
Anna dan Antonio yang telah sampai di puncak asmara, segera berbenah saat mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati ruangan mereka.
"Ada orang," bisik Antonio.
Anna hanya mengangguk seraya membenahi pakaiannya dengan cepat, tak lupa juga ia menggendong kembali sebilah pedang yang sejak tadi diletakan di atas kasur.
Pendengaran mereka yang cukup terlatih dapat mendengar jelas suara langkah kaki itu, walaupun sebenarnya masih berjarak cukup jauh.
"Pistol atau pedang?" tanya Anna meminta pertimbangan pada Antonio.
"Sepertinya pistol lebih efektif, incar bagian vital agar tidak terlalu banyak membuang amunisi," jawab Antonio.
"Oke," sahut Anna singkat.
Kemudian mereka mengokang senjata masing-masing, bersiap menyambut tamu tak diundang.
"Aku akan membuka pintu, kau yang mengeksekusi," ucap Antonio seraya menggenggam gagang pintu.
Anna hanya mengangguk tanda setuju, kemudian mengambil posisi siaga dengan tangan ke depan seraya memegang pistol dan mengarahkannya ke pintu.
Suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar, pertanda jarak mereka semakin dekat. Antonio kemudian memberi aba-aba, ia menghitung mundur seraya menggenggam erat gagang pintu.
3 ....
2 ....
1 ....
Ceklek! Sleb!
Terdengar desisan angin dari peluru yang melesat keluar dari pistol Anna sesaat setelah pintu di hadapannya dibuka oleh Antonio. Peluru yang melesat dari pistol yang berperedam itu berhasil menembus dada seorang pria yang mencoba masuk ke ruangan mereka, seketika tubuh pria itu jatuh tersungkur tak bernyawa dengan darah mengalir deras membasahi lantai.
"Wow ... luar biasa," puji Antonio sambil tersenyum ke arah Anna.
"Kaubisa menembak dengan tepat tanpa membidik terlebih dahulu," tambahnya.
"Ah ... kauterlalu berlebihan, aku tahu jika kaubisa melakukan yang lebih baik dari ini," sahut Anna mencoba merendah.
"Tidak, aku biasa saja, tidak ada yang istimewa," balas Antonio.
"Tidak ada orang yang mampu membidik dengan tepat di atas gerbong kereta yang berjalan cepat, selain dirimu," ucap Anna.
Mendengar ucapan Anna, Antonio hanya tersenyum kecil seraya memegang dagu wanita itu.
"Rupanya kaumengetahui hal itu, wanita nakal," ucapnya.
***
Di ruangan lain di markas Black Shadow, Takagawa tampak merasakan perasaan yang gelisah, ia tak dapat memejamkan mata hingga memutuskan untuk berjalan ke halaman belakang markas.
__ADS_1
Hari itu ia belum bertemu dengan Pablo, entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ada hal yang tidak beres di markas ini.
"Selamat Malam, Takagawa-san!" sapa Marcello saat melihat Takagawa berjalan menuju halaman belakang.
"Oh ... Marcello, rupanya kau. Mengapa tidak beristirahat?" tanya Takagawa pada Marcello.
"Aku sudah terbiasa berkeliling setiap malam, untuk memastikan semua aman dan tidak ada anggota lain yang masih beraktifitas," jawab Marcello.
"Kausendiri mengapa belum beristirahat?" Marcello balik bertanya dengan tatapan menyelidik.
Takagawa menghela napas sejenak.
"Entah mengapa perasaanku tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini seperti ada firasat yang tidak baik, hingga aku tak dapat tidur dan memutuskan untuk menunggu kantuk sambil bersantai di halaman belakang," jawab Takagawa.
Marcello hanya mengangguk perlahan, mencoba memahami ucapan Takagawa.
"Iya, aku mengerti," ujarnya perlahan.
"Kalau begitu ikutlah denganku, kita berkeliling!" Ia berkata mencoba mengajak Takagawa.
"Berkeliling?! Tak masalah, ayo!" balas Takagawa menyetujui ajakan rekannya.
Marcello pun tersenyum kecil, ia merasa senang malam ini ada yang mau menemaninya berpatroli, tidak seperti malam-malam sebelumnya yang hanya ia lakukan seorang diri.
Mereka berdua lantas berjalan menyusuri koridor yang dipenuhi pintu-pintu kamar. Markas itu seperti layaknya hotel, setiap pintu kamar diberi nomor agar setiap anggota mudah menemukan letak kamarnya.
"Sepertinya mereka sudah terlelap," sahut Takagawa saat mengetahui bahwa semua pintu telah terkunci dari dalam.
Kemudian mereka berdua berjalan memasuki koridor lain.
"Apa kau juga berpatroli ke wilayah kamar para wanita?" tanya Takagawa dengan nada sedikit menggoda.
Marcello lalu menatap tajam Takagawa dan menghentikan langkahnya, kemudian menggelengkan kepala tanda dengan raut wajah dipenuhi kekecewaan.
"Tidak, di bagian wanita ada lagi yang bertugas. Aku hanya berpatroli di wilayah pria," jawabnya lirih.
"Aku paham mengapa kaukecewa, hehehe," sahut Takagawa seraya tertawa menyeringai.
"Huh ...." ucap Marcello bersungut.
Melihat ekspresi rekannya seperti itu, sontak saja Takagawa tertawa kecil. Ia merasa senang karena berhasil mengerjai Marcello.
Walaupun markas Black Shadow terlihat seperti sebuah rumah besar, namun ketika berada di dalam, rumah itu seperti layaknya bangunan asrama. Asrama tempat beristirahat para anggota, yang terdiri dari dua zona, zona pria dan zona wanita.
Zona pria terdiri dari kamar-kamar pria dan tempat latihan yang khusus untuk pria, sedangkan zona wanita terdiri dari kamar-kamar pria dan tempat latihan khusus untuk wanita. Bedanya, zona wanita dilengkapi dengan dapur umum, tempat untuk memasak dan menyediakan makanan bagi seluruh penghuni markas.
Tempat tidur Pablo ada di lantai dua bersama dengan kamar-kamar para petinggi Black Shadow lainnya, termasuk kamar Marcello dan Takagawa. Begitu pun kamar yang baru saja dimasuki oleh Antonio, kamar kosong itu adalah bekas kamar milik Fabio.
"Bagaimana kalau kita cek lantai dua?" tanya Takagawa memberi saran.
__ADS_1
"Aku rasa lantai dua sudah aman, tidak mungkin petinggi yang lain masih beraktifitas saat ini," jawab Marcello menolak ajakan Takagawa.
"Hmm ... begitu ya?" ujar Takagawa.
"Mengapa tidak kita cek saja terlebih dahulu?" ia bertanya lagi seolah menggoyahkan pendirian Marcello.
Memang selama ini Marcello hanya berkeliling di lantai bawah, karena lantai bawah terkadang sering ribut dan berisik di jam istirahat hingga mengganggu para petinggi yang sedang beristirahat di lantai atas.
"Hmm ...." Marcello bergumam pelan seraya menghela napas pendek.
"Baiklah, kita periksa lantai atas berdua! Aku juga sekalian mengecek kamar Tuan Pablo," ucapnya mengiyakan ajakan Takagawa.
"Mr. Pablo?! Apakah beliau tak ada?!" tanya Takagawa dengan nada terkejut saat mendengar Marcello akan mengecek ruangan pribadi milik ketua organisasi Black Shadow itu.
"Ya, beliau pergi sejak kemarin, namun aku tak mengetahui ke mana perginya," jawab Marcello.
"Baiklah, ayo kita periksa, barangkali beliau sudah pulang," ajak Takagawa.
Marcello hanya mengangguk pelan, kemudian mereka berdua lantas menaiki anak tangga yang langsung menuju ke lantai dua markas Black Shadow.
Terlihat deretan pintu kamar yang tertutup, namun jarak diantara satu dengan lainnya cukup jauh, tidak seperti jarak pintu di lantai dasar yang cukup berdekatan.
Marcello lalu membunyikan triangle yang sedari tadi ia bawa, sebagai tanda bahwa ia sedang berpatroli.
Tring! Tring! Tring!
Terdengar bunyi alat itu sebanyak tiga kali ketukan, mengiringi langkah mereka berdua.
"Sepertinya mereka sudah tertidur, tak ada apa-apa di sini," ucap Marcello saat mengecek beberapa pintu yang telah terkunci dari dalam.
Namun saat akan menuju kamar milik Pablo, pandangan mata mereka tertuju pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka.
"Mengapa kamar itu terbuka?!" Marcello bergumam seraya berjalan cepat ke arah kamar milik Fabio.
Takagawa yang melihat raut kebingungan dari wajah Marcello hanya bisa membuntuti langkah rekannya itu.
***
Apakah mereka akan bertemu dengan dua anggota asosiasi, yaitu Antonio dan Anna?
atau
Mereka hanya menemukan mayat petinggi Black Shadow yang malang?
Entahlah ....
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!
Silakan vote, jika novel ini pantas mendapat dukungan vote!
__ADS_1
Terimakasih😎