
Hari ini Pedro berniat untuk kembali ke tempat tinggalnya setelah menginap semalam di rumah Rosalinda. Ia sengaja menginap demi menjadi penengah diantara panasnya persaingan antara Anna dan Rosalinda yang sama-sama mencuri perhatian Antonio.
"Ayo kita pulang!" ajak Pedro pada Anna yang terlihat sedang duduk di kursi tamu dan mengotak-atik ponselnya.
"Tidak! Aku disini saja," jawab Anna singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Pedro.
Pedro hanya menghela napas panjang, ia tak bisa membayangkan seperti apa suasana di rumah Rosalinda tanpa kehadirannya.
"Ya sudah," ucap Pedro pendek seraya bergegas ke ruangan tempat Antonio.
Ia lalu menghampiri Antonio yang terlihat masih terduduk di atas tempat tidurnya. Peralatan medis yang menempel di tubuhnya hanya tersisa infusan saja, sementara peralatan yang lain sudah dilepaskan, hal itu dikarenakan kondisi Antonio yang sudah membaik.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah siap untuk pulang?" tanya Pedro.
"Kondisiku sudah jauh lebih baik berkat formula yang ku telan tadi malam," jawab Antonio.
"Namun aku harus tetap mengikuti prosedur medis, keputusan ada di tangan Rose. Jika dia mengijinkan, maka aku akan pulang," tambahnya.
Pedro hanya mengangguk kecil, merasa paham dengan ucapan Antonio.
"Jadi kau sudah menelan formula itu? Apa ia mengetahuinya?" tanya Pedro menyelidik.
"Tidak, aku menelan pil itu saat semua orang tertidur. Mungkin kau juga tak mengetahuinya," jawab Antonio.
"Baguslah, tapi ingat, Rosalinda adalah tenaga medis. Bila ia mengetahui tentang formula itu, urusan kita menjadi tambah rumit," ujar Pedro mengingatkan.
"Tenanglah, aku tak sebodoh itu," balas Antonio seraya tersenyum kecil.
"Hahaha, aku percaya padamu," Pedro tertawa dan mengiyakan ucapan rekannya.
"Hari ini aku akan kembali ke cafe, semoga lekas sembuh. Akan kuhubungi jika ada kabar dari asosiasi," tambahnya.
"Bagaimana bisa? Ponselku tertinggal di rumah," Antonio berkata dengan nada sedikit kecewa.
Mendengar hal itu, Pedro lantas mengeluarkan sebuah ponsel dari balik jaketnya.
"Gunakan ponselku dulu, kembalikan saat kau pulang!" ucapnya seraya menyerahkan ponsel itu pada Antonio.
Antonio tampak terkejut saat menerima ponsel pinjaman Pedro, ia tak menyangka jika Pedro mau meminjamkan ponsel miliknya. Selama ini Pedro sangat pelit jika harus meminjamkan barang yang bersifat pribadi seperti ponsel.
__ADS_1
"Tak apa-apa, ponsel itu sudah lama tak ku gunakan," ujar Pedro seolah mengetahui isi pikiran Antonio.
"Terimakasih," balas Antonio singkat.
Setelah itu, Pedro lantas keluar ruangan dan berjalan menuju ke tempat Anna.
"Rosalinda belum pulang?" tanya Pedro.
Anna yang sedang fokus bermain game di ponselnya tampak terkejut saat mendengar suara Pedro yang tiba-tiba.
"Hmm, kau mengagetkanku saja!" dengusnya kesal dan menatap tajam Pedro.
Pedro hanya mengerutkan dahi saat melihat raut wajah Anna yang tampak sedang kesal.
"Belum, sepertinya ia belum pulang," jawan Anna singkat, kemudian perhatiannya kembali pada layar ponselnya.
"Sampaikan padanya bahwa aku pulang hari ini, maaf jika aku tak bisa menunggunya. Hari sudah semakin siang, aku khawatir Ferguso belum bangun," ucap Pedro pada Anna.
Anna lalu menoleh sejenak ke arah pedro, kemudian menghela napas pendek.
"Iya, nanti akan kusampaikan padanya," balasnya datar, kemudian fokus lagi ke layar ponselnya.
Sedangkan Pedro, selain khawatir pada Ferguso, ia juga harus membuka cafe miliknya. Maka sangat wajar bila ia tak bisa menunggu kedatangan Rosalinda terlalu lama.
Matahari kian memancarkan sinarnya, Pedro perlahan melajukan mobilnya menuju Acquolina Cafè dan meninggalkan kawasan perkampungan.
Sepeninggal Pedro, Anna lantas tersenyum girang dan menuju ke ruangan Antonio.
"Halo sayang!" ucapnya seraya mendekat ke arah pria itu.
Antonio yang sedang duduk bersandar dan membetulkan posisi selang infusan hanya menoleh sejenak, kemudian melanjutkan kembali membenarkan selang infusan yang berbelit dan menggulung tangan kanannya.
Rosalinda memang sering memindahkan letak infusan yang berada di tubuh Antonio, kadang di tangan kiri atau di tangan kanan. Bahkan saat pertama kali, wanita itu memasang tiga infusan sekaligus yang berisi cairan dan darah.
"Sayang, mengapa diam saja?" tanya Anna sambil memegang pipi Antonio dan menatap matanya.
"Aku sedang fokus, selang ini membelit tanganku. Lihat! Ada sedikit darah yang keluar," jawab Antonio sambil melepaskan wajahnya dari telapak tangan Anna.
Wanita itu menjadi sedikit geram, kemudian ia menarik leher belakang Antonio dan menempelkan bibirnya pada bibir pria itu.
__ADS_1
"Hmmmmmpp," gumam Antonio yang merasa terkejut dengan sikap Anna.
Lidah Anna yang bermain-main di dalam rongga mulutnya kini semakin agresif, membuat dirinya semakin kelabakan untuk mengimbangi liukan daging yang tak bertulang itu.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Anna dengan tatapan sendu dan napas yang memburu.
Kemudian wanita itu duduk di pangkuan Antonio dengan posisi saling berhadapan. Kedua bibirnya tak henti menciumi wajah dan leher Antonio, sementara Antonio hanya diam seraya memejamkan mata merasakan kegelian yang terus menerus menyerangnya.
Tangan Anna perlahan meraih tangan Antonio dan menempelkannya pada tonjolan bukit yang berada di dadanya. Kemudian ia menggeliat dengan gerakan yang sangat erotis, dihiasi oleh desahan dan erangan pelan.
Antonio yang mengikuti naluri, langsung saja meremas lembut dan pelan permukaan Gunung Bromo yang masih diselimuti kain. Merasa kurang puas, ia lalu menyelusupkan kedua tangannya ke balik pakaian Anna dan mengangkat baju itu ke atas hingga menampilkan pemandangan yang bisa membangkitkan gairah.
"Mmmppsss... aahh..." desah Anna perlahan.
"Aww.." pekiknya saat merasakan mulut Antonio telah mencaplok puncak Gunung Everest yang berselimut coklat miliknya.
"Hmmm..." Antonio mengerang tertahan saat kejantanannya tergesek oleh bagian vital dari Anna.
Perlahan-lahan si Junior-nya pun menggeliat seolah baru saja terbangun dari tidur panjang, membuat gairahnya semakin memuncak dan napasnya semakin memburu.
Antonio tak mempedulikan keadaan sekitar, yang ia tahu hanyalah agar hasrat ini segera tersalurkan. Ia menikmati kelembutan dan kekenyalan permukaan gunung kembar yang kini menempel di wajahnya.
Anna pun demikian, wanita itu semakin intens dalam bergoyang. Meskipun ia masih menggunakan celana, tapi tonjolan di antara kaki Antonio terasa semakin mendesak ke arah bagian tubuhnya yang paling sensitif.
Saat suasana semakin memanas, tiba-tiba terdengar deru motor dari depan rumah.
"Rosalinda!" pekik Anna terkaget seraya melepaskan pelukannya pada Antonio.
Antonio pun ikut terkejut dan langsung menghentikan acara pendakiannya.
"Gawat! Cepat rapikan pakaian!" ucapnya pada Anna dengan nada tegas.
Anna tak menjawab, ia lantas turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya yang sedari tadi diacak-acak Antonio. Tak sulit bagi orang terlatih seperti mereka untuk mengendalikan situasi yang semula panik menjadi aman dan terkendali.
Tak berapa lama terdengar langkah kaki berjalan ke arah mereka.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
__ADS_1
Bantu Vote juga ya agar Author semakin bersemangat!!!