Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Penuh Kejutan


__ADS_3

Rosalinda terlihat membawa makanan untuk sarapan Antonio, pagi itu ia membuat nasi goreng spesial yang biasanya ia buat untuk dirinya sendiri.


"Hai! Selamat pagi!" Rosalinda menyapa dengan senyum pada Antonio, saat melihat pria itu sudah duduk di pembaringan.


"Selamat pagi!" balas Antonio.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Rosalinda.


"Makanlah! Setelah itu minum obat," tambahnya seraya memberikan sepiring nasi goreng pada Antonio.


"Terimakasih, sudah lama aku tak menikmati nasi goreng," ujar Antonio yang terlihat antusias menerima makanan pemberian Rosalinda.


Wanita itu hanya tersenyum kecil, kemudian bergegas ke ruangan lain untuk mencari obat yang akan diberikan kepada Antonio.


"Sehabis makan, minum ini!" Rosalinda berkata sambil memberikan beberapa pil obat dalam plastik.


Antonio hanya mengangguk, ia terlalu menikmati sarapannya, mulutnya penuh oleh makanan dan tak bisa untuk bicara.


"Wow enak sekali masakan buatanmu, terimakasih!" ucap Antonio saat baru saja ia selesai menghabiskan sarapannya.


"Iya, terimakasih juga karena telah menyukai masakanku," balas Rosalinda dengan perasaan senang.


Kemudian Antonio menelan pil-pil obat dari Rosalinda, ia menuruti saran wanita itu karena ingin segera pulih dan kembali pulang.


"Semoga lekas sembuh ya," ucap Rosalinda sambil tersenyum dan dibalas senyuman kecil Antonio.


"Oh iya maaf, jika kau tak keberatan aku mau bertanya tentangmu. Sepertinya kamu bukan asli penduduk lokal. Darimana asalmu?" Rosalinda bertanya pelan.


Antonio lalu mengernyitkan dahi dan menatap Rosalinda sejenak, kemudian menarik napas pendek.


"Meksiko," jawabnya pendek.


"Meksiko? Wow!!" Rosalinda terkejut saat mendengar jawaban Antonio.


"Apa yang membawamu kesini? Bolehkah aku mengetahuinya?" Wanita itu bertanya lagi pada Antonio.


Antonio tampak memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam.


"Kau sungguh ingin mengetahuinya?" Ia bertanya perlahan.


"Iya, tentu," Rosalinda menjawab singkat.


"Apa yang membuatmu ingin mengetahuinya?" Ujar Antonio bertanya memastikan.


"Kau bukan warga lokal, dari cara kita bertemu pun sungguh aneh. Sangat wajar bukan? Jika aku ingin mengetahui asal-usulmu," jawab Rosalinda dengan jelas.


"Hmm," Pria itu kembali bergumam pelan seraya menghela napas.


Ia terlihat bimbang antara harus mengatakannya atau tidak, tentang alasannya tinggal di Indonesia. Karena selain bisa berbahaya bagi identitasnya, dengan mengetahui siapa Antonio juga bisa berakibat buruk pada Rosalinda.

__ADS_1


"Karena kau telah menolong dan menyelamatkan nyawaku, maka sebagai tanda terimakasih aku akan menceritakan siapa aku," jawab Antonio dengan tatapan kosong menerawang.


Kemudian ia bercerita tentang kisah hidup dan pekerjaannya, tak lupa juga ia bercerita tentang alasan mengapa menjadi buronan polisi hingga berakhir sekarat di tempat Rosalinda.


Semua ia ceritakan pada Rosalinda, tapi hanya secara garis besarnya saja. Ia tak ingin wanita itu menjadi takut akan kehadirannya yang merupakan seorang pembunuh bayaran.


"Hmm, seperti itu ya?" Rosalinda pun mengangguk perlahan tanda mengerti akan semua cerita Antonio.


"Iya, setelah kau mengetahuinya, aku harap kau masih bersedia menolong dan membantuku," jawab Antonio lirih.


Rosalinda sebenarnya terkejut saat mendengar cerita Antonio, dari awal banyak cerita yang seperti tak masuk akal. Namun saat ia mengetahui mengapa pria yang berada di depannya sekarat, sekarang ia bisa mempercayainya.


"Tak masalah. Aku adalah seorang dokter, dan menolong orang yang membutuhkan pertolongan secara medis memang sudah menjadi tugasku. Tidak usah khawatir!" Rosalinda berkata panjang lebar.


"Terimakasih," ucap Antonio lirih seraya menundukan wajah, ia seolah malu saat mengetahui jati dirinya diungkapkan kepada seorang wanita yang belum lama ia kenal.


"Oh, iya... Siapa namamu? Maaf aku lupa," Antonio bertanya sembari menepuk jidat.


"Rosalinda," wanita itu menjawab.


"Oke Rosalinda. Hmm," Antonio mengangguk paham.


"Bolehkah jika aku memanggilmu Rose?" Tanyanya.


"Rose?" Sahut Rosalinda.


"Biasanya penduduk disektar sini memanggilku Linda, sama seperti rekan kerjaku. Mereka semua memanggilku Linda, tidak ada yang memanggilku Rose," Rosalinda menjawab dan menjelaskan.


"Hmm," Helaan napas Rosalinda terdengar kencang.


Ia lantas memikirkannya usulan Antonio. Selain karena baru pertama kalinya ia akan dipanggil Rose, ia juga merasa asing dengan panggilan itu.


"Mengapa kau ingin memanggilku dengan sebutan Rose?" Ia bertanya dengan raut wajah keheranan.


"Sepertinya kau menyukai bunga mawar," jawab Antonio diiringi senyum kecil.


Rosalinda kembali dibuat kaget, hari ini banyak sekali kejutan-kejutan yang ia dapat semenjak kehadiran Antonio di rumahnya.


"Darimana kau tahu?" Ia bertanya seraya mengernyitkan dahi.


Antonio lalu tersenyum manis sekali.


"Di belakang rumahmu banyak sekali tumbuh bunga mawar. Jika kau tak menyukainya, tak mungkin ada tanaman mawar yang tumbuh subur seperti itu. Bunganya pun merekah cukup indah," Antonio menjawab.


"Kau mengetahuinya?" Rosalinda bertanya lagi, ia menjadi tak mengerti dengan perkataan Antonio. Yang ia ketahui adalah Antonio masih dalam keadaan terbaring dan belum bisa pergi kemana-mana.


"Ya, semalam aku mencoba untuk berjalan dan melihat keadaan sekeliling rumahmu. Tempat ini sungguh tenang dan damai," ujar Antonio dengan raut wajah penuh keceriaan.


Rosalinda tersontak kaget, ia tak menyangka jika pria di hadapannya sudah mampu berjalan-jalan. Padahal menurut perkiraannya, Antonio pulih dalam beberapa hari lagi. Namun ternyata dugaan dan perkiraannya salah.

__ADS_1


"Kau, hmm," Rosalinda menarik napas sejenak.


"Kau, sungguh membuat hariku menjadi penuh kejutan," ujarnya seraya tersenyum dan menggelengkan kepala tanda heran.


Antonio hanya tersenyum saja, baginya saat ini kondisinya sudah pulih 50%.


Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya tentang suatu hal.


"Rose!" Ia memanggil wanita itu pelan.


"Iya," jawab Rosalinda.


"Bolehkah aku meminjam ponselmu? Ada seseorang yang ingin aku telepon," ujar Antonio.


"Oke, tunggu sebentar," jawab Rosalinda. Kemudian bergegas keluar dan kembali dengan membawa ponselnya dalam genggaman.


"Ini, gunakanlah!" Rosalinda menyerahkan ponselnya pada Antonio.


"Terimakasih!" ucap Antonio seraya menerima ponsel dari tangan Rosalinda.


Setelah itu ia memejamkan mata berusaha mengingat nomor telepon seseorang untuk ia telepon.


"Kau akan menelepon temanmu?" Rosalinda bertanya menyelidik.


Wanita merasakan ada sesuatu yang ganjil saat Antonio mengatakan akan menelepon seseorang. Namun ia membiarkannya saja, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Dia partner kerjaku, tapi aku sedikit lupa dengan nomor ponselnya. Aaarrgh," ucap Antonio seraya memijit-mijit dahinya.


Tiba-tiba saja perasaan Rosalinda menjadi tenang saat mengetahui seseorang yang akan ditelepon oleh Antonio adalah rekan kerjanya.


"Coba kau ingat dulu! Kali ini aku tak dapat membantumu, maaf! Hehehe," ujar Rosalinda seraya terkekeh.


Antonio melirik sejenak ke arah Rosalinda, ia pun tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Kemudian memejamkan mata kembali, berusaha mengingat sebuah nomor ponsel.


"Oh, iya! Aku mengingatnya sekarang," ujarnya dengan perasaan senang.


Rosalinda yang mendengarnya merasa senang, entah mengapa perasaan itu muncul dengan sendirinya.


Kemudian terlihat Antonio mengotak-atik ponsel di tangannya, menulis nomor dan melakukan panggilan.


Tut! Tut! Tut!


Terdengar nada telepon tersambung.


"Halo! Pedro!" ucap Antonio pada ponsel yang berada dalam genggamannya.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


Bantu Vote agar Author semakin bersemangat!!


__ADS_2