Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
AKU CEMBURU


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini hubungan Tiuga dan Aisyah goyah. Tiuga selalu berusaha mengambil hati Aisyah dengan membawa hadiah kecil tiap kali pulang kerja, tapi tidak juga dapat meluluhkan hati Aisyah.


Daniel yang mengetahui kejadian kemarin pun paham dengan kegusaran hati sahabat nya ini.Ia mencoba menghibur Tiuga.


"Udah gak usah terlalu di fikirin... mungkin dia cuman butuh waktu buat berfikir. Lagian itu kan masa lalu lo, masa depan lo Aisyah, yakinin aja Aisyah tentang itu" Nasehat Daniel.


" Gue udah berusaha bujuk dia..., kasih dia hadiah...perhatian... tetap aja di cuekin..." ucap Tiuga. "aaarrrggghhh pusing gue.... " Serunya seraya menyibak rambutnya kebelakang.


Tiuga benar-benar bingung tidak tau apa yang harus di lakukannya lagi. Dia menyayangi Aisyah dengan tulus tapi Aisyah seakan-akan terus meragukan itu. Aisyah seolah-olah masih menyimpan curiga antara dia dan Sherin.


"Gini deh... sekarang fokus dulu sama restoran kita ini, pak Budi mintak kita cek lapangan hari ini. Buat cek progres kerjanya sebab klien mendesak supaya cepat selesai... " ucap Daniel."Dari pada lo Uring-uringan gak jelas kayak ababil kehabisan pulsa.... hhh... mending kita cek lokasi sekarang. Jelas ada faedahnya buat masa depan kita... yoookkk...ah... "Ajak Daniel separuh memaksa. Tiuga pun beranjak dari tempatnya.


Tiuga dan Daniel pun pergi menuju tempat pembangunan restoran itu, yang masih dalam tahap pembangunan interiornya. Daniel mengecek bagian lain dan Tiuga sisi lainnya lagi. Dia mengecek setiap detail nya. Sesekali para pekerja di sana menjelaskan progres hasil kerja mereka. Fikiran Tiuga masih tidak terlalu fokus, kadang dia tidak begitu mendengarkan penjelasan para pekerja itu. Dia masih memikirkan permasalahan Sherin. Bisa-bisanya Sherin senekat itu. Dia mulai khawatir jika Sherin akan semakin berulah.


Kenapa perempuan itu terus saja mengganggu hidupnya. Dia tidak bisa lepas dari bayang-bayang Sherin. Entah kapan bosan nya Sherin begini. Tiuga terus memikirkannya.


Itu membuat dia tidak terlalu fokus dengan langkahnya hingga dia secara tidak sengaja tersandung dan secara reflek berusaha meraih sesuatu untuk bertahan, tapi naas dia malah menyentuh salah satu tiang penyangga hingga papan yang ada di atasnya pun ikut rubuh, Tiuga berusaha menghindar tapi kayu yang lumayan besar itu malah menimpa kakinya. Hingga ia mengerang ke sakitan, apa lagi saat darah segar mulai keluar, dia mulai panik. Semua pekerja dan Daniel berlari mendekati sumber suara, alangkah kagetnya dia saat mendapati Tiuga yang tengah terluka.


"Yaa ampun Tiuga ...!" Seru Daniel.


Semua berusaha membantu Tiuga mengangkat kayu yang menimpa kaki Tiuga. Dan Daniel segera membawa Tiuga ke rumah sakit untuk di periksa.


...***...


"Ini gak papa, kakinya cuman sedikit keseleo, dan bengkak. Terus lukanya juga tidak terlalu dalam. Istirahat saja dulu, besok kita cek lagi, kalo membaik, besok bisa pulang" Terang dokter lalu pergi.


Tidak lama ibu dan Aisyah datang dalam keadaan panik.


"Kenapa tiu...!?" Tanya ibunya panik.


" Nggak papa kok ma, tadi cuman gak sengaja nyentuh tiang penyangga, terus tiangnya ambruk...tapi untungnya cuman kaki aja kok yang kena" Terang Tiuga berusaha memberi pengertian pada ibunya.


"Tadi udah di periksa dokter tante, dokter bilang cuman keseleo, dan ada sedikit jaitan gegara sempat kena kaca juga tante, tapi nggak dalam? nanti juga sembuh...! " Terang Daniel serius.

__ADS_1


"Kamu itu kalo kerja yang fokus donk nak..." Seru ibunya khawatir.


Tiuga hanya tersenyum kecut sambil menahan sakit. Aisyah masih diam dengan wajah datar, dia berusaha bersikap tenang walaupun saat mendengar berita Tiuga kecelakaan di tempat kerja jantungnya seperti luruh dari tubuhnya. Sekarang dia tenang setelah tahu Tiuga tidak apa-apa.


...***...


Malam itu Tiuga menginap di rumah sakit semalam bersama Aisyah. Tapi Aisyah masih bersikap dingin. Walaupun dia tetap merawat Tiuga, seperti membantu Tiuga ke kamar mandi dan keperluannya yang lain masih di bantunya. Tiuga pun hanya bisa diam melihat Aisyah yang tidak mau di ajak bicara.


Sebenarnya Tiuga mulai lelah dengan sikap Aisyah. Jadi dia pun mulai tidak mau menggubris Aisyah, dia sudah mulai capek. Hingga beberapa bantuan Aisyah mulai di tepisnya. Kecuali untuk sesuatu yang benar-benar sulit baginya.


Dia habiskan waktu dengan main handphone dan Aisyah membaca Al-Quran mini yang memang selalu di bawanya. Dia membacanya pelan hingga terdengar samar-samar.


Mereka berdua menjadi seperti 2 orang asing yang tidak saling menyapa. Mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sesekali Tiuga melirik Aisyah dan Aisyah pura-pura tidak tahu.


...***...


Keesokan harinya Tiuga sudah di perbolehkan untuk pulang oleh dokter. Ibu dan Adel pun menjemput kepulangan Tiuga. Ayah Tiuga tidak bisa ikut karena ada kerjaan, Alfina juga sedang sekolah. Sekarang dia di rawat di rumah.


Setelah sampai rumah Tiuga langsung di baringkan di ranjang. Aisyah masih dingin dengannya. Walau dia terus merawat Tiuga, tapi dia masih tidak mau bicara. Tiuga merasa dia tidak bisa begini terus, dia harus bicara.


...***...


"Mau sampai kapan kita kayak gini!? Aku gak bisa rubah masa lalu aku Aisyah ... Kalau di suruh milih aku akan tetap pilih kamu. Dia masa lalu aku kamu masa depan aku...." Ucap Tiuga terhenti. Dia masih memegang tangan Aisyah,dia menarik nafas panjang "Aisyah ... Tapi kalo kamu keberatan dengan masa lalu aku. Baik lah... Nggak ada yang bisa aku lakuin. Aku nggak bisa terus mikirin masalah ini sampe aku kayak gini pun, kamu masih Diam. Lain kali bisa saja aku mati! " Ucap Tiuga penuh tekanan "Kalau memang kamu sudah nggak perduli sama aku... Nggak usah kasih aku obat lagi. Nggak usah rawat aku.... " Ucap Tiuga yang mulai terpancing emosi nya "Aku nggak butuh ini...! " Seru Tiuga, dia pun membuang semua obatnya hingga semua berhamburan. Aisyah kaget dengan reaksi Tiuga.


Pertama kalinya Tiuga marah pada Aisyah. Dia kesal dengan sikap Aisyah yang tidak tau apa maunya. Nafas Tiuga terlihat memburu tidak teratur. Matanya tajam menatap.


Aisyah tercenung melihatnya. Dia takut pada kemarahan Tiuga tapi dia juga takut kehilangan Tiuga. Mendengar Tiuga yang siap melepasnya, Aisyah melemah, bukan itu yang dia inginkan. Dia hanya belum siap dan shock dengan apa yang dia lihat waktu itu.


Tapi melihat kemarahan Tiuga, membuat Aisyah tersadar dengan sikapnya yang mungkin memang sudah keterlaluan. Dia melihat Tiuga yang tengah menatap kosong kearah jendela. Tiuga sudah pasrah dengan pernikahannya yang baru seumur jagung. Tidak ada yang bisa di lakukannya lagi.


Tapi di luar dugaan... Aisyah segera menghambur ke pelukan Tiuga. Itu sontak membuat Tiuga kaget. Tangisnya pun pecah. dan seketika egonya terkalahkan.


"Aku cemburu dengannya, mas... aku cemburu... Aku nggak tahan lihat kamu sama dia. Dia bahkan berani peluk kamu di hadapan aku. Dia nggaj takut dengan apapun untuk mencintai kamu. Bahkan dia terlalu cantik sedangkan aku... kalian kelihatan serasi waktu bersama saat foto itu, aku gak bisa nahan diri aku waktu itu... Aku nggak akan bisa melawan dia. Dia punya semua sebagai seorang perempuan di mata laki-laki. Aku akan lepas kamu kalau kamu ingin dengan dia. Karena aku nggak sebanding dengan dia. Aku akan kalah, aku akan kecewa!!...Aku takut aku akan kecewa..." Seru Aisyah dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Tiuga segera melepas pelukan Aisyah, dia menatap mata Aisyah dalam-dalam. Seolah-olah tidak percaya dengan yang barusan dia dengar.


"Aku juga takut ke hilangan kamu mas... Tapi..." Ucap Aisyah dengan segukan.


"Dengerin aku Aik... Dia memang cantik! Tapi kamu jauh lebih cantik di mata aku....Kamu jauh lebih bisa bersikap dewasa dari pada dia. Kenapa kamu bandingin kamu sama dia...!?" Ucap Tiuga meyakinkan Aisyah. Aisyah hanya tertunduk. "Kamu nggak tau siapa dia. Dengan kecantikkannya itu juga kelemahannya. Dia menjadi sangat ego dengan kecantikannya. Dia merasa tidak ada orang yang bisa menolaknya. Hingga dia bisa bersikap semaunya... Karena itu dia berani. Bagi aku perempuan yang beradab kayak kamu jauh lebih menarik" Ucap Tiuga berusaha meyakinkan Aisyah. "Jadi... Jangan bandingkan kamu sama dia lagi yaaa... Karena jelas yang aku cinta itu kamu, dia cuman masa lalu aku. Aku bisa gila kalo kehilangan kamu Aisyah, kamu perempuan terbaik yang pernah aku kenal. Perempuan seperti Sherin bisa aku temuin kapan aja di Jakarta ini. Tapi perempuan baik seperti kamu... Mungkin ini akan jadi kesempatan sekali seumur hidup aku..." ucap Tiuga dengan lembut seraya menatap mata Aisyah dalam.


Aisyah tersenyum mendengar ucapan Tiuga, dia kembali memeluk Tiuga. Yang dibalas Tiuga memeluknya juga. Tiuga mengusap air mata Aisyah.


"Sudah... Jangan nangis lagi... " Ucap Tiuga lembut seraya tersenyum, Aisyah mengangguk sambil tersenyum. Dan kembali memeluk erat suaminya.


"Maafin aku mas... Gara-gara mikirin aku kamu jadi kayak gini..." Ucapnya terputus.


"Nggak papa kok... ! " ucap Tiuga


"Ehem, Ehem... udah baikan nih ceritanya!? " goda Adel yg tidak tau sejak kapan dia ada di sana. Tengah berdiri cantik di depan pintu.


Aisyah berusaha melepas pelukan Tiuga, tapi di tahan Tiuga.


"Kenapa yang jomblo? iri yaaa...Sini ikutan...!!" Seru Tiuga usil.


"Idiiihhh... Najis... " Seru Adel. "Kalo mau gila kunci dulu pintu... Rumah ini bukan cuman ada kalian berdua..." Ucapnya seraya keluar sambil menutup pintu.


Tiuga pun melepas pelukannya, dan di balas pukulan oleh Aisyah, Tiuga hanya tertawa dengan pukulan lembut istri nya itu sambil pura-pura sakit, tapi tidak di hiraukan Aisyah. Aisyah segera keluar mengantar nampan ke dapur.


" Naaahhhh.... Gitu donk, jangan cepet ngambekan... Nanti beneran di rebut perempuan lain lo... " goda Adel.


"Jangan gitu ah... kak!! " Seru Aisyah takut.


Adel hanya tersenyum melihat reaksi adik iparnya ini.


Aisyah sangat takut kehilangan Tiuga, apa lagi bila di ingat saingannya adalah seorang Sherin. Perempuan cantik yang pandai memikat lelaki. Tentu bukan hal yang sulit baginya menggoda Tiuga yang notabene nya adalah mantan kekasihnya dulu. Tapi Aisyah hanya bisa mempasrahkan segala sesuatunya kepada Allah sang pencipta. Aisyah percaya, jodoh, Rizki, maut Allah lah penentunya. kita hanya dapat menjalaninya dengan ikhlas.


Tiuga lega akhirnya Aisyah mau memaafkannya. Kali ini dia berjanji akan menjadi laki-laki baik yang pantas untuk bersama Aisyah. Dia tidak ingin kehilangan Aisyah.

__ADS_1


😜😜😜


BERSAMBUNG...


__ADS_2