
Pablo terlihat kesal di ruangannya, sesekali ia terlihat memukul-mukul meja dan mengamuk tak terkendali. Ia merasa geram, sedih, dan marah. Emosinya bercampur menjadi tak karuan saat mendengar anak buah andalannya gugur dalam misi.
"Baaajiiiingaaaaaaannnn!!!" Teriak Pablo sambil melemparkan sebuah kursi ke arah tembok hingga hancur.
"Berani-beraninya Pedro dan anak si Fernando menggangguku! Aaaaaaarrrrggghhhh!!!" Ia mengumpat dan berteriak tak karuan.
Sementara itu para anak buahnya hanya menyaksikan dari jauh, mereka tak berani mendekat karena takut menjadi sasaran amukan Pablo sang bos.
"Kau!" Pablo menunjuk salah satu anak buahnya.
"Dan kalian semuanya!"
"Kumpulkan anggota! Aku ada tugas untuk kalian!" Ucap Pablo tegas.
Mereka semua langsung membubarkan diri dan menghubungi yang anggota lainnya agar berkumpul di tempat perkumpulan anggota.
***
Sementara itu...
Anna masih terbaring di ranjang salah satu ruangan klinik milik asosiasi. Disampingnya banyak sekali peralatan medis yang sangat canggih, bahkan melebihi kecanggihan peralatan milik pemerintah. Hal ini dikarenakan para anggota asosiasi diharuskan untuk pulih lebih cepat mengingat banyaknya misi yang harus mereka selesaikan.
Lain halnya dengan Antonio, walaupun ia dalam keadaan segar bugar tetap saja ia harus ikut beristirahat. Karena ia tidak bisa menjalankan misi tanpa rekannya yang kini masih belum terlihat tanda-tanda kesadaran.
Antonio masih setia menjaga Anna di ruang pasien, walau sesekali ia juga harus keluar hanya sekedar menghilangkan rasa bosan dan mencari udara segar.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Antonio pada seorang dokter yang baru saja memeriksa Anna.
"Hmm," dokter itu menghela nafas.
"Kondisinya sudah membaik, mungkin beberapa hari lagi ia akan siuman," jawabnya.
"Kami sudah memberikan peralatan yang spesial, semoga saja akan berdampak positif," imbuh dokter itu.
"Terimkasih dok," ujar Antonio.
Dokter pun hanya mengangguk lalu keluar meninggalkan mereka berdua.
"Anna, maafkan aku!" ucap Antonio lirih seraya menggenggam telapak tangan Anna.
Ditatapnya wajah cantik Anna, wajah yang selalu menghiasi hari-harinya, wajah yang senantiasa ceria saat bersama, juga wajah yang bisa menjadi menakutkan saat menghadapi musuh.
"Sadarlah! Aku mohon," Antonio berkata lirih, kemudian mengecup tangan kanan Anna dan menempelkannya pada pipinya.
Ia tidak mengerti mengapa perasaannya menjadi sangat nyaman dan tentram saat bersama wanita itu. Pekerjaannya selama ini membuat ia tak mengerti apa itu kenyamanan, kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan. Yang selama ini ia tahu hanyalah kesakitan, pengorbanan, ketakutan, dan semua hal yang mengacu pada kekejaman.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya bergetar pertanda panggilan masuk, ia lalu meraihnya dan menuju ke sudut ruangan untuk menerima panggilan.
"Halo Pedro!" ucapnya.
"Hai Antonio!" ucap Pedro diseberang telepon.
"Bagaimana kabar Anna?" Pedro bertanya.
"Entahlah, dia belum juga siuman. Dokter berkata mungkin beberapa hari lagi ia akan sadar," jawab Antonio.
"Hmm, seperti itu ya?" Pedro bergumam.
"Baiklah, aku segera kesana. Ada hal yang ingin ku bicarakan," tambahnya.
"Oke!" Jawab Antonio singkat.
Ia lalu mematikan panggilannya dan kembali ke tempat duduk di samping Anna. Antonio kembali menatap wajah wanita itu lekat-lekat, perlahan tangannya bergerak mengusap pelan rambut pendek Anna.
"Lekaslah terbangun! Aku merindukanmu!" ucapnya lirih dengan bibir yang bergetar, kemudian ia mencium kening wanita itu perlahan. Setelah itu ia bangkit dan keluar menuju lobby untuk menanti kedatangan Pedro.
Suasana di klinik itu tidak seramai rumah sakit atau klinik pada umumnya, klinik milik asosiasi terkesan sepi. Karena selain hanya dikhususkan untuk anggota, di dalam juga sedang tidak ada pasien yang dirawat selain Anna.
Tidak ada dokter atau perawat yang hilir mudik membawa peralatan atau sekedar berjalan, karen mereka semua memiliki aktifitas lain diluar asosiasi. Namun pada saat ada sesuatu yang bersifat darurat, mereka dengan cepat berkumpul dan menanganinya. Di klinik itu hanya ada dokter jaga yang selalu standby di ruang kerjanya.
Tak berapa lama sebuah mobil berjalan memasuki area klinik dan berhenti di tempat parkir. Tampaklah seorang Pedro keluar dari mobil dan berjalan ke arah Antonio yang sedang duduk di kursi lobby.
"Hmm," Antonio hanya bergumam saja tak menjawab perkataan Pedro.
"Hahaha, kau mengkhawatirkan wanita itu. Wanita memang aneh, bisa membuat orang sekejam dirimu menjadi tak karuan," ujar Pedro sambil tertawa mengejek.
"Baru saja tiba sudah mau mencari masalah, hah?" Antonio menatap tajam.
"Hahahahaha," Pedro hanya tertawa mendengarnya.
"Seekor singa tetaplah walau ia sedang bersedih," ucapnya seraya duduk di dekat Antonio.
"Apa kau membawa formulamu?" tanyanya perlahan.
"Iya," Antonio menjawab singkat.
"Sudahkah kau beri ia dengan formulamu?" selidik Pedro.
"Setahuku formula ciptaan ayahmu bisa dengan cepat meregenerasi sel yang rusak," Pedro menjelaskan.
"Kau mengetahuinya?" Antonio bertanya penasaran.
__ADS_1
"Ya, ayahmu pernah mencobanya saat aku terluka dan dirawat di klinik," Pedro bercerita.
"Aku hampir mati saat menjalankan misi bersama ayahmu di meksiko, namun saat aku dirawat diklinik ia menyuntikan formulanya padaku. Dan tanpa ku duga, aku sembuh lebih cepat," jelasnya.
"Hmm," Antonio menghela nafas.
"Lagi pula Anna hanya kehabisan darah, tidak ada organ vital yang mengalami kerusakan. Mungkin penyembuhannya lebih cepat dari yang ku alami sebelumnya," Pedro menambahkan.
"Sudah dua hari dia terbaring, namun belum ada tanda-tanda akan siuman. Dokter hanya mengatakan beberapa hari lagi, entahlah. Hmm," Antonio berkata lirih sambil menunduk dan mengusap wajahnya.
"Mungkin ada baiknya ku ikuti saranmu," ucapnya datar.
"Berhati-hatilah! Jangan sampai mereka tahu kau menggunakan formula itu. Karena mereka semua menginginkan itu, termasuk para medis disini," Pedro mengingatkan.
"Jika mereka mengetahuinya, kau mungkin saja akan menjadi target mereka," ucapnya dengan penuh penekanan.
"Baiklah, kita coba sekarang," ucap Antonio penuh antusias.
Ia merasa mendapat angin segar setelah menerima saran dari Pedro, perasaannya merasa tidak sabar ingin segera mencobanya. Ia ingin melihat wanita yang telah menggetarkan hatinya sehat kembali. Ia merindukan semuanya tentang Anna.
Antonio dan Pedro lantas menuju ruangan Anna. Antonio mempersiapkan semua bahan yang diperlukan, sedangkan Pedro hanya duduk menjaga Anna.
"Aku akan menjaga Anna, lakukanlah di dalam toilet agar tidak ada yang mengetahui," ujar Pedro.
Antonio menurutinya, ia bergegas masuk ke toilet kamar. Disana ia melakukan tugasnya, melarutkan formula yang sebelumnya telah ia padatka dan memasukannya kedalam alat suntik.
Tak butuh waktu lama baginya, sebentar saja ia telah keluar dengan membawa sebuah suntikan berisi cairan berwarna merah.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Antonio seraya berjalan ke arah Anna.
"Suntikan melalui selang ini," ujar Pedro sambil menunjuk selang infus yang menempel di tangan Anna.
Langsung saja Antonio menusukan jarumnya ke selang yang ditunjuk Pedro dan menyuntikan isinya sampai habis. Setelah benar-benar habis ia mencabut dan membuang alat suntik itu.
Tak berapa lama terlihat tubuh Anna kejang-kejang, alat perekam denyut jantungnya bergerak cepat pertanda denyutan jantungnya mengencang.
"Apa yang terjadi?" Antonio gelisah.
"Hey! Ada apa dengamu? Kau tak seperti biasanya. Tenanglah! Itu hanya efek dari formula," ujar Pedro yang merasa heran dengan sikap Antonio yang berbeda dari biasanya.
Antonio tak menjawab, ia hanya menatap tubuh Anna dengan perasaan was-was dan gelisah. Namun kegelisahannya mulai hilang saat melihat tubuh wanita itu kembali normal seperti orang yang sedang tertidur pulas.
Namun kembali ia dibuat terkejut saat melihat sebuah gerakan kecil dari jari-jari tangan Anna. Senyum pun mulai mengembang secara perlahan dari bibir Antonio.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!