
Aisyah segera mencari taksi. Adel mencoba menghentikannya. Tapi Aisyah terlanjur masuk taksi dan pergi. Di taksi Aisyah terus menangis, si sopir taksi terus memperhatikannya melalui kaca mobil depan. Dia tidak berani menyapa, dan membiarkan Aisyah terisak dengan Adifa di pelukkannya.
Hatinya hancur karena merasa gagal menjadi istri yang baik untuk Tiuga. Ibu Tiuga benar. Karena alasan dia Tiuga sering celaka. Apa dia harus meninggalkan Tiuga agar semua orang tenang. Apa dia bisa kehilangan Tiuga? Dia mencintai Tiuga, dia menyayangi Tiuga, Dia tidak bisa kehilangan Tiuga. Tapi jika ini baik bagi Tiuga, dia ikhlas melakukannya. Dia akan pergi menjauhi Tiuga, dia tidak mau menjadi beban Tiuga lagi. Tanpa terasa dia sampai di rumahnya. Dia segera mengemasi barang-barang nya dan Adifa. Adifa terus menangis itu membuat Aisyah semakin kesal. Dia membiarkan Adifa menangis sambil terus mengemasi barang-barang nya. Dia memasukkan semua pakaian dan barang-barang nya secara tidak beraturan. Selesai mengemasi, dia menunggu taksi. Saat taksi sampai dia segera menuju bandara untuk segera pulang ke Bandung.
Hari sudah menunjukkan pukul 19.45 saat Aisyah sampai bandara. Dia segera memesan tiket untuk pulang ke Bandung. penerbangan selanjutnya pukul 20.07 Aisyah dan Adifa pun menunggu sementara di bandara. Mata Aisyah tampak sembab. Air matanya masih mengalir, dia terus menyekanya. Adifa sudah agak tenang, walau masih agak rewel.
Saat itu kenangan dia bersama Tiuga kembali menari-nari di ingatannya. Itu membuat dia semakin sakit. Dan dia kembali tertunduk menangis. Tidak lama jam penerbangan merekapun tiba. Aisyah segera bersiap-siap menuju pesawatnya.
Entah bagaimana dia akan menjelaskan pada uminya nanti. Pasti uminya kaget dengan kepulangan Aisyah dan Adifa tanpa Tiuga. Sudah lah yang penting dia bisa meninggalkan Jakarta saja dulu.
Dia menatap kebelakang, seolah-olah berharap seseorang akan menahannya. Tapi tidak ada siapapun yang datang menahannya. Dia menarik nafas panjang sambil menyeret barang-barangnya dengan langkah berat.
***
Di sisi lain tampak Tiuga yang mulai sadar. Dia terlihat lemah dan masih dalam pengaruh obat bius. Demamnya masih terasa walau tidak terlalu panas. Dia kembali tertidur dan mengigau. Tidak jelas apa yang di katakannya,yang terdengar hanya desahan gelisahnya. Omanya segera menghampirinya dan mengelus kepala Tiuga dengan lembut untuk menenangkan Tiuga.
Tangan Tiuga tampak di Gips karena dia mengalami patah tulang tangan kiri, dan di wajahnya terdapat goresan di pelipisnya karena terkena pecahan kaca yang pecah saat benturan kecelakaan itu terjadi.
...***...
Demamnya sudah berhenti tapi dia masih lemah dan kepala nya masih belum bisa terangkat karena terasa pusing dan membuatnya beberapa kali muntah. Tim dokter terus memantau perkembangan Tiuga. Mereka menduga Tiuga mengalami cidera pada otaknya. Tapi mereka masih belum menemukan efeknya pada diri Tiuga. Karena Tiuga memperlihatkan keadaannya yang semakin membaik.
Hanya ada satu hal yang aneh. Tiuga sama sekali tidak pernah menanyakan keberadaan Adifa dan Aisyah.Dia seperti melupakan keberadaan anak istrinya.
Sampai pada suatu hari mereka tau jika Tiuga mengalami lupa ingatan. Sebagian memorinya tentang masa lalunya 5 tahun yang baru saja berlalu dia tidak ingat.
__ADS_1
"Jangan di paksakan dia ingat dulu. Biarkan dia ingat secara berlahan, takutnya dia akan semakin bingung dan merusak memorinya sama sekali... "Terang dokter.
" Berapa lama biasanya ini terjadi dok...!? " Tanya ayah Tiuga.
"Tidak menentu... ada yang hanya seminggu... sebulan... Bahkan ada yang permanen dan otaknya membuat kenangan baru untuk memanipulasi kenangan lamanya..." Terang dokter lagi.
"Apa ada obatnya dok...!? " Tanya ayah Tiuga khawatir.
"Untuk amnesia sendiri tidak ada... kami hanya dapat memberi vitamin, dan mengobati cideranya serta terapi jika memungkin kan untuk membantunya menenangkan traumanya dan itu pun tidak dapat memberi jaminan 100% kesembuhan..." Terang dokter lagi.
Disini lah terjadi di lema di keluarga Tiuga. Mereka tidak bisa membuat Aisyah dan Adifa datang begitu saja di hidup Tiuga sekarang.
Dan ternyata menghapus Aisyah dan Adifa di hidup Tiuga juga di amini oleh ibu Tiuga. Tidak ada yang berani menanyakan hal tersebut pada Tiuga karena Sonia ibu Tiuga yang tampak masih kesal pada Aisyah. Sonia juga terus melarang mereka menyinggung tentang itu. Sonia selalu beralasan, biar Tiuga tenang dulu...
...***...
Tiuga Sudah 2 minggu ini pulang kerumahnya. Entah kenapa dia merasa kosong. Dia merasa ada bagian penting dan sangat berharga dari hidupnya yang hilang. Tapi entah apa itu dia juga tidak ingat.
Tiuga berubah jadi sangat aneh semenjak kepulangannya. Setiap dia terbangun dari tidur dia merasa ada sesuatu yang biasanya terjadi tapi sekarang tidak pernah terjadi, ranjangnya terasa sepi walaupun dia sudah menumpukkan semua batal di ranjangnya. Saat dia membuka lemari pakaiannya dia merasa ada yang kurang, Dia pun memasukkan apapun ke dalam lemarinya untuk membuat lemarinya penuh, tapi tetap saja dia tidak puas.
Saat dia bercermin dia merasa seharusnya ada sesuatu di meja rias yang hilang. Dia pun menyusun semua barang di depan meja rias tersebut, dari gel rambut, sisir, hairdryer, parfum yang biasanya sebagian ia taruh di kamar mandi sekarang dia tumpukkan semuanya di meja rias, termasuk jam tangan dan aksesoris lainnya miliknya pun dia susun di depan meja rias. Tapi sekali lagi dia masih belum puas.
Saat dia melihat sekeliling kamarnya dia merasa kamarnya hampa dan terlalu rapi. Sehingga tidak jarang dia membuat kamarnya berantakan dengan sengaja, hanya untuk memenuhi keinginan bawah sadarnya.
Orang-orang rumahpun merasa heran dengan kebiasaan baru Tiuga itu. Tidak ada yang menyadari jika Tiuga sangat merindukan anak dan istrinya. Termasuk dia sendiri tidak menyadari apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Tiuga benar-benar sudah seperti orang gila. Dia terus melakukan hal Aneh, seperti membuka lemari pakainnya berkali-kali, atau kemeja makan walaupun dia tidak ingin makan, dia duduk disana sebentar lalu pergi, dan dia terus mengulang hal itu seharian. Itu membuat omanya sangat khawatir.
"Lama-lama dia bisa gila kalo kayak gini terus... " Gumam omanya yang tengah menatapnya dari luar kamar.
...***...
Saat dia baru pulang dari terapi dan mobil mereka berhenti sebentar. Sementara pintu gerbang rumahnya di buka. Tiuga melihat bayi tetangganya yang tengah bermain bersama sang ayah. Dia segera menurunkan kaca mobilnya. Dia menatap bayi itu lekat-lekat, seolah ada sesuatu yang dia rasa tentang bayi. Dia mendengar celoteh bayi tetangganya "Ya...ya...yah..." Celoteh bayi itu. Deg...Itu mengingatkan Tiuga tentang sesuatu secara samar-samar. Tapi dia masih belum mampu mengingatnya dengan jelas. Malah perasaannya terasa semakin tersiksa. Dia merasa sangat rindu hingga dia sendiri bingung ada apa dengannya, dia menatap bayi itu lekat-lekat, semakin dia menatapnya semakin dia merasa sangat tersiksa. Tiuga pun tidak Tahan, dia menaikkan kaca mobilnya kembali. Dia meminta sopir segera masuk rumah, dia tidak tahan melihat bayi itu. Bisa-bisa nya dia menangis karena colotehan bayi. Ada apa dengannya.
Adel memperhatikan semua tingkah Tiuga. Karena dia yang menemani Tiuga Terapi bersama Daniel. Dia tau alam bawah sadar Tiuga sangat merindukan anak istrinya. Dia terluka melihat keadaan Tiuga. Ibunya tidak bisa di biarkan terus melakukan ini, Dia harus bicara pada ibunya.
...***...
Adel yang memiliki jiwa patriotisme merasa ini bukan lah hal yang baik. Ibunya tidak bisa membuang Adifa dan Aisyah begitu saja dari hidup Tiuga.
"Mah... mau sampai kapan mama hindarin kita bahas kepergian Aisyah dan Adifa...!? Emang mama benar-benar mau mereka pergi dari keluarga kita!? " Tanya Adel pada ibunya yang kebetulan sedang ada di dapur. Seperti biasa ibunya selalu menghindar dengan pura-pura sibuk. "Mah... Adifa itu darah daging Tiuga... Anak Tiuga... Dan Aisyah adalah perempuan yang sangat Tiuga cintai... Kita harus bahas tentang Aisyah dengan Tiuga... " Tegas Adel.
"Kamu pikir ini nggak nyiksa mamah HAAA... Perempuan itu yang mutusin ninggalin Tiuga dalam keadaan sakit... Mama nggak pernah usir dia... Dia yang pergi sendiri... Dia cepat ambil keputusan... Mamah marahin sedikit dia langsung pergi, seolah-olah dia nggak anggap mama ini orang tuanya. Karena itu dia cepat sekali tersinggung...Mama tau Tiuga merindukan anak istrinya...Mamah tau Del..." Ucap mama berkaca-kaca. Ternyata jauh di sanubari sonia dia juga merindukan Aisyah dan Adifa. "Seorang ibu memarahi anaknya itu biasakan... Tapi kenapa Aisyah... " Ucapan ibunya terputus. Adelpun terharu, ternyata ibunya tidak benar-benar mengusir Aisyah. Mungkin sekarang Sonia juga tersiksa seperti halnya Tiuga. Hanya gengsi dan egonya berusaha menutupi itu selama ini. Sekarang dia tidak bisa menutupinya lagi. Adel segera memeluk ibunya yang terisak dan diapun menangis.
"Mamah nggak pernah usir mereka Del... " Tangis ibunya. "Mama sayang sama Aisyah juga Adifa... " Ucap Sonia di sela tangisnya.
"Iya mah... Nanti kita jemput Aisyah dan Adifa mah..." Jawab Adel terharu.
☹️☹️☹️
BERSAMBUNG...
__ADS_1