
Antonio tampak serius meracik seluruh bahan-bahan yang tertulis dalam berkas. Ia bergitu antusias karena penasaran dengan formula ciptaan ayahnya. Formula yang sangat diinginkan semua orang, termasuk pihak asosiasi itu sendiri.
Sesekali ia juga terlihat meneteskan cairan-cairan komposisi pada tabung-tabung reaksi yang di depannya, sehingga tabung-tabung itu terlihat mengeluarkan asap pertanda reaksi kimia.
"Sepertinya ini yang dimaksud ayah," gumamnya.
Tiga botol telah terpampang di depannya, botol-botol yang berisi formula sangat rahasia dan hanya dimiliki oleh keluarga Fernando. Masing-masing formula memiliki keunggulan tersendiri dan sangat fantastis apabila digunakan.
Sementara itu di tempat lain...
Black Shadow sedang melakukan misi pengawalan, Fabio dan Elano yang turun langsung atas permintaan kliennya.
"Aku tidak ingin ada yang mengganggu transaksi ini," ujar Anwar yang merupakan klien mereka.
"Lanjutkan saja! Aku sudah mengetahui informasinya, tidak usah khawatir!" Ujar Fabio yang berada di sebelah kiri.
Mereka bertiga lalu turun dari mobil dan berjalan membuntuti Anwar yang sedang membawa koper hitam besar.
Sesampainya di tempat tujuan yang terlihat seperti bekas bengkel lama dan sudah usang, mereka disambut oleh tiga orang lelaki berpakaian rapi yang sedang berdiri di dekat meja dikelilingi banyak sekali mobil-mobil rongsokan.
"Selamat siang Tuan Anwar," sapa pria yang ada di tengah.
"Selamat siang juga Tuan Lukas," jawab Anwar dingin.
Anwar adalah seorang kurir dari produsen obat terlarang, ia hanya bertugas untuk bertransaksi seperti sekarang ini. Namun, karena Lukas sering bermain licik maka ia meminta perlindungan pada Black Shadow.
"Mau kau hitung?" Tanya lukas sambil membuka koper di atas meja.
Terlihat banyak sekali lembaran uang kertas di dalam koper itu.
"Sesuai perjanjian, aku rasa kau memahaminya," jawab Anwar sambil meletakan koper ke atas meja.
"Okey," Lukas berkata sambil menutup kembali kopernya.
Saat mereka akan bertukar koper tiba-tiba,
"Jangan bergerak!" Terdengar suara dari balik mobil bekas.
Lalu keluarlah 5 orang polisi berpakaian lengkap seraya menodongkan senjata ke arah mereka berenam.
Fabio dan Elano dengan cepat melindungi Anwar yang saat ini telah memegang kopernya kembali.
"Jangan bergerak! Atau kami tembak!" ucap salah seorang polisi sambil menodongkan senjata.
Sementara itu Lukas dan kedua temannya mengangkat tangan dan melangkah mundur secara perlahan.
Mereka bertiga mencoba berbalik badan dan mengendap meninggalkan yang lainnya.
Dor!
__ADS_1
Tiba-tiba satu tembakan mengenai betis Lukas..
"Aaahk," pekik Lukas.
Dua orang temannya langsung refleks berjongkok.
"Sudah ku bilang jangan bergerak!" Polisi itu berkata lagi.
Sambil mengokang senjata, ia lalu berjalan mendekati Anwar yang masih memegang kopernya sambil mengangkat tangan.
"Turunkan tanganmu! Serahkan koper itu!" ucap Polisi itu dengan tegas tanpa menurunkan senjata.
Keempat polisi lainnya masih berdiri sambil mengokang senjata di belakang polisi tadi, mencoba berjaga dan bersiaga.
"Cepat serahkan kopermu!" Pinta polisi tadi sambil mendekat perlahan.
Melihat hal itu, Fabio dengan cepat menjatuhkan badan dan menendang bagian vital polisi itu. Sepatunya yang dilengkapi pisau tajam membuat polisi itu tak bisa mengelak saat di serang bagian alat vitalnya.
Tak sempat berkata-kata, ia itu langsung roboh ke tanah. Darah segar keluar dari selangkangannya.
Elano yang melihat temannya bergerak, ia lalu meraih pistol dari balik jasnya.
Dor! Dor!
Dua tembakan cepat membunuh dua polisi sekaligus, masing-masing peluru tepat mengenai leher para polisi itu. Membuat mereka tewas seketika.
Sementara itu Lukas yang tengah terduduk bersama temannya merasa terkejut saat 3 orang polisi terbunuh dengan cepat di depan matanya.
Ia tak menyangka jika rencananya gagal, akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri.
"Angkat aku, cepat!" Perintah Lukas pada temannya.
Lalu kedua temannya mengangkat tubuh Lukas yang tetap memeluk kopernya, untuk dibawa keluar dari bangunan itu.
Namun, mata Elano sangat tajam. Ia lantas mengambil sebuah dongkrak dan berjalan ke arah mereka bertiga.
Dengan cepat Elano memukulkan dongkrak itu ke kepala masing-masing teman Lukas, membuat mereka tersungkur dan seketika tak sadarkan diri.
Lukas yang terjatuh mendadak ketakutan melihat Elano di depannya. Ia melemparkan kopernya, mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, namun dengan cepat Elano menghantamkan dongkrak itu ke bagian kepala Lukas.
Darah mengucur deras keluar dari bagian atas kepala Lukas, mengalir menghiasi wajahnya yang kini berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
Di sudut lain, Fabio berlari mengambil jarak saat melihat gerakan kaki di antara drum-drum besar.
Tanpa berpikir panjang, ia lalu menembak drum itu.
DUAR!!!
Ledakan besar terjadi, sehingga kedua polisi itu pun tewas terpental akibat ledakan. Sebagian bengkel menjadi porak poranda.
__ADS_1
Api kecil berjalan cepat menuju ke drum berikutnya, Fabio yang melihatnya langsung bergegas ke arah Anwar dan Elano yang saat ini mereka sedang membawa koper.
"Ayo tinggalkan tempat ini!" ujar Fabio.
Mereka bertiga lalu berlari keluar diringi ledakan-ledakan di bangunan belakangnya.
"Ayo masuk, cepat!" Perintah Fabio lagi.
Anwar yang saat itu ketakutan hanya menurut saja. Ia masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa 2 koper di tangannya.
"Biarkan aku yang menyetir," ujar Elano.
Langsung saja mereka bertiga meninggalkan tempat yang kini mulai terbakar, api secara perlahan merembet ke bangunan lainnya. Bangunan yang masih di areal bengkel itu.
***
"Terima kasih Mr. Pablo, tidak salah sampai saat ini kami mempercayai Black Shadow," Ujar Anwar yang saat ini sedang duduk di hadapan Pablo yang hanya terpisah oleh sebuah meja.
Setelah meninggalkan lokasi transaksi, ia lantas dibawa oleh Elano dan Fabio ke markas Black Shadow.
"Tidak perlu menyanjung secara berlebihan Mr. Anwar, kami hanya menjalankan tugas," jawab Pablo merendah.
"Sebagai rasa terimakasih, kami akan memberikan separuh dari koper ini untuk hadiah," ujar Anwar.
"Hahaha, bukankah itu terlalu berlebihan Mr. Anwar?" Tanya Pablo sambil tertawa.
"Tentu tidak Mr. Pablo, aku yakin bos pun akan setuju ketika aku melapor nanti," Anwar menjelaskan.
Setelah itu mereka menghitung uang yang ada di dalam koper, lalu menyisihkan sebagian untuk di simpan dan dibawa pulang oleh Anwar. Sedangkan sisanya diberikan kepada Pablo, Elano, dan Fabio.
"Terimakasih Mr. Anwar, kami merasa terhormat," ujar Pablo sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu Mr. Pablo," ucap Anwar sambil membungkukan badan, kemudian dibalas oleh mereka bertiga.
Anwar lantas membalikan badan meninggalkan markas Black Shadow.
"Ini untuk kalian, ambilah!" Pablo berkata sambil memisahkan beberapa tumpuk uang.
"Terimakasih bos!" Jawab mereka serentak seraya mengambil dan memasukan tumpukan uang itu ke dalam jasnya.
"Yang ini ku simpan untuk kebutuhan kita semua," ia berkata setelah memasukan sisa uang yang tergeletak ke dalam tas.
"Kerja bagus kalian!" Ucap Pablo diiringi senyuman khas menyeringai.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
__ADS_1