
Lelaki bertubuh gempal itu bernama Bob, ia adalah seorang pembisnis yang merupakan pesaing klien Black Shadow.
"Cepat buka pintu itu!" bentak Takagawa.
Pintu besi itu adalah pintu sebuah brankas, tempat Bob menyimpan surat-surat berharga dan berkas-berkas penting milik perusahaannya.
Karena merasa sangat ketakutan, Bob pun berusaha bangkit secara perlahan. Walaupun tubuhnya masih terasa sakit setelah baru saja menerima tendangan yang cukup telak di punggungnya.
Perlahan-lahan ia berjalan ke arah pintu besi, kemudian menekan angka-angka pada tombol yang berada di samping pintu.
Tak berapa lama pintu pun terbuka, terlihat sebuah ruangan seukuran kamar tidur yang hanya berisi sebuah kotak. Kotak berbentuk kubus dan berwarna hitam itu terlihat berada di sudut ruangan.
Takagawa kemudian masuk perlahan sembari melihat dan mengamati bagian dalam ruangan itu, sementara Marcello hanya menunggu di luar seolah tidak tertarik untuk mengikuti rekannya.
Tidak ada hal yang unik di dalam ruangan itu, hanya saja Takagawa tetap waspada. Ia tetap bersiaga jika ada jebakan yang sengaja dipasang oleh Bob.
Dor!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang mengagetkan Takagawa, suara yang berasal dari luar ruangan. Namun ia tak menghiraukannya, lantas membuka kotak hitam yang diduga berisi apa yang ia butuhkan.
Di luar ruang brankas, Bob terlihat berjongkok sambil meringis kesakitan.
"Kau mencoba untuk kabur dari kami?" ucap Marcello santai seraya berjalan menghampiri Bob yang sedang meraung kesakitan.
Bob memang berniat untuk melarikan diri saat melihat perhatian dua pria bertopeng itu teralihkan oleh isi brankasnya. Namun ternyata dugaannya salah, Marcello masih tetap fokus dan berhasil menembak kaki kirinya.
"Ampun Tuan," rengeknya sambil memegangi kaki kirinya yang tertembus peluru.
Marcello tak menjawab, ia hanya berjalan mendekat ke arah Bob dengan santai.
"Hey!" teriak Takagawa.
"Tinggalkan saja dia! Kita sudah menemukan apa yang kita cari," tambahnya seraya berdiri di dekat pintu.
Marcello hanya menoleh sejenak ke arah Takagawa, seolah tak peduli dengan ucapan rekannya.
Bruak!
Marcello mendaratkan tendangan tepat ke bagian bawah dagu Bob. Sontak saja lelaki itu menjadi terjungkal dan meraung kesakitan.
"Ampun Tuan," rengek Bob yang berusaha meminta belas kasihan pada Marcello. Namun Marcello tak mau menjawab, ia lantas mendekat dan berjongkok di dekat kepala Bob. Dengan perasaan geram, ia kemudian menempelkan ujung pistol tepat di kepala lelaki gempal itu.
Bob yang masih merasa kesakitan hanya bisa memejamkan mata, ia hanya pasrah menerima nasib yang akan menimpanya. Ia juga tak menyangka jika hari ini menjadi hari terakhirnya melihat dunia.
__ADS_1
Sementara itu Takagawa telah berhasil membawa keluar kotak dari dalam brankas milik Bob, kemudian membawanya keluar ruangan.
"Hey! Apa yang harus kita lakukan padanya?" tanya Marcello pada Takagawa yang terlihat sedang berjalan keluar seraya membawa kotak.
"Habisi saja! Jangan tinggalkan saksi!" jawab Takagawa datar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Marcello.
Dor!
Tanpa basa-basi satu tembakan Marcello berhasil menembus tengkorak Bob, membuat lelaki gempal itu meregang nyawa seketika, tanpa pekikan atau teriakan. Darah segar berwarna merah mengalir deras membasahi lantai, layaknya sebuah bendungan yang baru saja dijebol.
Setelah membersihkan pistolnya yang terkena percikan darah, Marcello kemudian bangkit dan berjalan mengikuti Takagawa. Ia berjalan dengan cepat mengejar Takagawa yang terlebih dahulu sampai di luar rumah.
Lalu mereka berdua menaiki mobilnya dan melaju dengan cepat untuk segera meninggalkan rumah milik Bob dan kembali ke markas.
Beberapa saat kemudian...
Pablo terlihat sedang duduk santai di halaman belakang markas Black Shadow, memandang rembulan sambil menikmati kepulan asap tembakau.
Tiba-tiba datang seorang pria yang merupakan anak buahnya berjalan mendekat.
"Lapor bos!" ucap pria itu pada Pablo seraya menundukan badan memberi hormat.
Pablo menoleh sejenak ke arah pria itu, kemudian menghisap kembali rokoknya.
"Mereka telah kembali," jawab pria itu dengan tergesa-gesa.
"Siapa?" Pablo bertanya lagi seolah tidak peduli dan menganggap laporan anak buahnya itu tidak terlalu penting.
"Takagawa-san dan Marcello," jawab pria itu singkat.
Pablo yang mendengar laporan itu tampak tersenyum kecil.
"Baiklah, aku akan ke sana," jawab Pablo singkat.
Pria yang melapor itu pun hanya mengangguk kecil, kemudian pergi meninggalkan Pablo yang masih menatap langit malam yang saat itu dipenuhi taburan bintang.
Setelah membuang sisa rokoknya, ia lalu bergegas menuju ruangannya untuk menemui anak buahnya yang baru saja selesai menjalankan misi.
Bagi Pablo, kedua orang itu sangat penting saat ini. Selain telah menjadi tangan kanannya, Takagawa dan Marcello juga bisa bekerja sama dengan baik dan tidak pernah membantah. Apa pun yang ia perintahkan pada mereka, selalu saja dituruti dan dilaksanakan dengan baik.
Tak berapa lama ia pun telah sampai di ruang kerjanya. Terlihat Takagawa dan Marcello telah duduk berdampingan menanti kehadiran dirinya.
Saat melihat kedatangan Pablo, kedua orang itu langsung berdiri dan memberi hormat.
__ADS_1
"Selamat malam bos!" sapa Marcello seraya menganggukan badan diikuti oleh Takagawa.
Pablo hanya tersenyum membalas sapaan anak buahnya itu, kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Bagaimana misi kalian hari ini?" tanya Pablo membuka percakapan.
Marcello lantas mengambil kotak yang sedari tadi ia simpan di bawah tempat duduknya.
"Silahkan bos!" ucapnya seraya meletakan kotak itu ke atas meja yang berada di hadapan Pablo.
Pablo lantas membuka dan mengecek isinya.
"Hmm," ia bergumam pelan saat melihat tumpukan kertas di dalam kotak itu.
"Aku tak mengetahui secara pasti tentang berkas yang dimaksud, namun biar ku simpan terlebih dahulu sampai klien kita datang mengambilnya," ujarnya menjelaskan.
Takagawa dan Marcello hanya mengangguk tanda paham.
"Kalian beristirahatlah, semoga besok mereka datang untuk memastikan pesanannya," ucap Pablo memerintah.
Kedua anak buahnya itu lantas berpamitan seraya membungkukan badan, kemudian keluar ruangan meninggalkan Pablo yang masih memeriksa isi kotak.
"Berkas-berkas ini terlihat penting," gumamnya saat membaca satu persatu lembaran kertas yang ia keluarkan dari dalam kotak.
"Semoga saja ini yang mereka maksud, aku tak ingin membuang-buang waktu dengan misi sepele seperti ini," gumamnya lagi.
Setelah itu ia membereskan kembali semua berkas dan memasukannya kembali ke dalam kotak.
Setelah memastikan semuanya aman, ia lantas keluar dari ruangannya. Pikirannya mulai tenang saat misi kedua yang ia berikan pada Takagawa membuahkan hasil yang positif.
"Lain kali aku akan berbicara pada Kenjiro untuk mengangkat Takagawa menjadi bagian dari Black Shadow," ujarnya pelan sambil tersenyum menyeringai.
Sejak awal Pablo memang berniat membujuk anggota Yakuza itu untuk menjadi bagian dari organisasinya. Namun, ia tak bisa melakukannya bergitu saja tanpa ada kesepakatan dengan Kenjiro. Walaupun mereka mantan rekan satu tim, tapi tetap saja bukan perkara mudah untuk memboyong orang terbaik di Yakuza menjadi tangan kanannya.
Apakah Pablo bisa menemukan pengganti duo andalan sebelumnya yang tewas secara mengenaskan oleh Antonio? Atau selamanya dia hanya berharap dalam angan?
Silahkan jawab di kolom komentar!
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
__ADS_1