Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Menuju Akhir


__ADS_3

Ruangan yang menjadi tempat memasak di markas Black Shadow sangat besar. Terlihat rak-rak yang berjejer rapi dengan berisikan berbagai macam bahan makanan yang tertata sedemikian rupa hingga memanjakan mata.


Antonio dan Anna tampak berjalan memasuki ruangan itu, setelah mereka membuntuti kedua anggota Black Shadow yang sedang berpatroli.


"Ruangan ini cukup besar dan luas, mereka tak akan mudah menemukan kita," ucap Antonio pada Anna.


"Iya, apalagi mereka hanya seorang koki dan anggota biasa," balas Anna menanggapi ucapan Antonio.


"Sebaiknya kita berpencar dan lakukan sesuai rencana!" perintah Antonio.


Bersamaan dengan anggukan Anna, mereka berdua lantas berpisah untuk melanjutkan strategi.


***


Di sisi lain di dalam dapur, Julia tampak sedang meracik bumbu bersama Dona. Mereka terlihat asyik berdua tanpa mengetahui bahwa ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.


"Kaucampurkan bahan ini ke sana!" perintah Julia pada Dona seraya menyerahkan bumbu yang sebelumnya ia haluskan.


Dona lantas mengambil bumbu itu kemudian mencampurkannya ke dalam wajan panas yang telah terisi nasi sebelumnya.


"Aku sudah lama tak menyantap nasi goreng, sepertinya ini lezat," ucap Dona dengan wajah berbinar.


"Terlalu sulit jika aku sendiri yang memasak nasi goreng untuk semua orang disini, maka dari itu hanya orang tertentu saja yang bisa aku buatkan," sahut Julia.


Kemudian ia mengambil alih pekerjaan Dona, yaitu mengaduk-aduk nasi di atas wajan penggorengan.


"Kau nyalakan kompor yang sebelah sana, kita mulai masak untuk sarapan para amggota," perintah Julia saat melihat Dona yang hanya diam menyaksikan.


"Oke," jawab Dona pendek, kemudian bergegas menuruti perintah Julia.


***


Waktu pun berjalan cepat, anggota Black Shadow yang bertugas di dapur pun kini telah selesai memasak untuk sarapan para anggota lain. Begitu pun dengan Julia, ia selaku koki ketua kini telah bersantai seraya mencatat bahan makanan yang habis agar bisa dibelanjakan.


"Nona Julia, semua telah selesai," ucap salah seorang petugas dapur memberikan laporan padanya.


"Oke, sekarang bunyikan loncengnya!" perintah Julia pada bawahannya.


Wanita yang baru saja mendapat perintah dari Julia itu langsung bergegas keluar dapur dan menuju ke sebuah menara kecil.


Teng! Teng! Teng!


Bunyi lonceng terdengar membahana mengisi seantero ruangan di markas Black Shadow. Seketika suasana menjadi ramai, berbondong-bondong para anggota berjalan menuju dapur untuk melakukan rutinitas sarapan pagi.


Terlihat juga beberapa petinggi organisasi yang berjalan pelan menuju ke dapur umum. Mereka tetap berjalan santai, walau sesekali melihat anggota yang merupakan bawahan mereka sedang berlari kejar-kejaran.


"Silakan masuk, Tuan-tuan!" ujar salah seorang wanita yang merupakan petugas dapur kepada para petinggi yang akan memasuki ruang makan khusus.


Para petinggi itu tampak tersenyum ramah menanggapi sapaan wanita penjaga ruang makan, kemudian masuk untuk menikmati hidangan sarapan yang telah tersedia untuk mereka.


"Masakan apa ini? Rasanya agak aneh, tidak seperti biasanya," ucap salah seorang petinggi kepada temannya yang duduk di samping kanannya.

__ADS_1


"Sudahlah, nikmati saja!" balas temannya.


Kemudian para petinggi itu fokus menyantap hidangan tanpa mempedulikan rasa, hanya ada satu kata, yaitu kenyang.


Sampai akhirnya acara sarapan pun selesai, mereka kembali ke ruangannya masing-masing. Begitu pula dengan anggota yang lain, hingga suasana dapur umum kembali sepi.


Tiba-tiba tampak seorang pria muda berjalan gontai menuju dapur, namun tiba-tiba pria itu jatuh dan tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan banyak sekali busa.


"Aaaaaaahhhkk!!!" teriak salah seorang wanita petugas dapur yang melihat pria itu.


Namun tak lama kemudian ia pun mengalami hal serupa, tubuhnya kejang-kejang lalu tersungkur dengan mulut mengeluarkan busa yang begitu banyak.


Hingga akhirnya, acara sarapan pagi ini menjadi sarapan terakhir bagi penghuni markas Black Shadow. Tidak ada yang tersisa, bahkan Julia dan Dona pun ikut meregang nyawa.


***


Antonio dan Anna yang kini berada di ruang keamanan mulai tersenyum lebar saat melihat seluruh penghuni Black Shadow telah meregang nyawa melalui layar-layar monitor CCTV.


"Rencana Pedro cukup gila, namun efektif," ucap Anna dengan raut gembira.


"Ya, namun bagai sebuah bumerang," sahut Antonio pendek.


"Maksudnya?" tanya Anna setengah menyelidik.


"Aku hampir mati setelah menjalankan rencana Pedro sebelumnya," jawab Antonio pelan.


"Namun kauberhasil selamat," balas Anna.


"Halo Pedro!" ucap Antonio.


"Sebaiknya kaucepat kembali, ada kabar baik untukmu," ucap Pedro singkat dengan nada riang.


Tut! Tut! Tut!


Telepon pun terputus.


"Hanya itu saja?!" tanya Antonio bingung, seraya menatap ponselnya.


"Siapa? Ada info apa dari Pedro?" Anna bertanya menyelidik.


"Kita harus segera kembali, ayo!" jawab Antonio seraya bergegas turun.


Anna hanya mengerutkan dahi sejenak, kemudian berlari mengikuti pergerakan Antonio.


***


Tak lama kemudian Antonio dan Anna telah tiba di Acquolina Cafè, mereka langsung masuk ke dalam dengan cepat, kemudian menuju ruangan Pedro.


Namun Antonio dan Anna tersentak kaget saat melihat seorang pria sedang duduk santai di ruangan Pedro.


"Konnichiwa, Antonio-san! Anna-san!" sapa pria itu yang tak lain adalah Takagawa.

__ADS_1


"Kau!! Mengapa kau ada di sini?" tanya Antonio dengan geram.


Pedro lalu menghampiri Antonio dan menenangkannya.


"Sudah, kalian duduklah dulu!" tegas Pedro.


Anna dan Antonio lalu duduk di dekat Pedro seraya menatap Takagawa dengan penuh kebencian.


"Perlu kalian ketahui, jika Takagawa-san bukanlah anggota Black Shadow," ujar Pedro membuka percakapan.


"Maksudnya?" tanya Antonio diiringi anggukan Anna.


"Iya, dia adalah anggota Kenjiro yang tak lain adalah anggota asosiasi. Sama seperti kita," jawab Pedro.


Anna dan Antonio sontak saja tersentak kaget saat mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi.


"Aku mengetahui kalian akan datang ke markas Black Shadow. Bahkan, aku mengetahui kalau kalian telah membunuh salah satu petinggi saat berada di kamar Fabio," ucap Takagawa tiba-tiba.


"Aku sengaja mengalihkan perhatian Marcello agar kalian bisa menjalankan misi tanpa ada hambatan. Dan sekarang terbukti, seluruh anggota Black Shadow telah berhasil kalian bunuh," ucap Takagawa menambahkan.


"Apa?" tanya Antonio dan Anna berbarengan.


"Dari mana kau tau? Bahkan aku baru saja melakukannya beberapa saat yang lalu," tanya Antonio dengan tatapan menyelidik.


Takagawa yang mendapat pertanyaan langsung saja melirik ke arah Pedro.


"Lihat ini!" ucap Pedro seraya membalikan layar laptopnya ke hadapan Antonio dan Anna.


Terlihat di layar laptop itu menampilkan ruangan-ruangan di dalam markas Black Shadow.


"Takagawa-san yang membantuku untuk meretas CCTV dan menghubungkan ke laptopku," ucap Pedro seolah mengetahui isi pikiran Antonio.


"Oke, aku mengerti. Terimakasih atas bantuannya," ucap Antonio pada Takagawa.


"Sebentar ... di mana Pablo?" tanya Anna tiba-tiba.


"Ehem ...." Pedro berdehem sejenak seraya melirik ke arah Takagawa.


Pria Jepang itu menghela nafas panjang, kemudian mulai menjelaskan.


"Pablo telah ditangkap di markas kami, beberapa hari yang lalu ia pergi dari markasnya untuk mengunjungi Tuan Kenjiro. Namun, di sana ia berhasil dijebak oleh Tuan Kenjiro dan sekarang telah dibawa ke penjara asosiasi," ucap Takagawa menjelaskan.


"Kami baru saja mendapatkan kabar, lantas menelepon kalian agar segera pulang. Misi kalian telah selesai," ucap Pedro menambahkan.


"Hmm ...." gumam Anna pelan.


"Ayo kita pulang!" ajaknya pada Antonio.


Walaupun misi telah berhasil, namun sepertinya ia tidak merasakan kepuasan seperti sebelumnya. Tapi itu bukanlah hal besar, yang jelas misinya telah selesai dan kini sudah saatnya ia kembali ke tempat asalnya, Rusia.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


__ADS_2