Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Antara Yakuza dan Asosiasi


__ADS_3

Pertemuan di Acquolina Cafè telah usai dan cafe dibuka kembali seperti biasa. Para anggota asosiasi cabang dari China pun telah kembali ke negeri asalnya, karena misi mereka untuk membantu Pedro telah selesai.


Namun Anna dan Antonio masih berada di ruang kerja Pedro, mereka sedang berdiskusi tentang rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Sepertinya orang Jepang itu agak berbahaya," ujar Pedro.


"Aku yakin jika dia adalah anak buah Kenjiro. Karena sebelum bersama ayahmu, Pablo selalu menjalankan misi bersama Kenjiro," tambahnya, menjelaskan pada Antonio.


Raut wajah Antonio terlihat biasa saja, dia tak menunjukan ekspresi apapun saat mendengar ucapan Pablo. Berbeda dengan Anna yang terkesan antusias mendengar penjelasan Pablo. Anna berpikir semakin banyak hal yang ia ketahui tentang musuhnya, maka semakin besar peluang untuk mencari kelemahan musuh.


"Seberapa besar kemampuan seorang Yakuza jika dibandingkan dengan anggota asosiasi?" Antonio bertanya pada Pedro seraya menghisap asap rokoknya.


"Sangat berbeda, kalian dan anggota Yakuza itu berbeda. Begitupun asosiasi dan organisasi Yakuza, itu adalah dua hal yang sangat berbeda," jawab Pedro.


"Berbeda? Maksudnya?" Anna tiba-tiba menyahut, merasa tak mengerti dengan maksud dari ucapan Pedro.


"Iya, jelas berbeda," jawab Pedro santai.


"Baiklah biar kujelaskan," tambahnya seraya menghela nafas.


"Menurut informasi yang kudapat, Yakuza adalah organisasi semacam gangster atau brotherhood. Bisa dikatakan organisasi mereka itu atas dasar kekeluargaan. Karena memiliki visi dan misi yang sama, akhirnya mereka bersatu dan membentuk sebuah kelompok," Pedro berkata mencoba menjelaskan.


"Lain halnya dengan asosiasi, kalian bisa saja saling membunuh jika asosiasi memberi misi untuk itu. Paham?" ujar Pedro dengan tegas.


Antonio dan Anna tampak menganggukan kepala tanda mengerti. Mereka berdua sangat mempercayai Pedro, karena selain ahli strategi, Pedro juga seorang pengumpul informasi yang handal dan akurat.


"Apakah para Yakuza itu menjalankan misi seperti kita?" kali ini giliran Anna yang bertanya.


"Setahuku mereka hanya menjalankan bisnis-bisnis ilegal yang menentang aturan pemerintah. Walaupun ada beberapa kelompok kecil gangster yang melakukan hal positif, namun kemungkinan jumlahnya sangatlah kecil," jawab Pedro.


"Tapi, organisasi milik Kenjiro merupakan organisasi yang sangat berbahaya di Jepang. Mereka sering melakukan transaksi-transaksi ilegal, bahkan rela melakukan apa saja demi melancarkan bisnis-bisnisnya tersebut. Walaupun harus merenggut nyawa yang tak berdosa," tambahnya.


"Ya, aku mengerti sekarang. Tapi mengapa ada anggota Yakuza di organisasi Pablo?" Antonio bertanya penuh keheranan.


Pedro tampak berpikir dan berkali-kali pandangannya menerawang pada langit-langit ruangannya.

__ADS_1


"Semoga saja dugaanku benar, jika anggota Yakuza itu datang untuk membantu Pablo," ujar Pedro perlahan.


Jawaban dari Pedro membuat Antonio dan Anna kembali dibuat terheran-heran.


"Kalian berdua telah membunuh dua orang kepercayaannya, bisa saja Pablo meminta bantuan kepada Kenjiro untuk mengisi posisi dua orang yang telah kalian bunuh," Pedro berusaha menjelaskan.


"Sangat logis, berarti saat ini mereka mendapat dukungan dari Yakuza," sahut Antonio.


"Tak masalah jika aku harus berhadapan dengannya, siapapun tak akan aku ampuni jika berusaha menghalangiku," ucapnya tegas.


"Hahahaha, kau sama saja seperti Fernando," ucap Pedro diiringi tawa khasnya.


***


Sementara itu di markas Black Shadow, Pablo sedang berlatih tanding bersama Takagawa. Mereka berdua saling serang menggunakan sebilah pedang di tangannya masing-masing. Suara dentingan logam yang beradu semakin terdengar memekakkan telinga di aula tempat latihan.


"Hanya segitukah kemampuanmu?" Ucap Pablo pada Takagawa yang sudah terlihat kelelahan.


"Anda memang luar biasa Mr. Pablo. Walaupun sudah terlihat tidak muda lagi, namun kemampuan anda masih jauh di atasku," Takagawa berkata merendah.


"Keluarkan seluruh kemampuanmu! Biar ku tunjukan cara bermain pedang seorang ksatria," balas Pablo.


Dentingan suara pedang terdengar kembali. Seperti tak ingin ada yang mengalah, mereka berdua saling serang dan saling menahan menggunakan senjatanya masing-masing.


Sementara Marcello hanya bisa menyaksikan pertarungan itu dengan perasaan takjub. Ia masih tidak menyangka jika pimpinannya yang sudah berumur itu bisa mengimbangi serangan Takagawa yang terbilang masih sangat muda.


"Bagaimana? Kau menyerah?" Tanya Pablo saat melihat Takagawa jatuh tersungkur akibat tendangannya.


Takagawa hanya terdiam, ia berusaha mengontrol pernafasannya.


"Sudahlah menyerah saja! Lagipula ini hanyalah latihan, sudah terlalu lama aku tidak menggerakan badanku. Aku hanya ingin sedikit berolahraga," ucap Pablo seraya memainkan gerakan-gerakan jurus dengan pedangnya.


Namun Takagawa perlahan bangkit dan memasang kuda-kuda.


"Izinkan saya untuk mencoba kembali Mr. Pablo," ujarnya dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Baiklah!" Pablo menjawab santai.


Walaupun Pablo berumur jauh lebih tua dari Takagawa, namun staminanya terbilang masih bagus. Ia bahkan bisa dengan mudah menahan serangan Takagawa yang terbilang cepat dan bertenaga.


Serangan Takagawa bisa dibilang cukup fatal dan berbahaya, namun bagi Pablo yang merupakan mantan anggota asosiasi yang telah memiliki banyak pengalaman bertarung, hal itu tidak menjadi masalah besar.


Seperti saat ini, Takagawa terlihat sudah kewalahan menahan serangan Pablo. Hingga akhirnya ia terjungkal dan pedang katana yang digenggamnya terlempar cukup jauh akibat benturan yang cukup keras dengan pedang yang digunakan Pablo.


"Bagaimana? Masih belum menyerah?" Pablo bertanya seraya menempelkan ujung pedang yang tajam pada tenggorokan Takagawa yang sedang dalam posisi terbaring.


Perlahan keringat dingin keluar dari tubuh Takagawa, ia hanya pasrah sambil memejamkan kedua matanya.


Marcello yang menyaksikan hanya bisa terbelalak kaget, saat melihat posisi Pablo yang seolah akan membunuh Takagawa.


"Hahahahaha," tiba-tiba Pablo tertawa terbahak-bahak.


Kemudian ia menyarungkan kembali pedangnya.


"Aku tak akan bertindak bodoh, latihan selesai! Aku akan beristirahat sejenak," ucapnya seraya bergegas meninggalkan aula tempat latihan setelah sebelumnya memberikan pedangnya pada Marcello.


Takagawa yang masih terlihat shock pun hanya bisa tertunduk lesu, kemudian tersenyum lega saat merasakan dirinya masih selamat dari ancaman Pablo.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Marcello sambil berjalan menghampiri Takagawa.


Takagawa hanya menggeleng pelan, ia masih berusaha mengatur nafas yang tersengal-sengal.


"Sudahlah, ayo!" Marcello berkata sembari membantu Takagawa berdiri.


Perlahan Takagawa mengangkat tubuhnya dengan dibantu oleh Marcello, kemudian mereka berdua berjalan keluar aula menuju ke ruangan tempat beristirahat masing-masing.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!


Bantu vote juga agar Author tambah semangat!

__ADS_1


__ADS_2