
Fabio dan Elano merupakan tangan kanan atau orang kepercayaan Pablo. Walaupun mereka bukan mantan anggota asosiasi, namun Pablo melatih mereka dengan baik sehingga menjadi duo andalan Black Shadow.
Saat ini mereka berdua sedang menjalankan misi menjadi pengawal pribadi Nicholas, bos dari Anwar. Ia adalah pemilik dari perusahaan obat terlarang, ia merekrut duo andalan Black Shadow karena terkesan saat mendengar cerita dari Anwar tentang mereka berdua.
Nicholas akan melakukan rapat tertutup bersama para staf dan petinggi perusahaannya di sebuah gedung dengan penjagaan ketat.
"Selamat pagi pak!" Sapa salah seorang petugas penjaga gedung.
"Selamat pagi! Saya diundang oleh Mr. Nicholas," jawab pria itu.
"Sebentar pak!" Ucap sang penjaga, lalu ia mengotak-atik ponselnya dan terlihat menelepon seseorang sambil mengangguk-angguk.
"Silahkan pak! Langsung masuk saja! Biar saya antarkan," ucap sang penjaga pada pria itu.
Pria yang berpakaian rapi memakai jas dan menjinjing koper itu langsung berjalan masuk ke dalam gedung bersama seorang penjaga yang siap sedia mengantarkannya.
Mereka berdua memasuki lift dan naik ke lantai 15. Setelah sampai, penjaga lalu menyerahkan pria itu pada penjaga lain yang berdiri di pintu masuk ruangan.
"Antarkan tuan ini pada bos!" ucapnya.
"Siap!" jawab penjaga yang dimaksud.
Lalu penjaga itu berjalan kembali ke arah lift, untuk kembali keluar menjaga pintu masuk gedung.
Sementara pria tamu tadi masuk ke ruangan bersama penjaga yang lainnya.
"Hello Mr. Nicholas," sapa pria itu saat melihat Nicholas sedang duduk diapit oleh Fabio dan Elano yang berdiri di sampingnya.
"Hello Mr. Rahardjo, selamat datang!" Balas Nicholas.
"Silahkan duduk!" Tambahnya sambil menunjuk kursi di depannya.
Penjaga yang mengantar Rahardjo langsung kembali ke tempatnya setelah memastikan Rahardjo berjumpa dengan Nicholas.
Tak lama setelah itu para petinggi perusahaan Nicholas mulai berdatangan, kemudian mereka duduk di kursi masing-masing. Peserta rapat menjadi 8 orang berikut Nicholas dan Rahardjo.
Sementara Fabio dan Elano berdiri agak menjauh dari posisi Nicholas, mengingat mereka bukan peserta rapat.
"Perkenalkan, ini adalah Mr. Rahardjo. Beliau adalah investor yang baru untuk perusahaan kita," ujar Nicholas membuka percakapan dengan mereka.
***
Antonio dan Anna tampak mengendap-endap di samping gedung, mereka berdua akan menyerang langsung secara perlahan dengan melumpuhkan para penjaga.
Bermodalkan sebilah pedang, Antonio menebas setiap penjaga yang lengah. Sedangkan Anna dengan senapan yang dilengkapi peredam suara membantu dengan menembaki para penjaga yang luput dari incaran Antonio. Mereka berdua terlihat saling melengkapi.
Setelah semua penjaga yang di luar telah mereka habisi tanpa sisa, perlahan mereka melangkah memasuki gedung.
"Tetap waspada!" Bisik Antonio mengingatkan.
Mereka saat ini berada di sudut ruangan, pakaian yang serba hitam membuat mereka bisa berkamuflase dengan baik.
"Formula ini membuat penglihatanku menjadi lebih baik, tenang saja," jawab Anna seraya mengisi peluru di pistolnya.
Walaupun mereka sama-sama membawa sebilah pedang, namun Anna lebih memilih pistol untuk digunakannya.
"Ambil ini, makanlah jika efek formula sudah menurun," ucap Antonio sambil menyerahkan 2 butir obat.
__ADS_1
"Apa ini?" Anna bertanya tak mengerti.
"Itu formula yang ku padatkan, aku belum tahu berapa lama efek formula itu akan bertahan. Makanlah itu jika efeknya mulai berkurang!" Antonio menjelaskan.
"Mulai dari sini kita berpencar, kita sisir lantai ini lalu bertemu di lift," tambahnya mengintruksikan.
"Baiklah, cek alat komunikasi!" Anna mencoba berbicara lewat alat komunikasi yang mereka pakai pada masing-masing telinga mereka.
"Done! Let's do it together!" ucapnya singkat.
Lalu mereka berpisah, Anna menyusuri sisi kanan sedangkan Antonio sisi kiri dari ruangan itu.
Perlahan Antonio membuka pintu salah satu ruangan yang tidak dikunci, ia melihat penjaga sedang duduk santai merokok membelakangi pintu. Dengan berjalan cepat ia lalu menggesekan bagian tajam pedangnya pada leher sang penjaga.
Srek!
Satu gesekan bagai menggesek dawai biola berhasil memisahkan kepala sang penjaga dengan badannya.
"Hmm, terlalu lama jika menggunakan ini," ucapnya sambil membersihkan pedangnya.
Setelah mengarungkan pedangnya ke punggung, ia lalu meraih pistolnya dan memasang alat peredam suara.
"Seharusnya dari tadi aku menggunakannya, untuk mempercepat waktu," gumamnya.
Lalu ia keluar untuk menyusuri ruangan lainnya.
Sementara itu Anna sedang mengincar salah seorang penjaga yang sibuk memainkan ponselnya, perlahan ia mengarahkan senjatanya.
Sleb!
Tanpa suara ledakan, seketika penjaga itu tewas dengan kepala bercucuran darah.
Dengan cepat ia melompat ke samping dan menembakan dua pistolnya ke dua orang penjaga itu.
"Hampir saja!" ucapnya setelah melihat dua penjaga itu tewas.
Ia lalu bergegas ke ruangan lainnya sambil membawa dua pistol di tangannya.
Memang itu yang menjadi kelebihan Anna, ia bisa menembak ke dua arah berlawanan dengan dua pistolnya secara tepat dan akurat. Bahkan Antonio sekalipun sulit melakukannya. Walaupun bisa, tapi skillnya tak sebaik Anna.
"Anna... Anna..." terdengar suara Antonio memanggil melalui alat komunikasi di telinganya.
"Iya," jawab Anna.
"Sisa berapa ruangan disana?" Tanya Antonio.
"Aku lihat masih tiga ruangan lagi," Anna menjawab.
"Okay, cepat bersihkan! Aku akan menunggu di depan lift!" ucap Antonio.
"Okay," jawab Anna singkat.
Anna lalu bergerak dengan cepat ke ruangan berikutnya, ia tak mengetahui bahwa di sisi kiri lantai pertama gedung itu hanya ada 2 ruangan. Berbeda dengan sisi kanan yang memiliki 5 ruangan.
Sesampainya di depan pintu salah satu ruangan, ia lantas menendangnya.
Bruak!
__ADS_1
Lalu ia masuk dengan posisi senjata yang siap menembak, namun tak ada satupun penjaga yang ia temui disana.
"Kemana mereka?" gumamnya.
Lalu ia keluar dari ruangan itu dan berpindah ke ruangan lainnya.
"Sepertinya ini ruang kerja, kemana mereka?" ia bergumam lagi saat melihat keadaan ruangan yang masih rapi dan dipenuhi berkas-berkas.
Ia tak ingin membuang-buang waktu, lantas keluar dan menuju ke ruangan terakhir.
Sayup-sayup terdengar percakapan dan gelak tawa saat akan menuju ruangan itu.
"Rupanya mereka berkumpul disini," gumam Anna.
Pintu ruangan yang tidak tertutup membuatnya tidak begitu khawatir. Ia lalu mengintip dari celah pintu dan menghitung jumlah penjaga disana.
"Rupanya tiap ruangan dijaga oleh dua orang," ucapnya dalam hati saat melihat 6 orang penjaga di dalam ruangan itu.
Tanpa berpikir panjang, Anna lalu masuk ke dalam dan menembaki penjaga itu dengan dua pistolnya.
Seketika 4 orang penjaga tewas dengan luka tembakan dari Anna. Namun 2 orang yang berhasil selamat malah berbalik menyerang dengan melemparkan kursi ke arah Anna.
Anna dengan refleks menendang kursi tersebut ke arah jendela hingga menghancurkan jendela tersebut.
Kemudian menembakan pistolnya dengan cepat, sehingga satu orang kembali tewas oleh tembakannya yang menembus jantung.
Sementara itu satu orang penjaga lagi tampak ketakutan, ia menunduk dan memohon ampun pada Anna.
"Tolong nona! Jangan bunuh saya!" Ucapnya mengiba.
"Baiklah!" jawab Anna, kemudian ia menyarungkan kedua pistolnya.
"Kau tak ingin mati bukan?" Tanya Anna sambil tersenyum.
"I... iya nona," jawab pria itu dengan terbata-bata.
"Katakan padaku dimana Nicholas? Atau..." Anna tak melanjutkan ucapannya, ia lalu meraih sebilah pedang di punggungnya.
"B... b... baik nona, akan saya beritahu," pria itu menjawab terbata-bata sambil melirik ke arah pedang Anna.
"Dia sedang ada pertemuan penting di lantai 15," jawab pria itu sambil menunduk.
Srek!
Anna dengan cepat menebas leher pria itu hingga terpisah dari badannya.
"Terimakasih!" jawab Anna singkat sambil pergi menuju lift menemui Antonio.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
Ilustrasi Antonio dan Anna Ivanova
__ADS_1