Between Guns & Roses

Between Guns & Roses
Target Baru II


__ADS_3

Dani masih terhanyut dalam lamunannya, tiba-tiba Sean memanggilnya, membuat ia kembali tersadar.


"Dani, apakah kau benar-benar telah berjumpa dengan orang ini?" Tanya Sean mengagetkannya.


"Ya, tidak salah lagi itu dia, aku masih mengingat wajahnya. Ia seperti tidak memili.ki rasa takut, bahkan ketika aku menodongkan pistolku kepadanya," Dani bercerita.


"Mengapa tidak kau tembak saja saat itu?" Tanya Sean keheranan.


"Aku tak sebodoh itu, dia telah menyelamatkanku. Lagipula aku tidak mengetahui jika dia adalah seorang pembunuh dan anggota asosiasi," Dani menjelaskan.


"Aku menganggap dia hanya warga sipil atau seorang militer yang mahir menggunakan senjata. Dia juga tidak menyakitiku, jadi tak ada alasan bagiku untuk membunuhnya," ujarnya menambahkan.


Sean hanya menghela nafas mendengar penjelasan rekannya, ia sangat tak menyangka jika seorang Dani pernah bertemu dengan orang yang selama ini ia cari.


"Apa kau yakin jika dia yang membunuh Juan?" Tanya Dani.


"Jika asosiasi dalangnya, berarti dia yang melakukannya. Namun jika organisasi Black Shadow, aku tak mengetahuinya. Yang aku tahu adalah orang ini adalah anggota asosiasi Blood Moon," jawab Sean seraya menunjuk poto Antonio yang sedang terpampang di layar laptopnya.


"Hmm, sangat sulit mencari informasi tentang organisasi rahasia. Semua penuh misteri dan membuatku stress," ujar Dani seraya menjambak rambutnya.


Ia sangat merasa frustasi dengan pekerjaannya, begitupun Sean. Mereka berdua seperti pasrah jika harus dipecat karena gagal dalam tugas.


Selain menyelidiki dua organisasi rahasia, penyelidikan mereka pun selalu menemui jalan buntu. Segala informasi yang mereka cari selalu mendapat jawaban tidak memuaskan.


Hanya saja saat mendapat poto Antonio, mereka seperti menemukan angin segar. Namun bukan berarti dapat bersantai, mereka sekarang harus berpikir bagaimana menemui orang itu.


"Kau dapat darimana poto itu?" Dani bertanya pada Sean yang tengah mengotak-atik laptopnya.


"Ada seseorang yang mengirimnya melalui e-Mail, dia seperti sukarela memberi informasi ini tanpa pamrih," jawab Sean santai.


"Benarkah? Info apa lagi yang dia kirim?" Tanya Dani penuh antusias.


"Aku belum mengecek lagi, entahlah," Sean menjawab santai.


"Bisakah kau menanyakan sesuatu padanya?" Dani mengusul.


"Baiklah aku akan mencoba," Sean menjawab, lalu mengotak-atik laptopnya.


Kemudian login ke akun e-Mail dan membuka kotak masuk untuk mencari nama akun yang telah memberinya informasi.

__ADS_1


"Apa nama akun itu?" Tanya Dani sambil menatap layar laptop.


"Nah, ini dia. JAF_2," jawab Sean seraya menunjukan apa yang ia maksud.


"Hmm, tidak ada yang aneh dengan akun itu. Coba tanyakan padanya! apa yang harus dilakukan agar kita bisa bertemu dengan Antonio?" Ujar Dani mengusul.


Sean hanya mengikuti arahan partnernya. Ia lantas mengetik apa yang dikatakan Dani, kemudian mengirimkannya.


"Tunggu sebentar! Biasanya dia tidak butuh waktu lama untuk membalas," Ujar Sean.


Tiba-tiba ada pengingat e-Mail masuk. Sean lantas membuka kotak masuknya.


"Gedung bioskop? Bukannya disini tidak ada bioskop?" Tanya Sean keheranan saat membaca pesan masuk dari e-Mail-nya.


"Ada," jawab Dani singkat.


"Tapi sekarang bioskop itu sudah tutup, aku tahu lokasinya," tambahnya meyakinkan.


"Aku ragu, jika ini hanya jebakan," Sean berkata lirih.


"Katakan padanya jika kita hanya ingin berbicara pada Antonio, tidak lebih!" Dani memerintah.


"Iya hanya mengetahui tempat Antonio akan mengeksekusi target selanjutnya, yaitu di gedung bioskop. Temui dia, jika kita ingin bicara padanya," Sean menjelaskan sambil membaca pesan itu.


"Baiklah, kita cegah dia untuk melakukan eksekusi! Lalu kita tangkap!" Dani berkata seraya mengepalkan tangan.


***


Sepeninggal Pedro dari rumahnya, terlihat Antonio tampak tersenyum di ruang kerjanya sambil melipat laptopnya, ia merasa senang karena telah berhasil memancing target ke tempat yang telah ia persiapkan.


"Kali ini aku gunakan strategi Pedro, aku ingin tahu seberapa besar kesempatanku untuk menyelesaikan misi ini," gumamnya perlahan. Setelah itu ia menyusun skema pergerakan melalui goresan-goresan kapur di papan tulisnya.


Perlahan demi perlahan ia menggambar sketsa tentang beberapa kemungkinan yang akan terjadi dalam setiap langkahnya. Dari mulai pertama hingga akhir ia gambarkan sedetail mungkin, agar tidak salah perhitungan dan berakibat fatal.


"Aku telah lama menunggu ini, akhirnya saat yang ku tunggu telah tiba," gumamnya seraya memperhatikan goresan-goresan di papan tulisnya.


Sejak pertemuannya dengan Dani dulu, Antonio telah mengetahui bahwa detektif itu sedang mencari informasi tentangnya. Hanya saja ia tidak berani bertindak tanpa ada perintah dari asosiasi langsung. Antonio hanya memancing kedua detektif itu dengan memberi mereka sedikit informasi tentang dirinya.


Namun tanpa diduga, pihak asosiasi malah memberi ia misi yang diinginkannya. Sehingga seperti memberi jalan untuknya beraksi.

__ADS_1


"Akan aku mulai rencana yang sempat aku tunda, aku harus berterima kasih kepada para petinggi. Seolah mereka mengetahui apa yang ada di pikiranku," gumamnya lagi.


Setelah menghapus semua coretan di papan tulis, ia lalu bergegas ke tempat yang telah ia tentukan sebelumnya. Yaitu, gedung bioskop yang telah terpakai. Sekedar untuk melihat situasi dan menyimpan sebuah teka-teki.


***


"Benarkah ia akan melakukannya besok?" Tanya Dani yang terkejut saat membaca langsung pesan di e-Mail milik Sean.


"Aku rasa dia dia jujur, karena ia memberikan informasi ini semata-mata untuk membantu petugas kepolisian," jawab Sean mengiyakan.


"Jangan biarkan dia lolos! Tidak ada kesempatan lagi setelah ini," Dani berkata seraya mengepalkan tangannya.


"Persiapkan pasukan! Beritahu divisi lain untuk membantu kita mengepung gedung ini," ucapnya memerintah.


"Siap!" Jawab Sean singkat.


"Oiya, siapa target Antonio itu? Coba tolong tanyakan padanya," Dani berkata lagi.


Sean lalu mengetik sebuah percakapan sesuai instruksi Dani, lalu mengirimkannya sebagai balasan dari e-Mail tadi.


"Vladimir," Sean berkata pelan saat membaca balasan e-Mail dari informannya.


"Vladimir? Bukankah dia adalah manajer Juan?" Dani bertanya memastikan.


"Iya, memang. Dia adalah manajer Juan," Sean menjawab singkat dan penuh kepastian.


"Kurang -ajar!" Dani memukul geram meja di depannya.


"Ini tak bisa dibiarkan, setelah Juan tewas kini manajernya. Apa yang ia inginkan? Aku tak memahaminya," Ia bertanya dengan nada kesal.


"Entahlah, kita harus menangkapnya dan menanyakan langsung apa motif dia melakukan semua itu," jawab Sean berusaha menenangkan rekannya.


Dani hanya terdiam saja, ia memikirkan berbagai macam cara untuk menangkap Antonio. Selain itu ia juga harus tetap waspada, karena Antonio bukanlah orang sembarangan yang dapat dengan mudah memberikan informasi kepada sesorang.


Dalam hatinya, Dani merasakan bahwa ini hanya jebakan dan pertanda buruk akan segera menimpanya. Namun ia harus memastikan semuanya sesuai informasi yang ia dapat dan memberi alasan yang kuat untuk membuat laporan pada atasannya.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

__ADS_1


Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!


__ADS_2