Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Target Polisi


__ADS_3

Di dalam ruang penyimpanan senjata, Anna terlihat sedang memilih jenis-jenis senjata yang cocok untuk mereka gunakan dalam misi selanjutnya. Sementara Antonio sedang sibuk merakit sebuah pistol yang tergeletak pada sebuah meja di hadapannya.


"Ternyata ayahmu menyimpan basoka," ucap Anna saat melihat sebuah basoka yang tersimpan rapi di sudut ruangan.


Antonio hanya melirik sesaat ke arah basoka itu.


"Entahlah, aku rasa dia pernah menggunakannya. Atau hanya sebagai hiasan ruangan," ujar Antonio santai.


"Wow, kau punya double stick," Anna berkata senang saat melihat senjata itu, kemudian mengambil dan memainkannya dengan gerakan-gerakan indah.


"Ambil saja, aku tak terlalu suka," kata Antonio datar.


Anna menghentikan pertunjukannya kemudian mengerutkan dahi, seolah tidak percaya dengan ucapan Antonio.


"Benarkah? Kau sungguh akan memberikan ini padaku?" Tanyanya penuh antusias.


"Iya," jawab Antonio singkat tanpa menoleh ke arah Anna, pandangannya terlalu fokus pada rakitan pistol kesayangannya yang baru saja dibersihkan.


Anna pun melompat kegirangan, kemudian memeluk Antonio dengan erat sebagai tanda terimakasih.


"Hmm, terimakasih sayang," ujarnya.


Antonio hanya menghela napas panjang saat melihat rakitan pistolnya kembali acak-acakan.


"Iya, sudahlah. Kau merusak apa yang sedang aku kerjakan," ucapnya seraya berusaha melepaskan pelukan Anna.


"Oops! Maaf," ujar Anna seraya tersenyum menggoda.


Melihat hal itu Antonio hanya mendengus kesal, ia terpaksa harus mengulang lagi dari awal.


"Baiklah, ini aku ambil!" Anna berkata datar seraya bergegas keluar ruangan membawa double stick pemberian Antonio.


Melihat sikap Anna yang seperti itu, Antonio hanya menggelengkan kepala. Kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.


Saat sedang mencari komponen pistol yang terjatuh, ia tak sengaja menemukan sebuah kotak kecil di kolong meja. Letak kotak itu berdampingan dengan komponen pistol yang sedang ia cari hingga ia memutuskan untuk meraihnya juga.


"Apa ini?" gumamnya seraya mengambil kotak kecil itu.


Setelah berada dalam genggamannya, ia lantas membuka kotak itu di atas meja.


"Peluru?" ujarnya pelan.


Di dalam kotak itu terdapat 12 butir peluru, namun peluru tersebut seperti tidak terbuat dari logam seperti peluru biasanya.


"Peluru apa ini?" ucapnya seraya mengamati salah satu peluru yang sedang ia pegang.


Bentuk peluru itu sama seperti bentuk peluru pistol kesayangannya, hanya saja berwarna bening seperti kristal atau kaca.

__ADS_1


"Aku yakin pasti ada sebuah petunjuk di dalam kotak ini," gumamnya pelan.


Kemudian ia mengeluarkan semua pelurunya dan mencungkil bagian dalam kotak.


"Sudah kuduga," gumamnya seraya tersenyum kecil.


Dibalik alas bagian dalam kotak, terselip sebuah kertas kecil seperti catatan yang ditulis tangan oleh penulisnya.


"Jadi peluru ini seperti bom? Ah, aku sudah memiliki cukup persediaan untuk peluru yang seperti ini," gumamnya sedikit kecewa.


Namun saat membalikan kertasnya, ia melihat tanda tangan dan nama ayahnya tertulis disana.


"Ciptaan ayah? Hmm... sepertinya aku harus mencari informasi di dalam berkas formulanya. Aku yakin semua tertulis disana," ia bergumam lagi.


Setelah itu ia memasukan semua peluru itu ke dalam kotak dan menyimpannya ke dalam saku celana. Kemudian melanjutkan perakitan pistol yang sempat tertunda.


Ia sebenarnya ingin segera mencari tahu tentang kegunaan peluru itu. Karena ia sangat yakin jika ciptaan ayahnya pasti memiliki keistimewaan tersendiri dibanding ciptaan asosiasi.


Namun sebelum melakukan itu, ia berniat ingin menyempurnakan penawar formula ciptaan ayahnya. Selain dapat menangkal formula hebat, ia ingin penawar itu bisa menjadi penawar racun dari segala jenis racun dan meningkatkan kekebalan tubuh.


"Sayang, ayo makan! Kau lama sekali," tiba-tiba suara Anna mengagetkannya.


Wanita itu kemudian memeluk punggung Antonio, merasakan aura kehangatan yang menyejukan hati.


"Sampai kapan aku akan menyelesaikan ini jika terus kau ganggu," jawab Antonio mencoba melepaskan pelukan Anna.


"Hmm," Antonio mendengus pelan, kemudian dengan cepat menyelesaikan perakitannya.


Setelah memastikan semuanya selesai, ia lalu menuruti kemauan Anna. Mereka berdua bergegas ke ruang makan untuk menikmati hidangan makan malam yang telah dipersiapkan Anna sebelumnya.


***


Sementara itu di Markas Kepolisian, tampak dua orang polisi sedang mengamati isi dari laptop peninggalan Sean di ruang kerja detektif.


Aparat kepolisian sedang melakukan penyelidikan terhadap kematian dua detektif dan anggota tim SWAT beserta komandannya yang tertimbun gedung bioskop.


"Jadi mereka itu akan menangkap orang ini?" Tanya salah satu polisi yang berkumis pada rekannya saat melihat poto Antonio di layar laptop.


"Ya, mereka mencoba menangkap anggota asosiasi," jawab rekannya.


"Hei Andi! Sejak kapan asosiasi menjadi incaran polisi? Mereka terlalu sulit untuk dibekuk," Anggota polisi yang berkumis itu bertanya seraya menatap tajam.


"Hmm," Andi hanya bergumam pelan seraya berpikir.


"Apa kau akan diam saja ketika mengetahui rekanmu tewas dibunuh, Tomi?" Tanyanya setengah menyelidik.


Tomi hanya menghela napas panjang.

__ADS_1


"Sudah ku duga, mereka semua dijebak karena mencoba berurusan dengan asosiasi," ujarnya pelan.


"Lebih tepatnya mereka terkena jebakan orang ini, karena terlalu terobesi untuk menangkapnya," Andi menguatkan pendapat Tomi.


"Ya, dan sekarang semua polisi memburunya, Antonio menjadi buronan. Aku ingin tahu apakah kali ini ia berhasil lolos dari kejaran seluruh polisi?" tambahnya seraya menyeringai.


"Aku yakin kali ini dia tidak akan lolos," Andi mengiyakan.


***


Antonio yang baru saja selesai makan malam kini terlihat sedang duduk di sofa seraya menikmati kepulan asap tembakau. Pikirannya menerawang, memikirkan tentang peluru ciptaan ayahnya yang baru saja ia temukan.


"Ah! Mungkin saja peluru biasa, sudahlah!" gumannya pelan seraya mengusap wajah.


Tiba-tiba Anna menghampiri dan memeluk lehernya dari belakang.


"Kenapa sayang?" bisik Anna lembut.


Kecupan-kecupan mesra ia berikan pada Antonio, mulai dari wajah hingga ke leher pria itu.


Antonio lalu berdiri dan membalikan badan ke arah Anna, kemudian dengan cepat mengangkat tubuh wanita itu dan menidurkannya ke atas sofa.


"Kau ingin bermain-main denganku sayang?" Antonio bertanya seraya menatap tajam Anna, tatapannya seperti harimau buas yang siap menerkam mangsanya.


Sedangkan Anna hanya tergolek pasrah memejamkan kedua bola matanya, saat perlahan lidah Antonio mulai menyentuh bagian-bagian wajahnya.


"Ssshhh... Ah," wanita itu mulai mendesah perlahan.


Desahan itu sontak membangkitkan gairah Antonio, gairah yang tak dapat ia tahan dan berharap sebuah penyaluran.


Semakin lama Antonio menjadi semakin buas, ia tak segan-segan merobek bagian depan kaos yang dipakai Anna hingga menampakkan isinya.


"Kau sangat cantik, sayang," ucap lirih Antonio.


Anna tak menjawab ia hanya menatap sayu menahan gejolak hasrat yang sedang menggebu dalam jiwa.


"Tempat ini terlalu sempit," ujar Antonio seraya menggendong tubuh Anna menuju pembaringan.


Selama menggendong dan berjalan, bibir Antonio tak henti mencucup-cucup puncak gunung bromo milik Anna. Terkadang lidahnya menjilat lereng gunung dan meniupkan angin segar berisi sejuta kerinduan.


Posisi Anna yang saat ini memeluk Antonio, semakin mengeratkan pelukannya. Berharap semua ini tidak cepat berakhir.


Sesampainya di dekat pembaringan, Antonio lalu menjatuhkan tubuh Anna dan langsung menindihnya. Permainan mereka menjadi begitu panas di malam itu, saat rudal balistik Antonio mulai meluncur dan menembak target sasaran.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE dan Komen ya!!!

__ADS_1


__ADS_2