
Antonio masih memandang wajah cantik Anna yang tengah terdiam. Wanita di hadapannya itu terdiam memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Antonio.
"Entah mengapa, secara refleks naluriku ingin melindungimu," ucap Anna lirih setelah merasa pas dengan jawabannya.
"Seperti itukah?" Antonio memastikan.
"Terimakasih," ucap pria itu seraya menatap kedua mata Anna.
Sontak saja Anna menundukan pandangannya, ia merasa gugup saat ditatap dengan tatapan sendu dan penuh makna. Pria dihadapannya kini tampak berbeda dari biasanya, menjadi lebih hangat dan membuat perasaannya nyaman.
"Ayo makan lagi! Ini suapan terakhirmu," ujar Antonio mengagetkan lamunan Anna.
Anna lalu membuka mulutnya menerima suapan terakhir dari Antonio.
"Habis," ucap pria itu seraya berjalan untuk meletakan food tray-nya ke atas meja.
"Habiskan juga minumannya, setelah itu beristirahatlah," ucapnya lagi sembari memberikan segelas air susu.
"Terimakasih," sahut Anna singkat.
Setelah minuman itu habis, Antonio lalu meraih gelas dari Anna dan meletakannya ke atas meja di samping food tray.
"Kau sudah makan?" Tanya Anna.
"Setelah ini aku akan mencari makan di luar, kau beristirahatlah," jawab Antonio sambil mendekat dan duduk di samping Anna.
Pria itu lalu menatap wajah Anna dari samping kirinya dengan seksama, wajah cantik yang sudah kembali berseri. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, wajah cantik itu terlihat sangat pucat dan mengkhawatirkan.
"Anna...," ucap Antonio lirih.
Anna menolehkan wajahnya ke kiri dan melihat ke arah Antonio, membuat pandangan mereka bertemu, mengalirkan butiran-butiran cinta diantara keduanya.
"Kau terlihat cantik," lirih Antonio seraya mengelus pipi indah Anna.
Wanita itu tak menjawab, rasanya sangat sulit menggerakan bibirnya yang terasa kelu. Hatinya bergetar dan jantung pun berdebar tak karuan. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun olehnya bahwa seorang lelaki seperti Antonio bisa membangkitkan gelora asmara dalam jiwanya.
"Anna...," ucap Antonio lirih dan perlahan.
Anna hanya terdiam, namun pandangan matanya tak lepas dari wajah Antonio.
Jari-jari pria itu tampak bermain-main di pipinya, membuat jantung Anna semakin berdebar lebih kencang.
"Anna..." terdengar lagi suara lirih pria itu di telinganya.
Anna terdiam kaku dan berusaha menundukan wajahnya. Namun lagi-lagi kedua telapak tangan Antonio menahannya, membuat wajah wanita itu menjadi bersemu merah.
Perlahan demi perlahan wajah mereka saling mendekat. Semakin dekat, semakin dekat, hingga tanpa sengaja kedua bibir mereka saling menyentuh dan menempel satu sama lain.
Anna tampak memejamkan mata saat lidah nakal Antonio bermain-main di dalam rongga mulutnya. Ludah mereka bercampur menjadi satu dan lidah mereka seakan saling melilit seolah enggan untuk berpisah, seperti perasaan kedua insan yang sedang dimabuk asmara.
Sedangkan Antonio, ia merasa seperti bermimpi ketika secara tak sengaja mengikuti naluri kelelakiannya. Walaupun dia berhati kejam dan dingin, namun jiwanya tetap seorang pria sejati. Pria yang mendambakan belaian kasih sayang seorang wanita, dan wanita itu kini telah jatuh kepangkuannya.
Hawa di ruangan itu menjadi semakin panas ketika dua insan itu semakin intens mengikuti naluri masing-masing. Mereka berdua telah terseret ombak gairah hingga tenggelam di lautan asmara, lautan yang berisi kebahagiaan dan ketentraman hati.
Pergulatan mereka sangat panas dan melelahkan, hingga tanpa disadari mereka berdua tertidur sangat pulas di atas ranjang sempit khusus pasien klinik.
Beberapa jam kemudian...
__ADS_1
"Hmm," Anna menghela nafas panjang saat melihat Antonio tertidur di ranjangnya.
Wanita itu baru saja terbangun setelah tertidur lelah karena mengarungi lautan asmara bersama Antonio. Tampak ia merapikan pakaiannya yang tak beraturan, namun perasaan hatinya sangat bahagia.
"Hey! Bangun!" ucapnya seraya mengguncang-guncang tubuh pria di sampingnya.
Antonio lantas terbangun dan menguap seraya meregangkan tubuhnya.
"Hmm," gumamnya sambil memeluk Anna yang tengah memeriksa selang infusan di tangan kanannya.
"Kau hampir saja merusak selang infusku," ucap Anna bersungut.
"Apa?" Antonio bertanya tak peduli seraya menciumi wajah wanita itu.
"Hmm, awas!" ucap Anna tegas sembari melepaskan pelukan Antonio.
"Hampir saja kau mencabut selang infusku," Anna mendengus kesal sambil memperbaiki selang infusnya.
"Maaf sayang, aku tak sengaja," Antonio lalu mengecup kening Anna dengan cepat.
"Apa? Kau memanggilku apa?" Anna menatapnya tajam.
"Sayang, hehehe," jawab Antonio sambil terkekeh, kemudian untuk bangkit merapikan pakaiannya.
"Hmm," dengus Anna.
"Sudahlah, yang terpenting kau aman dan tidak tersakiti," Antonio berucap santai.
Kemudian ia ke kamar kecil di ruangan itu untuk sekedar mencuci muka dan bersih-bersih.
"Aku ingin bersih-bersih," teriak Anna.
"Aku ingin kesana," jawab Anna sambil menunjuk ke arah kamar kecil.
"Terus?" Antonio mengerutkan dahi.
"Gendong," Anna meluruskan kedua tangannya ke depan.
"Hmm," pria itu hanya menepuk jidatnya.
Lalu menghampiri Anna dan menggendong wanita itu di depan. Sedangkan Anna memeluk leher Antonio seraya memegang botol yang berisi cairan infusan.
"Kenapa tak berjalan saja?" tanya Antonio sambil berjalan ke arah kamar kecil.
"Kakiku lemas sayang, belum bisa ku gerakkan," jawab Anna manja.
"Manja," Antonio bersungut.
"Apa? Aku ini sakit, tidak sepertimu yang segar bugar," Anna mengelak.
"Terserah!" Antonio berkata sambil menurunkan Anna.
Wanita itu lalu menyerahkan botol infusannya pada Antonio.
"Pegang!" ujarnya pada Antonio yang hanya menurut saja.
"Apa aku harus keluar?" Tanya Antonio saat melihat Anna akan membuka pakaian.
__ADS_1
"Untuk apa? Kau sudah melihat semuanya tadi," dengus Anna.
Antonio hanya menghela nafas mendengar ucapan Anna, ia tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti kemauan wanita itu. Lagipula itu semua tidak merugikannnya.
Setelah Anna membersihkan tubuhnya, Antonio lalu menggendongnya keluar dan menurunkannya ke atas pembaringan.
"Aku lapar," ucap Antonio.
"Kau mau keluar?" Tanya Anna.
"Bukannya kau boleh makan disini juga? Fasilitas milik asosiasi memang untuk semua anggota," tambahnya menjelaskan.
"Apa?" Antonio mengerutkan dahinya.
"Jadi aku harus memakan makanan yang hambar itu?" Tanyanya.
"Sudahlah, makan disini saja. Walaupun hambar tapi bersih dan bergizi. Lagipula..." Anna menghentikan ucapannya.
"Apa?" Tanya Antonio.
"Aku tak mau ditinggal," jawab Anna lirih.
Antonio menghela nafas dan menggelengkan kepala, ia tak menyangka bahwa wanita sekejam Anna ternyata sangat manja.
"Baiklah, aku akan makan disini bersamamu," ucapnya.
Terlihat keceriaan di wajah Anna melihat Antonio menuruti kemauannya. Ia lalu menekan yang menempel pada dinding dekat pembaringannya.
Bel itu terhubung ke ruang kerja perawat yang berfungsi untuk memanggil pihak medis disana.
Tak lama seorang perawat terlihat memasuki ruangan mereka.
"Ada apa Mrs. Anna? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu sopan.
"Aku lapar, bis tolong bawakan makanan? Sekalian untuknya," jawab Anna sambil melirik ke arah Antonio yang duduk di kursi dekatnya.
"Oh, iya nanti saya bawakan. Tapi bagaimana dengan kondisi anda Mrs. Anna? Apakah ada keluhan?" Perawat itu bertanya lagi.
"Oh tidak, saya baik-baik saja." jawab Anna sambil tersenyum.
"Hmm, sebenarnya anda hanya diperbolehkan menekan bel itu ketika dalam kondisi darurat," perawat itu menjelaskan diiringi senyuman.
"Oh iyakah? Maaf, aku baru mengetahuinya," Anna meminta maaf.
"Tak apa-apa Mrs. Anna, saya maklumi," perawat itu menjawab dengan hangat.
"Baiklah tunggu sebentar, akan saya ambilkan makanannya," ucapnya sambil mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.
Antonio yang menyaksikan hanya menggeleng kepala melihat tingkah konyol wanitanya itu.
"Dasar kau," ucapnya.
Namun Anna hanya terkekeh mendengarnya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
__ADS_1
Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!