
Antonio lalu meraih map yang diletakan Pedro di atas meja.
"New case? Bukankah aku sedang ada misi dengan Anna?" Tanyanya pada Pedro.
"Ini case untukmu, sementara Anna diistirahatkan sampai ia benar-benar pulih sepenuhnya," jawab Pedro.
Antonio hanya menghela nafas panjang.
"Seperti itu ya?" Tiba-tiba Anna menyahut sambil membawa nampan berisi 3 gelas air minum.
Kedua pria yang sedang berdiskusi lantas menoleh ke arahnya.
"Silahkan diminum dulu!" Ucap Anna sambil meletakan gelas-gelas itu ke atas meja.
"Terimakasih," Pedro berkata diiringi senyum.
"Aku sudah fit, kenapa aku masih diistirahatkan?" Tanya Anna heran sambil duduk di kursi seberang meja.
"Menurut prosedur asosiasi, kau masih dalam masa pemulihan," ujar Pedro.
"Biar ku jelaskan!" Ucap Pedro seraya menghela nafas.
Anna dan Antonio tampak antusias untuk mendengar penjelasan Pedro.
"Kau harus benar-benar pulih sampai tidak mengalami keluhan sedikitpun. Misi-misi kita sangat berbahaya, asosiasi tak mau mengambil resiko jika harus memberi misi saat dalam masa pemulihan," Pedro menjelaskan.
"Para petinggi asosiasi sudah memikirkan ini secara seksama, dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat," tambahnya.
"Hmm," Anna bergumam kecewa.
Sebenarnya ia tak sabar ingin segera menyelesaikan misi dan kembali ke tempat asalnya. Walaupun ia tertarik dengan Antonio, namun tetap saja menjalankan misi di negeri orang membuatnya harus mahir beradaptasi dalam berbagai hal.
"Kau tunggulah disini! Biarkan aku dan Pedro yang mengatasi, lagipula ini case untukku," sahut Antonio mencoba menenangkan wanitanya.
"Iya, ini case khusus untuknya. Misimu bersama Antonio hanya ditunda, bukan dibatalkan," ujar Pedro mengiyakan ucapan Antonio.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Anna singkat.
"Karena ini case-mu jadi aku tak ingin ikut campur, silahkan saja! Lebih baik aku membereskan rumah," katanya pada Antonio, lalu bergegas ke ruangan dalam. Sementara Antonio hanya menghela nafas dan membiarkan Anna pergi begitu saja.
Anna bukan tidak tertarik tentang informasi case Antonio, namun ia hanya ingin mereka berdua nyaman ketika berbincang. Ia juga merasa bukan urusannya, jadi lebih baik pergi dan melakukan hal lain.
"Siapa target kita?" Tanya Antonio seraya membuka map dan mengeluarkan berkasnya.
"Aku minta kau jangan meninggalkan jejak sedikitpun, karena target kita kali ini berhubungan dengan pemerintah," jawab Pedro.
"Pemerintah?" Antonio tersentak kaget.
"Aku mendapat informasi bahwa ada dua detektif kepolisian yang sedang mencari informasi tentang asosiasi," Pedro mulai menjelaskan.
__ADS_1
"Mereka ingin menguak informasi tentang kematian Juan yang tidak layak. Mereka juga menduga bahwa ada dua organisasi yang menjadi dalangnya, antara Black Shadow dan Blood Moon Asossiation. Hingga akhirnya kedua detektif itu mencari informasi tentang kedua organisasi," tambahnya.
Antonio hanya mengangguk pelan, ia memahami maksud ucapan Pedro. Sangat masuk akal jika asosiasi memburu dua detektif itu agar rahasia mereka tetap terjaga.
"Semua sudah tertulis disini kan?" Tanya Antonio.
"Iya, baca saja! Aku sudah menjelaskan detail info dan beberapa kemungkinan strateginya disana," ujar Pedro.
"Berapa harganya?" Antonio bertanya seraya meraih ponselnya.
"Hahahaha, tidak usah," jawab Pedro dengan diiringi tawanya yang khas.
"Kali ini gratis, aku tidak terlalu sulit mencari info tentang aparat pemerintahan. Jadi anggap saja hadiah dariku," imbuhnya santai.
"Gracias!" Ujar Antonio singkat.
Pedro hanya tersenyum melihat raut wajah partnernya yang selalu bersemangat ketika mendapat misi.
***
Sementara itu di ruang detektif kepolisian tampak dua orang detektif sedang berbincang disana, mereka saling bertukar informasi mengenai temuan yang mereka dapatkan.
"Aku sudah menduga jika dia yang melakukannya," ucap Dani pada Sean yang sedang menatap layar laptopnya.
"Kau mengenalnya?" Sean bertanya.
"Aku pernah bertemu dengannya, namun aku baru saja mengetahui jika namanya adalah Antonio Fernando," jawab Dani.
Flashback On
"Angkat tangan!" ucap Dani seraya mengokang pistolnya ke arah seorang pria yang memakai jas dan membawa koper hitam.
"Siapa kau?" tanya pria itu.
"Polisi!" Dani menjawab seraya menunjukan lencana kepolisiannya.
"Oh, oke!" Pria itu berkata sambil menjatuhkan koper dan mengangkat kedua tangannya.
"Menunduk!" Sentak Dani dengan tegas.
Pria itu hanya menurutinya, ia lalu berjongkok perlahan kemudian menelungkupkan badan ke atas aspal.
Dani perlahan mendekat seraya mengarahkan moncong pistolnya ke arah pria itu. Perlahan-lahan ia mendekat dengan tingkat kewaspadaan tinggi.
Saat ia akan menunduk untuk mengecek pakaian pria itu, tiba-tiba saja pria itu bangkit dengan cepat dan menendang pistol yang berada dalam genggaman Dani. Sehingga pistol itu terlempar cukup jauh dari jangkauannya, dan menghilang di antara gelap malam.
Dani yang terkejut langsung tersungkur saat wajahnya terkena bogem mentah dari pria di depannya. Wajahnya membentur aspal jalan yang tampak hitam legam.
Dengan santai pria itu berjas itu berjalan ke arah Dani seraya menodongkan pistolnya.
__ADS_1
"Kau cari mati," ucapnya santai dengan tetap menodongkan pistolnya.
Dani mencoba bangkit secara perlahan, ia tampak pasrah saat melihat moncong sebuah pistol berada tak jauh dari lobang hidungnya. Perlahan ia menutup matanya.
"Polisi memang merepotkan," gumamnya datar, kemudian menarik pelatuk pada pistolnya.
Dor!
Tiba-tiba satu tembakan berhasil menembus kepala pria itu, membuat Dani tampak kebingungan saat melihat pria yang tengah menodongnya kini sudah jatuh tersungkur ke aspal dengan darah mengalir dari kepalanya akibat luka tembak.
Tak jauh dari sana, tampak Antonio berjalan pelan ke arah Dani.
"Ini pistolmu?" ucap Antonio seraya menyerahkan pistol ditangannya ke arah Dani.
Dani yang masih shock tak dapat menjawab, hanya menerima pistol itu dan memeriksa keadaannya.
"Pelurunya hanya hilang satu, kau? Bagaimana mungkin kau melakukan satu tembakan dari jarak sejauh itu?" Dani bertanya penuh keheranan.
"Apakah itu pistolmu?" Antonio bertanya datar, seolah tak menanggapi pertanyaan Dani.
"Iya benar, terimakasih," jawab Dani seraya menyarungkan pistolnya kembali.
"Lain kali pegang pistolmu dengan erat, jangan sampai ia terlepas jika tidak ingin nyawamu melayang," Antonio berkata santai, kemudian membalik badan dan mengeluarkan sebatang rokok kemudian berjalan meninggalkan Dani.
"Tunggu!" Dani menahannya.
Antonio menghentikan langkahnya tanpa menoleh, ia hanya membakar rokok ditangannya kemudian dihisap dalam-dalam.
"Siapa kau?" Dani bertanya tegas.
"Pentingkah kau mengetahui siapa aku?" Antonio menjawab santai dan membalikan badan ke arah Dani yang kini sudah siap menodongkan pistol.
"Angkat tangan!" Ucap Dani tegas.
"Huh! Sudah ku tolong malah akan balik menggigit," dengus Antonio.
"Siapa kau? Cepat jawab!" Dani masih menodongkan pistolnya, namun masih diam di tempat. Ia tak berani menghampiri pria di depannya, karena ia tahu jika Antonio bukan orang sembarangan.
"Kau ingin menembakku?" Antonio dengan santai meledek Dani yang terlihat sangat serius.
"Tembak saja," ucapnya seraya berjalan meninggalkan Dani.
Namun Dani bukannya senang, ia malah nampak kebingungan saat melihat ekspresi Antonio yang terkesan santai dan tidak takut sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk menyarungkan pistolnya kembali.
Flashback Off
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
__ADS_1
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!