
Setelah pesta yang melelahkan, Sherin kembali pulang, dia diantar oleh Rio manajer nya. Akhir-akhir ini Sherin memang lebih banyak diam. Dia tidak seceria dulu lagi. Ada perasaan lelah di hidupnya. Dia lelah mengejar kekasihnya yang sudah benar-benar melupakannya. Dia lelah dengan semua yang telah ia lakukan. Dia lelah dengan kesendiriannya, yang seolah di campakkan oleh semua orang. Kini dia merasa kosong, tidak ada cinta, tidak ada kehangatan seperti dulu lagi.
Sebentar kemudian dia sampai di apartemen nya. Dia langsung ke kamar untuk beristirahat. Tiba-tiba handphone nya berdering. Dia melihatnya ternyata pamannya yang menelpon.
"Yaa... Paman" Jawab Sherin.
"Besok kamu ke tempat paman, ada yang harus paman omongin sama kamu!" Ucap pamannya lalu mematikan telfonnya.
Sherin tidak ambil pusing. Dia langsung melempar handphone nya di atas kasur. Dia terlalu capek habis begadang semalam di ulang tahun temannya. Di tambah lagi fikiran nya yang lagi kacau.
...***...
Keesokkan harinya dengan perasaan malas Sherin pergi menemui pamannya di rumahnya.
Rumah yang dengan halaman yang cukup luas dengan banyak pepohonan buah dan bunga. menambah asri dan sejuk saat masuk. Dengan pagar rendah yang di buat agar dapat lebih dekat dengan tetangganya. Rumah itu terlihat masih model klasik ala kolonial belanda dulu. Tapi cukup besar dan nyaman. Paman Sherin memang mendiami rumah almarhumah neneknya Sherin. Dia dan ibunya adalah saudara kandung. Ibu Sherin saudara perempuan satu-satunya pamannya, jadi itu lh kenapa setiap permasalahan Sherin pamannya yang menjadi walinya. Semenjak ibu Sherin ikut suaminya ke paris Sherin menganggap pamannya lah orang tuanya sekarang. Dia tidak perduli dengan ibunya lagi.
(Bayangin rumahnya model kolenial belanda ala Author... ðŸ¤ðŸ¤)
"Ada apa!? " Tanya Sherin langsung bersandar dengan posisi hampir tertidur di sofa yang empuk itu.
"Duduk yang bener dulu.. " Tegur bibiknya yang baru datang, dia pun duduk di samping pamannya, Sherin pun membenahi duduknya.
"Kemarin ayah Tiuga nemuin paman kamu. Dia bilang kamu ganggu menantunya.... Sherin... Istri Tiuga itu lagi hamil. Kalo dia stress itu nggak baik buat tumbuh kembang janinnya... Ayo lah Sherin, jangan buat paman sama bibik malu... kami semua capek setiap hari dengar kamu berulah. Kamu sudah besar, bukan anak kecil lagi. Kamu seharusnya sudah paham dengan setiap konsekuensi dari perbuatan kamu. Bersikap lah lebih bertanggung jawab sedikit. sebentar lagi kamu juga akan menikah, dan kamu juga akan punya anak. Kamu akan tau bagaimana perasaan istri Tiuga.... " Nasehat bibi nya.
"Kalau kamu terus begini... Pindah saja kamu ke Paris. Paman sama bibi nggak sanggup lagi dengan tingkah kamu... " Seru pamannya.
Sherin hanya terdiam, dia tidak mengatakan apa-apa, dia merasa sangat lelah dengan perasaannya sendiri. Belum selesai paman dan bibi nya bicara dia sudah pergi. Dia merasa ini tidak adil, tidak ada orang yang memahami perasaannya saat ini. Semua orang seolah membela Tiuga, dan seakan perasaannya tidak ada yang perduli.
"Anak ini benar-benar sudah tidak bisa di kendalikan...Mulai sekarang terserah dengannya, dia hidup atau mati aku tidak perduli lagi...!?" Gerutu pamannya marah sedangkan bibi nya hanya diam menahan perasaan kesal.
Di mobil ada rio yang bersama sherin.
"Kita mau kemana" Tanya Rio, tapi tidak ada jawabannya, dia tahu sekarang Sherin sudah sangat tertekan. Hanya dia yang sekarang setia menemani sherin. Mengikuti setiap langkah Sherin.
Saat ini Sherin benar-benar terpuruk karena ulahnya sendiri. Dia merasa tidak ada lagi orang yang peduli padanya. Semua orang menganggap dia pembuat masalah. Tidak ada orang yang mengerti bahwa betapa ingin dia di peluk seseorang yang menyayanginya. Tanpa terasa Sherin meneteskan air matanya. Rio melihatnya sekilas lalu kembali melihat jalanan. Kulitnya yang putih menjadi merah saat dia menangis. Semakin lama tangisnya semakin keras, Rio pun menghentikan kendaraannya. Dia menatap Sherin yang tengah terguncang, tidak pernah dia melihat Sherin selemah ini. Dengan memberanikan diri, dia memeluk Sherin, yang tidak di tolak Sherin.
"Tidak apa-apa, kamu bisa menangis sepuasnya!? " Ucap Rio lembut.
Sherinpun menangis, ia benar-benar butuh Tiuga saat ini, dia butuh lelaki itu, kenapa lelaki itu bisa mencampakkannya begitu saja. Sherin tidak habis dengan Tiuga. Apa salahnya dan kurangnya dia pada lelaki itu, dia sudah menyerahkan segalanya bagi Tiuga. Dia benar-benar mencintai Tiuga. Tidak akan ada laki-laki lain selain Tiuga yang mampu menemaninya. Semakin dia larut dengan perasaannya dia semakin terluka, semakin sakit, semakin lelah dan lemah. Setelah semua yang telah di lakukan laki-laki itu pada nya, dia masih tetap menginginkan Tiuga kembali padanya.
Sampai akhirnya Sherin lelah dan puas menangis, dia pun mulai tenang.Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti di salah satu restoran, karena memang sejak tadi pagi Sherin belum makan. Tapi Sherin sedang tidak bernafsu makan. Dia tidak menyentuh makanannya sedikitpun.
...***...
Di tempat lain Tiuga yang baru pulang di sambut Aisyah kepulangannya, Adel mengintip dari kejauhan, dia tersenyum melihat mereka yang sudah berbaikan. Tiuga merangkul istrinya seraya berjalan kedalam rumah.
"Besok jadwal cek ke dokter lagi ya!? " Tanya Tiuga.
"Oh iya besok tanggal 28 yaaa... Nggak terasa sudah masuk 9 bulan ya mas... Aku nggak sabar...! " Seru Aisyah.
"Kamu nggak takut waktu lahiran!? " Tanya Tiuga.
"Jangan di tanya gitu ah... Aku jadi takut beneran jadinya.... " Ucap Aisyah manja.
"Jangan takut, kan ada aku yang nemenin kamu nantik... " Ucap Tiuga meyakinkan.
"Beneran ya mas... " Harapnya seraya merangkul Tiuga. Tiuga pun mengangguk.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya mereka pergi ke dokter untuk cek rutin bulanan.
" 2 minggu lagi mungkin udah lahir ini, udah mulai masuk panggul. Posisinya juga bagus, beratnya sudah 3,1 kg.... " Terang dokter.
Setelah cek kehamilan mereka mampir ke mini market sebentar. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah mengawasi mereka. Itu adalah Sherin. Dia melihat betapa bahagianya Tiuga yang tengah menanti ke lahiran anak pertamanya. Seharusnya dia yang disana bukan orang lain. Semakin dia memikirkan itu semakin sakit hatinya. Dia pun lantas pergi mengurungkan niatnya untuk berbelanja.
Selesai berbelanja Tiuga dan Aisyah mampir sebentar melihat rumah mereka, yang baru di beli sebulan yang lalu. Rumah yang luas 500 meter persegi itu masih dalam tahap perbaikan. Mereka berencana membuat rumah seperti yang Aisyah inginkan, putih abu-abu dengan konsep American style. Puas melihat-lihat merekapun pulang. Tanpa mereka sadari Sherin terus mengikuti mereka sampai ke rumah. Dia menatap dengan tatapan penuh arti.
Sesampai di rumah mereka di sambut oma yang ngomel.
"Kamu tuh kalo bawak istri yang lagi hamil itu jangan sampe sore gini kenapa, pamali buat perempuan hamil keluar rumah senja-senja " omel oma.
"iya oma, tadi kita tuh pulang sekalian liat rumah makanya agak telat...masih jam 5,masih aman kan! " sahut Tiuga.
"kamu tuh kalo di bilangin ngeyeeeel terus... " gerutu oma, Tiuga dan Aisyah hanya tersenyum mendengar omelan oma.!
diluar hujan mulai lebat. untung Tiuga dan aisyah cepat pulang, mungkin kalau telat maka mereka akan kehujanan. Di tengah hujan Aisyah menyeletuk.
"Mas, kok aku kepengen makan mie rebus yaa... Pakek telor setengah mateng... kayaknya enak..." Ungkap Aisyah sambil membayangkan betapa nikmatnya itu. " Mas, kamu mau nggak masakin buat aku... !? " Pinta Aisyah.
"Pengen banget!?" Tanya Tiuga.
"hmmmm.... ya, ya, ya.... " serunya manja.
Tiuga pun beranjak dari ranjangnya dia menuju dapur. Di dapur ada bibik yang selama puluhan tahun ini bekerja sebagai art dirumahnya.
"Nyari apa mas tiu!? " tanya pembantu itu sopan.
"Mie rebus mana ya bik!? " tanya Tiuga.
"Oh... itu sudah habis tadi sore mas tiu, dimasak sama mbak Adel bareng mbak Alfina.... " jawab pembantu itu.
"Ini lagi hujan lo mas tiu, kalo mau biar bibik beliin aja..." Tawar pembantunya.
"Biar saya saja bik, bibik istirahat saja... bibik kan juga capek... lagian ini buat Aisyah juga!" Ucap Tiuga penuh sopan santun juga.
ART itu tersenyum melihat Tiuga yang rela malam hujan-hujanan keluar demi keinginan istrinya.
Di tengah hujan lebat Tiuga keluar rumah, tampak hujan yang sangat lebat tapi untungnya tidak ada Halilintar hanya sekedar hujan. Dia harus berjalan lumayan jauh karena pekarangan rumahnya yang lumayan luas jadi butuh waktu untuk sampai pagar. Sesampainya di pintu pagar ada 2 orang satpam, yang satu satpam rumahnya dan yang satu lagi satpam komplek. Dia memang sering duduk disini buat ngobrol. Satpam rumahnya menyapanya seraya membukakan pintu.
"Mau kemana hujan-hujanan gini mas Tiuga!? " tanya satpam sambil membukakan pintu pagarnya.
"Ada yang mau di beli! " Jawab Tiuga singkat.
"Oh biar saya saja mas yang beliin! " tawar satpam itu.
"Nggak usah Di... biar aku saja! " Sahut Tiuga kepada satpam yang bernama Adi itu.
lalu berlalu.
"Mau kemana majikanmu malam-malam gini!? " Tanya satpam kompleks.
"Ada yang mau di beli katanya! "
"Owh... eh majikanmu itu mirip aktor komik, putih mulus, struktur mukanya juga rapi... saya yang laki-laki saja selalu pangling liatnya, padahal sudah sering liat... " puji satpam itu.
"Gantengnya yaaa...!! ya iyalah.. Namanya juga anak orang kaya. Tapi dia tuh nggak sombong, selalu nyapa. Terus juga sering bawa'in cemilan...." Puji satpam Adi pula.
__ADS_1
Hujan berlahan mulai berhenti. sekarang tinggal gerimis. Setelah keluar dari komleks perumahannya baru lah Tiuga sampai di sebuah toko yang ternyata sudah tutup. Tiuga pun memutuskan untuk mencarinya di toko dalam gang yang biasanya toko itu masih buka malam-malam gini. Sesampainya di sana Tiuga langsung membeli Mie rebus 5 bungkus dan telor. Dia pikir satpam yang tadi di luar mungkin saja juga lapar. Setelah membayar Tiuga pun pergi.
Tanpa Tiuga sadari sejak dia keluar kompleks rumahnya ada seseorang yang mengikutinya. yang semakin lama, semakin dekat. Karena merasa ada yang mengikuti Tiuga pun menoleh ke belakang. Belum sempat dia melihat orangnya sebuah pisau yang lumayan panjang menancap di perutnya, lalu dia menarik pisau itu dan menusukkannya lagi. untuk yang ke tiga kali Tiuga menahannya dengan tangannya. Dengan tenaga yang tersisa.
"Sherin... jangan... " Bisik Tiuga tercekat. yaaa itu Sherin yang sedang menggila. Tatapannya tampak dingin tapi saat mendengar suara Tiuga dia seperti tersadar. Dia menatap Tiuga yang tampak mulai bersimbah darah. Hujan yang kini tidak begitu lebat lagi masih mampu membasahi mereka berdua.
"Kamu bukan pembunuh, jangan lakuin Sherin. Anakku sherin... dia butuh aku. " Ucap Tiuga mulai tidak dapat menahan sakit, tangannya berusaha menahan lukanya agar tidak pendarahan, tapi darah itu tetap mengalir hingga menetes di jalanan. Nafasnya mulai tersengal, dan tubuhnya berkeringat karena menahan sakit.
Sherin menatap Tiuga dengan tatapan bingung tidak tau harus berbuat apa. Tangannya masih memegang pisau itu. seketika dia menangis. Sedangkan Tiuga kini tersandar di tiang listrik di pinggir jalan. Karena memang tadi Sherin memojokkannya di sana.
" Tolong Sherin...panggil seseorang kesini...Lalu pergi lah... Aku tidak akan mengatakan apa-apa" Ucap Tiuga yang masih sempat ingin melindunginya bahkan saat dia akan membunuh lelaki ini.
Dia tidak berubah, dia masih Tiu yang dulu, dia masih Tiu pelindung Sherin. Tiu yang akan dengan cepat datang saat Sherin membutuhkannya. Tiu yang menyayanginya tapi tidak mencintainya lagi.
Seketika Sherin tersadar dan memeluk Tiuga, yang kini nafasnya mulai tersengal-sengal.
"Cepat Sherin... Panggil seseorang, sudah tidak ada waktu. Aku...Aku...Nggak kuat lagi..." Ucap Tiuga melemah. Sherin pun segera pergi dan mencari seseorang yang kebetulan lewat.
" Tolong... seseorang terluka disana... " Ucap Sherin kepada laki-laki itu. laki-laki tersebut kaget melihat penampilan Sherin yang berlumuran darah. Dengan agak bingung dia segera bergegas menuju tempat yang di tunjuk Sherin.
Sedang kan Tiuga yang tengah sekarat. Mulai putus asa. Darah sudah bercecer di mana-mana, dia merasa tidak mungkin dia bisa selamat, dia sudah seperti mati rasa. tubuhnya dingin sekali, tapi keringat membasahi dahinya. Nafasnya mulai melemah. Penglihatannya mulai buram.
yaa Allah jika memang takdirku seperti ini. aku ikhlas...aku titipkan anak istriku dalam perlindunganmu... Batin Tiuga yang sudah mulai lemas kehilangan banyak darah.
Tiba-tiba samar-samar dia melihat seseorang yang di panggil Sherin tadi datang menghampiri Tiuga yang tengah bersandar duduk di tiang dalam keadaan tidak berdaya. Lampu jalanan yang redup masih mampu memperlihatkan Tiuga pada sosok laki-laki itu. Hingga dia segera berlari mencari bantuan.
...***...
Tiuga di bawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Lumuran darah sudah dimana-mana. Tidak lama Aisyah dan keluarga segera datang. Aisyah pergi keruangan di mana Tiuga di rawat. Tubuhnya lemah melihat Tiuga yang sekarat. Ayah coba menahan Aisyah dan segera memapahnya ke kursi. Mata Aisyah hampa menatap, dia merasa seperti mimpi, baru beberapa saat suaminya izin keluar dalam keadaan baik, tapi sekarang sudah begini. Ini seperti mimpi buruk, sulit bagi Aisyah percaya.
Saat perawat keluar dari ruang Tiuga di rawat ayah segera menghampirinya.
"Kami butuh donor darah segera, stok darah kami sudah habis. Apa ada anggota keluarga yang bisa menyumbang?" Tanya si perawat.
"Saya ayahnya... Saya akan menyumbang... " Ucap ayah Tiuga.
Dia pun segera mengikuti perawat untuk di ambil darahnya.
Tapi ternyata masih belum cukup. Mereka panik harus mencari ke mana lagi. Ada saran bagaimana kalau meminta bantuan ke tukang ojek di luar, depan rumah sakit.
Daniel pun segera keluar mencari di pangkalan ojek depan, mencari orang yang bisa menyumbang. Ada 2 orang yang cocok. Mereka bersedia menyumbang dengan syarat keluarga si penerima donor bersedia membayar mereka. Karena keadaan mereka yang tidak bisa bekerja lagi beberapa hari setelah mendonor. Keluarga Tiuga membayar lebih bahkan untuk itu.
Tapi masih belum cukup. Mereka ke habisan cara. Akhirnya datang Rio manajer Sherin.
"Saya juga AB, saya bersedia menyumbang... " Serunya yang entah sejak kapan berada di sana.
Rio pun ikut menyumbangkan darahnya. Rio datang setelah di telfon Sherin untuk pergi ke lokasi dia menusuk Tiuga, hingga dia di beritahu warga tentang lokasi rumah sakit Tiuga di rawat. Dan tanpa sengaja mendengar Tiuga butuh donor darah, yang ke betulan golongan darah mereka sama.
Aisyah tampak termenung, dia terus berzikir agar dia tidak kehilangan akal sehatnya. Oma terus memeluk cucu menantunya itu. Keadaan Aisyah benar-benar hancur sekarang.
***
Di sisi lain Sherin sudah sampai di kantor polisi dalam keadaan berlumuran darah. Polisi kaget melihat keadaan Sherin.
"Aku pembunuh...Aku membunuh... " Ucapnya dengan linangan air mata. Polisi segera membawanya masuk.
Sherinpun menceritakan apa yang terjadi dan di mana lokasi Tiuga saat di tusuknya. Setelah di konfirmasi ternyata benar ada korban penusukkan disana.
"Tenang dulu..." Ucap salah seorang polisi. Mereka tahu sekarang Sherin masih shock. Jadi mereka membiarkannya duduk di ruang interogasi dulu. Dan memberinya minum.
__ADS_1
😞😡😱
BERSAMBUNG...