
Takagawa melatih Marcello dengan serius, sesekali pria itu tidak segan untuk memukul hanya untuk mengetes kemampuan Marcello. Namun itu bukanlah sebuah masalah bagi Marcello, ia rela jika memang harus dididik secara keras agar kemampuannya bisa berkembang dengan baik.
"Apa kau menyerah?" tanya Takagawa pada Marcello yang terlihat kelelahan dan sulit untuk mengatur napas.
"Tidak!" jawab Marcello pendek.
Walaupun dengan napas yang terengah-engah, ia masih ingin berusaha keras untuk mengimbangi teknik-teknik Takagawa.
"Beristirahatlah! Kita hanya berlatih, jadi kau tak perlu berambisi untuk mengalahkanku," ujar Takagawa memberi saran.
Marcello yang merupakan tipe penurut hanya mengangguk saja seraya berjalan dengan langkah gontai ke sudut Aula, tempat di mana tersedia kursi untuk duduk.
"Tunggulah! Aku akan mengambil air minum," ucap Takagawa seraya berjalan keluar Aula.
Marcello hanya menoleh sejenak dan menganggukan kepala kecil, napasnya masih memburu seperti seekor rusa yang baru saja lolos dari kejaran harimau.
Namun, walaupun ia merasa kelelahan yang teramat sangat, dalam hatinya ia merasa senang. Tidak ada anggota Black Shadow yang dilatih bela diri menggunakan nunchaku selain dirinya.
The Master of Martial Arts atau Takagawa memang memilih-milih mana anggota yang memiliki bakat khusus, agar ia bisa lebih mudah mengajarkan senjata yang sesuai dengan bakat muridnya.
Begitu pun Marcello, walaupun sedari dulu ia sering dilatih untuk menembak atau menggunakan senjata pistol, namun dalam dirinya tersimpan bakat untuk bela diri senjata Melee.
Senjata Melee adalah senjata yang digunakan dalam pertarungan langsung atau pertarungan fisik yang memungkinkan kedua belah pihak saling beradu kemampuan bela diri.
Senjata Melee yang sedang diajarkan Takagawa kepada Marcello adalah nunchaku dan katana. Sampai saat ini kemampuan Marcello menggunakan katana sudah cukup baik, berbeda dengan kemampuannya menggunakan nunchaku yang baru belajar beberapa teknik dasar.
"Aku harus berlatih lebih giat sebelum Bos memberiku misi selanjutnya," gumamnya seraya mengepalkan tinju.
Tak berapa lama Takagawa datang membawa sebotol air mineral untuk diberikan kepada Marcello.
"Minumlah!" ujar Takagawa seraya menyerahkan botol itu pada Marcello.
"Terimakasih," jawab Marcello pendek.
Pria itu langsung menenggak minuman pemberian Takagawa, secara perlahan air itu menyegarkan tenggorokannya dan membuat tubuhnya segar seketika.
"Air apa ini? Rasanya sangat segar, berbeda dengan air mineral yang biasa aku minum," tanya Marcello seraya memperhatikan botol yang ada dalam genggamannya.
"Itu minuman isotonik yang bisa menghilangkan dehidrasimu seketika," sahut Takagawa.
"Aku sudah kembali segar sekarang, terimakasih," ucap Marcello dengan raut wajah bahagia.
"Tak masalah," balas Takagawa singkat.
***
__ADS_1
Di rumah Rosalinda, Antonio yang masih terbaring di ranjang tampak serius mengotak-atik ponselnya. Namun tiba-tiba terlihat panggilan masuk dari layar ponselnya.
"Halo," ujarnya berbicara pada ponsel yang kini telah menempel pada telinga kanannya.
"Halo! Antonio!" terdengar suara Pedro dari seberang telepon.
"Oh ... iya Pedro, ada apa?" tanya Antonio.
"Aku akan menjemputmu sekarang dan membawamu ke klinik," jawab Pedro dengan ucapan yang terkesan tergesa-gesa.
"Apa?!" Antonio terkejut dan bertanya memastikan.
"Bukankah kau paham dengan kondisiku yang baik-baik saja saat ini?" ujar Antonio berusaha mengelak.
"Kau tetap harus melapor ke klinik, walaupun keadaanmu sudah pulih. Pihak klinik nanti akan melaporkan kondisimu pada asosiasi," ucap Pedro menjelaskan.
"Hmm ... baiklah," sahut Antonio singkat.
"Tunggu sebentar, aku segera ke sana," pungkas Pedro.
Kemudian sambungan telepon mereka pun terputus.
Antonio lalu meletakan ponselnya seraya menarik napas panjang, ia yang merasa dirinya telah pulih terpaksa harus mengikuti aturan asosiasi.
Tak lama setelah itu Rosalinda datang menemuinya.
"Ya, Pedro menghubungiku," jawab Antonio.
"Ada apa? Apakah panggilan misi?" Rosalinda bertanya lagi.
"Tidak, ia hanya menyuruhku pergi ke klinik milik asosiasi," Antonio mencoba menjelaskan.
"Klinik?!" sahut Rosalinda seraya mengerutkan dahi.
"Bukankah kau tahu bahwa aku ini Dokter rumah sakit? Apa aku tak bisa menangani permasalahan kesehatanmu?" tanya wanita itu dengan raut kecewa.
"Bukan itu masalahnya, klinik itu milik asosiasi. Setiap anggota asosiasi yang mengalami perawatan medis harus melapor, walaupun ia dirawat di tempat selain klinik milik asosiasi," ucap Antonio menjelaskan.
Rosalinda hanya menghela napas sejenak saat mendengar penjelasan Antonio.
"Maafkan aku Rose, bukan berarti aku tak menerima perlakuanmu selama ini. Namun, aturan tetaplah aturan dan aku harus menaatinya," tambah Antonio.
"Tak masalah," sahut Rosalinda.
"Namun, apakah kau akan kembali ke sini setelah melapor ke klinik?" tanyanya lirih pada Antonio.
__ADS_1
"Hmm ... entahlah, mungkin mereka akan langsung memberiku misi saat mengetahui kondisiku telah membaik," jawab Antonio pelan.
"Aku menyadari bahwa kau memiliki tingkat regenerasi sel yang bagus, daya tahan tubuhmu juga luar biasa. Separah apa pun kondisimu, kau akan pulih dengan cepat," sahut Rosalinda.
Antonio tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Rosalinda, ia tahu bahwa kondisu tubuhnya bisa sebaik itu karena bantuan dari formula ciptaan ayahnya yang telah ia sempurnakan.
"Namun, aku harap kau tak melupakan aku setelah kau disibukan kembali oleh pekerjaanmu. Aku akan menerima kapan pun kau datang ke sini," tambah Rosalinda dengan ucapan yang lirih.
Wanita itu merasa sedih saat mengetahui pria di hadapannya akan kembali bertugas. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan, hal itu membuat air matanya mengalir secara perlahan.
"Mengapa kau bersedih?" tanya Antonio polos.
Rosalinda tak menjawab, ia hanya berusaha tersenyum pahit dan menengadahkan wajah, menahan agar air matanya tidak turun dan mengalir lebih banyak lagi.
Namun mata tajam Antonio tidak bisa dikelabui dengan mudah, ia dapat melihat kedua mata milik Rosalinda yang berkaca-kaca.
"Kau?! Menangis?!" tanya Antonio seraya mengernyitkan dahi.
"Tidak," jawab Rosalinda pendek.
Kemudian wanita itu membuang muka dan bergegas pergi keluar ruangan untuk menenangkan diri.
Antonio yang masih terpaku hanya diam saja, ia tak dapat mencegah atau mengejar Rosalinda. Baginya, memang lebih baik membiarkan wanita itu sendirian.
"Maafkan aku, Rose," lirih Antonio perlahan.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil di halaman rumah Rosalinda.
"Sepertinya Pedro sudah tiba," gumamnya.
Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan keluar untuk melihat tamu yang datang.
"Halo Pedro!" sapa Antonio saat melihat Pedro keluar dari mobilnya.
"Halo! Bagaimana? Apa kau siap?" tanya Pedro.
Antonio menghela napas panjang seraya melihat ke dalam rumah.
"Aku paham," sahut Pedro.
"Nona Rosalinda biar aku yang urus, aku sudah menduga bahwa ini akan terjadi," tambahnya.
Antonio hanya mengernyitkan dahi, ia seolah tak percaya dengan ucapan Pedro. Namun apa yang dikatakan rekan kerjanya itu memang benar, saat ini dirinya memang membutuhkan Pedro untuk menjadi penenang Rosalinda.
"Aku percayakan padamu," ucapnya perlahan kepada Pedro.
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!