Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Memulai Misi III


__ADS_3

Dengan kemampuan terlatihnya, Antonio berhasil melemparkan kamera kecil ke arah drone yang sedang terbang rendah ke arahnya. Ukuran drone yang cukup besar membuat kamera yang dilengkapi magnet itu berhasil menempel dengan kuat, tepat di bawah drone. Setelah melihat kameranya menempel, Antonio lalu bertelungkup kembali dengan gerakan cepat.


"Bagaimana? Apakah berhasil?" tanya Anna pelan.


"Sepertinya berhasil, nanti kita cek setelah benda itu menjauh dari kita?" jawab Antonio.


Anna yang masih menggunakan kacamata dengan mode thermal tidak mampu melihat bentuk drone itu dengan jelas, yang ia lihat hanyalah siluet berwarna merah terang yang merupakan bentuk kasar drone itu.


Drone yang masih terlihat terbang itu pun masih tetap melakukan tugasnya, benda itu masih mendeteksi gerakan dengan sinar yang ia sorotkan.


Tiba-tiba benda pemantau itu berhenti tepat di atas Anna dan Antonio, sorot lampunya menyinari mereka berdua. Namun karena mereka menggunakan pakaian hitam dan kedap panas, membuat drone itu tidak berhasil mendeteksi keadaan mereka berdua. Juga karena adanya sebilah pedang di punggung mereka, membuat drone mendeteksi mereka sebagai benda mati.


Drone yang melayang itu hanya mengincar benda hidup yang bergerak dan mengeluarkan energi panas. Hal itu bisa disimpulkan karena adanya sinar infra merah dan laser yang terpasang rapi sebagai alat bantu. Infra merah dapat melihat dengan jelas di kegelapan, membantu sensor drone menemukan benda yang bergerak untuk kemudian dimusnahkan oleh sinar laser.


"Sepertinya benda itu tak dapat mendeteksi keberadaan kita," ucap Anna pelan saat melihat drone itu bergerak kembali menjauhi mereka berdua dan menyoroti tempat lain.


Antonio hanya mengangguk pelan kemudian bangun dan duduk bersandar di pohon besar.


"Aku akan mencoba memantau keadaan sekitar, semoga saja ini berjalan sesuai rencana," ucapnya seraya mengeluarkan alat kecil yang beberapa saat lalu ia gunakan untuk memanipulasi CCTV di pos penjagaan.


Sementara Anna langsung bangkit dan melihat keadaan sekitar mereka dengan menggunakan kacamatanya.


"Aman," ucap Anna pelan.


Setelah mendengar ucapan Anna, Antonio langsung menyalakan alat kecil di tangannya. Tak lama kemudian layar di alat itu menampilkan visual tempat di mana drone itu berada.


"Yeah, berhasil," ucap Antonio senang, namun dengan nada suara yang tidak terlalu kencang.


Sesuai perkiraannya, drone itu berhasil membawa kamera itu berkeliling markas. Sehingga dari satu tempat saja Antonio dapat melihat keadaan sekitar markas.


"Bagaimana?" tanya Anna penasaran.


Ia memang bertugas menjaga Antonio, karena dengan kacamatanya ia bisa melihat kehadiran penjaga yang bisa muncul kapan saja. Sehingga hal itulah yang membuatnya penasaran.


"Aku tahu posisi yang aman, ayo!" jawab Antonio seraya mematikan alatnya dan memasukannya kembali ke dalam tas pinggangnya, kemudian berjalan cepat setelah memakai kacamata kembali dan diikuti Anna di belakangnya.


Setelah sampai di bagian lain markas Black Shadow, mereka berdua lalu mengeluarkan tali yang dilengkapi pengait. Lalu tali itu mereka lemparkan ke besi yang pengaman yang berada di lantai dua.

__ADS_1


"Naik!" perintah Antonio.


Bagai adegan di film Batman, mereka berdua terangkat ke atas oleh tali yang tersambung langsung dengan ikat pinggang. Seperti memiliki katrol, tali itu digulung dengan kuat oleh sebuah alat kecil nan canggih, sehingga mampu mengangkat beban tubuh mereka.


Setelah sampai di lantai 2 mereka lalu melepas kacamata dan menyimpannya di tempat aman, kemudian berjalan perlahan ke arah pintu.


Cklek!


Antonio membuka pintu itu secara perlahan, kemudian pandangan matanya melihat sebuah ruangan gelap yang hanya mendapat pencahayaan dari lampu luar.


Di dalam ruangan itu ada sebuah tempat tidur yang terlihat acak-acakan seperti sudah lama tidak digunakan.


"Sepertinya ini kamar," gumam Antonio pelan.


"Tunggu sebentar!" ucapnya seraya menahan tubuh Anna yang tiba-tiba saja akan menerobos masuk.


Anna langsung menghentikan langkahnya dan menatap pria di hadapannya, kemudian tatapan matanya melihat ke arah tangan pria itu.


"Maaf!" ucap Antonio seraya menarik kembali tangannya.


Tanpa ia sadari, pergelangan tangan kirinya itu menyentuh tonjolan indah di dada Anna dan membuat wanita itu mendengus kesal. Namun tiba-tiba Anna bergerak dengan cepat meraih tengkuk Antonio dan melekatkan bibirnya pada bibir pria itu.


"Mmmpph ...." Anna mengerang pelan.


"Slurp ... aahh ...." ia mendesah pelan seraya melepas pagutan bibirnya.


Kemudian Antonio mengangkat tubuh Anna dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur yang terlihat empuk.


"Aww ...." Anna memekik pelan.


"Ssstt ...." Antonio menempelkan telunjuk ke bibirnya memberi isyarat.


Kemudian mereka berpagutan kembali dengan posisi Anna ditindih oleh Antonio.


"Sakit ...." lirih Anna.


"Sakit?!" Antonio bertanya polos tak mengerti.

__ADS_1


"Sebentar," ucap Anna.


Kemudian ia bangkit dan melepas pedang yang menempel di punggungnya. Pedang itu sedari tadi mengganjal dan membuatnya menjadi terganggu, hingga tidak bisa fokus menikmati percikan api asmara yang sedang ia nyalakan bersama prianya.


"Ternyata itu?!" tanya Antonio pelan.


Anna tak menjawab, ia hanya menghela napas panjang seraya merebahkan kembali tubuhnya. Ia kini tergolek pasrah di hadapan Antonio.


Tanpa menunggu aba-aba, Antonio lantas melanjutkan aktivitas yang baru saja tertunda. Ia lalu mengusap leher jenjang Anna menggunakan lidahnya, lidah yang amat lentur dan bertenaga itu membuat tubuh Anna menggelinjang menahan geli dan nikmat.


"Ssshhh ... ahh ..." desah Anna.


Antonio sesekali mengecup dalam-dalam kulit leher bagian samping kanan Anna dan meninggalkan jejak merah, jejak yang menjadi bukti sejarah untuk mereka berdua.


Naluri Antonio kembali menguasai akal pikirannya dan menggerakan tangan kekar itu untuk bergerak menuju bukit kembar yang sedari tadi menjulang tinggi seolah menantang untuk disakiti.


"Aaaahhh ...." Anna mengerang pelan saat benda kedua bulat miliknya mulai diremas dan dimainkan oleh Antonio.


"Ceeepaaat ... mmpppsshh ... aahh ...." Anna mencoba berbicara disela desahannya.


Hasrat wanita itu mulai memberontak ingin segera tersalurkan dan terpuaskan.


"Apa ... kau ... yakin?" tanya Antonio dengan napas tersengal karena terbawa suasana.


Anna tak menjawab, ia kemudian mendorong tubuh Antonio dengan kuat. Setelah itu ia membuka celana beserta segitiga pengamannya, kemudian mengatur posisi dengan sedemikian rupa untuk memudahkan pesawat milik Antonio mendarat di bandara miliknya.


Melihat posisi Anna yang telah bersiap, Antonio lantas mengeluarkan pesawat Falcon F-19 miliknya. Bagaikan seekor burung Falcon atau Elang yang bergerak dengan cepat, kemudian ia daratkan pesawat miliknya ke landasan milik Anna hingga masuk dan bersarang dengan nyaman di garasi yang penuh dengan cengkeraman kehangatan.


Seketika tubuh mereka bersatu dan dipenuhi peluh yang mulai keluar dari pori-pori kulit hingga membasahi pakaian yang mereka gunakan.


Gerakan Antonio semakin lama semakin cepat, seolah piston yang sedang bergerak cepat memompa mesin agar tetap berjalan dengan lancar.


"Aaaaahhh ...." erangan panjang pria itu berhasil mengakhiri semuanya, kemudian tubuh kekar nan berotot itu ambruk menimpa Anna yang masih terlentang pasrah.


Namun, sayup-sayup terdengar langkah kaki berjalan dan mengejutkan mereka.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


__ADS_2