Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Sadarnya Sang Antonio


__ADS_3

Anggota kepolisian yang terus melakukan pencarian di lokasi bekas pabrik merasa putus asa, mereka tak dapat menemukan jejak apapun terkait Antonio.


Tomi dan Andi terlihat sedang berbincang di sebuah kursi yang berapa di depan pabrik itu. Mereka berdua merasa kebingungan dengan hilangnya jejak Antonio yang dirasa cukup misterius.


"Menurutmu dia bersembunyi dimana?" Tanya Tomi pada Andi setelah menenggak minuman kalengnya.


"Entahlah, seharusnya ia sudah ditangkap sejak kemarin. Tidak ada akses keluar dari pabrik ini selain melewati kita," jawab Andi sedikit kecewa.


"Sepertinya tugas kita belum selesai jika memang ia berhasil meloloskan diri," tambahnya.


Mereka berdua terpaksa harus melakukan penyamaran kembali demi mengetahui informasi keberadaan Antonio, seorang anggota asosiasi yang kini menjadi buronan.


"Ternyata benar, sulit sekali menangkap anggota asosiasi. Aku kira setelah ia dikepung akan mudah untuk ditangkap," gerutu Tomi.


"Ya seperti itulah, tapi setidaknya kita telah berusaha walau hasilnya tidak memuaskan," sahut Andi.


Tiba-tiba semua anggota yang baru saja kembali dari pencarian telah berkumpul di halaman pabrik yang cukup luas atas perintah komandan.


"Sepertinya mereka akan kembali ke markas," ucap Tomi saat melihat sang komandan pasukan sedang memberi instruksi kepada pasukannya.


"Iya. Ayo kita ke markas!" Ajak Andi singkat.


Tanpa menunggu jawaban Tomi, ia lantas berjalan menuju ke mobilnya. Tomi mau tidak mau harus mengikuti langkah rekan kerjanya itu.


***


Rosalinda baru saja tiba di rumahnya malam itu, ia terlihat sedang menyalakan lampu-lampu di ruangan dalam rumahnya. Seperti biasa, semua aktifitas rumah ia lakukan sendiri tanpa ada yang membantu. Namun kali ini tugasnya bertambah sejak kehadiran Antonio yang tengah terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya.


"Sepertinya ia mulai membaik," ujarnya saat melihat kondisi wajah Antonio yang tidak terlalu pucat seperti pertama kali.


Kemudian mengambil obat dan suntikan dari tasnya.


"Semoga ini bisa mempercepat pemulihan dan mengembalikan kesadarannya," ia bergumam pelan seraya memasukan cairan itu ke dalam infusan Antonio melalui jarum suntik.


Obat itu baru saja ia bawa dari rumah sakit tempat ia bekerja, ia sengaja memilih obat yang terbaik karena ingin agar pria di hadapannya segera sadar.


Setelah memastikan semuanya aman, Rosalinda kemudian bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sementara itu Antonio perlahan menunjukan tanda-tanda kesadaran. Pendengarannya mulai mendengar suara-suara binatang malam, suara jangkrik yang bersahutan.


"Hmm," ia bergumam pelan seraya berusaha membuka kedua matanya perlahan.


Kepalanya terasa pening, dan badannya terasa sakit.

__ADS_1


"Dimana aku? Aww.." Ia terpekik saat tak sengaja selang infusan yang menempel di tangannya menyentuh sisi tempat tidur.


"Aku masih hidup," gumamnya pelan seraya melihat ke arah tubuhnya yang dipenuhi balutan.


Antonio menghela napas panjang dan melihat keadaan sekitar, kemudian menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki menghampirinya, langkah kaki yang diiringi senandung ringan.


"Kau sudah sadar? Syukurlah!" Ujar Rosalinda penuh antusias saat tak sengaja melihat Antonio berusaha untuk duduk.


"Jangan terlalu banyak bergerak, beristirahatlah!" Ucapnya seraya menghampiri Antonio.


Antonio merasa terkejut dengan kehadiran Rosalinda yang tiba-tiba, instingnya melemah saat dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Siapa kau? Dimana aku? Argh!" Antonio bertanya seraya memegang kepalanya yang masih terasa pening.


"Tenang saja, kau aman di rumahku. Aku yang telah merawatmu selama ini," jawab Rosalinda.


"Oh... iya... terimakasih," jawab Antonio singkat.


Kemudian Rosalinda membantu Antonio yang sedang berusaha merebahkan tubuhnya kembali.


"Obat itu cepat bekerja, kau sudah sadar secepat ini. Syukurlah!" Ucap Rosalinda yang kembali tampak senang.


"Siapa namamu?" Tanya Rosalinda.


Antonio tak menjawab, hanya menatap kosong wanita di depannya.


"Oh baiklah, aku mengerti. Tunggu sebentar," Seperti memahami apa yang ada di pikiran Antonio, wanita itu langsung pergi keluar ruangan dan kembali seraya membawa air minum dan makanan ringan.


"Minumlah! Basahi tenggorokanmu agar tidak sakit saat berbicara!" Rosalinda berkata sembari mengulurkan tangan memberikan segelas air pada Antonio.


Tanpa basa-basi Antonio segera meraihnya dan menenggak minuman itu sampai habis, membuat Rosalinda terkikik menahan tawa.


"Hehehe, pelan-pelan saja. Tak usah terburu-buru," ujarnya sambil terkekeh.


"Terimakasih," Antonio berucap seraya memberikan gelas kosong pada Rosalinda.


"Makanlah!" ujar Rosalinda sembari memberikan sepotong kue dan mengambil gelas kosong Antonio.


"Terimakasih," Antonio berkata singkat kemudian menikmati kue itu secara perlahan.


Rosalinda yang tengah duduk di samping Antonio hanya menatap pria itu. Ia memperhatikan wajah dan tubuh pria yang telah ia selamatkan dari kondisi kritis.

__ADS_1


Sementara Antonio hanya fokus menikmati makanan ringan dan sepotong kue, pikirannya hanya ingin segera mengisi tenaganya yang telah dikuras habis sewaktu menyelamatkan diri dari kejaran aparat kepolisian.


"Namaku Rosalinda, aku seorang dokter," tiba-tiba saja Rosalinda berkata lirih pada Antonio.


"Hmm?" Antonio mengernyitkan dahi menatap wanita di sampingnya.


"Ya, siapa namamu?" Tanya Rosalinda.


"Antonio," jawab Antonio pendek.


"Oke, Antonio. Selamat beristirahat dan semoga lekas sembuh," ujar Rosalinda seraya bergegas untuk ke ruang tidurnya karena hari telah malam.


"Tunggu!" ucap Antonio pendek, membuat langkah kaki Rosalinda terhenti.


"Terimakasih atas pertolongannya," ujarnya sambil tersenyum.


Rosalinda tak menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman manis. Senyuman yang bisa meluluhkan hati seorang pria manapun. Kemudian meneruskan langkahnya keluar dari ruangan Antonio.


Sedangkan Antonio hanya bisa tersenyum melihat langkah wanita cantik yang menjadi bidadari penolongnya perlahan melangkah keluar.


"Rosalinda," gumamnya pelan.


***


Wajah Anna tampak kusut tak beraturan, pikirannya masih bimbang dan khawatir. Ia merasa mood-nya sangat buruk, tidak ada kegiatan yang ia lakukan selain berdiam diri dan memikirkan Antonio.


Malam itu ingin sekali ia memejamkan mata, namun apalah daya wajah Antonio selalu menghantui imajinasinya. Setiap apa yang ia lihat, selalu saja terbayang wajah sang pria. Perlahan-lahan ia merasakan batinnya rindu dan merana. Rindu karena ingin jumpa, merana karena tak tahu dimana sang pria berada.


"Aaaarrrggghh!" Ia berteriak seraya memukul alat untuk berlatih tinju.


Dipukulnya benda yang tergantung dan berisi pasir itu, ia pukul sekuat tenaga demi melampiaskan segala emosinya. Namun benda itu hanya diam, seolah tak peduli atas apa yang Anna rasakan saat ini.


Sedangkan Anna terus menerus memukulnya, ia merasa bahwa itu adalah musuhnya. Ia luapkan segala kekecewaan, segala kesedihan dan kebimbangan hatinya.


"Aku tak mengerti kenapa aku terlalu mengkhawatirkan dia, seharusnya aku tak perlu mengkhawatirkannya," ia berkata dengan napas terengah-engah.


"Aku merasa ada hal yang janggal dengan kepergiannya, besok aku akan mencoba menyelidikinya. Aku akan memaksa Pedro untuk memberitahu kemana dia pergi," ucapnya lagi.


Kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang latihan untuk membersihkan diri dan beristirahat.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!


__ADS_2