
Dor!
Suara tembakan terdengar sangat kencang dan memekakan telinga. Suara itu berasal dari senapan otomatis yang dipasang di atas dinding dan berada persis di dekat lampu besar yang selalu menyoroti situasi di luar markas.
Peluru yang melesat dari senapan itu berhasil membunuh seekor kelinci yang tak sengaja bergerak dan tersorot oleh lampu. Kelinci yang tak berdosa itu seketika meregang nyawa tanpa bisa menghindar dari sasaran senapan mesin otomatis.
Markas Black Shadow memang sengaja dipasangi alat canggih untuk memantau situasi sekitar. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyusup atau apapun yang mencoba mendekat ke arah pagar.
Sementara itu, Antonio dan Anna yang sedari tadi mematung hanya bisa menghela napas panjang, mereka merasa lega saat mengetahui bahwa sasaran tembak dari senjata itu adalah seekor kelinci.
"Penjagaan di sini sangat ketat, bahkan seekor kelinci pun dilarang untuk mendekat, ini gila!" ucap Antonio perlahan dengan sedikit penekanan kata.
"Ya ... aku juga baru mengetahuinya. Kupikir itu hanyalah lampu sorot biasa, ternyata ada senapan otomatis juga yang mengiringinya," sahut Anna.
Setelah cahaya lampu itu melewati mereka, kedua anggota asosiasi itu langsung bangkit dan berjalan dengan cepat ke arah pagar besi.
"Ayo!" ucap Antonio memberi komando sambil memberi isyarat tangan kepada Anna.
Mereka berdua masih menggunakan kacamata night vision, sehingga dapat dengan mudah berjalan di kegelapan malam.
"Aktifkan mode thermal! Sebentar lagi kita sampai di gerbang," ucap Antonio memberi intruksi.
Klik!
Terdengar bunyi pelan saat mereka berdua menekan tombol kecil yang berada di tangkai kacamata yang berada persis di dekat telinga. Setelah menekan tombol itu seketika mereka berdua dapat melihat beberapa orang penjaga yang sedang duduk-duduk dekat gerbang.
Mode thermal adalah salah satu kelebihan kacamata yang mereka pakai, selain bisa melihat dalam gelap, kacamata itu juga bisa menjadi sensor panas. Walaupun dari jarak yang jauh, mereka bisa melihat pergerakan manusia.
Setelah mengaktifkan mode thermal, mereka berdua bersiap dengan senjata yang sebelumnya telah dipasang peredam suara. Sambil berjalan cepat beriringan, Anna dan Antonio tetap menjaga kewaspadaan.
Sleb! Sleb!
Dari jarak yang cukup jauh, dua tembakan dari pistol Antonio berhasil menumbangkan dua penjaga yang saat itu sedang berbincang di luar pos penjagaan. Kedua penjaga itu tewas seketika dengan peluru yang bersarang tepat di dahi.
"Ayo!" Antonio berkata pelan pada Anna yang masih membuntutinya.
Saat Antonio akan mendekat ke pintu masuk pos penjagaan, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
"HEI!!" teriak seorang penjaga saat melihat pergerakan Antonio.
__ADS_1
Sleb!
Peluru dari pistol Anna dengan cepat melesat cepat mengenai dada penjaga itu hingga tembus ke jantung, membuat penjaga yang baru saja berteriak itu tewas seketika.
"Cepat masuklah! Aku akan berjaga di sini," ucap Anna pada Antonio.
Setelah mendapat intruksi dari Anna, Antonio lalu bergegas masuk ke dalam pos penjagaan, sementara Anna bersembunyi di tempat yang memiliki sedikit pencahayaan.
Di dalam pos penjagaan terdapat beberapa kamera CCTV yang memantau pergerakan mereka, juga tombol untuk membuka pintu gerbang otomatis.
Antonio lalu mengeluarkan sebuah alat dari tas kecil di pinggangnya, alat itu seukuran ponsel namun bisa berfungsi layaknya komputer. Setelah itu, ia lalu menghubungkan kabel yang ada pada alatnya pada kabel yang tersambung dengan CCTV. Dengan mengotak-atik sejenak, CCTV itu kemudian menjadi eror.
Antonio memang berusaha memanipulasi gambar tangkapan kamera CCTV itu. Ia ingin menipu, sehingga di layar monitor yang terlihat adalah gambar beberapa menit yang lalu, bukan yang saat ini terjadi.
"Done!" gumamnya singkat.
Di layar alatnya terlihat bahwa beberapa menit yang lalu ketiga penjaga sedang berkumpul dan duduk bersama dalam keadaan baik-baik saja. Berbeda dengan yang sebenarnya terjadi, ketiga penjaga itu kini telah tergeletak tak bernyawa.
"Alat ini memang bekerja dengan baik," ucapnya perlahan.
Setelah merasa cukup, ia lalu membereskan alatnya dan memasukannya kembali ke dalam tas kecil yang menempel di pinggangnya. Kemudian berjalan ke arah tombol pembuka gerbang dan menekannya.
Terlihat gerbang kecil di samping pos penjagaan pun mulai terbuka perlahan, kemudian ia bergegas keluar dan menghampiri Anna.
"Aku kira kauakan membuka gerbang yang besar, aku sudah mengkhawatirkan itu," ucap Anna.
"Aku tak bodoh, jika aku membuka gerbang yang besar, maka kita akan mati konyol di sini," balas Antonio.
"Hmm ...." Anna bergumam pelan.
"Ayo!" ajak Antonio seraya bergegas memasuki gerbang.
Anna yang baru saja akan bicara, terpaksa mengurungkan niatnya. Ia kini mengikuti ke mana langkah Antonio.
Tak berapa lama mereka telah memasuki gerbang dan berada di dalam wilayah markas Black Shadow.
"Sembunyi!" ucap Anna pelan, namun dengan nada tegas.
Mereka berdua lalu berlari bersama, kemudian bertelungkup di semak-semak yang berada di bawah pohon besar di halaman depan markas.
__ADS_1
"Ada apa?!" tanya Antonio setengah kebingungan.
"Kau tak melihatnya?" Anna balik bertanya.
"Aku telah melepas kacamataku ketika di dalam pos tadi," ucap Antonio seolah mengetahui isi pikiran Anna.
"Pantas saja," dengus Anna.
"Diamlah! Ada cahaya besar yang bergerak cepat dan mendekat," ucapnya menjelaskan.
Cahaya besar itu adalah cahaya yang berasal dari lampu sorot yang sedang mengawasi keadaan sekitar.
Anna yang masih menggunakan kacamata bisa melihat, jika cahaya lampu sorot sedang bergerak cepat itu diikuti sinar laser yang terlihat berwarna merah.
"Sepertinya mereka menggunakan sinar laser kali ini," ucap Anna menjelaskan pada Antonio tentang apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Ya, aku melihatnya," balas Antonio saat ia melihat sebuah drone terbang yang berjarak tak jauh dari mereka.
Drone itu terlihat sedang menyoroti keadaan di bawahnya.
"Jangan bergerak sedikit pun! Tempat ini sangat cocok untuk kita berkamuflase," ucap Anna mengingatkan.
Pakaian yang mereka gunakan memang berwarna hitam, sehingga memudahkan mereka berdua untuk menyembunyikan diri atau berkamuflase.
Ngiiiiiiing!
Terdengar suara berdenging dari mesin drone yang saat ini sedang menyoroti tempat di dekat mereka. Lampu kecil yang berada di atas drone juga terlihat bergerak-gerak melihat situasi.
"Haruskah aku menghancurkannya?" tanya Antonio yang merasa tak sabar.
"Jangan bodoh! Walau benda itu bergerak otomatis, namun akan mengirim sinyal bahaya jika kita menghancurkannya," tegas Anna, melarang keras ide gila Antonio.
"Hmm ...." Antonio menghela napas panjang.
"Bagaimana jika kutempeli alatku? Aku yakin benda ini akan mempermudah kita," ia bertanya meminta pendapat Anna.
"Silakan saja," jawab Anna singkat.
Tanpa basi-basi lagi, Antonio lantas meraih kamera kecil yang ada di tas pinggangnya. Kamera kecil itu terhubung langsung dengan alat canggih Antonio, sehingga tanpa harus berkeliling markas, mereka berdua bisa melihat dan memantau keadaan di sekitar markas.
__ADS_1
***
Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!