
Efek dari formula yang disuntikan oleh Antonio bereaksi dengan cepat, perlahan-lahan Anna mulai mendapatkan kesadarannya. Sayup-sayup ia mendengar suara orang sedang berbicara, kemudian ia mencoba menggerakan tangannya.
"*Anna!"
Terdengar suara yang cukup ia kenali sedang memanggil namanya.
"Anna!"
Terdengar kembali di telinganya suara seseorang memanggil-manggil namanya, suara seorang pria yang bisa membangkitkan semangatnya.
"Antonio!"
Ucapnya dalam hati saat mendengar suara pria yang berkali-kali memanggil namanya.
Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya, pandangannya masih agak blur dan kepalanya terasa pening. Namun setelah beberapa kali ia mengedipkan mata, tampaklah dua pria di hadapannya.
"Kau sudah sadar Anna," ucap Antonio seraya tersenyum ke arah Anna. Senyum yang bisa menyejukan suasana hati wanita itu.
"Dimana aku?" Anna bertanya perlahan sambil sesekali memegang kepalanya yang masih terasa pening.
"Tenanglah, kau ada klinik," jawab Antonio tetap tersenyum.
"Hmm," Anna bergumam dan tersenyum, membalas senyuman pria yang kini menatapnya. Lalu tersenyum ke arah Pedro yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Berapa lama aku disini?" Tanyanya.
"Dua hari sejak peristiwa itu," Antonio menjawab.
"Baiklah, aku akan memberitahu petugas disini," sahut Pedro seraya berdiri dan melangkah ke arah pintu.
"Oiya, jangan diganggu dulu. Biarkan dia beristirahat," ucapnya dan dibalas tatapan tajam Antonio.
Pedro hanya tersenyum dan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana kondisimu saat ini?" Antonio bertanya pada Anna.
"Lumayan, luka di punggungku sudah tidak terasa. Hanya saja kepalaku sedikit pening," Anna menjawab sambil memegang kepalanya.
"Beristirahatlah dulu,"
Antonio memegang dahi Anna. Wanita itu terkejut saat pria itu menyentuhnya secara mendadak.
"Suhu tubuhmu masih panas, jangan banyak bergerak! Nanti ku ambilkan makanan,"
Antonio tersenyum serasa mengerti kekagetan Anna.
"Terimakasih, maaf merepotanmu," balas Anna lirih.
"Tak perlu sungkan, ini hanya demi kesembuhanmu,"
Anna lagi-lagi merasa heran dengan sikap Antonio yang terkesan berbeda dari yang ia kenal. Ia merasa pria itu sedikit lebih hangat.
Tak lama berselang Pedro datang bersama seorang dokter dan seorang perawat.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" Dokter bertanya pada Anna.
"Sepertinya lebih baik, hanya saja kepalaku masih pening," Anna menjawab.
Dokter itu lalu memeriksa kondisi Anna dan melepaskan peralatan yang tidak dibutuhkan lagi.
"Semua terlihat baik, mungkin peningmu tak lama akan hilang. Seperti saat bangun tidur, kita terkadang akan merasa pusing tapi seiring berjalannya waktu pusing itu akan hilang," dokter menjelaskan.
Anna mengangguk saja mendengar ucapan dokter.
__ADS_1
"Tolong bawakan makanan untuk Mrs. Anna, sepertinya butuh yang bergizi tinggi untuk memulihkan stamina."
Dokter itu berkata kepada perawatnya dan hanya dibalas dengan anggukan, kemudian perawat itu pergi keluar ruangan. Sementara itu sang dokter lalu menyuntikan sesuatu ke dalam botol infus Annan
"Kapan saya bisa pulang dok?" Tanya Anna.
"Kau sudah ingin pulang?" tanya Antonio yang berada di sampingnya sambil menatap heran.
"Sabarlah dulu, kau belum pulih sepenuhnya," tambahnya.
Pedro hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, ia tak menyangka jika seorang Antonio akan luluh oleh wanita seperti Anna.
"Hmm," Anna mendelik sambil memonyongkan bibirnya.
"Melihat kondisimu sekarang ini, mungkin besok bisa pulang. Hanya saja perlu istirahat beberapa hari sebelum menjalankan misi," sahut dokter memberi saran sembari memasukan suntikan ke dalam jasnya.
Tak lama kemudian seorang perawat muncul membawa food tray yang berisi makanan dan segelas susu untuk Anna.
"Silahkan!" ujar perawat itu sambil meletakan food tray di meja dekat pembaringan.
"Baiklah selamat beristirahat, beritahu kami jika ada sesuatu yang berkaitan dengan kondisi Mrs. Anna," ucap Dokter berpamitan.
"Terimakasih dok," Pedro menjawab, begitupun dengan Antonio dan Anna.
Dokter dan perawat itu lalu kembali ke ruangannya meninggalkan mereka bertiga.
"Ehem," Pedro berdehem saat melihat Antonio mengambil food tray dari atas meja.
"Aku tahu, ini untuknya," sahut Antonio bersungut.
"Hahaha, kau tampak aneh dan lucu," Pedro tertawa mengejek.
"Sudahlah aku pulang dulu, kabari aku jika ada apa-apa," pamitnya seraya berjalan ke keluar.
Sepeninggal Pedro, di dalam ruangan itu hanya ada Anna dan Antonio. Mereka berdua terlihat canggung pada satu sama lain.
"Makanlah!" ucap Antonio pelan seraya memberikan food tray pada Anna.
Wanita itu hanya mendelik tak menjawab, lalu melihat tangan kanannya yang terpasang selang infus.
"Hmm, baiklah," ucap Antonio mengerti.
Ia lalu menyimpan food tray nya berjalan menghampiri Anna.
"Ayo aku bantu untuk duduk," ucap nya sambil mengangkat tubuh Anna.
"Awww," pekik Anna kaget.
Ia terkejut karna Antonio tiba-tiba mengangkatnya.
"Pelan-pelan, sakit," Anna meringis kesakitan.
"Iya, aku pelan-pelan," jawab Antonio.
Dan akhirnya Anna pun berhasil duduk sambil bersandar pada bantal di punggungnya.
Lalu Antonio mengambil food tray dan duduk di samping Anna.
"Nih, makanlah!" ia menyerahkan food tray itu pada Anna.
"Hmm," Anna hanya mendelik sambil menghela nafas.
"Agar kau lekas sembuh, aku ingin melihatmu sehat kembali. Makanlah!" Antonio meletakan food tray itu ke pangkuan Anna.
__ADS_1
"Aww..!!" Wanita itu terpekik kaget.
Antonio dengan cepat meraih food tray dari pangkuan Anna.
"Kenapa?" tanyanya.
"Panas!!" Jawab Anna ketus seraya mengusap paha yang terbungkus selimut.
"Oops.. Sorry! Ya udah aku suapi saja," ujar Antonio datar.
Perkataan lelaki itu membuat jantung Anna semakin berdebar, hatinya terasa berbunga-bunga. Namun ia tetap bersikap tenang dan tersenyum manis.
Antonio lalu menyuapi Anna perlahan dan hati-hati. Walau ia sendiri merasa lapar karena beberapa hari ini nafsu makannya sedang buruk karna mengkhawatirkan Anna, tapi ia mampu manahannya.
"Habiskan, kau butuh banyak makanan untuk mengisi kembali tenagamu," ucap Antonio datar.
"Lidahku masih terasa pahit, maukah kau mengambilkanku segelas air minum?" Anna berkata dengan nada manja.
"Hmm," hanya itu jawaban Antonio sambil berjalan menuruti keinginannya.
"Minumlah!" Antonio memberikan segelas susu tadi pada Anna.
"Tanganku masih kaku untuk digerakan," Anna berkata dengan tatapan sendu pada Antonio.
Tanpa banyak bicara pria itu langsung menempelkan gelasnya ke bibir Anna, dan wanita itu pun meminumnya perlahan.
"Thanks," jawab Anna singkat.
"Ayo lanjut makan lagi!" Ucap Antonio tegas.
"Hmm," Anna bersungut.
"Kenapa?" Tanya Antonio heran.
"Bubur itu asin, aku tak mau," Anna menjawab dengan nada manja.
"Kau baru saja siuman, makananmu harus yang halus. Sudahlah makan saja," ucap Antonio sambil menyuapi Anna.
Anna menurut saja, ia tak mau membantah pria di hadapannya. Karena ia tahu betul siapa Antonio. Sementara Antonio merasa senang dan bahagia melihat Anna telah pulih dan kini sedang menatapnya penuh senyuman.
"Oiya, aku belum berterima kasih padamu," Antonio berkata lembut.
"Hmm," Anna bergumam seraya menatap sayu pria itu.
"Terimakasih telah menolongku waktu itu," ujar Antonio pelan dan lirih dengan tatapan sendu ke arah Anna.
"Namun aku ingin tahu kenapa kau menolongku? Padahal aku yakin kau bisa membalas tembakan pria itu," tanyanya.
Deg!
Jantung Anna terasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan pria di depannya. Ia tak tahu harus menjawab apa, antara perasaan dan kenyataan.
***
Mohon maaf bila Author up dengan waktu tidak tentu. Kadang pagi, siang, sore, atau malam. Semua karena kesibukan Author di Real Life.
Yang penting Author akan berusaha update tiap hari walau hanya satu bab, lain waktu akan ada masanya jika harus crazy up.
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!
Terimakasih
__ADS_1