
Takagawa dan Marcello terlihat berada di depan sebuah rumah yang terlihat cukup mewah. Seperti misi sebelumnya, mereka berdua kembali melakukan misi penyusupan untuk mengambil sebuah berkas atas permintaan klien.
Berbekal penutup wajah, mereka berdua mulai bergerak menaiki pagar yang menjadi pelindung rumah itu. Dengan gerakan yang gesit dan terlatih, Marcello dan Takagawa berhasil melompati pagar besi setinggi 3 meter.
Setelah berada di halaman rumah, Takagawa mengisyaratkan Marcello agar bergerak dengan cepat ke arah pintu. Pintu yang berukuran cukup besar, bahkan lebih besar dari pintu rumah pada umumnya.
Takagawa kemudian mengeluarkan sebuah alat kecil dan memasukannya ke dalam lubang kunci, kemudian secara perlahan ia mengorek-orek bagian dalam lubang itu.
Cklek! Cklek!
Terdengar dua kali bunyi sebuah kunci yang terlepas. Bunyi itu menandakan pintu itu telah bisa dibuka dengan bebas.
"Pelan-pelan," bisik Marcello mengingatkan, saat melihat Takagawa akan mendorong paksa pintu di depannya.
Takagawa mengangguk pelan, kemudian mendorong pintu secara perlahan tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun. Setelah pintu terbuka sedikit, kira-kira seukuran tubuh mereka, Takagawa lantas masuk diikuti Marcello yang kemudian menutup kembali pintu itu.
Suasana rumah tampak gelap gulita sehingga mereka berdua tak bisa melihat apa pun. Sudah menjadi kebiasaan, jika penghuni rumah sengaja mematikan lampu agar bisa tertidur nyenyak. Namun, mereka berdua bukan tanpa persiapan, di dalam tas pinggang mereka telah dipersiapkan sebuah kacamata Night Vision yang akan mereka gunakan saat mengalami hal seperti ini.
Tak lama kemudian mereka berdua dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas berkat bantuan alat yang sedang mereka pakai. Takagawa yang ditugaskan untuk memimpin, segera memberi isyarat pada Marcello agar bergegas ke tempat yang dituju.
Langkah kaki mereka berdua cukup cepat dan tak mengeluarkan suara sedikit pun. Sehingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke depan pintu ruangan yang dituju, yaitu ruangan yang berisi berkas penting untuk mereka ambil.
Takagawa yang mengerti, langsung saja melakukan pembobolan ke lubang kunci seperti yang ia lakukan sebelumnya pada pintu depan.
Cklek! Cklek!
Terdengar kembali suara kunci yang telah terlepas dan membebaskan pintu itu untuk terbuka. Tanpa aba-aba yang jelas, Takagawa dan Marcello kemudian memasuki ruangan tempat disimpannya berkas penting.
"Dimana berkas itu?" tanya Marcello pelan, bahkan hampir tak terdengar.
Takagawa tak menjawab, ia hanya mengamati deretan lemari yang berjejer rapi di depannya. Kemudian bergegas ke arah lemari yang menurutnya digunakan untuk menyimpan berkas penting.
__ADS_1
Lemari itu terlihat seperti lemari besi dan hanya bisa buka dengan menggunakan kode, seperti kode kombinasi angka yang rumit.
"Kita harus mencari pemiliknya, dan memaksa ia untuk membuka ini," bisik Takagawa seraya menekan tombol-tombol untuk menciptakan kombinasi angka yang sesuai.
"Iya, kalau begitu kita cari dia," sahut Marcello pelan.
Takagawa lalu berpikir sejenak, berusaha mengingat gambar denah rumah yang sebelumnya ia pelajari. Pikirannya memvisualisasikan bentuk denah beserta nama-nama tempatnya.
"Aku ingat," ucap Takagawa saat mengingat dimana lokasi kamar sang pemilik rumah.
"Ayo!" ajaknya.
Kemudian ia bergegas keluar ruangan disusul oleh Marcello di belakangnya. Marcello yang tak mengetahui hanya bisa mengekor kemana pria di depannya berjalan.
Takagawa yang merasa yakin dengan ingatannya kini mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua. Seingatnya ruangan kamar pemilik rumah itu ada disana, bukan di lantai satu tempat mereka berada saat ini.
Sesampainya di lantai dua yang cukup terang, mereka membuka kacamata Night Vision dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Namun, sayup-sayup terdengar suara desahan wanita yang cukup lirih dan tertahan. Suara yang terdengar pelan namun jelas itu memudahkan mereka untuk menemukan ruangan yang dimaksud. Tanpa membuang waktu mereka lalu mempercepat langkah menuju sumber suara.
"Awww..." sesekali terdengar pula pekikan kecil disela-sela desahan yang tertahan.
Takagawa dan Marcello lalu menghentikan langkahnya saat berada di depan sebuah kamar yang berada paling ujung. Kamar yang saat ini dipenuhi dengan alunan suara yang mengundang birahi. Sejurus kemudian mereka meraih pistolnya masing-masing, lalu secara perlahan Takagawa membuka pintu kamar itu dengan hati-hati untuk sekedar mengintip dan membaca situasi.
Di dalam kamar itu terlihat seorang wanita tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun sedang meliuk-liukan tubuhnya di atas tubuh seorang pria yang berbadan gempal. Seperti joki pacuan kuda, wanita itu dengan lihai menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bahkan sesekali terlihat menaikturunkan pinggul indahnya seraya mendesis seperti ular cobra yang ganas.
Sementara sang lelaki hanya terbaring pasrah diperlakukan sedemikan rupa oleh wanitanya. Ia hanya memejamkan kedua bola matanya, terlihat sekali bahwa ia sangat menikmati dan meresapi setiap momen indah yang saat ini sedang dialami.
Takagawa yang sedang menyaksikan dari celah pintu merasa yakin jika lelaki itu adalah sang pemilik rumah, ciri-cirinya sama seperti yang ada dalam poto di dalam map misi pemberian Pablo. Lalu tanpa basa-basi ia mulai membidikan pistolnya ke arah sang wanita.
Dor!
Satu tembakan saja berhasil melesatkan peluru dengan cepat hingga menembus kepala sang wanita, seketika membuat tubuh molek itu tersungkur tepat di atas tubuh sang lelaki. Darah segar perlahan mengalir dari kepala sang wanita, membasahi tubuh gempal sang lelaki yang kini terlihat panik dan ketakutan.
__ADS_1
Takagawa dan Marcello kemudian masuk ke dalam kamar itu dan menghampiri sang lelaki.
"Hei kau!" bentak Takagawa.
Sontak saja sang lelaki itu menjadi tambah ketakutan dan semakin panik. Ia lalu melemparkan tubuh sang wanita yang sudah tak bernyawa itu ke lantai, kemudian bersujud pada Takagawa dan Marcello.
"Ampun Tuan!" ucap sang lelaki itu memohon ampun.
Tubuh gempal yang tak berbusana dan telah bersimbah darah kini hanya bisa pasrah saat Takagawa perlahan menempelkan ujung pistol tepat ke kepalanya.
"Jangan coba-coba melawan!" bentak Takagawa.
"Pakai celanamu dan ikut aku!" perintahnya.
Lelaki gempal itu kemudian bangkit secara perlahan, kemudian meraih celana pendeknya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya.
Takagawa lalu memberi isyarat kepada Marcello agar berjalan terlebih dahulu, kemudian ia membuntuti dari belakang seraya menodongkan pistol ke arah pria gempal yang merupakan sang pemilik rumah.
Sementara pria gempal itu sudah tampak pasrah, ia tak bisa melakukan apapun selain menuruti kemauan dua pria bertopeng yang terlihat seperti malaikat pencabut nyawa baginya. Saat ini ia berpikir akan melakukan apa pun demi menyelamatkan nyawanya.
Namun, perasaannya kian gelisah saat mengetahui kemana kedua pria bertopeng itu membawanya. Wajahnya yang masih berlumuran darah tampak terkejut saat tiba-tiba Takagawa mendorongnya ke depan pintu besi di dalam ruang penyimpanan.
"Buka itu, cepat!" bentak Takagawa.
Marcello hanya diam saja seraya menodongkan pistolnya kepada lelaki itu.
"Cepat!" Takagawa membentak dengan keras seraya menendang punggung lelaki gempal itu saat dilihatnya hanya terdiam menunduk.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
__ADS_1
Bantu vote juga agar Author semakin bersemangat!