Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Misi Takagawa dan Marcello


__ADS_3

Takagawa dan Marcello sudah mempersiapkan diri dengan berbagai macam perlengkapan untuk menjalankan misi. Tugas mereka kali ini harus menyusup dan mengambil sebuah artefak kuno dari sebuah museum yang dijaga ketat oleh anggota militer, selain itu museum juga dilengkapi dengan jebakan-jebakan yang berteknologi canggih.


Saat ini mereka berdua sudah berada di belakang museum, di dekat sungai. Tepat di dekat saluran pembuangan yang berbentuk pipa besar dengan lobang seukuran tubuh manusia. Pakaian mereka serba hitam lengkap dengan penutup wajah, seperti dua orang ninja yang siap berkamuflase dengan gelapnya malam.


Marcello yang berbadan lebih kecil dari Takagawa perlahan memasuki pipa terlebih dahulu, diikuti oleh Takagawa di belakangnya. Perlahan-lahan mereka merangkak menyusuri bagian dalam pipa untuk menuju ke ruang bagian dalam. Tanpa penerangan sedikitpun mereka berdua fokus merangkak menuju titik terang di ujung depan.


Setelah sampai di bagian dalam, tampak sebuah ruangan yanh tidak terlalu terang dan berisi tumpukan sampah. Sampah-sampah kotor dan bau menyambut mereka berdua. Ya, memang benar, mereka berdua masuk melalui lobang pembuangan sampah.


Secara perlahan Marcello naik tanpa bersuara sedikitpun, disusul kemudian oleh Takagawa.


"Tempat yang bau! Tak ku sangka museum semewah ini masih menimbun sampah," ucap Marcello seraya membuka penutup wajah dan menutup hidung.


"Sudahlah, jangan banyak bicara!" Tegas Takagawa sambil membuka penutup wajahnya agar bisa berbicara.


Marcello lalu membuka secarik kertas pemberian Pablo yang merupakan denah museum.


"Sebaiknya kita lewat sini!" Sahut Takagawa sambil menunjuk salah satu tempat di denah.


Marcello hanya menghela nafas sejenak.


"Yang aku tahu museum ini dijaga dengan ketat. Apakah sebaiknya kita mematikan alarm keamanannya terlebih dahulu?"


"Coba ku lihat denahnya!" Takagawa langsung meraih denah dari tangan Marcello.


Ia memperhatikan gambar dan tulisan itu dengan seksama.


"Oke, kita kesini dulu," ujarnya seraya menunjuk salah satu lokasi.


"Bukankah itu tempat sumber tenaga listrik?" Marcello bertanya heran.


"Kau matikan aliran listrik, aku akan mematikan alarm!" perintah Takagawa.


"Seharusnya lokasi pusat alarm ada disini, posisi kita tidak terlalu jauh bukan? Lagipula kita masih bisa berkomunikasi," tambahnya sambil memegang earphone yang menempel di telinganya.


"Oke! Kita berpencar!" Jawab Marcello.


"Eits! Nanti saja. Kita berpencar setelah dekat dengan lokasi," Takagawa menahan badan Marcello


Sementara Marcello mendengus kesal, ia tak terima jika harus selalu diperintah. Namun apa daya, saat ini ia sedang menjalani misi dan harus bekerjasama. Akhirnya mereka memakai penutup wajah kembali dan bergegas ke tempat sumber tenaga listrik.


Perjalanan mereka sangat cepat dan tanpa suara, sesekali mereka harus mengendap-endap ketika mendengar langkah kaki atau suara orang berbicara. Namun tempat sumber tenaga listrik yang letaknya di bagian belakang gedung membuat penjagaan disana agak longgar.

__ADS_1


Tak lama mereka berdua telah sampai di depan sebuah pintu besar yang banyak sekali tulisan peringatan tanda bahaya.


Takagawa memberi kode pada Marcello untuk segera membuka pintu itu, sementara Takagawa memeriksa keadaan sekitar. Marcello yang hanya mengangguk segera mengeluarkan alat sejenis kunci serbaguna.


Cklek! Cklek!


Dua kali putaran kunci akhirnya bisa membuat pintu itu terbuka.


"Tahan!" Takagawa memegang tangan Marcello saat akan membuka pintu di depannya.


"Kita harus berhati-hati! Jangan sampai membunyikan alarm!" ujarnya.


Marcello hanya mengangguk, kemudian membuka pintu itu secara perlahan.


Setelah pintu terbuka, terpampanglah di hadapan mereka sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kabel dan colokan-colokan listrik juga banyak sekali tulisan tanda bahaya.


"Tunggu!" Sahut Marcello.


Takagawa langsung menghentikan langkahnya.


"Bukankah saat sumber tenaga listrik terputus semua alarm akan otomati mati?" Marcello bertanya.


"Tidak, mereka pasti memasang sumber tenaga cadangan, berupa genset atau sumber tenaga lainnya," Takagawa membantah.


Mereka lantas melewati kabel-kabel yang menumpuk disana, menuju ke saklar besar yang digunakan untuk menghidupkan atau mematikan aliran listrik.


Tanpa banyak bicara, Marcello lalu menurunkan tuas dan Takagawa menekan tombol merah pada saklar. Seketika suasana disana menjadi gelap gulita, namun tidak ada suara alarm berbunyi. Kemudian mereka berdua langsung mengenakan kacamata night vision agar bisa melihat dengan jelas di tempat gelap.


Perlahan terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, sesekali suara langkah itu diiringi obrolan dan candaan.


Marcello dan Takagawa sudah bersiap dengan pedang mereka di tangan. Mereka bersiap menyambut tamu yang akan memeriksa ruang sumber tenaga listrik.


Saat pintu terbuka, terlihat dua orang pria memegang senter besar. Mereka menyoroti tumpukan kabel di tempat itu, juga mencari jalan menuju saklar besar untuk menghidupkan aliran listrik.


"Tidak seperti biasanya lampu disini mati," ujar salah seorang penjaga yang membawa senter.


"Entahlah, mungkin ada kerusakan sistem. Ayo kita periksa!" Jawab temannya


Mereka berdua lalu berjalan ke arah saklar besar bersama, namun tiba-tiba.


Srek! Srek!

__ADS_1


Takagawa dan Marcello yang sedari tadi memantau, dengan cepat mereka menghabisi para penjaga hingga tewas seketika dengan sangat mengenaskan.


"Ayo!" Takagawa berlari keluar, diikuti oleh Marcello di belakangnya.


Saat sumber tenaga listrik padam, semua fasilitas disini menjadi tidak berfungsi. Begitupun dengan kamera CCTV yang sangat banyak terpasang, tidak ada satu pun yang berhasil merekam pergerakan mereka.


Semua pintu yang biasanya hanya dibuka menggunakan ID Card, kini seperti pintu-pintu biasa yang tidak terkunci. Hingga mereka berdua dapat dengan mudah memasuki setiap ruangan di Museum itu.


Mereka berdua menyelinap diantara gelapnya ruangan, namun dengan kacamata night vision pandangan mereka tidak terganggu sama sekali.


Kewaspadaan mereka pun sangat tinggi, pergerakan mereka cepat, bahkan seolah tak menghiraukan para penjaga yang terdengar bercakap-cakap, mereka tetap saja berlari seperti bayang-bayang.


Sesampainya di ruang yang dituju, terlihat sebuah artefak kuno berbentuk patung kecil seukuran kepalan tangan, dengan taring mencuat dan mata yang melotot, seperti artefak khas zaman batu.


"Itu yang kita cari!" ucap Takagawa seraya mempercepat langkah. Sementara Marcello tak menyahut ia hanya mengikuti langkah Takagawa.


Artefak itu tidak memiliki pelindung khusus, hanya tergeletak saja dia atas sebuah kain di atas meja. Namun terlihat titik-titik kecil mengelilingi artefak itu, menandakan jika artefak itu dilindungi dengan sinar laser.


Marcello lalu mengambilnya kemudian memasukan ke dalam tas kecil di punggungnya. Sementara Takagawa melihat-lihat ke atas, berharap menemukan sebuah jalan untuk keluar.


Ia kemudian mengeluarkan tali yang memiliki pengait, kemudian melemparkannya pada besi di dekat lampu yang menggantung.


"Tunggu sebentar! Aku akan mencari jalan," ujarnya dibalas anggukan Marcello.


Takagawa langsung memanjat tali itu dengan cepat, ia melihat ada sebuah AC yang terpasang di dinding. Kemudian ia mengeluarkan sebuah besi kecil yang dapat memanjang otomastis, untuk mencungkil AC dan membuka jalan.


Seperti seorang pemain akrobat, kakinya melilit pada seutas tali dan kedua tangannya mulai mencungkil AC secara perlahan tapi pasti. Besi itu cukup kuat, hingga beberapa cungkilan saja AC itu sudah menggantung pada kabelnya yang cukup kuat.


Ia lalu mengayunkan tali, dengan gerakan yang cermat ia dapat menuju lobang AC. Setelah di dalam lobang, ia memberi kode pada Marcello agar mengikutinya.


Marcello yang sedari tadi memperhatikan, ia lantas mengikuti apa yang dilakukan Takagawa. Dengan gerakan sempurna, mereka berdua akhirnya bisa masuk ke dalam lobang AC.


Takagawa sudah menendang AC bagian luar, sedangkan Marcello berusaha menggapai AC untuk memasangnya kembali.


Setelah AC terpasang kembali, Takagawa mengulurkan seutas tali ke luar tembok. Setelah dirasa kuat, mereka berdua pun turun melalui seutas tali menuju ke luar gedung.


Mereka merasa senang saat pertama kali melakukan misi penyusupan dan berhasil, entah mengapa penjaga di museum tidak cepat tanggap seperti dari informasi yang mereka dapat.


Penjagaan disana pun tidak seketat kabarnya, bahkan artefak yang harus mereka curi pun bukan termasuk kategori artefak langka yang bisa dijual dengan harga tinggi. Itulah pemikiran yang terlintas diantara mereka berdua mengiringi perjalan mereka kembali ke markas.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!


__ADS_2