itu.
"soalnya tadi gua ngga kuat bawa mobil ditawarin mas aga gua iyain aja wan dari pada ngga ke kampus, keenakan mahasiswa tar ngga belajar" jawab Gempa diakhiri tawa jenaka. Topan emnagnguk ingin bertanya lebih jauh namun jawaban tadi cukup twedengar lugas.
"berati lu baliknya pake ojol? atau sama mas aga lagi?" tanya Topan.
"ngga tau, ojol paling atau--
" saran gua sih bang mending sama si javier atau kalen bang" potong Topan.tanganya merogoh saku celana mengeluarkan ponselnya.
"ngga enak gua nyusahin orang, hidup gua nyusahin kalian mulu" jawab gempa jujur. Topan menggeleng sambil sesekali berbalas pesan ntah dengan siapa gempa abai.
"nih kata si javier nnti di jemput kalen katanya tunggu aja di depan univ" kata Topan sambil menunjukkan isi chat dari Hujan.
"eh ngga usah--
" ngga papa bang lu kan sungkan sama mas aga lah gua juga sama masih sungkan, mending sama dua bocah itu aj---
"tunggu lu emang ngga bawa motor?" potong Gempa.
"ngga bang, lu tau sendiri habis gotong lu tangan gua pegel terus nyeri seharian, untung ngga patah bang tangan gua" jawab Topan lebay, sambil memengang tangan dan bahunya bergantian.
"ya maaf wan" jawab gempa ngga enak. topan menoleh melihat raut wajah gempa tanganya kemudian merangkul pundak yang lebih tua
"santai aja bang sebagai manusia harus saling tolong menolong apalagi kita sodara kan satu kosan", gempa terdiam kemudian tersenyum ke arah Topan.
Tanpa mereka sadari mereka menjadi pusat perhatian setiap mahasiswa yang mereka lewati, bagaimana tidak mahasiswa populer dan juga asisten dosen keduanya orang yang sangat berpengaruh di Ranajaya. kedekatan mereka sudah jelas bakal jadi bahan obrolan di time line twitter Ranajaya.
"gua duluan yang wan" Topan mengangguk mereka berpisah di pertengahan jalan Topan berbelok kearah mesjid sedangkan Gempa berbelok kearah gedung dua. tempat Asisten dosen berada.
kaki panjang Topan melangkah memasuki area mesjid, baru aja hendak duduk dan membuka sepatu tepukan di bahu ulah seseornah membuatnya menoleh menemukan derri yang kini sedang berdiri di belakangnya.
"heh lu kenal bang alkana?", Topan mengangguk sekilas seblum duduk di lantai mesjid.
" gimana bisa ko bisa lu kenal bang alkana? cerita lah bos", topan menoleh kali ini Degas yang bertanya.
"heh lu yang bikin muka gua jadi sticker di grup bem ya kambing" tanya Topan, bukannya menjawab topan rupanya masih dendam kesumat sama degas.
"jawab gua dulu wan, itu ko lu bisa sih deket banget sama bang alkana" tanya Degas penasaran
"iya dia kan asdos hukum kan ya gas, yang terkenal itu?" tambah Derri. topan abai dia memilih melepas sepatu dan mulai meninggalkan keduanya.
ketika menuju ke tempat wudu Topan berpapasan dengan raden yang baru selesai wudu.
"pasti mereka nanyain bang alkana ya?" tanya raden. Topan mengangguk
"ko ninggalin"
"gua buru-buru wan tadi, soalnya gua mau ke tempat kerja si ajun udha berisik spam chat dari tadi" jelas raden karena tadi memang dia langsung pergi gitu aja tanpa menjemput topan dulu di ruangan bem.
"oh gitu"
"iya katanya ada orang baru gitu yang dibawa bang laka"
"palingan juga ngga betah lagi den atasan lu kabur lagi ntar" jawab topan, karena mendengar raden yang selalu saja bercerita mengenai atasannya yang ngga kuat dan memilih mengundurkan diri.
"ntah lah yang ini beda, katanya sih anak pemilik kafe" jawab Raden.
"Teman-teman lu yg di kafe jadi resign? ada lowongan dong" tanya Topan.
"jadi nnti kalau ada lowongan gua info ya wan, ----
perkataan raden terhenti karena bunyi ponsel yang belum sempat raden heningkan.anehnya sebelum mengangkat telpon Raden mengehela nafas dulu membuat Topan mengernyit heran.
"gua sholat dulu jun, iy---- eh bang Raga,Geri,Nino sama bang Faisal mau resign lah terus kafe tutup?"
mendengar percakan sekilas Raden, topan tau pasti siapa Geri, Raga, Nino dan Faisal mereka adalah pegawai part time di tempat raden bekerja sekarang. memilih abai Topan melanjutkan jalannya menuju tempat wudu. dia menunggu sepi dan memastikan semua sudah masuk mesjid. dirasa sudah sedikit sepi Topan melempar jaketnya sembarang, menegadahkan tangannya ke air dan mulai berwudu, air yang jatuh dari tangan topan berubah warna menjadi merah, seiring dengan desisan kesakitan yang keluar dari mulut topan.
__ADS_1
"wan udah selesai wudunya, di panggil raden tuh" teriak deri. topan menoleh kemudian mengangguk. tatanpannya jatuh pada tangannya, luka sayatan yang belum sempat topan obati kini mulai meradang dan melukai setiap pergelangan tangannya. itu penyebab air keran yang jatuh dari tubuh topan berubah warna menjadi merah.
topan memakai jaketnya segera, mengabaikan rasa perih dan panas dari luka yang bergores dengan jaket hitamnya.