
Di rumah Aisyah sudah membulat kan tekadnya untuk kembali ke Jakarta. Dia menemui ibunya dan mengatakan niatnya untuk kembali ke Jakarta. Uminya senang mendengarnya. Dan Aisyah pun segera membereskan semua barang-barang nya dan bersiap berangkat ke Jakarta.
Setelah berpamitan dengan saudaranya dia segera berangkat diantar oleh umi dan paman Ginanjar hanya akan mengantar sampai bandara, hanya uminya yang akan ikut ke Jakarta bersama Aisyah dan Adifa. Karena uminya khawatir jika Aisyah pergi Jakarta sendirian.
Di pesawat Aisyah terus membuka handphone nya melihat potret Tiuga dan Adifa yang tersimpan penuh di handphone nya. Dia rindu setiap moment itu bersama Tiuga. Sekarang dia akan bertekad, dia tidak akan percaya siapapun, apapun itu. Kecuali Tiuga sendiri yang mengatakannya. Dia sudah sering di tipu oleh prasangkanya sendiri selama ini. Dia tau tidak semua laki-laki seperti Faridz, terutama Tiuga. Tiuga tidak akan menyakitinya seperti Faridz. Dia bertekad untuk tidak lagi membandingkan masa lalunya bersama Faridz dengan Tiuga. Dia tidak akan hidup dalam bayangan itu lagi. Tidak akan. Itu tekad Aisyah.
Tuhan memberimu masa lalu yang buruk bukan untuk menjadi prasangka buruk, tapi agar menjadi pelajaran hidup dan sejarah yang akan mengingatmu agar kau bisa menghargai apa yang kau miliki saat ini. Jadi jangan lupa bersyukur dan ikhlas untuk semua yang kita lalui, percaya lah pada Allah, jangan berprasangka buruk padanya.
Tanpa terasa Aisyah sudah sampai di Jakarta. Mereka segera keluar, dan saat tiba diluar bandara mereka di sambut taksi yang sudah berjejer menanti pelanggan yang siap diantar ke tujuan. Aisyah dan uminya pun segera naik salah satu taksi tersebut. Menuju rumah orang tua Tiuga.
Sepanjang perjalanan Aisyah terus tersenyum bahagia, akhirnya dia akan bertemu Tiuga, setelah 1 bulan lebih dia di Bandung. Sekarang dia kembali ke Jakarta. Dia sangat merindukan suasana Jakarta yang panas, yang macet, yang ramai. Dia juga kangen dengan Bell Cake toko kuenya. Dia tidak sabar ingin kesana juga.
Jalanan Jakarta cukup macet jam segini. Adifa yang mulai beradaptasi lagi dengan panasnya Jakarta, mulai menangis. Dia tidak tahan dengan suasana baru ini. Dia merengek dan menangis, Aisyah dan uminya berusaha membujuknya. Sampai di tempat tujuanpun Adifa masih menangis. Saat Aisyah membuka kaca mobil. Alangkah kagetnya satpam Adi yang ternyata tamu tersebut adalah Aisyah dan Adifa. Dengan wajah sumringah dia segera membuka kan pintu gerbangnya.
Setelah membayar taksi Aisyah segera mengangkat barang-barang nya bersama satpam Adi dan seorang ART.
Adifa masih menangis di gendongan neneknya. Itu membuat orang-orang rumah keheranan kenapa ada suara bayi. Suara anak tetangga tidak akan sampai kerumah, karena halaman rumah yang luas. Sonia segera membuka pintu. Dan Alangkah kagetnya dia saat tahu siapa yang datang. Dengan senyum kaget dia segera mengambil Adifa dari gendongan umi Aisyah, dan Aisyah segera salim dengan mertuanya dan di sambut pelukan haru oleh mertuanya. Mereka segera masuk. Adel, Alfina dan oma juga tidak kalah kaget melihat siapa yang datang. Mereka segera berebutan ingin bersama Adifa.
Spontan Adifa menjadi rebutan semua orang. Seolah-olah dia juga merindukan semua orang di Jakarta, seketika tangis dan rengeknya berhenti.
__ADS_1
"Kenapa pulang sendiri, kan sudah mama bilang mama jemput kamu tadi pagi.... " Ucap Sonia ibu Tiuga.
"Aik udah kangen banget sama semuanya, terutama mas Tiu. Aik nggak berhenti khawatir sama dia. Apa lagi waktu Aik pergi mas Tiu masih belum sadar... " Ucap Aisyah.
"Hmmmh.... Maaf sayang... Waktu itu mama ngomong ngelantur... Kamu pasti tersinggung banget sama mama yah... " Ucap Ibu mertuanya seraya memeluknya.
"Nggak papa mah... Aik juga salah... terlalu cepat curiga dan mutusin pergi gitu aja... Maafin Aik juga mah... " Ucap Aisyah.
"Di mana Mas tiu mah... " Ucap Aisyah yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Tiuga. Adelpun segera mengajak Aisyah bicara 4 mata. Dia membawa Aisyah untuk bicara terpisah tidak jauh dari sana.
Adel menarik nafas panjang sebelum bicara, dan menatap mata Aisyah. Aisyah bingung sekaligus khawatir dengan apa yang terjadi pada Tiuga hingga Adel ingin bicara 4 mata dengannya. Adakah hal buruk terjadi pada Tiuga? Jangan-jangan Tiuga cacat pasca kecelakaan tersebut. Jika benar, dia siap menerima Tiuga apapun keadaan Tiuga. Dia akan tetap mencintai Tiuga apapun keadaan Tiuga. Itu tekad Aisyah.
"Walaupun begitu. Dia selalu mencari kamu dan Adifa di setiap sudut rumah. Alam bawah sadarnya selalu menuntut dia mengingat kalian. Dia sering bertingkah aneh dan selalu menyendiri seolah-olah berusaha mengingat kalian... " Terang Adel. Hati Aisyah hancur mendengar penjelasan tersebut. Tidak di sangka oleh Aisyah jika tindakkan nya yang pergi tanpa izin membuat luka yang dalam bagi Tiuga. Dia benar-benar menyesal atas tindakkannya. Aisyah menangis menyesal, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan isak tangis nya yang pecah.
Adel berusaha menenangkan Aisyah. Dia mendekap adik iparnya itu. Dia dapat rasakan kesedihan Aisyah saat ini. Pasti semua ini juga menyiksanya. Semua ini menyiksa semua orang di sekitar mereka. Termasuk Adel yang juga harus menunda rencananya bersama Daniel untuk sementara waktu, hingga keadaan Tiuga membaik.
"Sudah Aisyah, semua sudah terjadi... yang penting sekarang kamu sudah kembali ke rumah ini lagi... Lain kali jangan pergi lagi yaaa..." Ucap Adel.
Tiba-tiba Sonia datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Iya Aik... Jangan pergi lagi... Kita semua membutuhkan kamu disini. Mana mungkin mama ngusir kamu... Saat itu mama panik... Mama ketakutan... Nggak mama sangka mama akan ngomong sekasar itu sama kamu... Maafin mamah yaaa... " Ucap Sonia lembut. Aisyah mengangguk.
"Maafin Aik juga mah... " Ucap Aisyah.
Setelah mereka semua tenang, Aisyah baru ingat tentang Tiuga.
"Mana mas Tiu...!? " Tanya nya.
"Ada di kamar... dia sekarang suka nyendiri, setiap kali di deketin pasti pergi... " Terang Adel.
Aisyah berdiri akan menghampiri Tiuga. Adel menahan tangannya.
"Jangan kagetin dia Aik... " Ingat Adel pada Aisyah. Aisyah mengangguk pelan sambil tersenyum.
Dengan hati berdebar Aisyah melangkah ke kamarnya. Dia tidak tahu bagai mana reaksi Tiuga saat melihatnya nanti. Dia mengayunkan langkahnya berlahan menelusuri tangga rumah itu. Semakin dekat jantungnya semakin berdetak tak karuan. Saat sampai di depan pintu kamarnya Aisyah terhenti, dia menarik nafas panjang dan tidak lupa berdoa. Saat pintu di bukaaa...
😍😍😍
BERSAMBUNG...
__ADS_1