Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Perpisahan dan Pertemuan


__ADS_3

Rosalinda yang mendengar suara Pedro langsung bergegas keluar dari kamarnya untuk menghampiri Pedro yang sedang duduk di kursi tamu bersama Antonio.


"Tuan Pedro!" sahut Rosalinda menyapa.


"Hai Nona, ada apa dengan dirimu?! Mengapa wajahmu terlihat sembab?!" tanya Pedro dengan raut wajah terkejut.


Rosalinda tak menjawab, ia lantas duduk di kursi dekat Pedro.


"Jelaskan padaku apa yang akan kaulakukan pada Antonio!" pinta Rosalinda.


Pedro melirik Antonio sebentar, kemudian menghela napas.


"Begini ya Nona, kami adalah anggota asosiasi," ujar Pedro mulai menjelaskan.


"Sebagai anggota asosiasi, kami harus menaati peraturan. Antonio pergi dari sini bukan berarti ia tak akan kembali, hanya saja banyak misi yang harus ia jalani," tambahnya.


Rosalinda mengangguk pelan mendengar penjelasan Pedro.


"Kumohon mengertilah! Aku paham dengan perasaanmu, namun ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan," Pedro berkata lagi berusaha memberi penjelasan pada wanita itu.


"Iya, aku berjanji, suatu saat aku pasti akan ke sini untuk menemuimu," sahut Antonio.


Rosalinda kemudian memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha menenangkan perasaan dan mengesampingkan ego yang kini sedang menguasainya.


"Baiklah, aku mengerti. Kau boleh pergi, asal ...." ia menghentikan ucapannya dan menghela napas sejenak, mencoba mengumpulkan keberanian.


"Jangan lupakan aku," ucapnya lirih seraya menundukan kepala.


Pedro yang melihat ekspresi Rosalinda langsung saja memberi kode kepada Antonio dengan menggerak-gerakan mata agar Antonio mendekati Rosalinda.


Melihat rekan kerjanya memberi isyarat seperti itu, Antonio lantas menurutinya. Ia lalu bangkit dan berjalan mendekati Rosalinda, kemudian duduk di samping wanita itu. Sementara Pedro langsung berpura-pura ingin ke kamar kecil.


"Maaf ya, sepertinya aku harus ke kamar kecil sebentar," ucap Pedro seraya bergegas pergi meninggalkan Antonio dan Rosalinda.


Melihat rekannya tak ada di sana, Antonio lantas merangkul pundak Rosalinda dengan tangan kiri dan tangan kanannya mengusap air mata yang mengalir di wajah wanita itu.


"Sudah, tak usah bersedih," ucapnya perlahan.


"Aku berjanji akan kembali ke sini jika misiku telah selesai," tambahnya.

__ADS_1


Rosalinda tak menjawab, ia hanya terdiam membisu, kemudian menyandarkan kepalanya ke dada Antonio seraya melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh pria itu.


Antonio yang terkejut langsung saja memeluk wanita itu, mengikuti insting dan naluri kelelakiannya. Secara perlahan ia belai rambut panjang yang hitam dan wangi. Tak lupa juga ia mengecup dan menempelkan pipinya pada ubun-ubun Rosalinda. Hal itu ia lakukan agar wanita yang kini berada dalam pelukannya merasa nyaman dan tenang.


"Tunggu aku, jika takdir memertemukan kita kembali. Tapi jika tidak, aku akan berusaha untuk melawan takdir," bisik Antonio.


Rosalinda yang merasa pikiran dan hatinya tenang, kini mulai mengangkat kepalanya secara perlahan. Terlihat butiran-butiran air menghiasi pandangan matanya yang sendu saat mata itu bertemu pandang dengan kedua mata Antonio.


"Aku ingin menceritakan kepadamu tentang hariku. Aku ingin tertawa bersamamu dan mengetahui segala tentang dirimu. Namun, semua hari dimulai dan berakhir sama. Hari hariku dimulai dan berakhir tanpamu," lirih Rosalinda.


Antonio tak dapat berucap, ia lalu menatap sayu wanita di depannya. Kemudian memajukan wajahnya perlahan, menempelkan bibirnya pada kening Rosalinda.


Wanita yang merupakan seorang dokter itu hanya memejamkan matanya, seolah menikmati saat-saat terakhir sebelum berpisah dengan pria yang telah menggetarkan hatinya. Ya, Rosalinda merasakan getaran-getaran cinta dalam hatinya. Entah mengapa perasaan itu kian menyesakan dadanya, saat mengetahui kenyataan bahwa ia harus rela melepas kepergian Antonio.


"Maafkan aku," ucap Antonio lirih.


Rosalinda lantas membuka matanya saat merasakan sentuhan itu telah berakhir, namun sensasinya mungkin tak akan pernah ia lupakan.


"Pergilah, aku harap kau selalu mengingat namaku," balas Rosalinda seraya berusaha untuk menyunggingkan senyum.


Tak lama kemudian Pedro muncul dari ruangan dalam, dengan agak canggung ia berdehem kecil, "Ehem ...."


"Sudah?" tanya Pedro.


"Waktu kita tak banyak, bergegaslah!" perintah Pedro pada Antonio, seraya berjalan keluar menuju mobilnya.


Rosalinda yang mendengar perkataan Pedro langsung bangkit dari pelukan Antonio, kemudian berdiri seolah mengisyaratkan bahwa hatinya telah siap untuk merelakan kepergian Antonio.


Begitu pun Antonio, ia hanya menghela napas panjang seraya berdiri untuk bersiap mengikuti Pedro.


"Jaga dirimu baik-baik, mungkin aku akan menemuimu setelah semua tugasku selesai dan setelah aku meninggalkan duniaku yang saat ini sedang kujalani," ujar Antonio sebelum melangkah meninggalkan wanita itu.


Rosalinda hanya mengangguk pelan, air matanya perlahan menetes kembali. Walaupun ia bersedih karena harus berpisah, namun ia seperti mendapat secercah harapan saat mendengar perkataan Antonio yang terakhir. Ia sangat menginginkan Antonio untuk hidup normal bersamanya, tanpa ada gangguan dalam bentuk apa pun.


Setelah itu ia berdiri diambang pintu, memperhatikan mobil Pedro yang melaju perlahan membawa Antonio meninggalkan tempat tinggalnya.


Kini Rosalinda hanya bisa mendoakan keselamatan Antonio. Ia percaya bahwa jika dirinya memang ditakdirkan harus bersama dengan Antonio, maka itu akan terwujud. Namun jika bukan, maka ia akan mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih istimewa dari Antonio.


***

__ADS_1


Di dalam mobil Pedro, Antonio hanya diam saja. Baginya yang terbiasa hidup cuek dan tak mengenal cinta, sikap Rosalinda membuatnya menggeleng kepala tak mengerti. Namun dalam hati kecilnya ia merasa ada yang istimewa dari wanita itu, kelemah-lembutan dan kedewasaan berpikirnya membuat sosok Rosalinda memiliki nilai lebih dibanding Anna.


Walaupun Anna adalah wanita pertama yang berhasil mengetuk pintu hatinya, namun kini Rosalinda bukan hanya berhasil mengetuk pintu hati, tapi ia telah berhasil membukanya.


"Mengapa kaumelamun?" tanya Pedro membuyarkan lamuman Antonio.


"Hmm ..." Antonio hanya bergumam seraya menghela napas panjang.


"Kau sedang memikirkan wanita tadi bukan?" tanya Pedro dengan nada mengejek.


"Apa maksudmu?!" Antonio balik bertanya seraya menatap tajam Pedro.


"Hahahaha ... sudahlah, aku tahu apa yang sedang kaupikirkan," jawab Pedro sambil tertawa terbahak.


"Bastardo!!" umpat Antonio dalam bahasa Spanyol.


Pedro hanya tertawa mendengar umpatan rekannya itu. Namun ia sama sekali tak merasa tersinggung dengan hal itu, karena Pedro telah mengenal Antonio bahkan lebih kenal dari Antonionya sendiri.


"Sudahlah, mulai sekarang kau fokus pada misimu. Lagipula kau bisa menemuinya kapan saja, iyakan?" tanya Pedro memastikan.


"Ya, tapi aku tak mungkin menemuinya saat menjalankan misi," jawab Antonio.


Pedro hanya menggelengkan kepala kecil dan fokus mengendarai mobilnya, hingga tak lama kemudian mereka telah sampai di Acquolina Cafè.


"Mengapa ke sini?! Bukankah kita harus ke klinik?!" tanya Antonio heran.


"Sebentar, kita harus menyambut tamu terlebih dahulu, setelah itu kita bergegas ke klinik," jawab Pedro santai.


Antonio hanya mendengus kesal seraya mengikuti langkah Pedro yang berjalan masuk ke cafe.


Di dalam cafe, pengunjung tidak terlalu ramai, mungkin hanya beberapa orang saja. Namun tetap saja suara musik yang membahana membuat suasana cafe menjadi riuh dan ramai.


Saat mereka memasuki ruangan Pedro, terlihat seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba hitam seperti Anna. Wanita berambut pendek itu tampak santai duduk di kursi seraya menghisap asap tembakau.


"Privet Mister Pedro! (Halo Tuan Pedro!)" sapa wanita itu dalam bahasa Rusia.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


__ADS_2