Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Menjalin Hubungan Baik


__ADS_3

Adu skill memasak antara dua wanita yang sedang bersaing untuk mendapat perhatian Antonio, kini terlihat semakin sengit. Anna yang sebagai ahli senjata, tampak memain-mainkan pisaunya dengan gerakan-gerakan akrobat. Sedangkan Rosalinda yang hanya seorang dokter, terlihat santai dan fokus meracik bumbu andalannya.


"Apakah kau bisa melakukan ini?" tanya Anna seraya memutar-mutar pisau diantara jari-jarinya.


"Hmm ...." Rosalinda menghela napas sejenak dan menghentikan pekerjaannya yang sedang menghaluskan bumbu.


"Aku tak sepertimu, mana mungkin aku bisa melakukan itu," jawab Rosalinda.


Sejak mereka memapah Antonio bersama, kini terlihat keakraban diantara mereka. Terbukti dari cara mereka bicara, tidak ada lagi rasa sungkan atau canggung seperti saat pertama kali bertemu.


"Lihat!" ucap Anna.


Kemudian mempraktekan beberapa gerakan bela diri menggunakan pisau di tangannya.


"Kau bisa menggunakan teknik ini jika ada yang berniat jahat padamu," ujar Anna menjelaskan.


Rosalinda tampak terpukau dengan gerakan Anna yang cukup lincah. Walaupun dapur itu tidak terlalu luas, tapi gerakan Anna yang gesit sama sekali tidak merusak atau pun menyenggol peralatan yang ada di sana.


"Apa kau tertarik untuk belajar bela diri?" tanya Anna.


"Maaf, aku terbiasa menolong dan menyelamatkan orang. Aku tak tega jika harus menyakiti sesama manusia," jawab Rosalinda lirih.


"Oh ... baiklah. Bilang saja padaku jika kau ingin belajar teknik dasar, itu bisa membantumu untuk menjaga diri," sahut Anna.


"Iya, terimakasih," jawab Rosalinda pendek.


Setelah itu mereka kembali fokus dengan masakannya.


"Apa yang kau buat?" tanya Anna saat melihat Rosalinda menggoreng sesuatu.


"Kau tak tahu?" sahut Rosalinda.


"Tidak, apa itu?" Anna bertanya lagi.


Rosalinda menghela napas sejenak, ia merasa aneh dengan pertanyaan Anna.


"Hmm ... apa kau yakin tak mengetahuinya? Aku menggoreng bakwan sayur. Ini masakan asli Indonesia," jawabnya.


"Bakwan sayur? Aku bahkan baru mengetahuinya, seperti apa rasanya?" Anna bertanya semakin penasaran.


"Coba saja nanti, kau pasti suka," Rosalinda menjawab pendek sambil fokus menempatkan adonan bakwan ke dalam wajan yang berisi minyak panas.


"Oiya, dari mana kau berasal?" ia bertanya pada Anna yang sekarang terlihat sedang memasukan sayuran pada panci yang berisi air mendidih.


"Aku? Dari Rusia," jawab Anna pendek.


"Rusia?" Rosalinda bertanya dengan nada terkejut.

__ADS_1


"Iya," Anna menjawab memastikan.


"Apa kau berasal dari Moskow?" tanya Rosalinda lagi.


"Bukan, aku berasal dari kota kecil yang amat indah," jawab Anna.


"Oh ... aku kira berasal dari Moskow," sahut Rosalinda.


"Lantas dari mana asalmu jika bukan dari Moskow?" tanyanya dengan penuh Antusias.


Anna mengernyitkan dahi seraya menatap Rosalinda sejenak. Namun tiba-tiba ia teringat, bahwa sudah menjadi kebiasaan jika orang Indonesia bertanya kepada orang asing secara detail.


"Kau ingin mengetahui tempat asalku?" Anna bertanya memastikan.


"Iya," jawab Rosalinda pendek seraya membalik bakwan yang sedang ia goreng agar tidak gosong.


"Aku berasal dari Vladivostok," jawab Anna pendek.


"Wow, di mana itu? Apakah jauh dari Moskow?" Rosalinda dengan penuh antusias kembali bertanya.


"Iya, jaraknya kira-kira sekitar 9.300 kilometer. Kau bisa menempuh perjalanan selama 6 hari menggunakan kereta, melalui jalur Trans-Siberian," jawab Anna menjelaskan.


"Kota Vladivostok merupakan kota pelabuhan terbesar Rusia, di tepi pantai Samudera Pasifik yang terletak di wilayah Rusia Timur Jauh, dan merupakan ibu kota dari provinsi Primorsky Krai," pungkasnya.


Rosalinda tampak terkejut dengan penjelasan Anna, ternyata wanita di hadapannya ini memang benar bukan penduduk lokal. Hal ini dikarenakan Anna sangat fasih berbahasa Indonesia, sama seperti Antonio atau pun Pedro.


"Perlu kau ketahui, aku bisa berbagai macam bahasa, dan itu memang diharuskan untuk mempermudah pekerjaan," ujar Anna.


"Oh ... pantas saja," lirih Rosalinda.


Anna hanya tersenyum kecil mendengar respon wanita di depannya. Kemudian ia fokus lagi memasak sesuai dengan yang ia ketahui.


"Mengapa kau memasak bakwan sayur? Bukankah kita sedang berlomba?" tanya Anna heran.


"Aku tahu kau akan memasak sayur lodeh, dan aku membuat bakwan sebagai makanan pendamping," jelas Rosalinda.


"Aku tak ingin bersaing, biarlah kita bekerjasama membuat makanan yang lezat untuk disantap bersama-sama," tambahnya.


Anna terkejut mendengar ucapan Rosalinda yang terkesan rendah hati. Ia tak menyangka wanita itu akan menjawab dengan santai dan seolah tidak menanggapi ajakannya untuk berkompetisi.


"Apa kau menyerah?" tanya Anna.


"Tidak, hanya saja aku tak ingin kita bersaing. Biarkan dia menikmati masakan kita," jawab Rosalinda.


"Hmmm ... ya sudah," sahut Anna pasrah seraya mengangkat kedua bahunya.


Mereka kemudian melanjutkan memasak, kali ini tidak ada persaingan diantara mereka. Bahkan Rosalinda sesekali memberitahu bumbu tambahan agar masakan Anna menjadi lebih lezat. Anna pun demikian, ia terlihat menikmati bakwan goreng hasil ciptaan Rosalinda. Sehingga perlahan kehangatan terjalin diantara mereka berdua.

__ADS_1


Tak berapa lama mereka pun telah selesai memasak. Lalu semua masakan itu mereka hidangkan di meja makan, bersama dengan nasi putih yang masih panas karena dimasak menggunakan penanak nasi elektrik.


Rosalinda kemudian menyuruh Anna untuk memanggil Antonio, sementara ia masih harus membereskan dapur yang terlihat masih berantakan.


Anna mengangguk kecil lalu bergegas ke kamar Antonio.


"Sayang, ayo kita makan!" ajaknya pada Antonio yang terlihat sedang asyik bermain game di ponsel pinjaman dari Pedro.


"Sebentar, biarkan aku menyelesaikan game ini terlebih dahulu," jawab Antonio tanpa menoleh sedikit pun pada Anna.


"Ponsel milik siapa itu?" tanya Anna setengah terkejut.


"Bukankan ponselmu tertinggal di rumah?" tambahnya.


"Pedro meminjamkannya padaku, agar dia bisa menghubungiku jika ada kabar yang harus aku ketahui dari asosiasi," jawab Antonio singkat.


"Pedro? Hmmm ... pantas saja kau betah diam di atas kasur, ternyata ada mainan baru," ucap Anna dengan tidak suka.


"Ayo!" ujarnya seraya menarik tangan Antonio.


"Sebentar," Antonio menjawab sambil berusaha menahan tarikan tangan Anna.


"Hmm ...." Anna bergumam seraya menarik napas pendek.


Kemudian ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik pinggangnya, lalu mengarahkan pisau itu ke area ************ Antonio.


"Ikut aku atau ...." ucapnya dengan tatapan tajam ke arah Antonio.


Sontak saja pria itu menjadi panik.


"Oops ... baiklah," ujarnya seraya meletakan ponselnya ke atas bantal.


Iya terpaksa menuruti keinginan Anna daripada harus kehilangan miliknya yang paling berharga di dunia.


"Ayo!" Anna berkata tegas sambil memasukan kembali pisaunya, dan bergegas keluar ruangan.


"Huft ... hampir saja," gumam Antonio.


Kemudian ia berjalan santai keluar ruangan menuju ruang makan untuk menyantap hasil masakan kedua wanita yang berusaha mencuri perhatiannya.


Sesampainya di ruang makan terlihat Anna dan Rosalinda sedang duduk di kursi masing-masing. Sementara tepat di hadapan mereka ada sebuah meja makan kecil yang di atasnya terdapat masakan enak dan lezat yang siap disantap.


Antonio lantas duduk di kursi yang telah disediakan oleh kedua wanita itu, kemudian mereka bertiga makan dengan lahap.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


__ADS_2