Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Terlukanya Seorang Antonio


__ADS_3

Antonio masih terus berlari berusaha menyelamatkan diri dari kejaran aparat kepolisian. Sedangkan polisi yang tersisa masih terus mencarinya, mereka berpencar sembari menunggu bala bantuan datang.


Sleb!


Antonio menumbangkan salah satu polisi dengan pistol berperedam suaranya. Ia masih menargetkan leher sebagai sasaran tembak, posisi yang tidak begitu sulit bagi seorang yang terlatih seperti Antonio.


Perlahan demi perlahan ia tumbangkan polisi itu satu persatu sambil terus mencari jalan untuk keluar dari gedung.


"Aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir," gumamnya pelan seraya mengisikan amunisi pada pistolnya.


Namun tiba-tiba...


Bruak!!!


Sebuah berhasil menghantam wajahnya, membuat ia seketika jatuh terjengkang.


Ia tak menduga jika di depannya ada anggota aparat yang bersembunyi dan menghantamkan balok kayu pada wajahnya.


"Mati kau!" Ucap aparat itu seraya mengangkat balok kayu tinggi-tinggi berusaha memukul Antonio yang sedang terlentang.


Namun sebagai sebagai pemuncak rank nomor satu di asosiasi, hal itu tidak menyulitkannya. Antonio yang masih merasa pusing pun langsung bangkit dengan cepat seraya menendang bagian vital pria di depannya.


"Aaaarghh!!" Pria itu meraung kesakitan.


Dengan cepat Antonio meraih balok kayu yang terjatuh dan menghantamkannya pada leher pria itu.


Bruak!


Satu kali pukulan bertenaga sontak membuat pria itu jatuh tersungkur tak berdaya. Lalu Antonio mendekat dan menginjak punggung pria itu.


Krek!


Suara patahan tulang terdengar perlahan, saat Antonio mematahkan leher pria anggota aparat kepolisian yang terbaring hingga tewas.


Antonio menghela napas sejenak, kemudian berlari kembali walaupun di kepalanya masih terasa pusing akibat hantaman balok.


"Aku harus berhati-hati," ia bergumam pelan seraya mengatur napas.


Ia berniat untuk beristirahat sejenak sambil bersembunyi, saat melihat sebuah pintu ruangan yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


Cklek!

__ADS_1


Ia menekan gagang pintu membukanya secara perlahan, kemudian masuk dan menutup kembali pintu itu. Saat memasuki ruangan itu, dilihatnya sebuah ruangan luas yang berisi mesin-mesin besar.


"Sepertinya tempat ini bekas pabrik kayu," ujarnya saat melihat mesin besar dengan gergaji yang masih terpasang.


Antonio kemudian berjalan dengan cepat mencari celah untuk berlindung. Sebenarnya ia ingin cepat keluar dan meninggalkan gedung ini, namun ia tidak mengetahui akses jalan lain selain gerbang utama. Terlalu beresiko baginya jika harus keluar melalui gerbang utama yang kini dijaga ketat oleh para anggota aparat.


Cklek!


Terdengar suara pintu dibuka diiringi derap langkah kaki yang membuat Antonio tersentak kaget.


Ia lalu masuk ke dalam celah kecil diantara mesin-mesin besar. Bersembunyi dan mengawasi setiap gerak-gerik para anggota yang kini terlihat sedang menyisir ruangan itu.


Lokasi persembunyian Antonio sangat sulit ditemukan, hingga akhirnya para anggota itu merasa kehilangan jejak dan melanjutkan pencarian ke ruangan lain.


Setelah dirasa cukup aman, Antonio lalu keluar dari tempat persembunyiannya. Ia akan melanjutkan kembali berjalan mencari akses keluar.


Dor! Dor! Dor!


Tiba-tiba saja rentetan senjata mengarah padanya.


"Ahk!" Pekik Antonio saat merasa bahu kanan dan punggungnya tertembak.


Antonio lalu meraba mencari pistolnya, namun ia tak menemukannya.


"Gawat!" Gumamnya panik.


Sambil menahan sakit, ia lalu mencoba untuk bangkit dan berdiri. Kemudian berpindah tempat untuk terus bersembunyi.


"Ayo! Cari dia!" Terdengar teriakan seorang aparat yang diikuti pergerakan anggota lainnya.


Antonio terus berlari diantara celah-celah mesin, walaupun ia harus menahan rasa sakit dari beberapa peluru yang bersarang di punggung dan bahu kananya.


"Sepertinya itu tangga ke lantai atas," gumamnya seraya menahan sakit.


Ia lalu berlari dengan cepat menaiki tangga, dan mencari ruangan yang paling jauh untuk ia jadikan tempat berlindung sejenak mengatur napas.


Darah mulai membasahi punggungnya, penglihatannya mulai sedikit nanar. Ia kemudian masuk ke salah satu ruangan dan segera mengunci pintunya.


Dilihatnya ruangan kecil dengan jendela yang besar, di ruangan itu terdapat berbagai macam alat pembersih.


"Syukurlah, aku bisa mendapat tali," gumamnya saat melihat gulungan tali tambang yang agak besar dan kuat.

__ADS_1


Saat mudah menemukan benda seperti itu di gudang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk merangkai tali agar bisa ia gunakan untuk meloloskan diri.


Kemudian ia dengan cepat mengikatkan sebuah besi pengait pada ujung tali itu. Besi itu ia ikat dengan kuat, agar bisa menahan berat tubuhnya. Setelah terpasang rapi, ia lalu membuka jendela dan menatap ke bawah.


Jarak dari jendela ke tanah memang tidak terlalu jauh, hanya saja yang membuat Antonio senang adalah saat ia turun berarti ada di luar area pabrik dan menuju ke perkebunan milik warga.


Tanpa basa-basi ia lalu turun dengan cepat melalui jendela menggunakan tali yang baru saja ia rangkai sedemikian rupa. Setelah berhasil turun ia lalu menarik tali itu dari bawah, sekaligus menyenggol ganjal yang menempel pada kaca sehingga kaca itu menutup kembali seperti sedia kala. Kemudian ia berlari mencari tempat pohon besar untuk beristirahat.


Darah semakin deras mengalir dari punggungnya, tubuhnya melemas menahan sakit. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahannya rasa sakit yang kini menderanya dan berjalan tanpa henti berharap segera sampai di rumahnya atau rumah Pedro.


Tiba-tiba langit yang terlihat mendung perlahan mengeluarkan tetesa-tetesan air. Antonio mulai merasa pasrah, dengan gontai ia berjalan terus menyusuri jalan setapak diantara rerumputan ilalang yang berukuran cukup tinggi.


Lukanya bertambah perih saat terkena tetesan air hujan, darah pun tak hentinya keluar dan menetes pada jalan yang baru saja ia lewati.


Hujan yang semakin lama semakin lebat membuat pandangan matanya menjadi kabur. Ia sudah sangat lemas karena selain terluka dan kehabisan darah, jalan yang harus ia tempuh juga cukup licin. Hingga sesekali Antonio tampak terjatuh dan berusaha bangkit dengan susah payah.


Ia terus berjalan membelah derasnya hujan yang kini disertai angin. Tubuhnya terlihat goyah saat terkena terpaan angin yang cukup kencang, sehingga harus bersusah payah menjaga keseimbangan.


Walaupun ia cukup terlatih, namun tetap saja kondisinya sedang terluka parah. Entah berapa banyak peluru yang bersarang di tubuhnya, yang jelas bekas lukanya terus-menerus mengeluarkan darah segar dari tubuhnya dan cukup menguras sisa tenaga.


Saat keluar dari area perkebunan, ia melihat sebuah rumah yang beridiri tepat dengan jalan yang ia lalui. Jalan yang licin di perkampungan membuatnya terjatuh dan berguling-guling di turunan.


Namun Antonio bukanlah seorang yang mudah menyerah, ia masih tetap berusaha meminta pertolongan menuju rumah itu dengan cara merangkak perlahan.


Perlahan demi perlahan ia menyeret tubuhnya di jalan yang licin, punggungnya semakin terasa sakit saat air hujan langsung berjatuhan menimpa luka-luka yang semakin menganga.


Hingga saat berada di depan pintu rumah yang tidak ia kenali, ia berusaha mengetuk pintu dengan sebuah batu yang ia genggam.


Tok! Tok! Tok!


Ia mengetuk dengan sisa-sisa tenaganya, ia tak punya pilihan lain selain pasrah berharap pemilik rumah segera keluar dan menolongnya.


Cklek!


Pintu rumah pun tiba-tiba terbuka, terlihat seorang wanita cantik yang terkejut seraya menutup mulutnya melihat kondisi Antonio yang kini bertelungkup tak berdaya dan tak sadarkan diri.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!

__ADS_1


__ADS_2