
"Saya rasa materi ini sampai disini saja, ada pertanyaan?" Tanya Gempa sebelum menutup laptopnya.
"Tidak" Teriak seluruh mahasiswi sedang mahasiswa di kelas itu hanya diam.
"Baiklah kalau tidak ada, pertemuan kali ini dicukupkan sekian. Buat minggu depan kalian akan bertemu dengan pak Kenan. Beliau sudah kembali dari tugas keluar kotanya" Jelas Gempa sambil menutup laptopnya.
"Tunggu jadi bapak bukan pak Kenan?" Tanya salah satu mahasiswi di bangku belakang sontak membuat seluruh pandangan mata mengarah kepada Gempa yang tengah duduk di depan seakan mereka meminta jawaban.
Gempa terdiam seperkian detik kemudian laki-laki itu mengeleng.
"Bukan, saya asisten dosen beliau" Jawab Gempa.
"jadi saya hanya akan mengisi kelas jika dosen kalian berhalangan hadir" Tambah Gempa, sambil mematikan proyektornya.
Sontak semuanya mengeluh, dari awal Gempa padahal sudah menjelaskan dengan detail namanya termasuk kelasnya juga. Namun nampaknya mahasiswa baru yang baru saja menginjak bangku perkuliahan itu cukup menikmati paras tampan si asisten dosen sampai tak menyadari jika itu bukan Kenan, dosen yang harusnya mengisi kelas mereka sekarang ini.
"Terus nama bapak siapa? " Tanya salah satu mahasiswi lagi kali ini dari bangku depan.
Gempa tersenyum menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pertanyaan mahasiswi itu. Kemudian menyalakan proyektornya lagi.Tangannya kembali membuka laptopnya kemudian menghubungkan nya dengan kabel proyektor hingga terpampang dengan jelas walpaper di laptopnya dengan nama "Alkana Gempa Naraya".
" Itu nama saya, Alkana" Jawab Gempa. Sontak semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu melihat layar yang di tampilkan di depan mereka.
"Jadi nama bapak pak Alkana?" Tanya salah satu mahasiswa di kelas itu. Gempa kembali mengangguk.
"Iya saya kakak tingkat kalian" Jawabnya.
"Ini juga bisa jadi informasi buat kalian. Karena kalian mahasiswa baru, jika dia seorang dosen asli dia akan menggunakan laptop dari pihak kampus. Dengan logo universitas di ujung sebelah kirinya" Kata Gempa sambil menunjuk bagian logo yang seharusnya tertempel diujung sebelah kiri laptopnya yang ternyata kosong.
"Warna laptop dosen yang diberikan pihak kampus itu hitam" Tambah Gempa, sambil mengetuk bagian cover laptopnya. Menunjukkan kalau warna laptopnya tidak hitam melainkan silver.
"Jadi bapak sementara dong?" Tanya mahasiswa itu lagi.
"Iya" Jawabnya, sambil kembali mematikan laptopnya.
"Kenapa ngga selamanya saja pak" Teriak mahasiswi dari bagian samping kanannya.
Gempa tersenyum, kegiatannya terhenti. Memilih menoleh kepada si mahasiswi yang tadi bertanya.
"Kalau selamanya kapan saya kuliah" Katanya diakhiri dengan tawa renyahnya. Si mahasiswi yang di tatap oleh Gempa langsung terdiam mukanya sedikit memerah karena malu.
"Bapak tingkat berapa pak?" Tanya salah satu mahasiswi lagi, membuat kegiatan -mematikan proyektor- Gempa terhenti kembali.
"Menjelang tingkat akhir" Jawab Gempa.
"Jadi bapak kating kita?" Tanya mahasiswi lain lagi. Gempa mengangguk.
"Iya tadi saya sudah bilang" Jawabnya.
"Sudah ya, ini kelas terakhir kan? Jangan lupa buang sampah dan bereskan kursi kalian seperti semula" Finalnya dirasa sudah selesai dengan kegiatannya-membereskan buku beserta laptop dan juga proyektor.
Keluarnya Gempa disusul dengan banyaknya mahasiswi yang juga mengikutinya. Sebagian ada yang melongokan kepalanya di jendela kelas melihat kepergian Gempa.
Gempa berjalan seorang diri. Dipertengahan koridor dia bertemu dengan Kelvin yang nampaknya tengah menunggunya.
"Gimana frist impression di kelas mahasiswa barunya kelas Kenan?" Tanya Kelvin tatkala melihat Gempa berhenti didepannya.
"Pake pak dia dosen lu vin, yah biasa saja" Jawab Gempa sekenanya.
"Pasti mereka nyangkanya lu pak Kenan ya?" Tanya Kelvin lagi sambil beranjak mengikuti Gempa yang mulai melanjutkan jalannya kembali.
"Iya, sepanjang gua ngasih materi ngga ada yang ngedip satupun" Jawab Gempa. Pikirannya kembali mengingat bagaimana antusiasme mahasiswa baru siap menerima materi perkuliahan. Padahal dirinya dulu tidak seantusias mereka kini, bahkan di kuliah perdananya dulu Gempa tidak masuk.
"Bagus dong mereka berarti memperhatikan lu dengan baik" Kata Kelvin di tengah berjalannya.
"Memperhatikan apanya, masa ngga sadar nama gua bukan Fabian Kenan Balaga yang jelas-jelas terpampang di jadwal matkul mereka" Jawabnya. Gempa jadi kembali berpikir apakah dirinya terlalu tegas sampai mahasiswa baru tidak berkedip? Atau memang mereka sangat antusias ingin menerima materi sampai tak menyadari namanya dan juga tidak berkedip?
"Mungkin mereka ngiranya diganti kali, atau mungkin nama aslinya Alkana Gempa Naraya bukan Kenan typo nulisnya" Jawab Kelvin sambil tertawa jenaka. Sahabatnya ini memang tidak sadar diri dengan wajahnya yang mungkin saja membuat semua orang menyukai dengan paras tampan sahabatnya, pikir Kelvin sambil menggeleng.
__ADS_1
"Nama Kenan sama Alkana jauh adudu" Kata Gempa sedikit kesal dengan jawaban Kelvin, tangannya terulur menekan pin di loker miliknya. Helaan nafas keluar bersamaan dengan dirinya yang melihat isi lokernya. Bagaimana tidak di dalamnya kini banyak sekali kado-kado kecil yang bahkan mulai berjatuhan ketika Gempa membuka lokernya.
"Dari mana mereka tau sandi loker gua sih" Tanya Gempa pada Kelvin. Sedang Kelvin hanya menggeleng mengedikkan bahunya acuh memilih bersandar di samping loker.
"Bukannya itu udah biasa buat lu ya?" Tanya Kelvin yang memang sudah terbiasa melihat banyaknya kado di dalam loker milik sahabatnya itu. Gempa.
"Gua udah ganti sandi loker padahal setiap hari sampe gua sendiri kadang lupa sama sandi gua saking seringnya gua ganti." Tambah Gempa. Memang setiap selesai menyimpan buku atau laptop miliknya Gempa selalu mengubah sandinya. Berakhir dengan dirinya yang kesusahan akibat lupa dengan sandi loker terakhir yang dia ganti. Namun tetap saja setiap dia membuka loker kado-kado kecil atau bahkan makanan seperti coklat dengan harga yang pantastis selalu memenuhi isi loker miliknya.
"Setidaknya lu ngga seterkenal si anak FKH" Kata Kelvin sambil membantu Gempa membereskan kado-kado kecil dan juga coklat yang nampaknya masih baru dibeli disana. Dengan bungkus dan betuk yang bervariasi. Awalnya Gempa membiarkannya namun semakin hari kado-kado kecil itu cukup mengimpasi semua space di loker miliknya sampai tak tertampung lagi. Makanya dia selalu menyimpan kado-kado kecil itu di loker milik Kelvin sebagian dan sebagian lagi dia ambil tanpa membukanya.
"Anak FKH? Siapa?" Tanya Gempa bingung.
"Irawan. Yang bakal di gadang-gadang jadi mentri di pemilihan nanti" Jawab Kelvin kembali menyender di samping loker.
"Mentri? Gua kira bakal jadi presiden BEM. Semenjak kapan presiden sama mentri terkenal mentrinya?" Tanya Gempa. Sambil menyimpan laptopnya ketika dirasa space untuk menyimpan laptopnya sudah cukup.
"Nah justru itu yang bikin booming , justru malah si mentri nya" Jawab Kelvin. Kelvin memang terkenal mahasiswa social butterfly tidak heran jika dia tau semua info-info yang lagi hangat-hangatnya di kampus.
"Oh, gitu." Jawab Gempa mengangguk, sambil menekan pin baru lagi di lokernya.
"Iya, gua denger sih track record nya bagus. Selain itu anaknya terkenal si mahasiswa penuh pesona. Gua denger dia di tarik dua partai" Kata Kelvin lagi.
"Dua partai?" Tanya Gempa.
"Iya, lu taulah Biru. Mentri luar negri yang hobinya turun ke jalanan siap Demo" Kata Kelvin.
"Oh di tarik sama Biru? Satunya lagi?" Tanya Gempa. Sedikit penasaran pasalnya dia terlalu sibuk dengan dunia asisten dosennya sampai tak mengetahui berita apapun.
"Jafar gua dengar" Jawab Kelvin.
"MAMPUS VIN" Teriak Gempa di tengah keheningan. Membuat Kelvin kaget hingga laki-laki itu spontan terbangun dari acara menyendernya.
"Kenapa ada apa sama Jafar?" Tanya Kelvin kaget sambil berbalik.
"Gua lupa sandi gua tadi" Jawab Gempa. Kelvin hanya menggeleng itu tidak terjadi sekali dua kali di dalam hidup Gempa. Lupa sandi itu termasuk penyakit akut Gempa.
"Dari pada penuh kado mending gua lupa sandi, bodolah" Jawab Gempa sambil beranjak pergi meninggalkan sahabatnya itu.
"Mau kemana lu?" Tanya Kelvin sambil berlari menyusul Gempa.
"Pulang" Jawab Gempa.
"Oh yaudah, gua mau nunggu sholat magrib dulu" Jawab Kelvin sambil menunjuk masjid universitas yang ramai dan kebetulan terlewati menuju kearah parkiran. Gempa mengangguk, Kelvin dan Gempa itu berbeda keyakinan Kelvin memeluk agama Islam sedang Gempa memeluk agama Kristen.
"Yaudah" Jawab Gempa. Pikirannya kembali mengingat tatkala Kelvin bercerita kalau dirinya seorang mualaf.
Kelvin baru memeluk agama Islam ketika masuk kuliah. Makanya Kelvin selalu menyempatkan sholat berjamaah dimanapun itu. Kelvin juga sering bercerita kalau dirinya kini tengah mendalami ilmu-ilmu tentang Islam termasuk al-qur'an.
Kaki panjang Gempa kini berjalan kearah parkiran fakultas , tangannya menekan tombol remot untuk membuka pintu mobilnya. Kemudian memasuki mobil dan mulai meninggalkan gerbang universitas.
Akibat macet, Gempa menghabiskan waktu satu jam setengah untuk sampai kerumahnya. Laki-laki itu kemudian menaiki tangga tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Alkana" Kata seorang perempuan yang baru saja keluar dari kamar. Alkana menoleh menemukan mamahnya -Arumi- yang kini tengah berdiri kearahnya.
"Mamah ko belum. Berangkat?" Tanya Gempa sambil berbalik namun tidak kembali menuruni tangga. Laki-laki itu masih berdiri di tangga teratasnya.
"Ini mau sayang, kamu ngga mau mengantar mamah dan papah ke bandara?" Tanya Arumi. Gempa terdiam kemudian menghela nafas kembali melihat tampilan sang ibu yang sudah rapih dengan balutan baju mahal yang sudah siap akan pergi sambil menenteng tas kecil dengan brand ternama yang disukai sang ibu.
"Ngga mah, Alkana cape baru pulang. Mamah ko ngga sama om Restu?" Tanya Gempa.
"Papah kamu sudah duluan berangkat tadi sayang, mamah sengaja terakhir ingin melihat dulu si kembar dan bungsu mamah yang sangat tampan" Kata Arumi sambil tersenyum.
"Ooh, ini mamah udah liat Alkana kan, pak Darma udah nyalain mobil tuh nanti om Restu lama nunggunya" Tambah Gempa, sambil menunjuk dengan dagunya kearah depan. Tanpa melihat raut wajah sang ibu.
"Yang kamu sebut om itu papah kamu Alkana, iya mamah mau berangkat dulu jaga kesehatan ya" Kata Arumi sambil melihat anaknya yang kini tengah berdiri di atas tangga.
"aku tau, hanya saja Alkana belum terbiasa" Jawab Gempa yang kini tengah memunggungi sang ibu karena hendak berjalan menuju kamarnya. Tanpa peduli dengan keberadaan sang ibu yang masih berdiri di bawah tangga. Gempa menekan kenop pintu dan mulai memasuki kamarnya.
__ADS_1
Kakinya melangkah kearah kursi belajarnya, mengambil duduk disana sambil menyimpan tasnya. Pandangannya membias melihat bingkai foto keluarga yang dipajang di atas nakas miliknya. Disana dia terlihat bahagia ketika dipeluk oleh ayah biologisnya -David- bersama sang ibu beserta kakak kembarnya. Arsaka dan Artaka.
Gempa mengambil bingkai foto itu sambil berjalan kearah kasurnya, melihat potret keluarga bahagia yang terpancar dari foto keluarganya. Terlihat sangat harmonis. Tapi itu dulu. Kini semuanya sudah berubah. Semenjak ayahnya dinyatakan tewas di pesawat ketika hendak pulang dari perjalanan luar negrinya. Dua tahun semenjak kepergian sang ayah ibunya -Arumi- kembali menikah dengan Restu. Ayah tirinya sekarang. Matanya kemudian terpejam bersamaan dengan suara deru mobil milik sang ibu yang mulai meninggalkan halaman rumah keluarga Naraya.
Malamnya, Gempa kembali menuruni tangga. Dia tertidur cukup lama sambil memeluk foto keluarganya. Baru saja dia menuruni tangga kedua teriakan familiar sedikit menghentikan langkahnya.
"ARSA KIWIKU MANA, BARU BELI ITU TADI" Teriak suara familiar itu. Arsaka.
"DIKULKAS" Sahutan itu muncul dari arah ruang tamu.
"KO TINGGAL SEGINI" Teriak Arsaka lagi dari arah dapur.
"ARSA MAKAN TADI" Jawab Ardasa yang kini mulai menampakkan diri berjalan kearah Arsaka. Sedang Gempa hanya menggeleng, tapi tunggu kenapa kedua kakak kembarnya ada disini? Pikir Gempa.
"Mas Arsa mas Arka ya ampun jangan teriak-teriak" Kata bi Sumi yang baru saja datang dari luar bersama pak Darma.
"DIKIRA HUTAN RIMBA KALI INI RUMAH BI" Teriak Gempa dari atas tangga.
"KAMU JUGA TERIAK YA ALKANA" Kata sikembar bersamaan.
"Ngapain kalian disini sih bukannya udah diusir ya?" Tanya Gempa sambil menuruni tangga. Sedang sikembar kini tengah sibuk dengan kiwinya saling menyalahkan karena sisa kiwi yang tinggal sedikit. Kedua kakak kembarnya memang sangat menyukai kiwi namun tidak dengan dirinya.
"Mungkin mereka khawatir sama mas Alkana takutnya kaya pagi kemarin lagi" Jawab pak Darma.
"Kan udah biasa" Jawab Gempa yang kini sudah bergabung dengan si kembar di meja dapur.
"Kemarin ada mamah sama papah walau hanya pulang seminggu sekali. Sekarang mamah sama papah berangkat ke luar negri karena bisnis" Kata Ardasa sambil memakan kiwi dengan kulitnya.
"Iya bener kata pak Darma, kami khawatir. Karena kamu sendirian di rumah sekarang" Jawab Arsaka sambil memotong kiwi kemudian menguyahnya perlahan. Sangat berbeda bukan dengan sikap Ardasa?
"Yah mau gimana lagi, mau pulang atau ngga mamah sama om Restu Alkana tetep aja sendirian kan?" Kata Gempa sambil membuka kulkas. Perkataan Gempa tadi sukses membuat sikembar menghentikan acara makan kiwinya. Benar mau mamah papahnya pulang atau nnga adik bungsunya itu akan selalu merasa sendirian.
"Setidaknya ada di Negara yang samakan? " Kata Arsaka sambil memelankan kunyahan kiwinya.
"Iya sih" Jawab Gempa sambil mengeluarkan sekaleng soda dari dalam kulkas.
"Kalau sekarangkan sudah beda negara, jadi kami khawatir" Tambah Ardasa tangannya mengudara tak jadi menyuapkan kiwinya.
"Ka kalau misal Alkana nyari kosan gimana?" Tanya Gempa yang sukses membuat si kembar kaget bersamaan.
"APA?" yang kaget ternyata bukan hanya kedua kakak kembarnya pak Darma dan bi Sumi pun kaget bukan main.
"Kan biar banyak temen, Alkana rasa kalau misalnya Alkana ngekos nanti banyak teman ngga kesepian" Tambah Gempa sambil membuka kaleng sodanya.
"Ngekos? Sama siapa?" Tanya Ardasa
"Tar Alkana ajak Kelvin kalau dia mau kalau ngga ya nanti Alkana sendirian toh kosan banyak orang kan?" Kata Gempa sambil meminum sodanya.
"Tapi Alkana, kami malah semakin khawatir" Kata Arsaka.
"Alkana bisa jaga diri, Alkana janji ngga akan kenapa-kenapa" Jawab Gempa sambil kembali meminum sodanya. Sikembar saling menatap satu sama lain kemudian beralih melihat pak Darma dan juga bi Sumi yang kini juga menatap si kembar. Seakan saling memberikan kode satu sama lain.
"Kalau kamu sudah bilang begitu, kakak ngga bisa larang. Nanti biar kakak berdua mencarikan kamu kosan yang layak" Kata sikembar.
"Ngga usah ka, nanti Alkana nyari sama Kelvin aja" Jawab Gempa, sambil kembali meminum sodanya hingga tandas bersamaan dengan bunyi ponsel disakunya. Gempa mengernyit tatkala melihat nama sipemanggil Fabian.
"Fabian? Perasaan gua ngga punya temen namanya Fabian" Gumam Gempa. Namun tangannya tetap menggeser ikon warna hijau sambil mengarahkannya pada telinga.
[Calling]
Fabian
"Hallo siapa ya ini?" Tanya Gempa tanpa basa basi. Namun disebrang malah terdengar suara pesawat yang terdengar cukup dekat.
"Ngga jelas banget, orang iseng apa?" Tanya Gempa bingung. Namun masih dalam panggilan bersama Fabian.
"Yang sopan kamu Alkana, saya Kenan dosen kamu" Jawab orang disebrang setelah sekian lama terdiam karena bunyi nyaring pesawat tadi.
__ADS_1
"Mampus" Teriak Gempa. Sontak membuat kedua kakak kembarnya berbalik menoleh kearahnya. Akhirnya setelah sekian lama dosennya itu menghubunginya secara pribadi. Namun sayang tidak tepat. Gara-gara nama kontaknya di kirim lewat pesan chat yang ntah dari siapa dulu dengan nama "Fabian" yang sialnya tidak sempat dia ganti. Silakan mengucapkan kata-kata terakhir bagi Alkana Gempa Naraya, yang sudah tidak sopan dengan sang dosen.