Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Membuat Penawar Formula


__ADS_3

Anna merasa tak ingin melepaskan pelukannya terhadap Antonio, ia merasa jiwanya kembali bergelora setelah mendaki puncak asmara semalam suntuk hingga pagi menjelang.


Hari ini mereka tampak bermalas-malasan di atas pembaringan, rasanya hari akan semakin indah ketika setiap saat selalu bersama.


"Kau mendapat informasi terbaru dari Pedro?" Tanya Anna sambil memeluk erat tubuh polos pria yang terbaring di sampingnya.


"Apa kondisimu sudah pulih?" Antonio balik bertanya.


"Misi itu tergantung kepadamu, jika kondisimu sudah pulih maka misi akan dilanjutkan," tambahnya.


Anna hanya menghela nafas sembari jari lentiknya bermain-main di dada bidang Antonio.


"Aku hanya ingin segera menyelesaikan misi dan kembali ke Rusia," jawabnya.


"Jadi kau akan kembali?" Antonio tersentak.


"Iya, mengapa?" Anna bertanya dengan tatapan manja.


Pria yang berada dalam pelukannya tak menjawab, ia hanya balas memeluk lebih erat dari pelukan Anna.


Kemudian Antonio mengangkat tubuh polos Anna ke atas tubuhnya, mereka kembali terhanyut dalam buaian asmara. Kembali mendaki sisa-sisa semalam dalam dekapan selimut yang menjaga mereka dari udara dingin di pagi hari.


***


Sementara itu di markas Black Shadow, Pablo masih terus meningkatkan latihan kepada para anak buahnya. Mulai dari latihan fisik hingga beladiri, maupun meningkatkan kemampuan memainkan senjata jarak jauh ataupun senjata jarak dekat.


Takagawa yang merupakan sensei bagi mereka terlihat sangat puas dengan perannya membantu organisasi yang merupakan rekan dari pemimpinnya. Ia merasa bahwa Black Shadow memiliki anggota yang cukup berbakat.


"Mr. Pablo, saya rasa perkembangan mereka sudah cukup baik dari sebelumnya," ujar Takagawa seraya berjalan mengikuti Pablo.


"Apakah mereka sudah siap menerima misi dari klien?" Tanya Pablo.


"Silahkan saja Mr. Pablo, jika anda ingin mencoba," jawab Takagawa singkat.


"Baiklah, aku akan mencoba Marcello untuk menjalankan misi pertama setelah berlatih," ujar Pablo.


Pablo kemudian memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memanggil Marcello agar menemuinya. Setelah itu Takagawa dan Pablo menuju ke ruang kerja organisasi untuk mendiskusikan misi pada Marcello.


"Mau kah kau membantu kami lagi?" Pablo bertanya pada Takagawa yang tengah duduk di hadapannya.


"Silahkan Mr. Pablo, saya akan membantu anda sebisa mungkin," jawab Takagawa merendah.


Tak lama kemudian datanglah seorang lelaki bertubuh kecil memasuki ruangan itu, ia lalu menundukan badan memberi hormat pada Pablo dan Takagawa.


"Duduklah!" ujar Pablo singkat, pada Marcello yang baru saja datang.

__ADS_1


Marcello lalu menurutinya dan duduk di kursi sebelah Takagawa.


"Aku akan mencoba latihanmu, apa kau siap?" Pablo bertanya pada Marcello.


"Siap bos!" Jawab Marcello tegas.


Pablo lalu berjalan ke arah meja kerjanya, ia membuka laci kecil dan mengeluarkan secarik kertas.


"Ini tugasmu! Kau akan melakukannya dengan didampingi oleh Takagawa-san," Pablo berkata sembari memberikan secarik kertas itu pada anak buahnya.


Marcello menghela nafas panjang saat membaca isi dari secarik kertas itu, diiringi tatapan yang penuh rasa ingin tahu dari Takagawa.


"Boleh aku melihatnya?" Sahut Takagawa yang merasa penasaran.


Marcello menatap Pablo sejenak namun hanya dibalas dengan anggukan.


"Silahkan!" Ucap Marcello seraya memberikan secarik kertas itu pada Takagawa.


Takagawa tampak mengerutkan dahinya saat membaca tulisam pada secarik kertas itu, ia tak menyangka bahwa misi yang diberikan Pablo cukup berbahaya.


"Benarkah saya akan melakukan misi ini Mr. Pablo?" Takagawa bertanya meyakinkan.


"Ada masalah?" Pablo balik bertanya dingin.


"Jadi kau menolak?" Pablo mulai menekan.


"Apa yang akan dilakukan Kenjiro jika ada anggotanya yang menolak misi? Hmmm... tak dapat ku bayangkan," tambahnya seraya menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.


Takagawa tampak bimbang dan ragu, selama ini ia dan anggota gank-nya selalu membuat rusuh secara terang-terangan. Sehingga ketika mendapat misi yang mengutamakan kehati-hatian itu sangat sulit baginya.


Begitupun dengan Marcello, walaupun ia salah satu anggota Black Shadow yang berbakat, namun selama ini ia hanya menerima misi yang tidak ada kaitannya dengan penyelinapan. Ia selalu melakukan misi dengan tingkat bahaya yang tidak terlalu ekstrem.


Misi-misi seperti itu biasanya sering dijalankan oleh duo Fabio dan Elano, namun sekarang mau tidak mau ia harus menjalaninya.


"Baiklah! Saya akan melakukannya!" Takagawa berkata tegas.


Ia tak ingin mengambil resiko jika harus menolak misi pemberian Pablo, karena sangat berbahaya jika Pablo melapor pada Kenjiro.


Selain akan merusak hubungan masing-masing ketua, ia juga terancam menjadi target sasaran kedua belah pihak. Atau bisa dikatakan menjadi pengkhianat.


"Bagaiman denganmu?" Pablo bertanya tegas pada Marcello.


"Siap bos!" Jawab Marcello penuh keyakinan.


Perlahan senyum menyeringai menampakan gigi Pablo yang berjejer rapi. Ia merasa sangat senang saat semua orang tunduk padanya.

__ADS_1


"Persiapkan diri kalian! Lakukan secepat mungkin dan jangan mengecewakan klien! Karena ada hadiah besar menanti kalian!" Pablo berkata tegas dan penuh wibawa, membuat dua orang di hadapannya hanya terdiam dan mengangguk perlahan.


***


Lembar demi lembar berkas ia buka dan pelajari, sambil tak hentinya Antonio mencerna setiap rumus formula yang tertulis disana.


Namun ia baru menyadari saat menemukan secarik kertas yang dilipat terpisah diantara yang lainnya.


"Apa ini?" gumamnya seraya membuka lipatan kertas tersebut.


Sontak saja ia terkejut saat membaca semua rumus yang tercatat disana. Rasanya seperti menemukan setetes air di gurun sahara, hatinya merasa senang dan gembira.


"Ternyata benar apa yang dikatakan Pedro," ucapnya perlahan.


Isi dari secarik kertas itu tak lain adalah rumus formula yang bisa menolak segala efek negatif dari berbagai racun dan obat-obatan, bahkan dapat menetralkan efek formula ciptaan ayahnya sendiri.


"Aku harus segera mencobanya!" ujarnya penuh antusias.


Kemudian ia mempelajari rumus itu, menghitung ukuran komposisi dan mencari bahan yang diperlukan.


Seperti sudah dipersiapkan segalanya oleh Robertino, semua bahan-bahan sudah tersedia disana. Bahkan racun dari laba-laba jenis tarantula Afrika pun sudah tersedia di dalam toples kecil.


"Terimakasih ayah, aku tak perlu repot-repot mencari bahan yang sulit didapat, namun kau sudah menyediakannya untukku. Aku tak ingin mengecewakanmu," ujarnya lirih.


Perlahan demi perlahan ia campurkan semua bahan-bahan sesuai takaran yang telah ia hitung sebelumnya.


"Apa ini? Huweeekk!" ia serasa ingin muntah saat mencium bau yang menyengat pada salah satu toples yang baru saja ia buka.


Baunya seperti organ dalam yang telah membusuk, bahkan lebih bau dari kotoran.


"Entahlah, aku tak paham. Hanya ini yang memiliki kode sesuai petunjuk," ia berkata lagi saat melihat kode yang tertulis di bagian luar toples.


Kode-kode itu merupakan samaran nama, agar tidak ada yang mencuri atau mengetahui apa yang ada di dalamnya. Hanya pemilik rumus yang bisa menggunakan semua berdasarkan kode dan takaran komposisi.


Setelah semua bahan tercampur ke dalam sebuah tabung reaksi, terbentuklah cairan berwarna biru kental. Namun aroma yang dikeluarkan cairan itu tidak seburuk sebelumnya, aromanya kini agak samar seperti obat-obat yang lain.


Antonio lalu meraih tabung reaksi itu dan mengangkatnya ke atas, berusaha memperhatikan dengan seksama. Hatinya merasa senang seolah tidak percaya dengan apa yang tengah ia lakukan.


"Akhirnya aku bisa membuat formula yang selama ini belum pernah diciptakan selain ayahku sendiri," ujarnya bangga.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!

__ADS_1


__ADS_2