
Saat di kamar Tiuga membicarakan rencananya besok pada Aisyah.
"Besok rencananya aku mau pergi mancing sama Adi dan paman kamu yang tadi itu. Jadi aku pergi besok yaa...! " ucap Tiuga meminta persetujuan.
"Kan kamu baru nyampe mas!! Emangnya nggak capek!? " Tanya Aisyah khawatir.
"Nggak kok. Aku nggak capek. Tadi nyampek kan juga langsung istirahat. Ini juga istirahat. " Ucap Tiuga meyakinkan.
"Yaudah... Tapi jangan sampe malam yaaa... Kamu juga belum sembuh banget itu. Kamu hati-hati yaaa.... " Ucap Aisyah melunak.
"siap sayang... " ucap Tiuga seraya membuat gaya hormat ala militer dengan 2 jarinya seraya memeluk istrinya dan mengecup keningnya.
Akhirnya mereka pun segera tidur, Adifa yang sudah terlebih dahulu terlelap atampak begitu nyenyak dan nyaman dengan suhu Bandung yang dingin.
...***...
Keesokan paginya mereka bersiap akan pergi. cuaca yang tampak bersahabat membuat mereka semangat untuk pergi. Tiuga Di perlihatkan beberapa jenis pancing oleh ayubi milik almarhum ayahnya dulu.
"Mas Tiu pakek pancingan abi aja yaa... " serunya memperlihatkan beberapa pancingan. Tiuga pun memilih salah satu yang tampak nyaman baginya.
"Itu favorit abi dulu mas, Abi juga sering pakek yang itu... " Seru Ayubi mengenang masa lalunya. Tiuga menyentuh bahu Ayubi dan mengelusnya dengan lembut. Setelah 2 tahun kepergian ayahandanya Ayubi masih tidak bisa melupakannya.
"Kamu kenapa sedih... Hmmm...! " Seru Tiuga lembut. Ayubi hanya menggeleng. Dan segera membereskan pancingan nya yang tidak di pilih Tiuga. Dia segera membawa ke belakang. Expresi Ayubi mengingatkan Tiuga pada Adifa. Dia tidak dapat membayangkan seandainya Excident dia dengan Sherin benar-benar merenggut nyawanya apa yang akan terjadi dengan keluarganya, terutama Aisyah dan Adifa. Apa keluarganya juga akan berduka sepanjang masa seperti keluarga Aisyah sekarang!
Tiba-tiba seseorang membuyarkan lamunannya. Dia adalah paman Aisyah, paman Ginanjar, paman Tejo Serta Adi yang baru datang.
"Eh pagi-pagi kok udah ngelamun... Rejeki di patok ayam... " goda paman Tejo, Tiuga hanya tersenyum.
"Ayubi mana!? " Tanya paman Ginanjar yang sudah siap pergi.
"Ada tadi lagi beresin pancingan... " jawab Tiuga. Tidak lama Ayubi pun keluar.
__ADS_1
"Dari mana kamu tolek... ini Sudah siang buruan kita pergi... " Seru paman Tejo pada Ayubi yang baru datang.
paman tejo tidak berbahasa sunda karena dia adalah asli orang Pasuruan Tulungagung. Dia menikah dengan Adik umi Aisyah dan juga bekerja di perkebunan Aisyah. Dia orangnya ramah dan lucu. Berbeda dengan Paman Ginanjar Adik kandung abi Aisyah, dia bergaya lebih kharismatik dan serius tapi sebenarnya sangat ramah dan baik hati.
Paman Ginanjar adalah orang kepercayaan keluarga Aisyah sekaligus sudah seperti abi pengganti bagi adik-adik Aisyah. Dia selalu membantu keluarga Aisyah jika ada apa-apa. Istrinya pun sangat dekat dengan keluarga Aisyah. Mereka semua adalah keluarga terbaik Aisyah. Mereka ini membuat keluarga Aisyah bisa melalui hari-hari berat setelah kepergian abinya.
Mereka berangkat dengan berjalan kaki santai. Memang lokasinya dekat perkebunan. Karena semalam hujan jadi kendaraanpun sulit untuk masuk karena jalan yang licin dan tidak rata. Jadi mereka putuskan jalan kaki.
Tampak pemandangan perkebunan yang luas yang di tanami berbagai macam sayuran Sepanjang mata memandang. Tampak sejuk di mata, dan memberi rasa damai tersendiri.
Karena masih pagi hawa dingin pun menusuk hingga ke tulang. Tiuga pun memakai jaket tebalnya dan topi. Gaya Tiuga tampak lebih menonjol karena postur nya yang tinggi. Apa lagi paras nya yang tampan membuat banyak yang menyapa. Mereka adalah para pekerja di kebun. Semua tampak takjub dengan pesona Tiuga. Tiuga tampak berusaha tampil santai dan ramah.
Tiuga berjalan mendekati Ayubi seraya merangkul bahunya.
"Heiii...kenapa!? Kok diam terus dari tadi!?" Tanya Tiuga pada Ayubi.
"Ayub kangen abi. Kalo pergi mancing gini Ayub ke inget abi. Rasanya kayak mimpi abi udah nggak ada.... " Cerita Ayubi dengan sedih.
"Di do'ain Yub. Jangan di tangisin terus....! " Nasehat paman Ginanjar. Tiuga menatap Ayubi yang tampak sedih.
"Ayub sering mancing kesini sama abi, Ayub kangen abi... " Tangis Ayub pecah. Tiuga menghentikan langkahnya begitu juga Ayub. Tiuga segera mendekap saudara ipar kecilnya ini. Untuk sesaat dia terisak dan semua terdiam. Mereka mengerti kenapa anak ini begitu sedih dengan abi nya, karena abinya adalah sosok sahabat terbaik bagi anak-anak nya.
"Sudah Ayub... Kan ada kita disini yang nemenin Ayub.... " Ucap Tiuga tanpa melepas pelukannya.
Untuk beberapa saat Ayubi terisak lalu sudah dapat mengendalikan emosinya. Tiuga pun segera melepas pelukannya. Ayubi segera menyeka Air matanya dan tersenyum seakan berkata bahwa dia tidak apa-apa. Tiuga tersenyum melihatnya, Tiuga juga kasihan kepada Ayubi. Setelah hampir 2 tahun berlalu Ayubi masih tidak berhenti berduka dengan kepergian ayahnya.
(cuci mata dulu... ini sosok Tiuga dalam khayalan author... 🤭🤭)
__ADS_1
(kira-kira beginilah perkebunannya dengan danau nya... 😅😅)
Dan merekapun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tidak terasa mereka sudah sampai pada tujuan. Tampak danau yang cukup besar. Dan ada beberapa orang yang tengah memancing. Tiuga pun duduk diantara paman Ginanjar dan Ayubi.
"Oyaa Tiuga. Kamu udah sembuh ya sekarang. Nggak sakit lagi bekas yang kemaren itu... " Tanya paman Ginanjar.
"Alhamdulillah, udah paman. Tapi masih belum bisa kalo kayak angkat yang berat atau olah raga kayak fitness masih belum berani sekarang... " Terang Tiuga.
"kalau di ingat-ingat...Waktu paman ke Jakarta dengan umi itu, pertama kali liat keadaan kamu paman udah nggak nyimpan harapan lagi. Paman pikir, sudah lah...ini mah parah keadaannya.... Semua orang sudah nyerah...paman kasiannya sama Aisyah,baru di tinggal abinya sekarang suaminya. Apa sanggup anak ini...!? Semua orang cuman kasian sama Aisyah,dia udah separuh nggak sadar nungguin kamu. Sampe dia lahiran dia kayak orang nggak sadar apa-apa, matanya kosong nggak ada reaksi. Kamu nggak liat paniknya kita waktu itu. Semua orang nangis, kamunya kayak gitu, Aisyah juga udah kayak nggak punya kesadaran diri. Mungkin kalo kamu benar-benar lewat waktu itu, Aisyah benar-benar bisa gila. Paman nggak nyangka sekarang waktu liat kamu kesini keadaan kamu udah sehat, Aisyah sehat, apa lagi anak kalian. Paman sampe terharu liatnya.... Paman bersyukur sekali..." ucap paman Ginanjar panjang lebar "Dan liat perempuan pelakunya, paman nggak nyangka perempuan cantik, kecil kayak gitu bisa sangat kejam lo... " serunya lagi sambil tersenyum tidak percaya.
"Eh iya dia juga sempet datang kan jenguk kamu. Berani sekali ya itu perempuan, udah celakain orang malah datang jenguk dengan santai... " ucap Adi dengan expresi tidak percaya. Tiuga hanya tertawa mendengarnya.
"Yaaa... sebenarnya saya juga punya andil yang sama. Saya mutusin hubungan kami kan waktu udah nikah sama Aisyah... Kalau dia sakit hati sebenarnya wajar.... Saya pikir waktu itu kalo nggak di gubris nanti juga capek sendiri. eh... nggak taunya dia malah nekat. Padahal jauh sebelum nikah juga saya udah mulai jauhin dia, cuman yaaa... nggak tau lah apa yang di pikirinnya paman... Tapi ada hikmahnya juga buat kita semua, sekarang dia udah jadi lebih baik. Udah bisa di ajak jadi teman. Kalo dulu...dia provokasi Aisyah terus kerjaannya, sampe Aisyah nggak mau nyapa saya berhari-hari. Terus juga perusahaan saya juga di manipulasi sama dia... Mungkin kalo nggak ada kejadian kemaren dia akan masih terus buat masalah.... " Ucap Tiuga panjang lebar "Udah lah paman... saya sama Aisyah udah ikhlas juga paman...! " Ucap Tiuga sambil tersenyum.
"Kamu itu cakep jadi banyak yang naksir. Harus pandai-pandai jaga hati. Jangan sampe keramahan kamu di salah artikan sama perempuan... " Nasehat paman Ginanjar. Tiugapun hanya tersenyum.
Tiba-tiba saja Ayubi berteriak.
"Mang, Dapet mang... " Teriak Ayubi pada mamang Tejo.
Ternyata pancingan Ayubi yang di tarik ikan. Merekapun dengan semangat melihat Ayubi menariknya. Ternyata ikan yang cukup besar menyangkut di kail Ayubi.
Matahari sudah semakin meninggi. menunjukkan hari sudah semakin siang. Tiba-tiba handphone Ayubi terdengar suara Azan menandakan waktu sudah zuhur.
"Udah siang, pulang lagi lah... Zuhur lagi kita. Mamang juga udah luaper..." Seru mamang Tejo.
Merekapun akhirnya pulang. menyusuri jalanan tadi yang sudah terik.
🐠🐟🦐
BERSAMBUNG...
__ADS_1