
Rosalinda tampak berjalan memasuki rumahnya sambil menjinjing belanjaan yang ia bawa dari pasar. Suasana rumahnya tampak sepi, namun ia tak terlalu mempedulikannya. Kemudian ia berjalan ke arah dapur untuk membereskan belanjaan.
Saat sedang membuka belanjaan, tiba-tiba Anna muncul dan menghampirinya.
"Hai Nona, baru pulang ya?" sapa Anna dengan senyumannya.
"Iya Nona Anna, jalanan macet sekali. Jadi aku terlambat untuk pulang," jawab Rosalinda sambil menyimpan belanjaan ke tempatnya.
Anna tersenyum kecil kemudian mendekat dan berjongkok di depan Rosalinda.
"Biar aku bantu," ujarnya.
Rosalinda hanya menoleh sebentar kemudian mengangguk tanda mengiyakan tawaran Anna.
"Oiya, Pedro sudah pulang sejak tadi. Ia tidak bisa berlama-lama di sini karena harus membuka cafe miliknya," ujar Anna memberitahukan tentang Pedro pada Rosalinda.
"Oh, baru saja aku akan bertanya padamu tentang Tuan Pedro," balas Rosalinda.
"Tak apalah, padahal aku akan mengajaknya makan bersama siang ini," tambahnya dengan raut kecewa.
Anna tampak antusias saat mendengar Rosalinda ingin makan bersama.
"Bolehkah aku membantumu memasak? Aku bisa memasak beberapa masakan Indonesia," ucapnya menawarkan bantuan.
"Tak perlu repot-repot Nona, aku sudah terbiasa melakukannya sendiri," jawab Rosalinda dengan halus.
Anna terlihat sedikit kecewa, namun tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya.
"Kalau begitu aku akan memasak untuk Antonio, dan kau memasak untuk dirimu sendiri. Bagaimana?" ucap Anna menjelaskan idenya.
"Tidak, biar aku saja," jawab Rosalinda singkat.
Anna yang semakin kecewa karena mendapat penolakan, langsung saja mengumpulkan beberapa bahan makanan untuk di masak.
"Apa yang kau lakukan?" Rosalinda bertanya seraya mengerutkan dahi, ia merasa bingung dengan sikap Anna.
"Nona, jangan! Aku akan menggunakan itu," sergahnya saat melihat Anna mengumpulkan beberapa wortel.
Anna lalu menatap Rosalinda dengan tatapan mengerikan, tatapan yang biasa ia gunakan untuk menatap musuhnya.
"Kita berlomba memasak untuk Antonio. Siapa yang masakannya paling enak, dia yang menang," ucap Anna dingin.
Rosalinda yang merasa terintimidasi oleh tatapan Anna mulai tersadar, lalu ia balik menatap tajam wanita yang berada di hadapannya itu.
"Ayo! Siapa takut?" balas Rosalinda dengan penuh percaya diri.
Mereka berdua lalu memilih bahan makanan yang akan mereka gunakan masing-masing, kemudian memulai lomba memasak tanpa aba-aba yang pasti.
Namun tanpa mereka sadari, tampak Antonio sedang berdiri di dekat pintu dapur seraya membawa botol infusan. Ia menyaksikan perseteruan dua wanita yang berusaha menarik perhatiannya.
"Apa yang mereka lakukan?" gumamnya perlahan.
__ADS_1
Kemudian ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepala pelan, lalu berjalan memasuki dapur secara perlahan.
"Ehem ...." ia berdehem untuk menarik perhatian.
Seketika kedua wanita itu menoleh ke arahnya.
"Antonio, sedang apa di sini?" tanya Rosalinda yang pertama menyadari suara Antonio.
Ia lantas menghampiri pria itu dan memapahnya.
"Mari, aku bantu berjalan," ucapnya seraya memegang lengan kiri Antonio.
Anna yang sedari tadi fokus memilih bahan makanan langsung saja menoleh ke arah Antonio yang kini sedang dipapah oleh Rosalinda.
"Apa-apan kalian?" sergahnya.
"Kau, beristirahatlah! Jangan terlalu banyak bergerak!" ucapnya seraya menghampiri Antonio.
Posisi Antonio yang kini diapit oleh dua wanita menjadi serba salah, ia tak paham harus melakukan apa. Awalnya ia hanya ingin berjalan-jalan karena kondisinya sudah membaik, namun ia tak menyadari bahwa kedua wanita itu belum mengetahui kondisinya sekarang. Kedua wanita itu hanya mengetahui bahwa dirinya masih butuh perawatan dan harus beristirahat.
"Apa yang kalian lakukan? Aku hanya ingin berjalan-jalan saja," ucap Antonio saat kedua wanita itu memapahnya kembali ke kamar.
"Kau jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu belum fit sepenuhnya," jawab Rosalinda.
"Betul, ikutilah perkataan Nona Dokter ini," sahut Anna mengiyakan perkataan Rosalinda.
"Hmm ...." Antonio hanya bergumam pelan seraya menghela napas panjang.
Kedua wanita yang mengapitnya menjadi bersemangat setelah mendengar ucapan singkat Antonio yang menyetujui tindakan mereka. Mereka pun membawanya ke kamar dan membaringkannya ke tempat tidur.
"Sudah, diam di sini!" Anna berkata dengan nada tegas pada Antonio.
Pria itu hanya diam saja, ia tidak menjawab atau pun menolak. Bukan berarti ia takut, melainkan tidak ingin mencari masalah. Lagi pula keinginan mereka berdua tidak membuatnya kesulitan sama sekali.
"Tunggu kami di sini, jangan ke mana-mana!" sahut Rosalinda.
Antonio hanya menghela napas panjang, kemudian meluruskan posisi badannya agar terlentang di atas pembaringan.
Sementara kedua wanita yang baru saja memapahnya telah kembali ke dapur untuk melanjutkan kompetisi yang tertunda.
"Wanita memang sulit dipahami, hmm," gumamnya.
***
Sementara itu di markas Black Shadow, Pablo terlihat sedang menghitung uang di dalam koper hitam. Uang pembayaran dari klien yang baru saja ia terima berkat misi yang berhasil dilaksanakan dengan baik oleh Takagawa dan Marcello.
"Seperti biasa, aku akan memberikan bonus kepada kalian berdua," ucapnya.
Kemudian ia mengambil beberapa gepok uang, kemudian ia serahkan kepada dua anak buah terbaiknya.
Marcello dan Takagawa tampak senang mendapat bonus uang atas hasil kerja kerasnya. Terlihat dari senyum mereka yang mengembang seraya menghitung uang.
__ADS_1
"Terimakasih bos," ucap mereka serentak.
Pablo hanya mengangguk kecil, lalu menutup kembali koper yang berada di hadapannya.
"Takagawa-san, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Pablo pada Takagawa yang terlihat akan bergegas keluar.
Pria yang bernama Takagawa langsung menghentikan langkah dan membalik badan.
"Tentu, Mr. Pablo," jawabnya hangat.
Marcello yang merasa tidak dibutuhkan, langsung saja keluar dari ruangan itu dengan perasaan senang karena baru saja mendapat bonus.
"Takagawa-san, bisakah aku pergi menemui Kenjiro?" tanya Pablo.
Takagawa kemudian duduk kembali ke kursinya dan menghela napas sejenak.
"Apakah anda yakin ingin menemui bos?" balas Takagawa dengan pertanyaan.
"Ya, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya," jawab Pablo.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar," sahut Takagawa.
"Saya akan menghubungi bos terlebih dahulu melalui pesan singkat, mohon anda bersabar sedikit Mr. Pablo," ucapnya santai tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun.
"Silakan!" jawab Pablo singkat.
Takagawa yang merasa mendapat izin lalu meraih ponselnya dari dalam saku. Kemudian ia mengotak-atik ponsel itu sejenak, berusaha mengirim pesan singkat kepada Kenjiro.
Sementara Pablo hanya menunggu sambil memperhatikan ekspresi Takagawa yang terlihat serius.
"Hmm," Takagawa bergumam pelan seraya menghela napas.
"Ada apa?" tanya Pablo penasaran.
"Bos sedang tidak bisa dihubungi, padahal saya sudah mengatakan bahwa Anda yang akan bicara," jawab Takagawa sedikit kecewa.
Pablo terdiam sejenak, pikirannya menerawang tentang sesuatu. Ia tengah berpikir mengapa Kenjiro tidak ingin ia hubungi, padahal sejak dahulu hubungan mereka sangat akrab saat menjadi partner di asosiasi.
"Baiklah, terimakasih Takagawa-san," ucap Pablo singkat.
"Sama-sama Mr. Pablo," jawab Takagawa.
Kemudian ia berpamitan seraya membungkukan badan memberi hormat, lalu berjalan keluar ruangan menuju tempat ia beristirahat.
"Aku harus langsung menemuinya," gumam Pablo seraya mengepalkan tangan dengan kesal.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!
Bantu Vote juga ya agar Author semakin bersemangat!!
__ADS_1