Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Pembenahan Black Shadow


__ADS_3

Sementara itu di markas Black Shadow, Pablo tampak sedang melihat semua anak buahnya yang tengah berlatih bela diri di dalam aula latihan. Mereka sedang dilatih secara khusus oleh rekan-rekan Pablo agar siap menjalani misi-misi pemberian klien.


Semenjak kematian kedua orang kepercayaannya, Pablo merasa harus meningkatkan pelatihan terhadap anak buahnya. Karena dengan demikian tidak akan ada lagi misi yang gagal dan dapat mencoreng nama baik organisasinya.


Reputasi Black Shadow memburuk saat ini, selain kehilangan kedua anak buah yang paling ia percaya, ia juga harus menerima kenyataan pahit saat banyak klien yang membatalkan misi sehingga secara tidak langsung membuatnya menjadi agak down.


Tak jauh dari sana tampak pria berkulit putih khas asia timur memakai pakaian rapi dan berkacamata hitam berjalan ke arah Pablo.


"Hello Mr. Pablo!" ucapnya seraya membungkukan badan memberi hormat.


"Hello Takagawa-san!" jawab Pablo sambil membungkukan badan juga.


"Bagaimana perkembangan mereka?" tanya Pablo pada pria di hadapannya.


"Sepertinya cukup baik, mereka orang-orang yang berbakat sehingga tidak terlalu sulit melatih mereka," Takagawa menjawab.


"Bagus, ingin kehadiranmu menjadi tidak sia-sia," ujar Pablo antusias.


Takagawa adalah perwakilan dari salah satu gank yakuza di jepang, ia didatangkan ke markas Black Shadow untuk melatih anak buah Pablo atas permintaan langsung dari ketua Black Shadow itu sendiri.


"Bagaimana kabar Kenjiro-san? Sudah lama aku tak berjumpa dengannya?" Tanya Pablo.


"Kenjiro-sama saat ini baik-baik saja, ia juga menyampaikan pesan agar anda menemuinya jika ada waktu senggang," jawab Takagawa.


"Baiklah, mungkin di lain kesempatan aku akan bersua dengannya," Pablo berkata sambil menatap anak buahnya yang sedang berlatih bela diri.


Takagawa hanya tersenyum mendengar ucapan Pablo, ia seperti senang dengan respon positif Pablo.


"Maaf Mr. Pablo, saya akan melanjutkan kembali melatih anggota anda," Takagawa berkata sambil membungkukan badan.


"Silahkan Takagawa-san" jawab Pablo dengan menirukan gerakan serupa.


Kenjiro dan Pablo adalah mantan anggota asosiasi. Mereka bergabung dan berkhianat untuk kepentingan pribadi hingga menewaskan ayah Antonio, Robertino Fernando.


Flashback On


Di sebuah ruangan sempit terlihat Fernando sedang duduk terikat di atas kursi dan hanya menggunakan celana pendek, seluruh tubuhnya penuh dengan luka pecutan dan sayatan. Sementara Pablo berdiri di hadapannya seraya memegang sebuah cambuk yang ia gunakan untuk mencambuk Fernando.


Ctarr!! Ctarrr!!


Terdengar suara cambuk yang berbenturan dengan kulit tubuh Fernando.


"Aaaarrggh!" Teriak Fernando kesakitan.


Ctarrr!!! Ctarrr!! Ctarrr!!


Berkali-kali Pablo mencambuki tubuh Fernando yang kini sudah terkulai lemas.


"Katakan!! Dimana kau simpan rumus formula itu!" Tanya Pablo seraya mencekik leher pria itu.


Cuih!

__ADS_1


Fernando meludahi wajah Pablo.


"Baaaaaaangsaaaaat!!!!" Teriak Pablo.


Kemudian ia mencambuki Fernando hingga luka di tubuhnya semakin terbuka.


"Dimana? Cepat katakan!" Pablo menyentak.


"Kau tidak akan menemukannya! Walaupun aku harus mati, aku tak akan mengatakannya!" ucap Fernando mencoba berkata dengan sisa-sisa tenaganya.


"Baaaaangsssaaaatttt!!" Pablo mengangkat cambuknya.


"Cukup Pablo!" Ucap seorang pria yang tiba-tiba menahan tangan Pablo saat akan mencambuk Fernando.


"Kenjiro! Pergi sana! Jangan mengganguku!" Pablo berusaha melepaskan tangannya.


Dugh!


Satu tinjuan mendarat di perut Pablo membuat pria itu jatuh tersungkur.


"Kau booooodoooh!! Jika kau menyiksanya, dia bisa mati, dan semua sia-sia!!" Kenjiro berkata seraya menendang perut Pablo yang saat itu sedang berusaha bangkit.


"Uhuk!! Uhuk!!" Pablo terbatuk mengeluarkan darah segar.


"Ayo! Kau butuh sedikit ketenangan!" Kenjiro mengulurkan tangannya membantu Pablo untuk bangkit.


Setelah itu mereka pergi meninggalkan Fernando yang masih berusaha melepaskan diri dengan sisa-sisa tenaganya.


Perlahan-lahan butiran air matanya menetes membasahi lantai dan kakinya.


"Aku harap kau bisa mewujudkan cita-citaku, anakku," ucapnya sambil sedikit terisak.


Flashback Off


***


Antonio tampak sedang duduk di lobby klinik menanti Anna yang sedang mengurus dokumen kepulangannya. Hari ini dokter memperbolehkan Anna untuk pulang, mengingat kondisinya sudah berangsur-angsur pulih.


"Hai sayang, maaf lama menunggu," ucap Anna seraya mengecup pipi dan memeluk leher Antonio dari belakang.


Antonio yang terkejut langsung menarik kepala Anna dan mencium bibirnya dengan ganas.


"Hmm," Anna berontak berusaha melepaskan diri.


"Kau!" Anna mendengus kesal seraya menatap tajam Antonio saat pria itu melepaskan ciumannya.


Antonio lalu bangkit dan mengangkat tubuh wanita itu, menggendongnya menuju mobil.


"Kau menggunakan baju pasien?" Tanya Antonio sambil menurunkan tubuh wanita itu ke dekat mobil.


"Mereka memberikannya, karena tak mungkin aku pulang dengan tubuh polos tak berbusana," jawab Anna santai sembari masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Maaf, aku lupa membawa pakaianmu," Antonio berkata santai.


Anna hanya mendengus saja, tak berkata apapun. Kemudian Antonio mulai menyalakan mobilnya dan mengendarainya menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Anna langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Antonio bergegas ke ruang kerjanya, ia ingin membuka berkas peninggalan ayahnya dan mempelajari formula-formula lain yang belum sempat ia baca sebelumnya.


"Ada baiknya aku menyempurnakan formula yang telah ku buat sebelum mempelajari yang lain," gumamnya.


Kemudian ia membereskan berkas dan menyimpannya di tempat yang tersembunyi, tempat yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.


"Sayaaaang!!" Terdengar suara Anna berteriak memanggilnya.


Antonio tak menjawab, ia lalu bergegas ke arah Anna yang memanggilnya dari ruang tengah.


"Iya sayang," Antonio berkata pelan sambil memeluk Anna dari belakang.


"Hmm," Anna berontak mencoba melepaskan diri.


Sebenarnya bukan hal sulit bagi seorang Anna untuk melepaskan diri dari pelukan Antonio, namun ia hanya ingin bermain-main saja dengan pria itu. Karena sebenarnya ia sangat menyukainya, hanya saja terlalu gengsi untuk mengakui.


"Sudahlah, aku mau masak," Anna menggerak-gerakan tubuhnya seolah ingin melepaskan diri.


"Entah mengapa aku ingin sekali memelukmu erat," bisik Antonio seraya mengeratkan pelukan dan menempelkan dagunya pada bahu kanan Anna.


Anna lalu terdiam, ucapan pria itu membuat perasaannya senang dan bahagia.


"Sssshh..." Anna mendesis pelan saat bibir Antonio menghisap lehernya meninggalkan tanda cinta yang tak mudah dihapuskan.


"Sayang!" Anna lalu melepaskan diri dengan cepat.


Bukannya ia tak menikmati cumbuan Antonio, hanya saja perutnya tak bisa diajak berkompromi.


"Wow!" Antonio terkejut saat Anna sudah berada jauh darinya.


"Aku mau masak, kau ingin aku memasak apa?" Tanya Anna tegas.


Antonio lalu menepuk jidat, "Oh sorry, aku terbawa suasana." ucapnya.


"Masak apa saja yang penting enak," jawab Antonio santai.


"Ya sudah, aku akan mencari resep yang sesuai dengan bahan makanan yang tersisa," ujar Anna sambil bergegas ke dapur.


Antonio tertegun melihat Anna berjalan meninggalkannya, ingin rasanya ia mengejar lalu memeluk dan mencumbu wanita itu. Namun, ia takut jika tindakannya dapat melukai Anna.


Ia hanya menghela nafas kemudian berjalan kembali ke ruang kerjanya, meneruskan pekerjaan yang tertinggal.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!

__ADS_1


__ADS_2