Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Serangan Langsung IV


__ADS_3

Setelah mendapat dosis yang pas, Antonio lalu memasukan kembali botol kecil itu ke dalam sakunya. Di tangannya kini ada sebuah suntikan berisi cairan kental berwarna hijau.


"Formula apa itu?" Tanya Anna sambil mengernyitkan dahi.


"Lihat saja nanti!" jawab Antonio sambil melangkah ke belakang Elano yang terlihat sedang khawatir.


"Mau apa kau?" Elano menggoyang-goyangkan kepalanya saat Antonio akan memegangnya.


"Tenang saja, aku hanya menginginkan sedikit informasi," Antonio berkata santai.


"Bang - Sat kau!" Elano mengumpat.


Antonio tak mempedulikannya, ia lantas menusukan jarumnya ke leher Elano dan menyuntikan cairannya sampai habis. Setelah itu jarumnya ia patahkan di dalam.


"Aaaaaaarrrrggghhh!!!" Teriak Elano kesakitan.


Namun setelah itu ia diam tak berbicara, tubuhnya kejang-kejang seperti tersengat aliran listrik. Sementara Anna dan Antonio memperhatikannya dari depan.


"Apa yang kau suntikan?" Anna bertanya seraya mengernyitkam dahi.


"Formula ciptaan ayahku, serum kejujuran," jawab Antonio sambil menatap ekspresi kesakitan Elano.


Tak berapa lama Elano terlihat sudah tenang, ia menggerak-gerakan kepala dan lehernya.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Antonio sambil berjalan mendekatinya.


"Baik-baik saja," jawab Elano sambil terbelalak.


Ia tidak menyadari apa yang diucapkannya, seolah-olah perkataan itu mengalir begitu saja.


"Baiklah aku mengerti," Antonio berkata seolah memahami apa yang dirasakan Elano.


"Sekarang ucapkan siapa namamu?" tanyanya seraya menatap tajam Elano.


"Elano," jawab Elano perlahan.


Ia terbelalak lagi saat lidahnya menjawab pertanyaan Elano. Entah mengapa saat ia akan berbohong, kepalanya terasa sakit sekali.


"Siapa dia?" Sahut Anna sambil menunjuk ke arah potongan tubuh yang tergeletak di lantai.


"Dia Fabio, temanku," Elano menjawab sambil memejamkan mata menahan emosi.


"Aaaarrghhh!!!" Ia menggeram kesal.


"Jelaskan kenapa kalian memgincar kami?" Kali ini Antonio yang bertanya.


"Kami diberi misi oleh Pablo untuk menjadi pengawal pribadi Nicholas," jawab Elano yang kini tampak pasrah.


"Nicholas?" Anna bertanya memastikan.


"Ya," Elano menjawab pendek.


"Kenapa mengincar kami?" Antonio bertanya lagi.

__ADS_1


"Kami hanya diperintah untuk mencari dua orang staf Nicholas yang meninggalkan ruang pertemuan, namun kami menemukan mereka sudah tewas di dekat toilet. Sehingga kami memutuskan untuk menyelidiki pembunuhnya," Elano menjawab dengan jelas.


"Dimana ruang pertemuan Nicholas?" Anna bertanya.


Elano lalu memberitahukannya dengan jelas, bahkan semua pesertanya pun ia beritahukan kepada Anna dan Antonio.


Mereka berdua pun terlihat mengangguk tanda paham.


"Sekarang aku punya pertanyaan spesial untukmu," Antonio berkata sambil menatap dingin.


"Dimana markasmu? Markas Black Shadow, dan dimana lokasi keberadaan Pablo Martinez?" Tanya Antonio perlahan.


Sontak saja pertanyaan itu membuat Anna terkejut, ia tidak menyangka jika Antonio akan menanyakan hal ini, namun ia juga mengakui jika ini saat yang tepat untuk mengetahui keberadaan Pablo.


Begitu pula dengan Elano, matanya terbelalak seolah akan meloncat keluar. Jantung berdetak dengan cepat, ia tidak menyangka jika ia akan membongkar rahasia organisasi kepada musuhnya.


Elano berusaha menggigit lidahnya sendiri, namun tidak berhasil. Lidah dan mulutnya seolah bergerak sendiri menjelaskan semua jawaban dari Antonio secara gamblang.


Antonio hanya mendengarkan dengan seksama dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Elano. Sedangkan Anna menutup mulutnya seolah tidak percaya jika semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya kini menemukan jawaban.


"Hmm, baiklah aku mengerti," ucap Antonio sambil mengangguk.


"Apa rencana Black Shadow selanjutnya?" tanyanya lagi.


"Aku tak mengetahuinya," jawab Elano.


Antonio menatapnya tajam, seolah tidak mempercayai ucapan Elano.


"Benar, aku tak mengetahuinya. Aku dan Fabio hanya menuruti perintah dan diberi misi sesuai intruksi," Elano menambahkan seolah mengetahui maksud tatapan Antonio.


"Kau ada pertanyaan? Tanyakan saja!" ucap Antonio pada Anna.


Anna hanya menggelengkan kepala sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.


"Terimakasih atas informasinya," ucap Antonio dingin.


Perlahan ia mencabut pedang dari punggungnya. Sementara Elano menatapnya dengan iba, tatapan penuh permohonan yang tidak akan pernah terpenuhi.


Srek!


Ia lalu menebas leher Elano dengan cepat, membuat tubuh yang terlilit selotip itu menjadi tidak berkepala lagi.


"Kita mendapat banyak informasi hari ini," ujar Antonio sambil mengibas-ngibaskan pedangnya.


Setelah memastikan tidak ada darah yang menempel, ia lalu menyarungkannya kembali.


Sementara Anna hanya menepuk jidat melihat tingkah Antonio yang terkesan kejam dan brutal. Ia tidak menyangka jika pemuncak rank 1 tipe eksekusi memiliki kekejaman seperti tidak memiliki perasaan.


"Ayo kita selesaikan misi sekarang!" ucap Antonio sambil berjalan ke arah pintu.


Anna hanya mengangkat bahu, tak bisa berkata apa-apa saat melihat kekejaman Antonio. Walau sebenarnya ia pun sama kejam seperti pria itu, namun ia lebih menyukai jiks melakukannya secara halus dan perlahan.


***

__ADS_1


Sesampainya di depan dua buah pintu yang yang berpasangan dan berukuran besar, Antonio menghentikan langkahnya.


"Sepertinya itu ruangan yang dimaksud," ujar Antonio pelan.


Anna hanya menggangguk mengiyakan.


"Aku ada ide," ujarnya.


"Kau menjauhlah dahulu!" ujarnya sambil memberi isyarat pada Antonio.


Antonio menurut saja, ia mundur agak jauh di belakang Anna.


Kemudian Anna mengeluarkan sebuah alat berbentuk seperti lipstick dari tas kecil yang menempel dipinggangnya. Setelah menekan alat itu ia lalu menendang pintu hingga terbuka dan melemparkannya ke dalam ruangan pertemuan Nicholas.


Seketika ruangan itu dipenuhi asap, Anna lalu menutup pintu itu dan mengganjal gagangnya dengan pedang.


Tak lama kemudian terdengar kericuhan dan teriakan dari dalam ruangan pertemuan nicholas. Antonio berjalan perlahan menghampiri Anna.


"Kau yakin akan berhasil hanya dengan gas air mata?" Tanya Antonio.


Anna lalu menatapnya tajam.


"Hati-hati! Jangan sampai asapnya terhisap!" Anna menjawab dengan peringatan.


"Hanya gas air mata tidak akan berpengaruh padaku," Antonio berkata angkuh.


"Cepat pakai masker ini! Gas itu racun, bukan gas air mata," Anna berkata sambil menyerahkan sebuah masker yang ia ambil dari dalam tas pinggangnya.


Antonio terkejut saat mengetahui dugaannya salah. Tanpa banyak bicara ia lalu memakai masker pelindung dan memperhatikan pintu yang sedang berusaha untuk didobrak.


Pintu itu tidak bergerak sama sekali, melainkan hanya bergetar-getar saja. Pintu yang di-design terbuka ke dalam sangat sulit untuk didobrak keluar.


Perlahan-lahan teriakan dan getaran di pintu mulai melemah, hingga akhirnya ruangan itu menjadi sunyi dan sepi.


"Haruskah kita memeriksanya?" Tanya Antonio.


"Sebentar lagi, aku akan menghisap semua asap itu ke dalam alatku," jawab Anna sambil membawa alat kecil seperti senter.


Kemudian ia melepaskan sebilah pedang miliknya yang digunakan untuk mengganjal pintu. Lalu menyelipkan alat itu ke sela-sela pintu dan menghisap semua asapnya.


Antonio terlihat kagum dengan peralatan canggih yang dimiliki oleh Anna, selama ini ia tidak memiliki alat-alat seperti itu. Ia hanya meminta peralatan yang sesuai dengan dirinya saat akan diberi suplai oleh asosiasi. Berbeda dengan Anna yang mendatangi langsung markas asosiasi, sehingga bisa memilih alat sesuka hatinya.


Setelah memastikan asap racunnya terhisap habis, Anna lalu membuka pintu lebar-lebar dan menyimpan kembali alatnya. Sementara, sebilah pedangnya masih ia pegang untuk berjaga.


"Ayo!" ujar Anna pada Antonio.


Mereka lalu memasuki ruang pertemuan, terlihat semua anggota pertemuan tergeletak tak bernyawa di lantai. Termasuk Nicholas sang target, ia sudah terbujur kaku dibawah layar yang masih menyala menampilkan grafik perusahaannya.


Melihat hal itu, Antonio dan Anna langsung pergi bersama untuk meninggalkan gedung.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!


__ADS_2