
Betapa terkejutnya Antonio saat mengetahui kedatangan Anna, ia tak menyangka jika apa yang dikatakan Pedro benar adanya.
"Anna!" ucap Antonio terkejut seraya mengernyitkan dahi.
"Apa yang terjadi padamu Antonio?" Anna balik bertanya.
"Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberi kabar apa pun padaku? Tidakkah kau tau bahwa aku menunggumu selama ini? Aku berharap-harap cemas menanti kepulanganmu," ujarnya sambil sesekali menahan air mata yang hendak menetes.
"Sudah, aku tak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Antonio santai.
Mendengar jawaban santai Antonio, wanita itu menjadi sedikit geram. Kemudian melirik ke arah Pedro yang sedari tadi duduk santai menyaksikan mereka berdua.
"Mengapa kau tak memberitahuku Pedro?" tanya Anna dengan tatapan tajam dan terlihat mengerikan.
Pedro menghela napas sejenak, mencoba menahan diri. Terlalu riskan jika salah menanggapi ucapan wanita yang sudah dibutakan oleh cinta.
"Aku baru saja mengetahuinya, kemudian menuju kesini saat ia meneleponku dan memberi alamat rumah ini," jawab Pedro.
"Meneleponmu? Benarkah?" tanya Anna heran.
"Mengapa kau meneleponnya? Bukan meneleponku?" kali ini ia bertanya pada Antonio seraya menunjuk ke arah Pedro.
Pedro hanya nenepuk jidat, ia tak menyangka Anna akan menjadi serumit ini.
"Sudahlah, dia masih belum pulih. Sabar sedikit!" ucap Pedro berusaha menenangkan Anna.
Antonio menghela napas pendek kemudian mencoba berbicara.
"Aku tak ingat apa-apa waktu itu, yang kuingat hanya menghubungi Pedro. Nomor yang kuhubungi juga bukan nomor pribadinya, melainkan nomor Acquolina Cafè. Benarkan Pedro?" kata Antonio menjelaskan dan mencoba mencari dukungan pada Pedro.
"Iya, itu benar," balas Pedro mengiyakan.
"Sudahlah, yang terpenting kau sudah bertemu denganku. Dan melihatku baik-baik saja," ujar Antonio mencoba menenangkan wanita itu.
Anna hanya mendengus kesal kemudian duduk di kursi dekat Pedro.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ayo ceritakan!" ujarnya memaksa.
Pedro yang berada dekat Anna lantas menyahut dan mencoba menjelaskan kejadian yang menimpa Antonio. Kejadian yang terjadi tanpa diduga dan tanpa bisa diantisipasi.
__ADS_1
Anna yang mendengar semuanya tanpa sesekali menutup mulut tanda tak percaya. Ia setengah tak menyangka dan merasa semakin kagum pada Antonio. Karena selain bisa selamat dari kepungan aparat kepolisian, ia juga bisa selamat dari maut.
Berbeda dengannya dahulu, ia harus diselamatkan oleh Antonio dan dibawa ke klinik.
"Tak kusangka, orang terbaik di asosiasi memang mengerikan. Kau seperti tak bisa mati," ucapan Anna tiba-tiba menjadi dingin.
Tatapan matanya tajam mengarah kepada Antonio.
"Tak perlu repot-repot aku mengkhawatirkanmu," ujarnya seraya mendengus kesal.
Antonio lalu tertawa kecil dan berkata, "Hahaha, ternyata kau terlalu berlebihan. Sudahlah, yang terpenting aku sudah lebih baik," ujarnya.
Tiba-tiba Rosalinda datang membawa makanan untuk diberikan kepada Antonio. Namun ia terkejut saat mendapati Anna yang tengah duduk dekat Pedro.
"Maaf, ada tamu ya? Kau makan dulu Antonio," ucap Rosalinda seraya tersenyum pada Anna dan bergegas ke arah pembaringan Antonio.
Anna hanya tersenyum terpaksa lalu memperhatikan Rosalinda dengan seksama, naluri wanitanya merasakan bahwa wanita itu sebagai ancaman.
"Siapa dia?" tanyanya setengah berbisik pada Pedro.
"Dia pemilik rumah ini, dia juga yang telah merawat dan menyelamatkan Antonio," jawab Pedro pelan.
Ucapan mereka berdua pelan sekali, bahkan Rosalinda pun tak dapat mendengarnya. Kecuali telinga tajam Antonio, ia bisa mendengar dengan jelas namun tak ingin ikut campur.
"Perkenalkan, saya Rosalinda. Saya pemilik rumah ini," ujarnya sambil tersenyum hangat menatap Anna.
Anna hanya mengangguk pelan dengan diiringi senyuman yang terkesan dipaksakan.
Pedro yang memahami ada aura persaingan diantara kedua wanita ini kemudian cepat tanggap berusaha mencairkan suasana.
"Ini Anna, dia sama seperti kami. Kedatangannya kesini untuk menjenguk Antonio," ujar Pedro berusaha mengenalkan Anna pada Rosalinda.
Rosalinda tampak mengangguk paham, namun dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Anna yang terkesan dingin.
"Oops!"
Tiba-tiba terdengar suara Antonio yang terlihat kesulitan saat akan memasukan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Posisinya yang setengah terduduk memang membuatnya menjadi rumit dan serba salah, sehingga nasi yang akan dia suap malah berhamburan jatuh ke atas tubuhnya.
Rosalinda yang berada di dekatnya langsung saja meraih piring Antonio.
__ADS_1
"Sini, biarkan aku yang menyuapimu," ujarnya seraya mengambil sendok dari tangan kanan Antonio.
Pria itu lalu membetulkan letak ganjalan bantal di punggungnya dan berusaha untuk mencari posisi yang enak dan nyaman.
Anna yang sedari tadi memperhatikan, sontak saja langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Maaf Nona, biarkan saya yang menyuapinya. Nona beristirahatlah! Terimakasih telah menolong teman saya," ujar Anna halus dengan diiringi senyuman yang terkesan dibuat-buat.
"Tidak usah repot-repot Nona, anda tamu disini. Tidak sepantasnya saya memperlakukan tamu dengan tidak sopan, biarkan saya yang melakukannya," ucap Rosalinda halus seraya membalikan badan berusaha mencegah tangan Anna yang akan meraih piring di tangannya.
Sementara Pedro yang mudah memahami situasi langsung saja bangkit dan dengan cepat meraih piring di tangan Rosalinda.
"Sudah! Kalian duduk saja disana! Biar aku yang akan menyuapinya!" ucap Pedro dengan sedikit membentak.
Sontak saja mata Antonio terbelalak, ia tak bisa membayangkan jika Pedro akan bertindak seperti itu. Pedro pun demikian, ia bertindak berdasarkan naluri. Saat melihat keributan yang konyol, ia langsung bertindak untuk melerai.
Sementara kedua wanita itu tak bisa membantah ucapan Pedro, mereka kemudian duduk di kursi yang jaraknya berjauhan. Perasaan mereka masih terkejut, Rosalinda adalah orang yang paling shock saat mengetahui bahwa Pedro merupakan orang yang tegas. Berbeda dengan Anna, ia malah terkesan jengkel kepada Rosalinda bukan kepada Pedro.
"Pedro, apa yang kau lakukan? Tenangkan dirimu!" Antonio berkata mengingatkan Pedro.
"Aku tak suka ada keributan, apalagi masalah konyol seperti ini. Sini! Biar aku makan sendiri," ucapnya lagi seraya mengulurkan tangan.
Pedro tak berkata apapun, ia lalu menyerahkan piring itu pada Antonio. Sementara kedua wanita yang tadi berseteru kini mulai merasa kecewa pada Pedro karena telah mengagalkan upaya mereka untuk menarik perhatian Antonio.
***
Di markas Black Shadow, Pablo terlihat memberikan sebuah misi kepada Marcello dan Takagawa.
"Sepertinya kalian semakin solid dan kompak, sudah saatnya aku memberi kalian tugas baru," ujar Pablo.
Takagawa sepertinya mulai nyaman berada bersama Black Shadow, selain karena Kenjiro belum menyuruhnya untuk kembali, ia juga merasa mempunyai teman yang cukup akrab, yaitu Marcello.
"Baik Mr. Pablo, saya merasa terhormat bisa membantu meringankan tugas Black Shadow," ucap Takagawa dengan penuh hormat.
Marcello pun tampak mengangguk mengiyakan ucapan rekannya. Ia merasa senang dengan kehadiran Takagawa, selain bisa belajar ilmu beladiri yang mumpuni, ia juga kini berada di posisi penting di organisasi.
"Ini misi untuk kalian!" sahut Pablo seraya meletakan map ke meja di hadapan mereka berdua.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!