Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Pengejaran


__ADS_3

Aparat kepolisian langsung bergerak saat mendapat laporan tentang keberadaan Antonio, mereka lalu berkumpul dan memulai pengejaran.


Sama halnya dengan Tomi dan Andi, mereka lalu meninggalkan lapak penyamarannya dan kembali ke markas.


"Tak ku sangka akan secepat ini," ujar Tomi sembari mengemudikan mobilnya.


"Baguslah, berarti tidak ada yang membocorkan operasi kita," sahut Andi.


"Ya, itu benar," Tomi berkata pendek.


Tak berapa lama mobil mereka pun tiba di markas.


Suasana di kantor kepolisian sangat ramai, seluruh anggota telah bersiap dengan senjata masing-masing. Mereka akan melakukan pengejaran dan penangkapan Antonio. Begitupun dengan Tomi dan Andi, mereka berdua telah berganti kendaraan dengan menaiki mobil dinas yang dilengkapi sirene. Bahkan terlihat beberapa anggota ada yang menggunakan motor, guna mengefektifkan pengejaran.


Kemudian tanpa komando rombongan pasukan pun bergegas dengan cepat. Mereka berjalan beriringan menuju lokasi yang sebelumnya telah diberitahu oleh pelapor.


***


Antonio melajukan motornya santai, ia ingin menikmati perjalanan sambil merasakan keriuhan suasana kota. Saat matanya melirik kaca spion, saat itu juga ia menyadari bahwa ada sebuah motor berjalan seperti membuntutinya.


"Siapa itu? Mengapa dia membuntutiku?" Gumamnya perlahan, kemudian mempercepat laju motornya.


Saat melewati pertigaan, tiba-tiba munculah beberapa motor dan mobil aparat kepolisian dengan cepat mendekat seraya membunyikan sirene.


"Apa-apaan ini?" Ujar Antonio sedikit gusar sembari menambah kecepatan laju motornya.


Semua kendaraan di hadapannya menyingkir seperti memberi jalan saat mendengar suara sirene yang begitu riuh memekakan telinga.


Pikiran Antonio tiba-tiba teringat pada case sebelumnya, saat menghancurkan gedung bioskop dan mengubur banyak anggota kepolisian. Ia berpikir mungkin saja saat ini aparat kepolisian sedang memburunya, karena mereka mempunyai poto dirinya yang saat itu ia kirimkan melalui surel kepada dua detektif yang menjadi target.


"Jadi seperti itu ya? Mereka memang ingin menangkapku," ia bergumam pelan seraya melirik ke arah spion kanan yang menempel pada motornya.


"Baiklah, kejar aku kalau bisa!" Ucapnya seraya mengencangkan tarikan gasnya.


Kejar-kejaran pun tak dapat dihindari, Antonio sengaja membawa rombongan aparat itu menuju jalan sempit. Selain untuk mempermudah jalannya, ia juga ingin memisahkan rombongan mobil dan motor.


***


"Tembak target berada di jalan sepi, jangan biarkan di lolos!"


Terdengar komando dari HT yang terpasang di mobil yang dikendarai oleh Tomi. Andi yang berada di sampingnya kemudian meraih HT itu.


"Siap laksanakan!" ucapnya tegas, kemudian meletakannya lagi.


Tomi hanya fokus menyetir, tatapan matanya tajam melihat ke arah depan.

__ADS_1


"Siiiiaaall!!! Orang itu berusaha memisahkan rombongan," ucapnya kesal.


Kemudian menghentikan mobilnya diikuti mobil-mobil lain, sementara pengejaran hanya dilakukan oleh aparat yang menaiki motor.


***


Antonio berpikir keras, ia mencari cara bagaimana menghindari para polisi yang masih mengejarnya menggunakan motor. Ia semakin mempercepat laju motornya, melewati jalan sempit menuju perkampungan.


"Gawat! Aku tak bisa bersembunyi, bahkan untuk meloloskan diri saja sulit! Aaaarrggghhh!" Ia mengumpat kesal.


Tiba-tiba ia melihat sebuah pabrik kosong tepat sebelum memasuki wilayah perkampungan.


"Aku akan membawanya kesana," gumamnya seraya fokus memandang ke depan.


Ditabraknya pintu masuk pabrik yang terbuat dari pagar kawat yang sudah usang, sehingga bisa dengan mudah masuk ke area pabrik yang lebih dalam.


Antonio berkelok-kelok diantara gang sempit dan masuk semakin dalam, ia berusaha melepaskan diri dari kejaran dan mencari tempat aman untuk bersembunyi.


Setelah jarak mereka cukup jauh, Antonio menghentikan motornya dan berlari ke atas melalui tangga. Dalam pikirannya, di tingkat atas pasti banyak ruangan yang bisa ia pakai untuk bersembunyi.


Ia berlari dengan cepat menaiki anak tangga dan benar saja, ia menemukan beberapa ruangan bekas yang dulu digunakan oleh para staf.


Napasnya terengah-engah saat memasuki ruangan itu, namun tanpa menurunkan kewaspadaan sedikitpun ia meraih senjata di balik jaketnya.


"Sepertinya aku harus sedikit berimprovisasi," gumamnya saat menyadari tak membawa amunisi tambahan, kemudian memasang alat peredam suara pada ujung pistolnya.


Cklek!


Suara gagang pintu terdengar mengiringi terbukanya daun pintu di ruangan itu. Tampak tiga orang anggota polisi bersenjata lengkap masuk dan berpencar memeriksa ruangan.


Sleb! Sleb! Sleb!


Masing-masing peluru Antonio berhasil melumpuhkan ketiganya dengan luka tembakan tepat di leher. Membuat ketiga aparat itu tewas seketika.


Antonio lalu berjalan mendekati mereka, ia mengambil beberapa peluru dan pistol yang sesuai dengan keinginannya. Kemudian menyeret mayat-mayat itu ke tempat aman agar tak meninggalkan jejak. Setelah itu ia menutup pintu dan kembali ke tempat persembunyian dengan posisi yang sama.


"Jika hanya tiga orang saja aku sanggup," gumamnya perlahan.


Terdengar lagi langkah kaki mendekat dengan cepat, langkah itu terdengar lebih riuh dari sebelumnya.


Brak!


Salah seorang aparat menendang pintu, kemudian masuk diikuti 4 orang di belakangnya.


"Sisir ruangan ini!" Ujarnya memerintah.

__ADS_1


Antonio mulai membidik salah seorang polisi yang berjarak agak jauh dari teman-temannya.


Sleb!


Peluru lesatan Antonio berhasil menembus leher targetnya. Saat ini Antonio hanya mengincar leher, karena selain bisa membunuh dengan cepat, hanya leherlah yang tidak berpelindung.


Ia lalu berpindah posisi mencari target lain, sebelum ada aparat lain mengetahui temannya telah mati.


Sleb!


Satu orang lagi berhasil ia tumbangkan saat tak sengaja mereka beradu pandang.


Kemudian ia berjalan mengendap-endap diantara sekat-sekat pemisah antara tempat kerja staf di ruangan itu, sampai akhirnya melihat seorang anggota yang berusaha membuka lemari besar.


Sleb!


Kembali tak bersuara, peluru yang melesat dari pistolnya menancap ke leher anggota itu.


Tiga orang sudah ia bunuh dengan tembakan tanpa suara, hanya hembusan angin yang melesat bersama timah panas menjadi dukungan tenaganya.


Antonio mengendap lagi, berusaha mencari 2 orang anggota yang tersisa.


"Dia disini!" terdengar suara keras seorang anggota polisi saat melihat tubuh temannya tergeletak tak bernyawa.


Sontak saja rekan yang masih hidup segera menuju ke asal suara.


"Kepaaaaaraaaat!!!" Umpatnya.


"Ayo! Cepat!" Ujarnya seraya bergegas menyisir kembali ruangan itu.


"Apakah kita harus melapor pada yang lain?" Tanya rekannya yang tadi berteriak.


"Iya, lakukanlah!"


Mereka kemudian menyisir ruangan seraya memberi laporan pada rekan yang lain melalui pesan singkat via ponselnya.


Agak sulit mencari seorang Antonio di dalam ruangan yang luas dan bersekat-sekat. Selain karena mereka kini hanya mereka berdua yang tersisa, orang yang mereka incar pun bukanlah orang sembarangan.


Lain halnya bagi Antonio, ia sedikit gusar saat mengetahui sebentar lagi akan banyak anggota yang mengepungnya. Ia masih terus berpikir mencari jalan keluar dan meloloskan diri.


Tak ada waktu baginya untuk melawan aparat yang jumlahnya tidak sedikit. Selain hanya membuang amunisi, ia juga berpotensi tertangkap atau terbunuh.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!


__ADS_2