Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Master Martial Arts


__ADS_3

Di salah satu ruangan di dalam Markas Black Shadow, Takagawa terlihat sedang serius menelepon. Sesekali ia menganggukan kepala dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan yang merupakan tempat untuk ia beristirahat.


"Jadi aku harus bagaimana?" Ia bertanya pada lawan bicaranya yang tak lain adalah Kenjiro.


"Abaikan saja dia!" jawab Kenjiro dengan nada tegas.


"Kau fokuslah pada misimu saat ini," tambahnya.


Takagawa menghela napas sejenak, kemudian menjawab, "Baik Bos! Aku akan melakukan sesuai perintah," tegasnya.


"Bagus, aku akan datang bila situasi sudah mengharuskan aku datang," ujar Kenjiro.


Takagawa tampak mengangguk sejenak, seiring nada panggilan terputus yang terdengar dari ponselnya.


Ia sendiri merasa terkejut, saat Kenjiro meneleponnya secara tiba-tiba ketika ia tengah beristirahat tidur siang.


"Misi ini terlalu berat, tapi apa boleh buat ... aku harus menyelesaikannya secara profesional," ucapnya perlahan seraya mengusap wajahnya.


Kenjiro yang merupakan ketua gank Yakuza, sengaja menelepon Takagawa yang memang anak buahnya. Kenjiro memberikan misi khusus untuk dan bersifat rahasia.


Di sisi lain, Takagawa yang saat ini sudah merasa nyaman berada bersama Pablo mulai merasa bimbang dan ragu setelah mengetahui tentang misi yang diberikan khusus oleh Bosnya.


"Aku tak boleh mengecewakan Bos dan nama baik organisasi," gumamnya seraya mengepalkan tangan.


Tak lama berselang, terdengar ketukan pada pintu kamar Takagawa.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?" ucapnya setengah berteriak seraya menghadap ke daun pintu.


"Aku ... Marcello," jawab Marcello yang berada di dekat pintu.


Takagawa yang mengetahui Marcello, langsung saja bergegas ke arah pintu dan membukanya.


"Iya, ada apa?" tanya Takagawa.


"Apa kau memiliki sedikit waktu senggang?" balas Marcello.


"Hmm ... ada," jawab Takagawa setelah berpikir sejenak.


"Ada perlu apa?" tanyanya.


"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu berlatih," jawab Marcello.


"Oh ... baiklah. Tunggu aku di Aula! Aku akan segera ke sana setelah berganti pakaian," ujar Takagawa menyetujui ajakan Marcello.


"Oke," sahut Marcello dengan nada penuh semangat, kemudian ia bergegas ke Aula tempat latihan, meninggalkan Takagawa yang akan berganti pakaian.

__ADS_1


Sejak menjalankan misi bersama Takagawa, Marcello menjadi lebih bersemangat untuk berlatih bela diri. Banyak teknik-teknik Takagawa yang membuatnya tertarik untuk mempelajari.


Seperti teknik berjalan cepat di kegelapan malam. Walaupun mereka berjalan mengendap-endap, namun Takagawa selalu lebih cepat darinya.


"Aku ingin ia mengajariku beberapa teknik khusus untuk melatih kemampuanku," gumamnya perlahan sambil terus berjalan.


Sesampainya di Aula tempat latihan, Marcello lalu melakukan pemanasan seperti peregangan otot-otot dan persendian. Baginya itu sangat penting, agar tidak ada cedera atau kram pada saat berlatih tanding.


Selama berada di organisasi Black Shadow, Marcello memang hanya berlatih menembak dan bela diri sederhana. Selain karena jarang mendapat misi berbahaya, ia juga kalah populer oleh duo andalan sebelumnya, yaitu Fabio dan Elano.


Namun, kali ini bakat terpendamnya telah diketahui oleh Pablo. Sehingga ia mendapat pelatihan khusus dari Takagawa sesuai instruksi Pablo.


"Jika saja Fabio dan Elano masih ada, aku tak mungkin mendapat kesempatan langka seperti ini," gumamnya seraya melakukan gerakan sit-up.


"Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku harus bersemangat," gumamnya lagi.


Setelah melakukan gerakan-gerakan pemanasan, ia lantas meraih sebilah pedang kayu yang biasa digunakan untuk berlatih bela diri Kendo.


Takagawa yang berasal dari Jepang sengaja mengajari teknik bela diri Kendo kepada anggota Black Shadow, hal itu bertujuan agar ketika memegang pedang yang sesungguhnya mereka akan terbiasa dan tidak kaku. Tidak salah jika Pablo meminta bantuan kepada Kenjiro untuk mengirimkan seorang pelatih seperti Takgawa yang merupakan Master Martial Arts.


Saat Marcello sedang serius melakukan gerakan-gerakan Kendo, tiba-tiba ia d kejutkan dengan kehadiran Takagawa yang langsung menyerangnya. Walaupun mereka berdua sama-sama menggunakan pedang kayu, namun tetap saja hal itu membuat Marcello kewalahan.


Pletak! Pletak! Pletak!


Berkali-kali terdengar suara kayu yang beradu, menandakan latih tanding itu sangatlah serius.


"Aku kira kau akan lengah," ucap Takagawa disela-sela serangannya.


"Baiklah ... coba balas seranganku ini," ucap Takagawa seraya menyeringai kecil.


Kemudian ia melakukan gerakan yang sangat cepat dan gesit yang membuat Marcello semakin kewalahan mengimbangi.


"Aww ..." pekik Marcello saat merasakan punggungnya terkena tendangan keras Takagawa. Kemudian ia jatuh tersungkur ke lantai Aula dengan posisi menelungkup.


"Bagaimana?" tanya Takagawa seraya berjalan mendekati Marcello.


"Uhuk ... uhuk ..." Marcello terbatuk seraya memegang dadanya dan berusaha untuk bangkit.


Ia mengira jika hanya punggungnya saja yang merasakan tendangan. Namun dugaannya salah, ternyata kini dadanya pun terasa sakit.


"Kau tak apa-apa?" tanya Takagawa seraya mengulurkan tangan pada Marcello.


"Oke ..." balas Marcello perlahan.


"Kita istirahat sejenak, duduklah!" perintah Takagawa.


Marcello kemudian memegang tangan Takagawa dan berusaha duduk menghadap pelatihnya itu.

__ADS_1


"Pejamkan matamu, biar aku obati aliran darahmu," ujar Takagawa.


Tanpa banyak bicara, Marcello kemudian memejamkan kedua matanya. Sementara Takagawa lantas melakukan totokan-totokan cepat kepada bagian-bagian tubuh Marcello.


"Luka memar akibat pukulan membuat aliran darah tersendat, sehingga terkadang meninggalkan bengkak dan rasa sakit. Tapi tak usah khawatir, aku sudah mengatasinya," ucap Takagawa.


Marcello yang merasa tubuhnya menjadi ringan kemudian menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Bagaimana?" tanya Takagawa sembari tersenyum.


"Dadaku tidak terlalu sakit seperti tadi, napasku pun kembali normal. Terimakasih," jawab Marcello seraya memegang dada dan punggungnya.


"Tak masalah, sudah menjadi tugasku mengobati yang terluka karena berlatih bersamaku," balas Takagawa seraya menepuk-nepuk pundak Marcello.


Setelah itu, Takagawa bangkit dan menuju ke tempat penyimpanan senjata. Tak lama kemudian ia kembali seraya membawa dua buah double stick.


"Kau tau apa ini?" tanya Takagawa seraya memberikan sebuah double stick Marcello.


"Ini ... double stick," jawab Marcello ragu.


"Kalian dari Amerika menyebutnya double stick, tapi kami di Jepang menyebutnya nunchaku," balas Takagawa menjelaskan.


"Nunchaku?!" sahut Marcello tak mengerti.


"Iya, nunchaku. Ini nunchaku," jawab Takagawa seraya menunjukan benda yang ada di genggaman tangannya pada Marcello.


"Iya, aku paham," ucap Marcello seraya mengangguk perlahan.


"Bagus, sekarang perhatikan!" perintah Takagawa pada Marcello yang masih terduduk di lantai.


Dengan gerakan yang lincah dan gesit Takagawa melakukan gerakan freestyle menggunakan nunchaku, layaknya seorang Bruce Lee dalam film Enter The Dragon.


Marcello yang menyaksikan dibuat terpana oleh gerakan Takagawa.


"Hebat!" ucapnya seraya bertepuk tangan.


Takagawa kemudian menghentikan gerakannya dan menatap tajam ke arah Marcello.


"Kau hanya ingin menjadi penonton?" Ia bertanya dengan tegas pada Marcello.


"Bangunlah! Aku akan mengajarimu beberapa gerakan dasar," perintah Takagawa.


Marcello pun kemudian bangkit dan memegang nunchaku miliknya.


"Ikuti gerakanku!" ujar Takagawa memberi instruksi.


Mereka lalu berlatih nunchaku bersama, hingga Marcello benar-benar bisa mengikuti gerakan dasar sesuai arahan Takagawa.

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


__ADS_2