Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Pertolongan


__ADS_3

Keesokan harinya...


Seorang wanita muda yang telah kedatangan tamu tak diundang kini terlihat sedang merawat sang tamu yang tak lain adalah Antonio. Ia tampak terkejut saat melihat Antonio sudah terkapar di depan rumahnya dalam keadaan kritis.


Saat itu juga ia meminta pertolongan kepada para tetangga untuk mengangkat tubuh Antonio dan membersihkannya. Berbekal pengalamannya di dunia medis, ia bisa mengantisipasi segala bentuk masalah yang ada di tubuh Antonio.


Rosalinda adalah nama wanita itu. Wanita yang merawat Antonio dan saat ini bekerja di sebuah rumah sakit umum daerah.


"Siapa pria ini? Sepertinya dia bukan penduduk sini," gumam Rosalinda seraya menyuntikan obat pada botol infusan yang terhubung ke tangan Antonio.


Saat ini Antonio masih belum sadarkan diri, Rosalinda tidak membawanya ke rumah sakit melainkan ia rawat sendiri berbekal cadangan obat-obatan yang ia bawa dari rumah sakit. Terlalu beresiko jika ia harus membawanya saat kondisi Antonio sangat membutuhkan pertolongan darurat.


"Beruntung sekali ia masih bisa bertahan saat begitu banyak peluru yang bersarang di tubuhnya," wanita itu bergumam pelan saat saat melihat beberapa peluru dalam plastik yang telah ia keluarkan dari tubuh Antonio.


"Hmm," ia menarik napas panjang seraya menggelengkan kepala.


"Bertahanlah, aku yakin kau akan selamat," ucapnya lagi kemudian meninggalkan Antonio menuju ke ruangan lain di rumahnya.


Rosalinda yang merupakan seorang dokter memang memiliki cadangan peralatan medis yang biasanya ia gunakan untuk membantu warga sekitar apabila ada yang membutuhkan pertolongan. Selain itu, ia juga sudah cukup lama tinggal di kampung itu. Karena selain lokasinya tak jauh dengan rumah sakit tempat ia bekerja, ia juga sangat mencintai lingkungan perkampungan yang masih sejuk dan asri.


***


Sementara itu Anna yang baru saja pulang dari klinik merasa terkejut saat menemukan Antonio tak berada di rumahnya. Kemudian ia menelepon Pedro.


"Hello Pedro!" Ucap Anna seraya memegang ponsel yang menempel pada telinga kirinya.


"Hello Anna!" Jawab Pedro dari seberang telepon.


"Apakah Antonio ada bersamamu?" Tanya Anna tanpa basa-basi.


"Antonio? Tidak, ia tidak disini sejak kemarin setelah pertemuan," Pedro menjawab mencoba menjelaskan.


Anna hanya menghela napas pendek saat mendengar penjelasan Pedro yang tidak memuaskan hatinya. Perasaannya menjadi tidak menentu seperti gelisah dan khawatir yang secara berlebihan.


"Mengapa? Apakah ia tidak bersamamu?" Pedro bertanya memastikan.


"Ya, aku baru saja kembali dari klinik. Kemarin Dokter di klinik memintaku untuk check up," balas Anna dengan lirih.


"Biarkan saja, mungkin dia sedang berjalan-jalan. Itu sudah biasa ia lakukan sejak dulu," Pedro berkata berusaha memenangkan.


"Ya sudah, terimakasih atas informasinya, Pedro. Kabari aku apabila ia ada bersamamu," ujar Anna.


"Okey," jawab Pedro singkat.


Kemudian mereka memutuskan panggilan teleponnya. Terlihat raut wajah Anna yang tak bersemangat, walaupun ia baru saja mendapat hasil yang baik saat check up kesehatannya.

__ADS_1


"Kenapa dengan perasaanku? Tidak seperti biasanya, saat ini aku terlalu mengkhawatirkannya," ia berkata pelan seraya mengusap wajahnya.


Kemudian meraih ponselnya dan mencoba menelepon Antonio.


Tut! Tut! Tut!


Terdengar bunyi panggilan tersambung, namun di sudut ruangan lain terdengar bunyi nada dering dari sebuah ponsel.


"Apa?" Anna tersentak kaget, lalu bergegas ke arah sumber suara yang berasal dari kamar tidur Antonio


Saat membuka pintu dan masuk ke dalam, terlihat ponsel Antonio yang tergeletak di atas meja dan tersambung dengan aliran listrik.


"Oh my god!" Anna kembali terkejut, berkata sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Dia tak membawa ponselnya, dan sedari kemarin masih dia charger. Huft!" ucapnya seraya mengembungkan pipi.


Ia tak habis pikir dengan sikap Antonio, saat ia mengkhawatirkannya pria itu malah menghilang dan tak bisa dihubungi.


"Aaaaarrrggghh!!" Anna berteriak geram seraya meluapkan emosinya.


Bruak!


Ia keluar dan pintu kamar Antonio ditutupnya dengan kencang hingga menimbulkan suara benturan keras.


***


"Aku sama sekali tak mengenalnya, berarti memang benar jika dia bukan penduduk lokal," ujarnya.


Ia lalu membetulkan letak selimut yang menutup Antonio, kemudian mengambil sebuah suntikan yang sebelumnya telah terisi obat.


"Semoga dia mampu bertahan," ucapnya, kemudian menyuntikan obat itu ke dalam botol infus.


"Oke, selamat beristirahat. Aku akan pergi bekerja," ia bergumam sendiri sambil melihat ke arah Antonio yang masih terpejam, seolah-olah sedang berbicara dengan pria itu.


Hari ini jadwal Rosalinda pergi bekerja ke rumah sakit dan meninggalkan Antonio sendirian di dalam rumahnya.


Rosalinda tinggal seorang diri di kampung itu, ia tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang kini hidup di kota bersama saudara-saudaranya.


Cklek!


Terdengar suara pintu dikunci oleh Rosalinda. Namun saat ia akan menaiki motornya, terlihat gerakan-gerakan manusia di kebun ilalang. Ia pun mencoba memperhatikan dengan seksama seraya mengernyitkan dahi.


"Ada apa disana?" gumamnya perlahan.


Gerakan-gerakan manusia itu terlihat semakin jelas mendekat.

__ADS_1


"Polisi?" Ia tersentak saat melihat banyak sekali polisi yang bersenjata lengkap.


Rosalina tersenyum ke arah rombongan polisi yang berjalan di depannya menuju ke dalam kampung.


"Berangkat bu?" Sapa salah seorang polisi pada Rosalinda yang sedang memakai pakaian dokter.


"Iya pak, mari!" Jawab Rosalinda sambil tersenyum manis, kemudian menjalankan motornya menuju ke tempat kerja.


Sementara itu rombongan anggota polisi berjalan semakin cepat menuju ke bagian dalam kampung.


"Mengapa banyak sekali polisi? Apa jangan-jangan?" Rosalinda berpikir sejenak dan menghentikan laju motornya. Perasaannya bimbang dan khawatir dengan pria yang saat ini berada di dalam rumahnya dengan keadaan tak sadarkan diri.


Kemudian ia menarik napas panjang.


"Biarkanlah, yang mereka tahu hanyalah rumah kosong saat aku pergi bekerja," gumamnya perlahan, lantas melajukan kembali motornya.


***


Anggota polisi yang sedang mengejar Antonio merasa kehilangan jejak. Selain karena hujan deras yang menyamarkan jejak kaki, penduduk kampung pun tidak ada yang memberi informasi kepada mereka.


Kebanyakan penduduk kampung tidak mengetahui tentang orang yang sedang mereka cari, tetangga Rosalinda pun yang saat itu menolong Antonio tidak ada di rumah. Sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke markas.


"Apa? Tidak ada?" Tomi bertanya seolah tak percaya saat mendengar informasi itu.


"Iya, dia seperti menghilang. Jejaknya tidak diketahui secara pasti, mungkin saja dia masih di dalam," jawab salah seorang rekannya.


Tomi semakin kebingungan, ia tak percaya jika sangat sulit untuk menangkap anggota asosiasi.


"Harusnya kalian bisa menangkapnya! Kau tau? Tidak ada jalan keluar dari bangunan ini. Kalau pun ada, ia harus melompat dari jendela," Tomi menjelaskan.


Anggota tim yang saat ini bersamanya tampak mengangguk, pertanda paham atas penjelasan Tomi.


Namun, sayup-sayup terdengar obrolan dari lokasi yang tak jauh dari Tomi.


"Laporan dari anggota yang sedang menyisir di perkampungan pun negatif. Mereka tak berhasil menemukan target,"


Tomi yang tak sengaja menguping pun menjadi semakin yakin jika Antonio masih berada di dalam bangunan pabrik.


Ia lalu mengepalkan tangan dengan geram seraya menatap ke arah pabrik.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!

__ADS_1


Ilustrasi Rosalinda



__ADS_2