Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
DIA TIDAK TERGOYAHKAN


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini kaki Tiuga mulai membaik, ia kembali mengerjakan tugasnya seperti biasa. Walau masih kesulitan untuk memakai sepatu, jadi untuk sementara ia hanya menggunakan sandal.


"Kalo masih belum sembuh betul mending istirahat dulu di rumah, jangan di paksain" seru Roby dari depan pintu ruangan Tiuga.


"Kerjaan numpuk, duduk dirumahpun gue gak tenang" ucap Tiuga memberi alasan.


"kan ada Daniel!!!?" serunya seraya menatap Daniel yang lagi sibuk main game.


"Dia kalo soal bikin laporan suka ngasal.... kalo marahin pekerja yang lagi kerja di lapangan, dia jago. Ngomelnya ngalahin Ibuk-ibuk komplek...kalo soal ginian mending gue langsung. Salah-salah kena damprat pak Budi... "


Roby hanya tersenyum mendengar pernyataan Tiuga, dan Daniel seolah-olah tidak mendengar apapun karena lagi asyik dengan gamenya. Roby hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Daniel dan diapun berlalu.


Setelah selesai dengan gamenya dia seolah-olah baru bangun ke dunia nyata.


"heyyyy... mas brohhhh... udah sembuh lo!? " tanyanya pada Tiuga yang tengah fokus di depan laptop.


"kerja bareng kampret kayak lu, sekarat sekalipun gue juga harus kerja....apaan semua laporan yang lu bikin di komplain pak Budi semua... gue yang ngulang dari awal lagi " gerutu Tiuga.


Sedangkan Daniel hanya terkekeh mendengarnya.


" Itu bukan bidang gue....Makanya kita jodoh... liat!!! lu kelapangan bentar aja ketiban kayu. sama kayak gue, lu nggak kerja bentar aja laporannya kacau... udah lah impas lah kita brayyy... " ucapnya sambil bersandar di kursi kerjanya yang berada tepat di samping Tiuga. Tiuga masih tidak mau mengalihkan pandangannya dari laptopnya. karena dia benar-benar harus kerja lembur gara-gara Daniel.


...***...


Malamnya sekitar pukul 12 Tiuga baru sampai rumah, Aisyah yang sedari tadi menunggu di ruang tamu langsung terbangun saat mendengar suara mobil Tiuga masuk halaman rumah. Ia segera membuka pintu dan menyambut Tiuga pulang. Tiuga tersenyum lesu melihat istrinya datang.


"kok lama pulangnya!? " seru Aisyah sambil membawakan tas Tiuga.


"di kantor lagi banyak banget kerjaan! mungkin beberapa hari ini aku bakal pulang telat, jadi kamu nggak usah nunggui aku yaaa... " ucap Tiuga lembut pada istrinya.


"Tapi aku khawatir kalo kamu pulang telat, apa lagi kaki kamu lagi sakit gini... "


"Nggak usah khawatir kan ada pak Diman yang nemenin aku...! " ucap Tiuga lagi. Seraya mengelus kepala istrinya dengan lembut.


Pak Diman adalah supir yang akan menemani Tiuga kerja mulai sekarang Karena kaki Tiuga yang masih sakit jadi dia belum bisa nyetir sendiri. Pak Diman sendiri adalah supir keluarga, yang biasa nyupirin oma, ibu atau Alfina kalo pergi sekolah.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di kamar. setelah mandi Tiuga segera naik ke atas ranjang. Dia mendapati Aisyah masih menunggunya.


"Masih belum tidur!? " tanya Tiuga


"Nungguin kamu...!! " serunya manja, seraya menyambut suaminya dengan pelukan hangat.


"hmmm... kenapa nih manja banget akhir-akhir ini?" tanya Tiuga lembut seraya merangkul istrinya ke dadanya.


"Aku sering kangen kamu akhir2 ini... " ucap Aisyah manja. Tiuga hanya tersenyum mendengarnya.


Betapa mereka berdua sudah sangat jatuh cinta satu sama lain saat ini, jika dulu Tiuga hanya membiarkan Sherin jatuh cinta sendirian, kali ini Tiuga benar-benar jatuh cinta bersama Aisyah. Dia jatuh bersama Aisya perempuan lembut yang baik hati juga pengertian. Dia benar-benar takut kehilangan Aisyah. Seperti ini ternyata jatuh cinta yang benar-benar membuatnya terjatuh.


setelah beberapa hari yang melelahkan buat Tiuga karena pekerjaannya. Kali ini dia ingin mengajak Aisyah pergi jalan-jalan. Saat makan dia mendapati Alfina dan Adel yang sudah bersiap juga.


"Mau kemana kalian? " tanya Tiuga heran, dan dia punya firasat kurang baik.

__ADS_1


"kita mau pergi jalan-jalan juga lah... " ucap alfina yang di iyakan Adel yang tengah bergelayutan pada Alfina dari belakang.


" Yaudah pergi sana... " usir Tiuga. Tapi mereka berdua malah masuk mobil yang akan di bawa Tiuga.


" Ngapain pakek mobil ini, ini gue mau pakek. husssh...sana, sana... " usir Tiuga lagi.


" Nggak papa mas, biar aja mereka ikut. kamu kan masih sakit kakinya jadi biar kak Adel yang nyetir" ucap Aisyah seraya menyerahkan kunci mobil pada Adel.


Adel hanya tersenyum lalu masuk mobil. Tiuga masih terpaku.


" Ayoook... mas tiu mau pergi nggak!? " tanya Alfina, dia pun segera masuk mobil dengan langkah gontai.


Di mobil Tiuga yang masih tidak terima dengan ikutnya dua saudaranya. Dia merasa liburannya terganggu. di usir lagi juga tidak mungkin. Sudah lh, Tiuga mulai pasrah dengan keadaan.


"kenapa ini nyamuk bisa tau kalau kita mau pergi? " tanya Tiuga pada Aisyah.


"Kan kita nguping...weeekkkk... " ledek Alfina dari bangku depan. Aisyah hanya tertawa melihat wajah kesal Tiuga.


" Kita di suruh oma ikut...sebab kaki lo belum sembuh, oma bilang nanti kenapa-kenapa di jalan... lagian gue mau beli make-up gue, udah pada habis semua. Di pakek buat cewek centil yang baru dapet pacar baru ini.... " terang Adel sambil mencubit pipi adik kesayangannya.


"Auuu sakit Adel...gue gak punya pacar..." teriak Alfina tidak terima.


Tiuga penasaran.


" Siapa pacarnya!? " tanya Tiuga penasaran.


" Ada anak baru culun, pekek kaca mata, kecil, butek, item..." terang Adel yang mengundang pernyataan tidak terima Alfina.


" Ooo yang itu... " ucap Adel, karena dia memang sengaja memancing reaksi spontan Alfina yang gampang di jebak itu.


" Tuhkan Tiu... ngaku dia... " ledek Adel.


"iiiihhh... Adel... " teriak Alfina tidak Terima merasa sengaja di jebak untuk mengaku.


Semua hanya tertawa melihat tingkah Alfina yang mulai malu. Sepanjang perjalanan mereka bercanda lepas hingga tanpa mereka sadari mereka sampai pada sebuah mall yang cukup besar. Merekapun masuk ke Mall tersebut.


Di sana mereka berbelanja hingga puas, Tiuga punya sudah tidak kuat mengikutinya, karena memang kakinya baru sembuh.


"Udah deh gua nggak kuat lagi...ntar kalo udah selesai susul kita di sini yaa... " ucap Tiuga seraya masuk ke sebuah kafe bersama Aisyah.


Sedangkan Adel dan Alfina masih mau belanja.


Mereka duduk di sebuah bangku yang bersebelahan sambil menikmati makanannya. sesekali mereka terlibat candaan kecil yang membuat mereka tertawa. di tengah kegiatan makan mereka datang lah seorang perempuan menghampirinya.


"Hayyy Tiu... sudah lama gak ketemu ya... " sapa Sherin.


Yang sontak membuat Tiuga dan Aisyah kaget. Tiuga segera berhenti makan, mendadak selera makannya menghilang.


Sedangkan Sherin hanya tersenyum manis. Tiuga mulai menunjukkan raut wajah tidak suka sekaligus khawatir takut Sherin berulah.


"Gimana kabar kalian!? " sapanya lagi.

__ADS_1


"Mau lo apa!?" sahut Tiuga. Berharap dia segera pergi.


" Udah lo gue, kita dulu manggilnya sayang...belum lama sih....5 bulan yang lalu... ternyata kamu cepat berubah ya!? apa karena kamu sudah menemukan teman tidur baru!? " tanya Sherin menatap Aisyah, dia mulai memancing keributan.


"Udah Terima kado dari aku...!?" Tanya nya pada Aisyah. "Itu kenangan kita dulu Aisyah. Tiuga hebat di ranjang. Dia pandai memulai nya dengan lembut, lalu lama-lama baru panas, dari leher, bibir, dan...ahhh... sudah lah bikin aku kangen dengan suasana itu lagi" Goda Sherin.


Seraya melihat reaksi Aisyah yang mulai tidak nyaman, dan Tiuga menatap tajam kearah Sherin. Dia membuat Tiuga malu di hadapan Aisyah.


"Dia cukup berpengalaman, jadi kamu pasti puas, sebab aku yang ajarin... Dulu kita berdua sering ngelakuinnya dimanapun kita suka... kayak yang kamu lihat di kado itu, itu cuman sebagiannya saja. Kami sangat bahagia waktu itu. Dan tiba-tiba kamu datang seperti malapeta di hubungan KAMI..." kali ini nada Sherin penuh penegasan, emosinya mulai terlihat.


"Iya... Terima kasih sudah menjadi pengalaman yang baik. Berkat kamu sekarang dia menjadi laki-laki yang lebih beradab! Setelah adab nya hilang saat bersama kamu. Terima kasih juga kadonya. Akan aku simpan buat pelajaran anak-anak kami nanti. Menjadi murahan itu tidak baik, saat berpisah bisa jadi sangat sakit hati... Hingga rela mempermalukan diri sendiri kayak yang kamu lakukan sekarang!!!." Ucap Aisyah tenang.


Tiuga tersenyum mendengar jawaban Aisyah. Dan dia melirik Sherin yang tampak kesal, tapi dia berusaha menutupinya.


"Apa yang menjadi milik aku gak akan aku lepas gitu aja...! " Ancamnya.


"Aku istri sahnya, jadi dia milik aku. Dia sama kamu cuman persinggahan, aku pelabuhannya...! Yang bisa di sebut perusak itu adalah kamu" Ucap Aisyah tidak mau kalah.


"sudah... sudah... Sherin mending kamu pergi sekarang, jangan buat keributan disini?! " ucap Tiuga menengahi.


Karena sepertinya Aisyah dan Sherin mulai tidak terkendali. Entah datang dari mana tiba-tiba. BYUUUURRR.... air tersiram ke wajah Sherin. Dan itu adalah Adel. yang entah sejak kapan dia datang.


" Itu buat bikin lo sadar dari mimpi lo... "ucap Adel tenang. " heyyy...bangun...udah siang!!!" seru Adel sambil menyentikkan tangannya di depan wajah Sherin.


Semua shock melihat kejadian itu. Dan semua mata mulai tertuju kepada mereka. Sherin semakin tidak terkendali. Tiuga melihat ke sekeliling. Tiuga mulai merasa malu menjadi pusat perhatian. Tapi dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.


"Liat saja nanti.. Kalian semua akan hancur...! " Ancam Sherin dengan tatapannya yang penuh dendam.


Sherin pun segera pergi meninggalkan mereka semua. Itu lumayan melegakan bagi Tiuga. Alfina segera meletakkan tas belanjaan yang semua sudah di titipkan kepadanya tadi sebelum Adel menyiram Sherin. Dia bertepuk tangan dengan mulut ternganga.


" Keren del... Hebat, hebat...!!! " Puji Alfina. Adel pun tersenyum bangga.


Ada kepuasan tersendiri baginya karena berhasil meluapkan kekesalannya pada sherin selama ini.


Sedangkan Aisyah hanya terdiam tidak mampu berkata-kata. Tiuga langsung menyeret semuanya pulang. Sebelum lebih banyak lagi orang yang melihat mereka.


Mereka sepakat kejadian di Mall tadi jangan di ceritakan di rumah, Tiuga tidak mau memperbesar masalah. Tapi dasar mulut ember, dengan semangat Alfina malah menceritakannya saat makan malam. Tiuga hanya bisa geleng-geleng kepala. Alfina benar-benar tidak bisa di percaya kalau tentang menyimpan rahasia. Dan dia bertambah semangat menceritakannya karena mendapat perhatian dari anggota keluarga Tiuga. Hanya Tiuga dan Aisyah yang merasa cemas dengan kejadian tadi siang. Tiuga tahu betul watak Sherin yang pantang menyerah.


Di kamar malam itu Tiuga dan Aisyah beranjak akan tidur. Tiuga mendekati Aisyah sambil tersenyum.


"Terima kasih kamu mau menerima masa lalu aku, aku pikir kamu akan marah lagi dengar Sherin tadi.! " ucap Tiuga.


"Nggak kok mas, kamu benar... Kamu nggak bisa rubah masa lalu kamu, tapi itu bisa jadi pelajaran buat kita. Seorang Rasulullah saja bisa menerima Umar bin Khattab sebagai sahabat utamanya. Padahal beliau pernah berencana ingin membunuh Rasulullah. beliau juga kasar, pemabuk, tapi saat dia berubah menjadi pengikut Rasulullah, Rasulullah tidak pernah mengungkit masa lalunya. Aku merasa malu kalau terus mengungkit masa lalu kamu, karena belum tentu masa lalu aku juga baik, hanya Allah baik hati menutupi aib aku di hadapan kamu mas... Maaf ya sudah pernah marah waktu itu.... " Ucap Aisyah panjang lebar.


Tiuga semakin kagum pada Aisyah yang benar-benar memahami islam sebagai pedoman hidupnya. Dia mengelus rambut istrinya dan mencium keningnya lembut. dan Aisyah membalas dengan memeluknya.


Jauh di relung hati Aisyah ada ke takutan besar jika seandainya dia benar-benar kehilangan Tiuga. Tapi dia menahan perasaan itu karena dia takut akan nafsunya terhadap kehidupan duniawi.


💪💪💪


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2