Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Sahabat Lama


__ADS_3

Di rumah milik keluarga Antonio, terlihat Anna dan Natasha sedang berbincang berdua di ruang tengah seraya menikmati cemilan dan menonton acara televisi.


"Anna, bagaimana misimu selama ini? Apa kaumengalami kesulitan?" tanya Natasha pada Anna yang terlihat serius menatap layar televisi.


"Bagaimana ya? Sepertinya sampai saat ini aman-aman saja, walau pun aku hampir saja mati. Namun, berkat kesigapannya aku bisa selamat," jawab Anna dengan wajah berseri sambil mengingat wajah Antonio di pikirannya.


"Iya, aku mendengar kabar itu dari asosiasi, dan aku terkejut saat mengetahui keadaanmu sedang kritis," sahut Natasha menimpali.


"Namun tak berapa lama aku mendapat kabar bahwa kau sembuh," tambahnya.


Anna dan Natasha adalah dua sahabat yang sangat dekat, mereka saling mengenal saat pertama kali masuk asosiasi. Kekompakan dan kerja sama diantara mereka terjalin karena banyaknya misi yang sering mereka jalani.


Asosiasi cabang Rusia berbeda dengan asosiasi cabang lainnya. Di Rusia, satu tim bisa berisi 2 sampai 4 orang. Satu tipe strategi bisa mengatur 3 atau 2 orang tipe eksekusi. Sangat berbeda dengan tim Pedro yang berasal dari kantor pusat di Meksiko, mereka hanya diisi oleh 2 orang saja, yaitu satu orang anggota tipe strategi dan satu orang anggota eksekusi.


Tim Anna dan Natasha hanya berisi 3 orang, hal itu dikarenakan kemampuan Anna yang cukup mumpuni. Walaupun ia bertipe eksekusi, namun terkadang ia selalu berimprovisasi layaknya Antonio yang berada di tim Pedro.


"Terimakasih kau sudah mengkhawatirkanku," ucap Anna merespon kekhawatiran Natasha.


Tak berapa lama terdengar bunyi panggilan masuk dari ponsel milik Natasha.


Kring! Kring!


Wanita itu lantas bergegas ke arah meja tempat ponselnya tergeletak. Kemudian menerima panggilan itu.


Anna yang sedang duduk di kursi hanya memperhatikan tingkah rekannya, matanya mengikuti ke mana arah Natasha berjalan seraya menelepon.


"Panggilan dari siapa?" tanya Anna saat melihat raut wajah Natasha yang terlihat kecewa setelah baru saja menjawab telepon yang relatif singkat.


"Asosiasi," jawab Natasha pendek.


"Hah?! Ada apa?!" tanya Anna heran.


"Mereka memintaku untuk kembali, ada case baru untukku," jawab Natasha seraya menundukan wajah.


"Bukannya mereka menyuruhmu untuk membantuku?! Mengapa tiba-tiba mereka menyuruhmu kembali?!" Anna bertanya lagi, seraya mengerutkan dahi dan perasannya semakin tak mengerti.


"Hmm ... entahlah ...." jawab Natasha seraya menghela napas pendek.


Wanita itu tak mengetahui jika Pedro telah mengonfirmasi kesehatan Antonio kepada petinggi asosiasi, sehingga membuat Antonio kembali menjalankan misi dan memaksa Natasha harus dipulangkan.


"Sudahlah, apa pun itu kauharus menerimanya dengan lapang dada," ujar Anna menenangkan seraya mengusap bahu Natasha yang kini sedang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Natasha merasa sangat kecewa saat mengetahui misi untuknya telah dibatalkan. Padahal ia sangat ingin menjalani misi dengan Anna, walau pada akhirnya keinginannya itu harus kandas.


"Iya aku mengerti, mungkin aku lebih dibutuhkan di sana," lirih Natasha.


Anna tak menjawab apa pun, ia hanya memandang layar televisi yang kini sedang menayangkan acara musik. Kepalanya pun terlihat mengangguk-angguk kecil seiring irama musik yang keluar dari speaker televisi.


***


Sementara itu di Acquolina Cafè, Antonio tampak mengangguk setelah mendengar istruksi Pedro yang kini sedang duduk di kursi kerjanya. Mereka berdua sedang membahas strategi untuk memulai kembali misi yang selama ini tertunda.


"Kau paham?" tanya Pedro pada Antonio yang sedang meneguk kopinya seraya duduk di kursi yang biasa mereka tempati.


"Iya," balas Antonio pendek.


"Penjagaan di markas Black Shadow sangatlah ketat, namun aku yakin kita tak akan kesulitan untuk menyusup ke sana," ujar Pedro mengingatkan.


"Semoga saja, aku tak ingin membuang-buang waktu lagi. Kita harus segera menyelesaikannya," balas Antonio dengan antusias.


Pedro hanya tersenyum seraya mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Antonio, menandakan kesetujuannya terhadap semangat rekan kerjanya.


"Antek-antek mereka telah kuhabisi, seharusnya kini mereka dalam keadaan lemah," ujar Antonio.


"Jangan gegabah! Aku dengar orang Asia itu datang ke markas mereka untuk melatih dan mendidik anak buah Pablo. Mungkin saja mereka kini telah menjadi lebih kuat," tegas Pedro.


Pedro lalu meneguk segelas kopinya sejenak.


"Optimis dan percaya diri itu perlu, hanya saja kau tak boleh ceroboh dan bertindak semaumu," ucapnya seraya meletakan gelas kopi yang baru saja ia teguk.


"Iya aku mengerti," jawab Antonio singkat


"Kalau begitu aku pulang dahulu," tambahnya.


Kemudian Antonio bangkit dan menganggukan kepala ke arah Pedro yang hanya dibalas acungan jempol oleh Pedro sang tipe strategi. Setelah itu Antonio lalu bergegas keluar cafe, menuju ke parkiran mobil.


Namun saat sampai di parkiran ia kembali tertegun, ia lalu teringat bahwa mobilnya telah di bawa pulang oleh Anna.


"Astaga, aku lupa," gumamnya seraya menepuk jidat.


Kemudian ia masuk ke dalam cafe dan kembali menemui Pedro di ruang kerjanya.


"Hahahaha, sudah kuduga," ucap Pedro saat melihat Antonio masuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Kecerobohanmu memang belum bisa dihilangkan, atau, sepertinya memang tak bisa dihilangkan," ledeknya pada Antonio.


Antonio hanya menghela napas panjang saat mendengar perkataan rekan kerjanya itu.


"Biar aku yang mengantarmu pulang," ucap Pedro seraya bangkit dan berjalan keluar.


Antonio hanya menepuk jidatnya, ia sudah mengira jika Pedro sebenarnya menyadari kecerobohannya. Namun, Pedro sengaja membiarkannya agar ia bisa menyadarinya sendiri.


"Kau ingin menyetir?" tanya Pedro pada Antonio, saat mereka berdua telah berada di depan mobil Pedro.


"Tidak," jawab Antonio singkat.


"Oh ... oke ...." sahut Pedro singkat.


Mereka berdua lalu menaiki mobil dan meluncur ke rumah Antonio.


***


Suasana langit mulai gelap, pertanda malam akan tiba. Anna dan Natasha terlihat sedang memasak hidangan untuk makan malam.


"Apa yang sedang kaumasak?" tanya Natasha saat melihat Anna menggoreng sesuatu.


"Ini bakwan jagung, makanan asli dari Indonesia," jawab Anna.


"Dari mana kautahu?" Natasha bertanya lagi.


"Seseorang yang menolong Antonio, dia mengajariku membuat masakan Indonesia," jawab Anna.


"Sebenarnya waktu itu dia mengajariku membuat bakwan sayur. Namun dia juga pernah mengatakan bahwa tidak hanya sayuran, tapi jagung pun bisa jika kita masak menggunakan adonan tepung terigu," tambahnya menjelaskan pada Natasha.


"Oh ... seperti itu? Boleh aku mencobanya?" tanya Natasha saat melihat bakwan jagung yang masih berada dalam wajan.


"Boleh, tapi nanti ya, ini belum matang," jawab Anna.


Bagi Natasha yang belum pernah mengetahui masakan Indonesia, bakwan jagung adalah hal yang aneh. Sehingga ia merasa penasaran untuk mencicipi makanan itu.


Namun tak berapa lama terdengar deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan rumah yang saat ini mereka tempati.


"Siapa itu?" tanya Anna pada Natasha.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


__ADS_2