Biarkan Ikhlas Menjadi Doa

Biarkan Ikhlas Menjadi Doa
PEMBUAT ONAR


__ADS_3

Di siang hari yang terik, Sherin turun dari mobilnya dengan kacamata hitam sambil menyandang tas kecil di bahunya. Dia masuk ke ruang pak Sutrisno dengan wajah yang tampak tidak senang.


"Kenapa paman kerja sama lagi dengan perusahaan Tiuga!? " Teriak Sherin marah.


"Apa paman udah nggak peduli lagi sama aku!? " Tanya Sherin kesal.


Pak Sutrisno segera meminta anak buahnya untuk meninggalkannya dan Sherin berdua. Setelah hanya tinggal mereka berdua pak Sutrisno segera menjelaskan duduk perkaranya.


"Begini Sherin, paman tidak mau masalah pribadi di bawa-bawa ke pekerjaan. Kalau paman ikutin permintaan kamu, usaha paman bisa tutup kalau kayak gini terus. Lagian putus cinta itu biasa, kan banyak lagi laki-laki lain. Kayak di dunia ini cuman ada Tiuga saja." Ucap pamannya sambil menghisap sebatang rokok.


"Tapi paman dia itu menghina aku, Setelah semua yang aku lakuin untuk dia, dengan seenaknya dia campakkan aku gitu aja! Terus kakaknya juga..." curhat Sherin.


"Tapi kamu juga jangan lupa, dia juga banyak nolong kamu, kamu ribut dengan banyak orang hingga di bawa ke kantor polisi. Siapa yang selesein!? dia kan. Dia melindungi kamu selama ini, seharusnya kamu juga berterima kasih untuk itu dengannya! Kamu sering bersikap seenaknya sama dia kalau marah, kamu kasar...makanya dia bosan. Sudah lah Sherin, jadikan pelajaran saja. Lain kali kamu bisa lebih lembut jadi perempuan, biar laki-laki nggak kabur kalo sama kamu" Nasehat pamannya.


"Karena itulah dia milik Sherin paman, Sherin nggak bisa kehilangan dia... ! " Tangis sherin pun pecah.


Paman Sutrisno kasihan melihat sherin yang begini. Tapi mau apa lagi, dia tidak bisa menasehati keponakannya yang keras kepala ini.


"Sudah Sherin, ikut saja ibu kamu ke paris, kamu mulai lah hidup baru kamu dengan ibu kamu di sana...!" Nasehat paman Sutrisno.


" Dari pada aku ikut sama perempuan brengsek itu lebih baik aku mati saja disini. Dia jauh lebih memilih suaminya dari pada aku! " bantah Sherin.


"Loh hal yang wajar kalau ibu kamu ikut suaminya, kamu juga yang salah, dia ajak kamu ikut berkali-kali, sudah di jemput, di bujuk, di beliin tiket...kamu selalu nolak. Ibu kamu itu sayang sama kamu Sherin! " Nasehat paman Sutrisno, yang malah membuat Sherin semakin kesal dan meninggalkannya pergi. Pak Sutrisno hanya bisa menatap kesal dengan tingkah Sherin yang susah untuk di nasehati.


Sesampainya di mobil Suerin langsung memukul stir mobilnya berkali-kali


"Brengseeeek...!!! kenapa semua belain dia!? " Teriak Sherin di dalam mobil.


Dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga hampir menabrak orang-orang yang ada di sana.


Dia pergi ke sebuah kafe. saat masuk tanpa sengaja dia melihat sosok yang sangat dia kenal. sosok yang sangat dia rindukan. dia tengah berbincang dengan beberapa orang, sepertinya itu kliennya. Sherin menatapnya dari ke jauhan sambil menikmati makanan dan minumannya. Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok tersebut. Dia menatap pria itu lekat-lekat. Tubuhnya yang jenjang, matanya yang jernih dan sosoknya yang putih bersih selalu mampu membuat Sherin terpukau menatapnya. Wajahnya khas laki-laki asia timur itu sangat amatlah tampan di mata Sherin. Dia adalah Tiuga Alzam, jika masih bersamanya Sherin tidak pernah melepaskan pelukannya, dia selalu nyaman di pelukan lelaki itu.


sebentar kemudian klien tersebut pergi. Sherin pun bergegas menghampiri Tiuga yang kebetulan bersama Daniel.

__ADS_1


"hai... ! " sapa Sherin ramah dengan senyum manisnya, di sambut dengan wajah tidak percaya Tiuga. dia tidak nyaman dengan kehadiran Sherin. Ingin rasanya dia segera pergi.


"Hai... cantik! " goda Daniel menggoda Sherin, dia menatap Daniel dan tersenyum kecut.


"Apa kabar!? " tanya Sherin pada Tiuga. dan dijawab oleh Daniel.


"Baik, aku sekarang sedang siap menanti kehadiran bidadari cantik...! " Sherin tidak perduli, dia terlalu sibuk dengan Tiuga.


Setelah membereskan barang-barangnya Tiuga bersiap-siap akan pergi. Tapi tangannya di tahan oleh Sherin.


"Mau kemana" Tanya Sherin.


Tiuga segera melepas cengkraman Sherin.


"Gue duluan, dan... " ucap Tiuga pada Daniel lalu berlalu.


"udaaahhh... jangan di harapin lagi. nanti sakit hati sendiri. Dia lagi sayang-sayangnya sama istrinya, apa lagi sekarang Aisyah lagi hamil. Itu makanya dia semangat banget kerja sekarang... " terang Daniel. "dari pada merindukan bulan di langit tinggi, lebih baik nerima sesama pungguk di bumi....ya gak!?" goda Daniel.


"hmmmmhhh.... keras kepala" gumam Daniel yang sekarang hanya tinggal sendirian.


Setelah pertemuan nya dengan Tiuga tadi siang Sherin menjadi kangen pada kebersamaannya dengan tiuga. Diapun membuka galeri fotonya bersama Tiuga di laptopnya dan ada juga vidio kebersamaan mereka. Salah satu vidio menunjukkan mereka sedang berada di sebuah kapal untuk acara ulang tahun salah satu rekan model Sherin, di sana mereka terlihat bahagia sekali. senyum tidak pernah lepas dari wajah Sherin saat itu, Sherin terus menonton semua vidio kebersamaan mereka dulu sambil menangis. Sampailah dia pada salah satu vidio yang cukup menarik perhatiannya. Vidio itu dimana di tangah merekam adegan ranjangnya bersama Tiuga, walau tidak begitu jelas, tapi cukup jelas dari raut wajah mereka berdua jika mereka sedang melakukan itu, Sherin yang pegang kameranya dan Tiuga tampak berkali-kali mencoba menepis kameranya. vidio yang berdurasi hampir 2 menit itu cukup menarik perhatian Sherin.


"gimana kalo semua orang tau!? " gumam Sherin.


Lalu mulai bersiap-siap mengunduh vidio tersebut. Vidio itu adalah vidio yang pernah di kirim tiuga juga pada ayahnya karena dia marah.


Tapi sebelum ter apload Sherin segera membatalkannya, karena dia takut itu akan membuatnya terkena masalah nanti, apalagi ada hukum yang mengatur tentang pornografi. Dan nanti masalah bisa lebih runyam jika wartawan tau. Akhirnya Sherin mengambil handphone nya dan mencari nomor Aisyah yang sempat dia safe, karena dia memang sengaja mencarinya dulu buat mengganggu Aisyah, tapi tidak pernah di lakukannya. Sekarang lah waktu yang tepat untuk melakukannya. Apa jadinya jika dia yang tengah hamil melihat vidio suaminya seperti ini.


"Lihatlah... laki-laki mu dulu seperti apa...!?" Ucap Sherin lalu menekan tombol kirim. dia tersenyum puas. Seraya tebaring di ranjangnya yang besar.


Di rumah Aisyah baru habis sholat isya, Tiuga memang belum pulang dia sudah memberitahu tadi kalau dia masih ada kerjaan.


Tiba-tiba handphone nya berbunyi, dia melihat ada wa dari nomor yang tidak di kenal. dia segera membuka handphone nya. alangkah kagetnya dia saat membuka handphone nya. Vidio Tiuga dan Sherin yang sedang di atas ranjang. Secara reflek Aisyah melempar handphone nya, tapi dia juga penasaran, dia membukanya lagi dia melihat adegan tidak pantas itu di lakukan suaminya bersama seorang wanita. Mereka terlihat seperti binatang liar di mata Aisyah,itu tidak seperti Tiuga yang dia kenal. Aisyah memalingkan wajahnya, dia tidak sanggup melihatnya lagi. Seperti itukah suaminya sebenarnya? Seperti seorang yang tak beradab dan liar, Sungguh pandai dia bersandiwara di hadapan Aisyah selama ini, menutupi sikap buruknya dengan sikap sopan dan lembutnya. Tiba-tiba Aisyah merasa jijik dengan Tiuga. Dan Aisyah langsung terduduk lemas di ranjangnya. Tanpa dia sadari bulir-bulir bening mengalir dari matanya.

__ADS_1


Tidak lama Tiuga pulang, dia segera masuk kamar dan mendapati Aisyah tengah menangis.


"Ada apa!? " tanya Tiuga bingung. Sambil menaruh tasnya dan menghampiri Aisyah.


" Nggak apa-apa... "jawabnya sekenanya lalu membereskan alat sholatnya.


Tiuga masih bingung. Dia bingung dengan sikap Aisyah yang berbeda dan seperti ada yang di sembunyikan.


" Terus kenapa kamu nangis kalo nggak ada papa!? " Tanya Tiuga lagi.


"Capek aja...!? " jawab Aisyah sambil menahan tangisnya. Tiuga mendekatinya, dan akan menyentuhnya, secara reflek Aisyah menepisnya. Tiuga bingung, apa kesalahannya hingga Aisyah marah.


"Kenapa...!?" Tanya Tiuga lagi. Aisyah menatap Tiuga tapi dia malah kembali ingat dengan adegan vidio tadi. Itu membuatnya muak, dia segera membuang muka dari Tiuga yang tengah menatapnya menunggu jawaban darinya.


Tiuga mulai kesal. Dia lelah baru pulang kerja tapi aisyah malah seperti ini. Seperti sedang memancing emosi Tiuga yang baru pulang kerja.


"Aisyah, ada apa ini? kalo ada masalah di omongin baik-baik kan bisa? jangan kayak gini. kamu kenapa?" tanya Tiuga lagi. tapi Aisyah masih tidak mau bicara.


"Ya sudah, kalau nggak mau ngomong. Aku capek... " Seru Tiuga lagi, lalu dia bersiap akan mandi. Aisyah masih diam mematung tidak bergeming. Dia hanya memeluk bayinya yang masih di kandungnya sambil masih menangis.


Sedangkan Tiuga langsung masuk kamar mandi, setelah selesai dia mendapati Aisyah tengah tertidur. Tiuga menghampirinya dan membenahi selimut Aisyah. Dia berbaring di samping Aisyah melihat Aisyah sekilas lalu membiarkannya. Dan ia pun tertidur.


Saat dia bangun Aisyah sudah tidak ada di sampingnya mungkin dia sudah ke dapur bersama ibunya seperti biasa. Tiuga siap-siap pergi kerja, sarapan seperti biasa dan Aisyah pun mengantarnya sampai pintu depan seperti biasa hanya dia tidak mengatakan apapun sepatah katapun. Tiuga masih bingung tapi dia tidak mau ambil pusing dulu.


Dia sudah terbiasa dengan gaya marah Aisyah yang lebih baik diam dari pada bicara kasar. Berbeda dengan Sherin kalau marah semua di lakukannya untuk meluahkannya. Dari bicara kasar, semua binatang di teriakinya, semua umpatan di sebutnya dengan lantang dan semua barang bisa berubah punya sayap habis di buangnya.


Tapi yang jadi masalah sekarang Aisyah sedang hamil, Tiuga khawatir dengan kandungan Aisyah. Dia sudah berusaha tapu Aisyah sepertinya butuh waktu


sudah lah Kalau sudah capek nanti juga baik lagi... Batin Tiuga seraya menatap Aisyah yang sedang berjalan menuju rumah.


☹️☹️☹️


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2