Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Case Untuk Anna


__ADS_3

Setelah menikmati makan bersama, Anna tampak duduk di teras depan rumah Rosalinda sambil mengotak-atik ponselnya.


Tiba-tiba terlihat ada panggilan masuk dari Pedro.


"Halo," ucap Anna.


"Anna, bisakah kau ke tempatku sekarang? Asosiasi memberi case khusus untukmu," sahut Pedro dari seberang telepon.


"Sekarang?!?" tanya Anna memastikan.


"Ya," jawab Pedro singkat.


"Oke," balas Anna kemudian menutup sambungan teleponnya.


Wanita itu menghela napas sejenak, ia merasa sedikit kecewa saat mendengar ada case untuknya sehingga harus meninggalkan Antonio. Namun ia harus bersikap profesional dan mengesampingkan ego.


Kemudian ia bergegas ke ruangan Antonio untuk berpamitan.


"Sayang, aku baru saja mendapat panggilan dari Pedro," lirih Anna.


"Apa itu?" tanya Antonio.


"Ada case baru untukku," Anna menjawab seraya menundukan wajah.


"Lakukanlah! Selesaikan case-mu, setelah itu kita bisa berjumpa di sini," balas Antonio menyemangati.


"Hmm ...." Anna hanya bergumam pelan seolah menolak ucapan Antonio.


Kemudian ia berdiri dan mengemasi barang-barangnya tanpa berkata sedikit pun. Sementara Antonio hanya memperhatikannya dari atas tempat tidur.


"Tenang saja, sesegera mungkin aku akan menyusulmu. Kita akan menyelesaikan misi kita bersama," ucap Antonio.


Anna hanya menoleh sejenak ke arah Antonio, kemudian membawa tasnya keluar ruangan. Ia sengaja mengacuhkan pria itu agar tak bisa fokus untuk mengambil case.


Saat akan menuju ruang tengah, Anna berpapasan dengan Rosalinda yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa sepiring pisang goreng.


"Mau ke mana?" tanya Rosalinda.


"Aku akan pergi sebentar untuk menjalankan misi," jawab Anna.


"Misi?!?" Rosalinda bertanya memastikan.


"Iya, case dari Pedro yang hanya untuk aku," jawab Anna singkat.


"Oh, aku kira kau akan pergi bersama Antonio juga," celetuk Rosalinda sambil berjalan ke arah kursi tamu.


"Tidak, misi bersamanya saat ini ditunda dulu. Sampai ada kabar lebih lanjut dari asosiasi," sahut Anna.


Mendengar jawab seperti itu, Rosalinda tampak mengangguk perlahan. Kemudian pandangannya beralih ke arah piring yang berisi pisang goreng.


"Cobalah! Aku yakin kau belum pernah mencoba ini," ucap Rosalinda seraya mengulurkan piring di tangannya pada Anna.


"Apa ini?" Anna bertanya seraya mengernyitkan dahi.


"Pisang goreng, cobalah!" jawab Rosalinda.


Kemudian Anna mengambil satu buah pisang goreng yang diselimuti tepung terigu. Ia langsung saja melahapnya tanpa menyadari bahwa bagian dalam dari pisang goreng itu masih panas.


"Aww ...." pekik Anna.

__ADS_1


"Hati-hati! Pisang goreng itu masih panas," Rosalinda berkata mengingatkan.


"Huft ...." Anna menggembungkan pipi tanda kecewa.


"Baru saja aku angkat dari dalam wajan, apa kau tak merasakan panas di tanganmu?" Rosalinda bertanya penuh keheranan.


"Tidak, hmm ...." jawab Anna singkat seraya menikmati kembali pisang goreng di tangannya.


"Ckckckck ... aku saja tak berani menyentuhnya langsung, tapi kau malah langsung melahapnya," lirih Rosalinda.


Anna hanya melirik sejenak kemudian tersenyum.


"Aku tadi hanya terkejut, tak perlu khawatir," ujarnya.


"Aku pernah menjalani latihan lebih parah dari ini," pungkasnya.


"Hmm ... iya aku percaya," sahut Rosalinda.


Mereka berdua kemudian duduk di kursi tamu sambil menikmati sepiring pisang goreng.


"Ini sungguh lezat, bisakah kau mengajariku cara membuatnya?" Anna bertanya dengan penuh antusias.


"Baiklah, lain kali akan kuajarkan kau untuk membuat pisang goreng dan bakwan sayur," jawab Rosalinda.


"Terimakasih," ucap Anna dengan raut gembira.


Setelah itu ia berpamitan kepada Rosalinda. Namun sebagai bekal selama di perjalanan, Rosalinda memberi Anna goreng pisang yang ia bungkus ke dalam kantong plastik.


"Ini untuk menemanimu saat di perjalanan nanti," ucap Rosalinda seraya menyerahkan plastik yang berisi goreng pisang.


"Wow ... terimakasih," jawab Anna dengan senang.


***


Rosalinda yang melihat Anna sudah pergi, langsung saja bergegas ke ruangan Antonio seraya membawa sepiring pisang goreng.


"Anna sudah berangkat," ucapnya pelan.


"Iya, dia mendapat case mendadak dari Pedro," sahut Antonio.


Rosalinda kemudian meletakan sepiring pisang goreng itu di atas meja dekat pembaringan Antonio.


"Ini untuk cemilanmu," ujar Rosalinda.


"Wow ... pisang goreng, terimakasih, Rose," sahut Antonio dengan penuh antusias.


"Kau sudah mengetahuinya? Aku kira ini yang pertama kali," ujar Rosalinda sedikit kecewa.


"Pedro sering membawaku ke warung pinggir jalan, dan di sana banyak sekali bermacam-macam gorengan," jawab Antonio seolah tahu dengan perasaan Rosalinda yang kecewa.


"Hmm ...." gumam Rosalinda seraya menghela napas panjang.


Setelah itu mereka berdua menikmati pisang goreng bersama dengan diselingi obrolan santai.


***


Sesampainya di Acquolina Cafè, Anna langsung masuk dan bergegas menemui Pedro di ruangannya. Ia tak perlu meminta izin atau meminta bantuan Ferguso, karena sebelumnya telah membuat janji dengan Pedro.


"Halo, Pedro!" sapa Anna saat memasuki ruangan Pedro.

__ADS_1


"Oh, Anna. Masuklah!" ucap Pedro membalas sapaan Anna.


Anna kemudian masuk dan duduk di kursi yang biasa ia gunakan jika berada di ruangan Pedro. Sementara Pedro terlihat membuka laci dan mengeluarkan sebuah map berwarna kuning.


"Ini case-mu," ucapnya seraya menyerahkan berkas itu kepada Anna.


"Oke," jawab Anna singkat.


Setelah menerima case itu, ia lantas membuka dan mempelajari isinya.


"Hmm ...." sesekali ia bergumam pelan saat membaca tulisan yang ada di lembaran-lembaran kertas itu.


"Aku kira ini case dari asosiasi, ternyata dari temanmu ya?" tanyanya pada Pedro.


"Iya, bacalah terlebih dahulu semua lembarannya!" jawab Pedro.


Anna hanya melirik ke arah Pedro sejenak, kemudian fokus kembali mempelajari berkas di tangannya.


"Black Shadow?!" sahut Anna seraya mengernyitkan dahinya.


"Pantas saja ia meminta bantuanmu," tambahnya seraya menatap Pedro.


"Nicky adalah temanku dan seorang detektif, dia sedang menyelidiki kasus penculikan. Dan saat ia telusuri, ternyata semua ada kaitannya dengan Black Shadow. Sehingga ia meminta bantuan padaku," ucap Pedro menjelaskan.


Anna hanya mengangguk pelan tanpa berbicara apa pun.


"Aku tak mungkin memberikan case ini pada Antonio, mengingat kondisinya sekarang. Maka dari itu, hanya kaulah yang saat ini siap untuk menjalankan case ini," ujar Pedro menambahkan.


Anna menghela napas sejenak, ia tak percaya jika harus menjalankan case menghadapi Black Shadow seorang diri. Namun ia tetap harus profesional.


"Baiklah, aku terima," sahut Anna.


Pedro tersenyum melihat respon Anna yang telah setuju dan menerima case darinya.


"Sekarang kau temui Nicky di rumah sakit, sementara aku akan menjemput Antonio untuk kubawa ke klinik milik asosiasi," ujar Pedro memberi instruksi.


"Antonio!?" tanya Anna heran.


"Mengapa harus ke klinik? Bukankah ia sudah baik-baik saja?" tambahnya.


Pedro hanya menggelengkan kepala perlahan.


"Sesuai prosedur asosiasi, ia hanya perlu mengisi laporan bahwa ia sedang tidak dalam kondisi tidak siap menjalankan misi," Pedro menjelaskan.


"Seperti itu ya? Baiklah, urusan Antonio kuserahkan padamu. Aku akan menemui Nicky di rumah sakit sekarang," ucap Anna.


Kemudian ia bergegas keluar seraya membawa berkas menuju ke rumah peninggalan orang tua Antonio untuk bersiap pergi menjalankan case.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Mengenai case yang dijalankan oleh Anna, bisa kalian baca di Novel "Kan Ku Kejar Cintamu", karya din din.


Case Anna di Novel itu dimulai dari Bab 193. Silahkan mampir ke sana ya.


Terimakasih.


__ADS_1


__ADS_2