
Pablo tampak geram saat mendengar kabar tentang kematian Rodriguez yang terkesan konyol, beberapa kali ia tampak memukul-mukul meja dihadapannya.
"Dasar bodoh!!" umpatnya.
Sementara itu Fabio masih berdiri di depannya dengan wajah menunduk.
"Kau tau, tanpa Rodriguez kita tak mendapat suplai persenjataan yang bagus. Konyol sekali dia! Dasar bodoh!" ujarnya lagi.
Fabio tak menjawab, ia hanya diam saja.
"Kau! Cepat beritahu anggota yang lain! Aku tak ingin rencana kita gagal!" Perintah Pablo pada Fabio yang masih tertunduk.
"Siap Bos!" Jawab Fabio singkat, lalu bergegas meninggalkan Pablo.
"Jadi kita akan beradu strategi Pedro? Baiklah!" gumam Pablo sambil mengepalkan tangannya.
***
Sementara itu di Acquolina Cafè, Pedro, Anna, dan Antonio tampak sedang berbincang.
"Apa yang kau ketahui tentang orang-orang Pablo?" Tanya Antonio pada Pedro yang tampak sedang membaca berkas.
"Mereka bergerak dalam senyap, belum berani menampakan diri secara terang-terangan," Pedro mulai menjelaskan.
"Yang aku tau, rencana Pablo selain melibatkan anggota Black Shadow, ia juga melibatkan penduduk lokal," tambahnya.
"Aku paham," jawab Antonio singkat.
"Berhati-hatilah! Karena mata mereka ada dimana-mana," Pedro memberi saran.
"Dan kau Anna, gantilah pakaianmu! Terlalu mencolok untuk dipakai di Indonesia," imbuhnya.
"Sepertinya harus begitu, lagi pula pakaian ini membuatku selalu berkeringat," jawab Anna sambil membuka mantel panjangnya.
"Setelah ini aku akan berbelanja, antarkan aku kesana!" ujarnya sambil menatap Antonio.
"Tidak! Kau sendiri saja!" Antonio mengelak.
"Aku sedang tidak berminat," tambahnya pendek.
"Ya sudah!" Anna berkata singkat.
Pedro yang menyimak hanya menggelengkan kepala.
"Pinjam motormu!" Anna beranjak dari tempat duduknya sambil meraih kunci motor milik Antonio yang tergeletak di meja.
"Bawakan aku makanan untuk di rumah nanti," Antonio berkata mengiringi kepergian Anna.
"Hmm, dasar pria kaku!" gumam Pedro.
"Masa bodoh!" Antonio menjawab singkat.
Pedro hanya diam tak menanggapi ucapan Antonio, ia berjalan ke arah brankas di sudut ruangan dan membukannya.
Terlihat tumpukan kertas yang menumpuk di dalam brankas itu, lalu ia mengambil sebuah map berwarna hijau dan menutup kembali brankasnya.
__ADS_1
"Pelajarilah! Itu wasiat dari ayahmu!" ujarnya seraya meletakan memberikan map pada Antonio dan duduk di sebelahnya.
Antonio terkejut, kemudian ia membuka map itu.
"Itu adalah formula rahasia ciptaan ayahmu, pelajarilah! Aku tidak berhak untuk tahu," ucap Pedro sambil menahan tangan Antonio.
"Baiklah aku mengerti!" Jawab Antonio.
"Lebih baik pelajari di ruangan rahasia apatemenmu, jangan sampai siapapun tahu!" Pedro mengingatkan.
"Okey, terimakasih," jawab Antonio.
Ia lalu memasukan map itu ke dalam jaketnya, kemudian menaiki mobilnya untuk berjalan pulang.
Sesampainya di kamar apartemennya, ia lalu menuju ke gudang senjata. Sampai saat ini hanya ruangan itulah yang cukup aman menyimpan rahasia.
Ia duduk di atas kursi dengan meja di hadapannya.
"Formula apa kira-kira?" Gumamnya.
Perlahan ia membuka map hijau itu, lalu mengeluarkan dan membaca tulisan-tulisannya.
"Pergilah ke tempat ini! Disana kau akan mendapatkan bahan-bahan dan tempat pembuatannya."
"Hmm," Antonio bergumam kecil.
Tempat yang dimaksud Robertino adalah rumahnya, rumah Antonio sewaktu kecil.
"Aku kira rumah itu sudah hancur, ternyata masih ada," gumamnya lagi.
Tiba-tiba terdengar bel kamar berbunyi, kemudian ia dengan cepat membereskan map dan memasukannya ke dalam jaket. Kemudian bergegas ke arah pintu keluar kamar.
"Sorry!" Antonio menjawab singkat dan meninggalkannya.
"Ini makanlah!" Anna memberikan sebuah kantong keresek padanya.
"Thanks!" ujar Antonio.
"Aku membeli beberapa potong pakaian yang aku suka, walaupun sebenarnya aku kurang menyukainya," Anna berkata sambil membuka isi keresek lainnya.
Antonio tidak menjawab, ia fokus menikmati pizza pemberian Anna yang masih hangat.
Ia makan terlihat sangat lahap membuat Anna menggelengkan kepala.
"Apa yang kau makan setiap hari?" Anna bertanya heran.
Pria di depannya tak menjawab.
"Tenanglah! Kau seperti tidak pernah makan saja," tambahnya.
"Aku terlalu menikmati, jarang sekali aku makan senikmat ini," jawab Antonio.
"Apa? Kau belum pernah makan pizza?" Anna terheran.
"Bukan itu maksudku," Antonio menjawab.
__ADS_1
"Lantas, apa yang kau maksud?" Anna bertanya lagi.
"Aku jarang sekali makan yang gratis," Jawab Antonio datar.
Anna langsung menatapnya tajam.
"Ganti uangku, cepat!" ucap Anna sambil mengulurkan tangan.
"Siapa yang bilang itu gratis?" Ia menggerutu kesal.
Antonio tak banyak bicara, ia lalu menyudahi makannya dan mengambil beberapa lembar uang kertas. Kemudian meletakannya pada telapak tangan Anna.
"Kembaliannya ambil untukmu!" ucap Antonio datar.
Anna lalu terdiam kaget saat menatap beberapa lembar uang di tangannya.
"Mana kunci motorku?" Tanya Antonio tegas.
Anna tak berkata apapun, ia hanya memberikan kunci itu yang sedari tadi ia genggam.
Antonio dengan cepat meraih kunci itu, lalu memakai jaket dan pergi meninggalkan Anna yang masih terpaku.
***
"Aku kira rumah ini sudah rusak dan tidak layak untuk dihuni, ternyata masih sama seperti dulu," gumamnya saat melihat rumah yang cukup megah di depannya.
Ia lalu turun dari motornya dan berjalan menuju pintu. Diraihnya map hijau tadi, lalu meraba isinya.
"Aku tadi seperti melihat ada kunci di dalam sini," ia bergumam sendiri.
Setelah mendapatkan kunci, lantas ia membuka pintu itu. Dan seketika nampaklah isi dari rumah peninggalan orang tuanya.
Sebenarnya rumah itu bukan 100% milik orang tua Antonio. Hanya saja saat Robertino menjalani misi di Indonesia, ia tidak sengaja menemukan rumah itu. Seiring berjalannya waktu, kemudian ia menggunakan rumahnya sebagai markas.
Rumah yang dahulu kosong tak berpenghuni dengan letak yang lumayan jauh dari keramaian, menjadi sebuah tempat yang penuh persenjataan dan peralatan canggih.
Ruang tamunya masih seperti dulu sebelum ia dan keluarganya tinggal di apartemen. Masih banyak lukisan yang menempel di dinding, vas bunga semua masih utuh, hanya saja terlihat usang karna jarang dibersihkan.
Tanpa basa-basi ia lalu menuju ke tempat yang tertulis di kertas tadi. Cukup lengkap lokasi yang digambarkan disana, sehingga tidak begitu sulit bagi Antonio untuk menemukan ruangan itu.
Setelah sampai pada tempat yang dimaksud, ia tak menemukan akses jalan apapun. Yang terlihat hanyalah tembok dengan lukisan seorang gadis yang sedang membawa bejana.
Ia lalu memperhatikan lukisan itu dengan tatapannya yang tajam. Sekilas lukisan itu tampak biasa saja, namun ketika diperhatikan dengan seksama, terlihat bentuk bejana yang terlalu menonjol.
Cklek!
Terdengar seperti suara tombol yang dipencet. Kemudian lukisan itu bergeser bersama dindingnya, dan terpampanglah seisi ruangan rahasia yang dulu dipakai oleh Robertino.
Ruangan yang tampak seperti laboraturium sederhana, namun peralatannya canggih.
"Hmm, jadi ini yang dimaksud ayah," ia bergumam sambil mengamati sekeliling.
"Baiklah, aku akan mencari jejak perjalanan ayah. Agar aku tahu dari mana aku memulainya," ujarnya sambil berjalan masuk ke dalam ruang rahasia itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!