
Pedro tampak serius mendengarkan cerita Antonio, sesekali kepalanya terlihat mengangguk kecil pertanda memahami maksud dari perkataan partner-nya itu.
"Hmm, jadi seperti itu. Kau menduga bahwa polisi dapat menemukanmu dari poto yang kau kirim pada kedua detektif itu," ujar Pedro menanggapi cerita Antonio.
"Logis! Sangat masuk akal!" ucapnya tegas.
"Aku kira kedua detektif itu akan menyimpan data penting ke dalam sebuah folder tersembunyi, agar tidak dapat ditemukan oleh orang lain selain pemiliknya," sahut Antonio.
"Namun nyatanya tidak," imbuhnya dengan nada suara lirih.
Pedro lalu menepuk pundak Antonio secara perlahan.
"Tenanglah! Aku akan berpikir mencari solusi untuk ini," ucapnya.
Kemudian ia teringat tentang sesuatu yang sebelumnya diminta oleh Antonio.
"Oiya, ini pil yang kau minta. Ceroboh sekali kau, menyimpan benda penting di tempat yang kurang aman seperti di cafe-ku," ujarnya seraya menyerahkan bungkusan plastik kecil yang berisi formula kepada Antonio.
"Gracias!" balas Antonio singkat seraya meraih dan memasukan plastik itu ke saku celananya.
Tiba-tiba Rosalinda datang membawa nampan berisi dua gelas air putih sepiring makanan cemilan.
"Silahkan Tuan-tuan!" ujar wanita itu seraya meletakan nampannya pada sebuah meja dekat pembaringan Antonio.
"Terimakasih!" jawab kedua pria itu serentak.
Rosalinda hanya tersenyum melihat kedua pria di depannya yang tampak akrab walaupun terpaut usia yang cukup jauh.
"Nona!" panggil Pedro singkat.
Rosalinda yang berjalan keluar ruangan pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Pedro.
"Iya Tuan," jawabnya diiringi senyum.
"Anda mau kemana? Disini saja, kita berbincang. Saya belum mengucapkan terimakasih," ujar Pedro.
Rosalinda pun mengernyitkan dahi dan berjalan santai ke arah kursi kecil di dekat pembaringan Antonio, kemudian duduk dengan rapi dan anggun.
"Iya Tuan Pedro, tak masalah. Saya adalah seorang dokter, dan sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong setiap orang yang membutuhkan pertolongan. Siapapun itu," Rosalinda berkata tegas namun terlihat santai.
"Luar biasa! Apakah anda tahu kami ini siapa?" tanya Pedro menyelidik.
"Bagi saya bukanlah suatu masalah tentang latar belakang atau status sosial. Selama dia butuh pertolongan, ya saya akan menolong sesuai batas kemampuan saya," jawab Rosalinda dengan penuh wibawa.
Antonio terkejut mendengar ucapan wanita di depannya, ia tak menyangka jika wanita secantik Rosalinda mampu berkata dengan penuh kewibawaan.
"Terimakasih Rose, atas pertolonganmu akhirnya aku masih bisa terselamatkan," ucapnya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak perlu berlebihan. Pekerjaanmu memang penuh resiko, aku rasa itu sudah menjadi hal biasa. Seperti anggota militer, terluka, tertembak, atau menembak, itu menjadi hal yang lumrah," sahut Rosalinda.
Sontak saja Pedro terkejut dan mengerutkan dahi.
"Antonio! Kau mengatakannya?" Pedro bertanya pada Antonio dengan tatapan heran.
Antonio menghela napas sejenak.
"Ya, aku mengatakannya. Ini demi kebaikanku, sudah sepatutnya ia mengetahui siapa aku. Karena selain telah berjasa menolongku, ia juga tampak tak masalah dengan identitasku," jawab Antonio.
"Iya Tuan Pedro, bagi saya tak menjadi sebuah masalah siapa Antonio," Rosalinda menyahut.
Pedro kemudian menghela napas panjang, ia tak percaya jika Antonio membuka identitasnya kepada orang yang belum lama dikenal.
Bagi anggota asosiasi, identitas harus selalu bersifat rahasia. Selain karena bisa berakibat fatal pada anggota, itu juga bisa berakibat buruk pada kinerja asosiasi. Semakin mudah dikenal, maka semakin mudah untuk dilacak.
"Nona, apa kau mempunyai nomor rekening?" tanya Pedro.
"Ada," jawab Rosalinda sedikit bingung.
"Tolong catat disini!" Pedro menyerahkan ponselnya pada Rosalinda.
Rosalinda yang tak paham hanya menuruti saja, ia mencatat nomor rekeningnya secara lengkap dan jelas. Kemudian menyerahkan kembali ponsel itu kepada Pedro.
"Terimakasih," ucap Pedro singkat.
"Sekarang cek isi rekeningmu Nona, aku telah mengirim hadiah untukmu. Sebagai tanda terimakasih karena telah merawat teman kami," ujar Pedro sambil tersenyum.
Rosalinda yang masih merasa bingung hanya bisa menuruti ucapan Pedro, ia lantas mengecek isi rekening melalui ponselnya.
Betapa terkejutnya Rosalinda saat melihat isi rekeningnya menjadi bertambah berkali-kali lipat. Ia tak dapat berkata apa-apa selain menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tuan Pedro, apa yang anda lakukan?" ucapnya dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tak masalah Nona, kami akan menghargai orang yang menghargai kami. Nilai uang sebesar apapun belum cukup dan tak akan mampu untuk membalas kebaikan hati Nona," Pedro menjawab dengan merendah.
Rosalinda lalu melirik sejenak ke arah Antonio yang masih terbaring, namun Antonio hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapan Pedro.
"Terimakasih Tuan," ucap Rosalinda seraya mengusap kedua matanya yang perlahan mengeluarkan air.
Perasaannya saat ini terharu dan bahagia. Ia tak menyangka kehadiran Antonio membawa banyak kejutan-kejutan yang bahkan belum pernah terpikirkan sebelumnya.
"Nona, bolehkah aku meminjam charger ponselmu?" tanya Pedro.
"Sebentar," jawab Rosalinda seraya bergegas ke ruangan lain untuk mengambil charger.
"Entah mengapa, saat menggunakan fitur GPS baterai ponsel ini menjadi boros," Pedro bergumam pelan.
__ADS_1
"Kau? Menggunakan GPS? Bukankah aku sudah memberimu alamat secara jelas?" sahut Antonio.
"Jalanan macet, aku tak bisa terjebak lama-lama dalam kemacetan. Sungguh memuakkan," jawab Pedro.
Tak lama kemudian Rosalinda datang sambil membawa charger ponsel.
"Silahkan Tuan," ucapnya seraya memberikan charger itu pada Pedro.
Pedro lalu meraihnya dan menyolokannya pada ponsel, kemudian ia hubungkan ke aliran listrik. Setelah memastikan baterai ponselnya terisi, ia meletakanya ke atas meja setelah menyetel ponselnya pada mode senyap.
***
Sementara itu di rumah milik keluarga Antonio, Anna terlihat sudah berpakaian rapi dan akan bergegas ke tempat Pedro untuk mengajaknya mencari Antonio.
"Aku yakin Pedro pasti mengetahui keberadaan Antonio," gumamnya seraya bergegas melajukan mobilnya menuju Acquolina Cafè.
Karena telah terbiasa dengan rute, Anna sudah mengetahui jalan pintas untuk mencegah kemacetan. Sehingga tak butuh waktu lama ia sudah berada di parkiran depan Acquolina Cafè.
Pengunjung cafe saat itu tidak terlalu banyak, jadi mudah saja bagi Anna untuk menemui Ferguso yang terlihat duduk santai sembari mengotak-atik ponselnya.
"Halo Ferguso!" sapa Anna.
Ferguso yang sedang serius sontak saja terperanjat kaget dan menatap wanita di depannya.
"Oh, hai Nona!" ucap Ferguso membalas sapaan Anna.
"Dimana Pedro? Bisakah aku menemuinya sekarang?" tanya Anna tergesa-gesa.
"Maaf Nona, bos sedang keluar. Ia berkata akan keluar dengan waktu lama, mungkin sampai cafe ini tutup," jawab Ferguso seraya menganggukan kepala, mengiringi musik alunan musik yang mulai terdengar memenuhi ruangan cafe.
Raut kekecewaan tampak tergambar jelas di wajah Anna, wanita itu langsung saja meraih ponselnya dan menelepon Pedro.
Pandangan matanya mengitari sekitar, sesekali bertemu pandang dengan pengunjung pria yang terpesona oleh kecantikannya.
"Mengapa dia tak menjawab panggilanku?" Ucapnya saat mengetahui panggilannya tidak terjawab.
Kemudian ia mengotak-atik ponselnya, namun secara tiba-tiba terbesit dalam pikirannya untuk melacak keberadaan Pedro. Ia lalu mengaktifkan aplikasi canggih di ponselnya, aplikasi untuk melacak lokasi.
Kemudian secara perlahan senyumnya terkembang saat mengetahui bahwa sinyal GPS Pedro terlihat aktif dan menunjukan lokasi saat ini.
"Baiklah, aku akan kesana," gumamnya dengan penuh keyakinan.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote agar Author semakin bersemangat!!
__ADS_1