
Seluruh jajaran aparat kepolisian telah mendapat informasi mengenai Antonio, baik berupa poto maupun identitas telah mereka sebar ke tiap-tiap sektor.
"Siapapun yang menemukan orang ini harap segera melapor!" Ujar salah seorang komandan kepolisian yang tengah berpidato saat apel di depan kantor polisi seraya menunjukan secarik kertas, yaitu poto Antonio.
"Tetap waspada! Lakukan dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi!" Tegasnya menginstruksikan.
Para peserta apel tampak memperhatikan dengan seksama saat masing-masing mendapat poto yang baru saja dibagikan.
"Informasi lebih rinci bisa kalian lihat dibalik poto, disana ada penjelasan siapa dia. Berhati-hatilah!" Komandan itu berkata dengan tegas dan penuh wibawa.
Setelah itu apel dibubarkan, dan semua anggota kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
***
Pagi itu Antonio terlihat bersantai di teras depan rumahnya, ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok dengan asap yang mengepul. Sesekali ia tampak menikmati hisapan rokok dan tegukan kopinya.
"Sayang!" Anna tiba-tiba menghampirinya, kemudian duduk berhadapan dipangkuan Antonio.
"Iya sayang!" Jawab Antonio singkat.
Anna tak berbicara, ia lantas menarik leher belakang Antonio dan menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Antonio yang terkejut merasa gelagapan menghadapi serangan wanita yang tengah duduk dipangkuannya.
Lidah mereka saling mengait, liur mereka bercampur dalam satu rongga yang saling terkoneksi, bahkan si junior milik Antonio pun perlahan menggeliat saat tak sengaja tergesek oleh bagian yang paling sensitif di tubuh Anna.
Pagi yang dingin dan sejuk seolah ditepiskan oleh rasa hangat akan gairah asmara. Gairah dua insan yang dimabuk cinta membuat suasana penuh suka dan bahagia.
"Emmmmhh," Anna bergumam pelan saat tangan kasar Antonio menyentuh tonjolan besar dibagian luar letak jantung.
Namun Antonio tak menghiraukannya, ia bahkan menekan dan meremasnya dengan gemas. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.
"Ssshhh... Aaahhh," Desah Anna lirih.
Tiba-tiba terdengar nada panggilan masuk dari ponsel yang berada di dalam rumah.
"Hmm," Anna menghela nafas pendek, wanita itu merasa kesal saat mengetahui nada dering itu berasal dari ponsel miliknya.
Ia lantas bangkit dari pangkuan Antonio dengan malas, kemudian bergegas ke dalam rumah untuk meraih ponselnya yang tak hentinya mengalunkan nada panggilan telepon.
"Siapa yang berani mengganggu pagiku?" dengusnya seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Antonio yang masih duduk berselonjor di atas kursi.
Antonio hanya tersenyum melihat raut wajah Anna yang tampak kecewa. Kemudian ia meneguk kembali secangkir kopi yang masih tersisa.
Tak lama kemudian Anna kembali dengan wajah kusut.
"Kenapa dengan wajahmu? Siapa yang menelepon?" Tanya Antonio heran.
__ADS_1
"Klinik!" Jawab Anna pendek.
"Klinik?" Antonio bertanya lagi seraya mengerutkan dahi.
"Iya, mereka menyuruhku ke klinik untuk check up," Anna menjawab sembari duduk di kursi sebelah Antonio.
"Ya sudah, lakukanlah!" Antonio memberi saran.
Anna mengusap wajah seraya menghela napas panjang.
"Baiklah, aku akan kesana setelah mengganti pakaian," jawab Anna datar.
"Aku pinjam mobilmu," tambahnya, kemudian melangkah kembali ke dalam rumah.
Antonio tak menjawab, ia cuek saja. Baginya bukan sebuah masalah jika Anna menggunakan mobilnya. Ia masih mempunyai sebuah motor untuk digunakan jika ingin sekedar berkeliling.
***
"Perlukah pelatihan khusus agar tim kita tidak kesulitan saat menangkapnya?" Tanya Andi pada Tomi.
"Tidak perlu, mereka hanya perlu melapor saat menemukannya. Setelah itu biar anggota lain yang mengurus," jawab Tomi.
"Baiklah," ujar Andi singkat.
Mereka berdua adalah anggota intelijen kepolisian yang bertugas mencari informasi tentang sebuah kasus. Kali ini tugas mereka adalah melacak keberadaan Antonio, kemudian melaporkannya kepada anggota lain untuk mendapat tindakan lebih lanjut.
"Apakah sudah ada laporan masuk dari tim yang lain?" Kali ini giliran Tomi yang bertanya.
"Sejauh ini masih belum ada, mungkin mereka masih mencari. Kita tunggu saja informasinya, semoga mereka tidak mendapat hambatan," jawab Andi.
Andi saat ini sedang menyamar menjadi pedagang bakso keliling, sedangkan Tomi menjadi seorang juru parkir di sebuah terminal bus yang cukup besar. Andi sengaja menyewa gerobak pada seorang pedagang yang tengah mudik ke kampung halaman, tujuannya agar tidak ada kesan yang dibuat-buat.
"Sepertinya aku mendapat pelanggan," ujar Andi saat melihat ada beberapa orang mengerumuni gerobak baksonya.
"Oke, selamat berdagang!" Ucap Tomi sambil tersenyum.
Mereka pun berpisah setelah sedari tadi berbincang di toilet umum yang berada di sudut terminal. Andi menuju gerobaknya menemui pelanggan, sedangkan Tomi masih terduduk di tempat penjaga toilet umum.
Situasi terminal yang ramai bisa menjadi potensi kemunculan seorang Antonio, maka dari itu banyak sekali anggota tim yang di tempatkan di sana agar pelacakan bisa berjalan dengan baik.
***
Anna terlihat sudah berpakaian rapi dengan balutan kaos yang dilapisi sweater tipis, Ia sedang bersiap akan menuju klinik.
"Aku pergi dulu ya!" Ujarnya seraya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Antonio hanya mengangguk pelan sembari memperhatikan mobilnya yang dipinjam oleh Anna secara perlahan berjalan keluar halaman.
Ia lalu menggeliat sejenak, meregangkan otot-otot tubuhnya terasa kaku. Kemudian masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Antonio berniat ingin berjalan-jalan sejenak mencari udara segar, sudah cukup lama ia tidak melakukannya semenjak kehadiran Anna. Baginya ini saat yang tepat untuk melakukan rutinitas pelepas kepenatan. Tanpa menunggu lama ia pun segera menaiki motornya dan bergegas ke pusat kota.
Ia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diincar oleh aparat kepolisian, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun untuk keluar rumah hanya sekedar mencuci mata.
Motornya melaju dengan cepat melintasi jalanan yang cukup ramai, sesekali terlihat menyalip diantara mobil-mobil besar nan panjang yang membuat jalanan menjadi padat.
Sesampainya di sebuah pom bensin ia menghentikan motornya, berniat ingin mengisi bahan bakar motornya yang hampir habis.
"Mulai dari nol ya," sapa ramah seorang gadis yang melayani pengisian.
Antonio hanya tersenyum kecil seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada gadis itu.
Perhatian seluruh pengunjung tertuju pada Antonio saat pria itu membuka kaca helmnya.
"Wow ada bule!"
"Iya ada bule!"
"Ganteng loh, ganteng!"
Terdengar ucapan-ucapan pelan para pengunjung pom bensin, terutama kaum hawa yang terpesona melihat paras tampan Antonio.
Antonio tak menghiraukannya, ia cuek saja sambil sesekali memperhatikan angka pada mesin pengisi bahan bakar. Berbeda dengan gadis petugas pom bensin, ia terlihat begitu gugup hingga wajah cantiknya perlahan memerah.
"Mister, can you speak Indonesia?" Tanya gadis itu.
"Bisa mbak, tenang saja. Saya mengerti dan paham bahasa Indonesia," jawab Antonio dengan dihiasi senyuman.
"Oh, baguslah. Sebentar ya Mister, saya ambilkan uang kembaliannya," ujar gadis itu seraya meletakan selang dan menghitung uang.
Antonio tetap tersenyum disertai sedikit anggukan kecil.
"Terimakasih Mister," gadis itu berkata seraya memberikan sejumlah uang pada Antonio.
"Sama-sama," jawab Antonio pendek, kemudian mengambil uang itu dan memasukannya ke dalam saku jaket.
Setelah menghidupkan mesin motornya, ia lalu bergegas pergi meninggalkan tatapan si gadis dan para pengunjung yang masih terpesona.
Namun di sudut lain pom bensin, terlihat seseorang sedang menelepon. Sesekali matanya melihat dan mengawasi keadaan sekitar.
"Lapor! Saya telah menemukan target!" pria itu berkata perlahan tapi tegas.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan menekan tombol Like dan komen ya!!!