
Anna berjalan dengan santai ke arah Antonio yang sedang berdiri di depan lift.
"Maaf aku terlambat, terlalu banyak tikus yang harus ku bersihkan," ujar Anna.
"Tak apa-apa, ayo bergegas!" Jawab Antonio.
Kemudian ia memencet tombol lift untuk membuka pintunya.
Setelah mereka masuk, Antonio tampak ragu untuk memilih nomor lantai tujuan mereka.
"Kenapa diam? Kau bingung?" Anna bertanya seolah bisa membaca pikiran Antonio.
"Kemana kita?" Antonio bertanya polos.
"Kau! Hmm," Anna hanya menggelengkan kepala tanda heran.
"Kau memang ceroboh dan terlalu tergesa-gesa tanpa tahu kemana tempat yang harus kita tuju," tambahnya sambil menepuk jidat.
"Lantai berapa?" Antonio bertanya.
"Lima belas," Anna menjawab singkat.
"Lima belas?" Antonio mengerutkan dahinya.
"Iya," jawab Anna sambil menekan tombol angka 15.
Antonio hanya mengangkat bahu, seolah membiarkan saja apa yang Anna lakukan.
"Persiapkan dirimu!" kali ini Anna yang memerintah.
"Kita akan disambut disana," tambahnya sambil mengisi kembali peluru pada dua pistolnya.
"Hmm, aku paham," Antonio hanya bergumam sambil mengikuti apa yang Anna lakukan.
Ting!
Suara lift telah berbunyi dan pintu pun terbuka.
Sleb! Sleb!
Dengan cepat Anna menembak 2 penjaga yang sedang berdiri di dekat lift dengan dua pistolnya yang berperedam suara, membuat mereka roboh seketika dengan luka tembak di dahi.
"Wow!" Antonio terperanjat.
Anna hanya membalasnya dengan tatapan tajam seraya berjalan ke arah 2 penjaga itu.
"Jadi kau yang terkenal dengan sebutan wanita penembak dengan 2 pistol itu?" Antonio berkata sambil memperhatikan Anna yang sedang memeriksa mayat para penjaga.
"Iya, itu aku!" jawab Anna singkat.
"Harusnya aku yang berada di rank satu saat ini, jika asosiasi mengetahui kecerobohanmu," imbuhnya.
"Hmm," Antonio hanya bergumam pelan.
Seolah tak peduli dengan ucapan Anna, ia lalu bergerak ke arah ruangan yang sekarang tidak lagi dijaga.
__ADS_1
"Ayo kita periksa!" ajaknya pada Anna.
Setelah mendapat beberapa pistol dan peluru, Anna mengikutinya.
Mereka berdua berjalan perlahan memasuki ruangan yang kosong, malah terlihat seperti koridor. Tiba-tiba di tengah perjalanan, Antonio menghentikan langkah dan memegang kepalanya.
"Aaarrgh!" ucapnya sambil terduduk.
"Kenapa?" Tanya Anna sambil menunduk memegang pundak Antonio.
"Sepertinya efek dari formula sudah mencapai batas," jawab Antonio sambil menahan nyeri.
Ia lalu menyarungkan pistol, kemudian meraba saku celananya dan mengambil sebutir pil berwarna merah, pil yang berisi formula yang telah dipadatkan. Tanpa banyak bicara ia lantas menelannya.
Efeknya berjalan dengan cepat, karena tidak seperti obat biasanya yang butuh waktu untuk diserap oleh tubuh.
Obat ini ia design khusus agar mudah hancur saat masuk ke pencernaan. Perlahan-lahan rasa sakit di kepalanya mulai hilang, berganti dengan perasaan penuh semangat. Adrenalinnya seakan memuncak.
"Kau telanlah dulu pilmu! Sebelum efeknya mencapai batas," ucap Antonio yang sekarang terlihat bugar dan percaya diri.
Anna tak menjawab, ia lalu mengambil pil itu dari sakunya dan langsung menelannya satu butir.
"Sepertinya aku menjadi lebih baik dari sebelumnya, adrenalinku menjadi lebih terpacu," ujar Anna sambil menggerak-gerakan badannya.
"Ayo!" Antonio berjalan dengan cepat diikuti Anna di belakangnya.
Mereka berdua menyusuri jalan dengan cepat tanpa suara. Saat akan melewati gang kecil di sudut ruangan, Anna menepuk pundak Antonio.
"Ssst," Antonio menghentikan langkahnya saat Anna memberi kode bisikan.
Antonio mencabut pedangnya, sedangkan Anna bersiap dengan kedua pistolnya.
Srek! Srek!
Sebelum Anna bergerak, tebasan dari pedang Antonio membuat dua kepala terpisah dari masing-masing tubuhnya.
Anna terbelalak melihat kecepatan Antonio.
"Kau begitu cepat, sampai kedua mataku pun tak dapat melihatnya," ujar Anna sambil menatap tak percaya.
"Hmm, aku bahkan bisa lebih cepat dari ini," jawab Antonio sambil mengibaskan pedangnya.
"Sombong!" Anna bersungut.
Antonio tak mempedulikan ucapan Anna, ia hanya memperhatikan 2 orang yang baru saja ia bunuh.
"Siapa mereka? Sepertinya bukan penjaga," tanya Antonio sambil menatap 2 tubuh tanpa kepala yang tergeletak di bawahnya.
"Mungkin mereka anggota pertemuan Nicholas, sepertinya mereka dari toilet," jawab Anna sambil membaca tulisan disana.
"Pantas saja pakaian mereka tampak rapi dibanding para penjaga di luar sana," gumam Antonio.
"Sepertinya kita sudah dekat, ayo cepat!" ucapnya lagi.
Sementara itu di ruang pertemuan...
__ADS_1
Nicholas tampak sedang berdiri dihadapan staf dan petinggi perusahaannya. Ia terlihat sedang menjelaskan grafik yang terpampang pada layar yang menempel di dinding belakang Nicholas.
"Terima kasih untuk kinerja kalian yang semakin hari semakin meningkat," ujar Nicholas sambil menunjuk ke arah layar.
"Dan kami juga berterima kasih kepada Mr. Rahardjo yang telah bersedia menjadi investor bagi perusahaan kami," tambahnya seraya melihat ke arah Rahardjo yang tampak mengangguk sambil tersenyum.
Terdengar tepukan tangan dari para anggota pertemuan yang lain, tepukan tangan yang begitu riuh.
Walaupun suara itu cukup riuh, namun wajah Nicholas tampak gelisah. Sesekali ia menatap dua kursi kosong yang baru saja ditinggalkan petinggi perusahaannya untuk pergi ke toilet.
Ia lalu berjalan menghampiri Fabio dan Elano yang sedang berdiri di dekat pintu keluar.
"Kalian coba periksa staf yang keluar tadi! Cek ke toilet! Aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka!" Perintah Nicholas pada 2 orang pengawal pribadinya.
"Siap bos!" jawab mereka serentak, lalu keluar ruangan menuju toilet.
***
Antonio masih berjalan bersama Anna, sesekali mereka membuka pintu yang berada di sepanjang jalan di ruangan lantai 15.
"Dimana tempat pertemuan itu?" Gumam Antonio saat menutup pintu dengan kecewa.
Mereka selalu menemukan ruangan yang dipenuhi berkas tanpa ada satu orang pun di dalamnya.
"Aku yakin, ruangan tempat pertemuan itu lebih besar dari ruangan biasanya," ucap Anna perlahan.
Mereka terus berjalan secara perlahan agar tak menimbulkan suara sedikitpun.
"Lihat! Disana ada ruangan dengan dua pintu!" Antonio berkata sambil menunjuk salah satu tempat.
Dengan cepat mereka bergegas ke arah sana, lalu Antonio membuka pintunya.
Namun saat Antonio membukanya, terdengar langkah kaki yang berjalan dengan cepat ke arah mereka. Langkah kaki itu cukup jauh jika didengar oleh orang biasa, tapi lain halnya oleh dua orang terlatih seperti mereka. Langkah kaki itu bisa saja berarti hal buruk akan terjadi.
"Cepat masuk!" Anna berbisik.
Kemudian mereka masuk ke ruangan itu, ruangan yang dipenuhi rak-rak berisikan buku yang berjejer rapi.
"Perpustakaan!" ucap Antonio sambil melihat ke arah papan nama yang menempel di dinding.
"Sembunyi! Mereka mendekat!" Anna berbisik pelan dan berlari ke belakang meja untuk bersembunyi.
Sementara itu Antonio hanya bersembunyi di belakang lemari kayu yang berada di sudut ruangan.
Cklek!
Terdengar gagang pintu dibuka, kemudian dua orang pria memasuki ruangan itu.
"Aku yakin mereka disini!" ucap Fabio sambil mengokang senjatanya.
Elano hanya mengangguk, matanya memperhatikan sekeliling dengan tajam.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
__ADS_1
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!